
Minggu 9 Desember 2007, seharusnya dimana orang Kristen datang berbakti ke rumah Tuhan, tetapi di gedung pengadilan tinggi, diadakan pengadilan terakhir tahap pertama untuk memutuskan kesalahan dari Robert Pickton peternak babi yang dituduh membunuh 26 wanita yang semuanya berprofesi sebagai wanita panggilan dan ketagihan obat bius.
Peristiwa ini menggemparkan, jika terbukti Pickton membunuh semua 26 wanita itu (para wanita itu hilang sampai hari ini tidak pernah ditemukan – dan ditemukan tulang-tulang di peternakan babi Pickton dengan pemeriksaan DNA yang diperkirakan adalah tulang-tulang milik para wanita tersebut) maka kasus Pickton akan menjadi kasus pembunuhan serial yang terbesar di Canada.
Kasus Pickton suatu kasus yang tidak mudah. Pickton ditangkap pada 22 Febuari 2002 dan keputusannya baru kemarin (lima tahun lebih). Diperkirakan pemerintah Canada telah mengeluarkan dana lebih dari 70 juta untuk menjerat bukti Pickton sebagai pembunuh ke 26 wanita tersebut. Selain itu peternakan babi Pickton diaduk-aduk oleh para ahli forensik yang memperkirakan bahwa para wanita itu setelah dibunuh, mereka dipotong-potong (maaf) dan dijadikan makanan untuk para babi di peternakan itu.
Dan Minggu kemarin , diputuskan Pickton akan dihukum seumur hidup tanpa keringanan hukuman. Keluarga dari para wanita yang dibunuh oleh Pickton bercampur aduk perasaannya. Ketika membaca berita tersebut di surat kabar, gw sempat merenung betapa tragis hidup para wanita tersebut. Dari kecil mereka ada yang hidup dalam sebuah keluarga, bersekolah, ke gereja, tetapi waktu remaja mereka melarikan diri dan terjebak di pusat kota bagian Timur Vancouver dengan tanpa uang, maka mereka melakukan cara apa saja untuk dapat hidup atau mendapatkan narkotik sebagai pelampiasannya.
Tidak sedikit orang yang mencemoh pemerintah Canada yang telah mengeluarkan kocek lebih dari 70 juta hanya untk menangani kasus ini. Lebih gila lagi ada pendapat yang terdengar, mengapa repot-repot, para korban itu kan para wanita panggilan (yang terbuang), biar saja. Tentu saja jika para wanita korban itu adalah anggota keluarga, anak, adik atau kakak dari orang-orang yang berkomentar itu, mereka itu tidak akan mengatakan seperti demikian.
Jadi keinget, para wanita panggilan itu, yang mungkin bagi masyarakat (mungkin bagi kita sendiri) merupakan wanita terbuang, sampah masyarakat, yang tidak berhak hidup (?). Jangan salah, Tuhan Yesus sendiri dalam Alkitab diceritakan mau untuk mengobrol dengan wanita Samaria di tepi sumur Yakub. Wanita itu ditafsirkan sebagai wanita yang kurang baik. (mempunyai lebih dari lima orang suami) Yoh 4:6-29.
Ketika wanita Samaria itu percaya kepada Tuhan Yesus, di mata Tuhan Yesus, hal itu sama ketika seorang bilioner yang bertobat. Bagi Tuhan ngga ada bedanya deh, entah elo kaya ato miskin, ketika dosa ya tetap dosa harus dihukum dan binasa. Ketika mereka bertobat, Tuhan Yesus juga mengulurkan tanganNya menyambut mereka untuk diselamatkan.
Karena Tuhan Yesus engga ngeliat wujud rupanya manusia, tetapi dia ngeliat jiwa manusia. Tuhan Yesus datang ke dunia bukan untuk menyelamatkan atau menebus tubuh manusia, tetapi jiwanya.
Jadi sayang jika terdengar komentar seperti demikian. Mungkin saja para wanita yang telah ‘dibunuh’ Pickton belom menerima Tuhan Yesus sebagai juru selamat mereka, tetapi berapa banyak wanita panggilan lainnya yang mungkin masih mempunyai kesempatan mendengar Injil dan menerima Tuhan sebagai juruselamat mereka.
Mereka tentu berhak untuk hidup. Tuhan yang memberikan hidup maka Tuhan saja yang berhak mengambilnya. Para wanita yang hilang itu, (susah ngomongnya) mereka memang berbuat kesalahan yang fatal, mengambil keputusan yang salah. (lalu apa kita mo menyalahkan pihak tertentu?) Mengapa mereka dapat melangkah sedemikian jauh? Gw sendiri kagak tau. Mungkin hidup mereka (yang tragis) menjadikan sebuah contoh bagi kita sekalian?
Biar kita mendoakan bagi para misi yang dapat menjangkau hidup para wanita panggilan dan para korban ketagihan narkotik tersebut dengan Injil Tuhan. Siapa tahu suatu hari Tuhan juga dapat memakai kita sebagai alatNya untuk menyampaikan kabar baik itu kepada mereka.
Puisi oleh Betty Nordin untuk para wanita panggilan yang hilang itu.
Tak seorang pun yang melihatnya.
Dia duduk menunggu di pinggir gedung, menggigil kedinginan. Tak seorang pun yang melihatnya.
Dia berdiri di pinggir jalan, dalam curah hujan. Tak seorang pun yang melihatnya.
Dia duduk di cafe yang jorok, mengharapkan secangkir kopi. Tak seorang pun yang melihatnya.
Dia mengharapkan panggilan dari pria hidup belang. Tak seorang pun yang melihatnya.
Dia duduk di atas kertas koran, di pinggir sampah dan botol bir yang berserakan. Tak seorang pun yang melihatnya.
Dia terbaring di jalanan dimana pria hidung belang melemparkannya. Tak seorang pun yang melihatnya.
Dia menggigit bibir kesakitan ketika jarum suntik menusuk lengannya. Tak seorang pun yang melihatnya.
Dia terhilang, dilupakan, dan gadis pelarian. Tak seorang pun yang melihatnya.
Tetapi hari ini, setiap orang yang lewat melihatnya. Dalam kuburan yang tak bernama.