Dulu waktu sekolah bahasa Inggris pernah ada pelajaran, dimana para murid disuruh mengambil selembar gambar dari majalah terus kami disuruh berdiri di depan kelas untuk menjelaskan apa yang ada dalam gambar tersebut. Murid yang laen boleh nanya kalo kagak ngerti apa yang kita jelaskan.
Pelajaran itu kayaknya bisa diterapkan pada pelajaran kepenulisan untuk latihan. Kita bisa ambil selembar halaman majalah bergambar lalu kita jelaskan dengan tulisan apa yang kita lihat. Kita bisa pakai metode 6W 1H (What, Who, Where, Why, Which When dan How).
Latihan ini paling kagak bisa membuat kita lebih jeli dalam menulis detil. Membiasakan dari visi menjadi sebuah tulisan. Dari apa yang kita lihat dapat kita jelaskan dalam tulisan. (Sekedar guyon, kalo kita disuruh menjelaskan detil apa yang ada di gambar ini semoga kita tidak mabok menulisnya
Jurnalis Kristen kayaknya harus demikian ya, apa yang kita lihat, dengar, rasa, (bau), pikir dapat kita tuliskan dan dibaca banyak orang. Tentu semua itu hanya untuk kemuliaan Tuhan. Pelayanan kepenulisan rasanya sudah ditinggalkan oleh banyak orang Kristen (dengan beribu-ribu alasan yang masuk akal) untuk mau menulis.
Pelajaran laen yang pernah gw dapet waktu membuat ide dialog iklan. Salah satu rahasianya pergi tempat manusia berdialog. Ke warung keq, ke mal keq, ke starbuck keq, ke rumah sakit keq. Pengalaman waktu di strabuck, gw udah siap mencatat apa yang diperbincangkan oleh sebelah gw yang duduk mo ngopi. Gw tunggu-tunggu koq pada diem sich? Ya ternyata sepasang co ce sebelah gw itu pada membaca. Pantas engga ngomong-ngomong. Jadi gw harus angkat kaki pindah ke tempat laen.
Kadang macet menulis bukan karena kita engga bisa menulis tapi dari kitanya yang engga mo menulis. Banyak jalan ke Roma. Banyak cara/ide untuk membuat kita menulis. Cuma kitanya mau ato kagak.
Pepatah mengatakan bahwa kebudayaan ditentukan oleh banyaknya pembaca (kalo enggak salah). Gimana mo baca kalo engga ada yang menulis? Prihatin? Bagi penulis untuk menjadi penulis baik salah satu caranya adalah membaca. Bagi Kristiani, membaca juga kegiatan yang wajib (engga percaya kan?). Boro-boro membaca buku Kristen, membaca Alkitab sulit banget untuk bisa ajek.
Resolusi taon baru memperbaharui pembacaan Alkitab dengan lebih teratur (demikian banyak resolusi kerap terdengar) Tapi koq terdengar tiap taon dari orang yang sama?
Selamat Natal, selamat ulang tahun (kalau tidak salah tanggal 25 Desember, ya?), selamat tahun baru juga, Pak! Maaf rada terlambat. Sepertinya, tahun baru bagi saya agak terlambat. Ada sedikit hambatan yang perlu dibenahi sebelum benar-benar memulai tahun ini. Dan saya harap komentar ini termasuk mengawali tahun baru bagi saya.
Mengenai tulis-menulis, saya sekarang masih memaksa diri untuk menulis, meski masih termenung terus-menerus di depan monitor.
Mengenai latihan aspek rohani, ini juga saya sedang belajar untuk memaksa diri lebih dalam lagi.
Yah, mari kita berusaha untuk terus menjadi orang Kristen yang lebih baik lagi tahun ini.
NB: benar, saya penggemar berat segala yang berkenaan dengan Korea, kapan-kapan kita bisa diskusi nih. Hehehe.