Hari kemaren Sabtu, April 12, sempet diajak teman untuk maen ditempat mainan yang sudah lama gw pernah denger tapi kagak pernah berkunjung. Yakni Paintball War. (katanya sich mainan ini sudah ada di Indo, di Lembang Bandung, kalo kagak salah).
Waktu datang langsung ditarik ke tempat penyewaan alat-alat perangnya. Tempat penyewaan bener-bener kayak tempat pada waktu keadaan perang. Kaciau baliau porak poranda. Lalu gw diberikan sebuah senapan panjang, wow, berat juga bok! (tangan ini sampe pegel-pegel dech rasanya waktu megang) Belom lagi kalau senapannya terisi dengan peluru cat-nya, tambah berat kan.
Terus diajak mencari baju luar supaya pakaian kita kagak kotor, maka dipakaikan baju monyet, pakaian yang biasa dipakai oleh para montir. Tetapi tidak sedikit dari para peserta yang super serius dengan membeli pakaian tentara yang loreng-loreng hijau hitam putih dan lengkap dengan segala perlengkapannya (sepatu but, wajah yang di cat kayak Rambo) pokoknya siap perang dech. Lalu ditambah dengan topeng pelindung wajah. Percis kayak mo perang sungguhan. (memang sich perang sungguhan tapi cuman pelurunya peluru cat).
Setelah diberikan instruksi oleh para wasit permainan tersebut. Para peserta dibagi menjadi dua tim. Harus saling ‘membunuh’ lawan-lawannya sebelum mencapai kemenangan memperebutkan bendera. Maka kita diberi kesempatan untuk mencari posisi yang aman. Dan selanjutnya adalah ditembak atau menembak. ‘Dibunuh atau membunuh’.
Medan perang, cukup amburadul. Dalam hutan ‘kecil’ penuh dengan pepohonan, jalan yang penuh lumpur (padahal gw udah pake sepatu yang biasa buat ‘hiking’ jadinya berkelepotan, alamak, alamat pulang rumah cuci sepatu dah). Maka kami para ‘tentara’ harus mengamankan diri diberbagai berbatuan, tong sampah, pepohonan.
Terdengar bunyi tembakan dari senapan yang meletup-letup. Setelah berlindung di barak pelindung, gw mengintip keluar. Mana musuhnya? Kagak kelihatan. Tapi butir-butir peluru yang berdesingan pun sudah menyapa kami. Kanan kiri depan belakang atas bawah. Gw mengintip lagi. Masih kagak kelihatan musuhnya. Kayaknya para lawan kita pandai berkamuflase.
Kaki mulai kesemutan karena dari sepuluh menit yang lalu harus berjongkok mulu. Lalu jalannya juga menunduk-nunduk. Enggak kerasa peluh mulai membasahi tubuh kepala gw. Senapan gw sich sudah memuntahkan pelurunya. Tapi entah dimana sasarannya. Abis kagak kelihatan musuhnya. (emang bener sich kalo musuh itu harus bersembunyi, kalau kelihatan batang hidungnya musuh tersebut udah pada ketembak).
Udah tangan pegel-pegel, kaki kesemutan, peluh pada menetes (udara pada
hari itu diperkirakan 20 derajat bonus belom sengatan mataharinya). Ini toh perang. Gw sempat merenung beberapa detik. (kalo kelamaan merenungnya bisa-bisa kena tembak, jadi merenungnya harus dibatasi). Susahnya jadi tentara. Dari mulai sampai di medan perang, kayaknya kagak ada yang enak. Dan udah begini rasanya pengen aja cepat-cepat keluar dari situasi tersebut.
Tanpa gw sadari, sebutir peluru menghantam paha kanan gw. Wah kena tembak dech gw-nya. Peperangan pertama memakan sekitar 20 menit. Istrirahat sepuluh menit. Lalu dilanjutkan peperangan babak kedua. Ceritanya abis kena tembak gw dapat mujizat kali yach, jadi sembuh total, siap perang kembali – just kidding. Peperangan kedua, gw pun tewas. Karna sebutir peluru nyasar di dada atas sebelah kiri. Selesai sudah.
Sekitar satu jam, gw mencoba merasakan medan perang. Kalau ada ajakan lagi, gw masih mikir-mikir dulu dech. Apalagi kalau maju ke medan perang sesungguhnya. Kalau bisa, kagak dech. (kayaknya diri ini kagak bakat dech maju perang) Benar-benar stamina fisik harus kuat, kalo mo serius. Belom lagi pikiran dan insting harus bener-bener fokus. Dan semua itu menguras banyak tenaga dan pikiran. Kalau kita nonton di teve atau filem kayaknya perang itu gampang yach.
Pertanyaan nakal: Gimana kalo Tuhan Yesus maju dan masuk ke medan perang? Kalau membaca dari Alkitab, Tuhan Yesus bakal mengampuni musuh-musuhnya, memberi makan kepada yang kelaparan, menegur untuk tidak membunuh, bahkan mendoakan orang-orang yang jahat kepadaNya. (just intermezzo)
Kalau membaca berita-berita tentang perang yang mengakibatkan kesengsaraan daripada kedamaian yang didapat, tetapi berapa banyak manusia yang tetap ingin melanjutkan perang dengan alasan kedamaian, keadilan, bahkan kemanusiaan.
Didalam Efesus 6:12 mengatakan, ‘karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.’ Bahwa kita anak-anak Tuhan ada di medan perang. Karena kita adalah anak-anak Terang yang akan menerangi dunia yang gelap ini.
Maka mau tidak mau, seperti Paulus menasehatkan sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu. (ayat13) demikian disambung sampai ayat 20. Menyatakan bahwa Rasul Paulus sungguh serius mengenai peperangan rohani ini.
Perang yang fisik aza kayaknya udah kagak enak situasinya, apalagi ini peperangan secara rohani, terlebih lagi. Iblis dan dunia akan menawarkan suatu tawaran yang menggiurkan. Free sex, perselingkuhan, harta, kekuasaan, materialis, obat-obatan bius, masalah keluarga, belum lagi filsafat-filsafat dunia yang menentang Kekristenan, yang akan meninabobokan dan membawa kita ke jurang maut. Maka anak-anak Tuhan akan menghadapi tugas yang serius.
Tuhan Yesus juga maju berperang, meski tidak secara fisik. Tetapi secara rohani. Dan Dialah pemenangnya. Dia telah membinasakan segala pemerintahan, kekuasaan dan kekuatan. Musuh yang terakhir, yang dibinasakan ialah maut. 1Kor15:24,26.
Seringkali seperti Gereja Reformed Injili mengembar-gemborkan kepada setiap orang yang mengaku Kristen untuk serius belajar Firman Tuhan. Dengan belajar diharapkan orang Kristen dapat waspada dan peka dengan keadaan sekelilingnya. Bagaimana kalau kita mau maju perang tapi kagak tahu perlengkapan perang, medan perang itu gimana, harus ngapain di medan perang. Maka selangkah kita maju ke medan perang, tewaslah sudah diri kita.