Awal taon apa ya perenungan yang gw dapat? Nonton filem Death Sentence (DS) sebenernya bukan agenda gw tapi dari nonton itu, paling kagak gw dapet pelajaran diingetkan kembali. Cerita DS cukup klasik, dimana Kevin sebagai wakil presiden direktur sebuah perusahaan besar, punya seorang istri dan dua orang anak cowoq. Hidup mereka bahagia plus harmonis. Sampai suatu malem dimana anak Kevin yang pertama mati terbunuh oleh anggota geng yang mo ngerampok mini market.
Keluarga Kevin terguncang. Dia merasa engga terima. Sayangnya Kevin tau siapa pembunuh anaknya dan dimana dia tinggal. Maka nafsu balas dendampun muncul dalam diri Kevin. Dan akhirnya terlaksana. Tetapi cerita pun berlanjut. Anak muda yang Kevin bunuh ternyata mempunyai sodara laki, pimpinan geng, yang engga terima pula. Maka cerita pun mudah diduga bahwa mereka saling balas dendam. Istri Kevin meninggal pula dibunuh anggota geng. Tinggal anak kedua Kevin yang masih hidup dan kini dia hidup sendirian karena Kevin pun mati akhirnya.
Gw jadi teringat Andi (bukan nama sebenarnya) seorang teman yang anaknya juga terbunuh, yang diduga pembunuhnya mempunyai hubungan dengan geng. Sampai saat ini mungkin Andi tetap berdoa semoga polisi menemukan siapa pembunuh anaknya. Tetapi kayaknya lebih baik Andi tidak tahu siapa pembunuh anaknya, daripada tahu nanti akan seperti cerita DS. Jika Kevin tidak tahu siapa pembunuh anaknya mungkin cerita hidupnya akan laen.
Keinget tulisan Alkitab Perjanjian Lama Keluaran 21:24 yang mengatakan, “mata ganti mata, gigi ganti gigi, tangan ganti tangan, kaki ganti kaki.” Yang banyak kali dikutip untuk alasan balas dendam. Secara keinginan manusia, itu adalah adil. Kau ambil satu, aku ambil satu juga. Tetapi orang laen pun juga akan mengatakan demikian sampai engga pernah ada habisnya.
Seringkali manusia mengambil ‘kebenaran’ dari pikiran, pandangannya sendiri. Sering tidak memikirkan orang laen. Kalo aku melakukan sendiri so what? Orang laen tidak terlibat. Well itu pemikiran Kevin. Dia berkata mengasihi anaknya yang kedua. Padahal anaknya yang kedua sudah begitu patah hati ketika mengingat kakaknya telah tiada. Tapi kini akibat perbuatan Kevin yang egois. Anak kedua Kevin harus kehilangan ortunya. Gw dapat bayangkan betapa hancur hatinya. Dia akan terasa terobek bahwa yang membuat dia hidup sendirian adalah ayahnya.
Puji Tuhan. Tuhan Yesus telah datang ke dunia dan Dia telah menggenapi Hukum Taurat sehingga teladanNya diikuti oleh Rasul Paulus yang menuliskan “Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang! Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!” Roma 12:17,21
Dan itulah cara hidup orang percaya. Berapa sering waktu kita disakiti, kita hendak membalas, dengan berbagai macam alasan. Supaya dia tahu rasanya bagaimana disakiti, supaya adil, supaya gw enggak dianggap kalah bodoh lemah, gw kan engga melakukan kesalahan atau kejahatan mengapa dia menjahati gw (?) dan sebagainya.
Melihat peristiwa penyaliban Tuhan Yesus, engga ada habis-habisnya deh kita akan bergumul, jika Tuhan Yesus itu salah satu anggota keluarga kita yang disiksa, dihina, dibunuh, disalib tanpa melakukan kesalahan atau kejahatan secuilpun. Secara manusiawi mungkin akan marah sedih tidak terima ingin balas dendam kepada orang banyak itu.
Mengasihi bukan pihak yang lemah. Mengalah bukan pihak yang kalah. Mendoakan bukan pihak yang tak bisa apa-apa. Kekristenan sejati bukan kalah atau menang (nya) diri kita. Tetapi kekrsitenan sejati adalah taat akan pimpinan Firman Tuhan. Taat pada rencana Allah. Semua yang terjadi dalam hidup kita pasti tidak lepas dari kontrol Allah. Mata Allah ngeliat koq apa yang menimpa kita. Maka kita engga perlu kuatir (kalau Allah melalaikan kita).
Puji Tuhan jika sampai saat ini Andi mampu tidak ingin membalas dendam kepada siapa pembunuh anaknya. Dia tetap setia mendoakan ‘oknum’ yang membunuh anaknya. Semoga hal ini dapat berlanjut jika Andi tahu siapa pembunuh anaknya suatu hari kelak. Balas dendam hanya akan merusak dan hukuman mati.