Hari ini judul headline surat kabar lokal Vancouver menuliskan bahwa harga beras meroket bahkan bisa-bisa naik 200%. Hal ini dikarenakan menurunnya ekspor beras dari negara-negara produsen beras seperti Thailand, Vietnam, Mesir bahkan Indonesia.
Sedangkan produsen beras di Indonesia juga kebat kebit dikarenakan stok yang terbatas maka untuk ekspor juga terbatas maka penjualan dalam negeri mau kagak mau harganya juga melonjak naik. Lho emang begitu koq, dulu gw pernah denger berita bahwa Indonesia import beras dari Thailand. Aneh aza. Lha Indonesia kan negara agraria. Juga waktu lalu katanya kacang kedelai menghilang dari pasaran sampe-sampe tempe ‘n sepupunya, tahu, harganya jadi naik berlipat.
Beberapa teman juga cerita kalau harga belanjaan sekarang pada naik juga. Apalagi musim panas nanti harga bensin bakalan naik lagi. Alamak. Tapi yang pasti kasihan adalah rakyat kecil, yang sudah dihimpit oleh ekonomi, sekarang malah tertimpa tangga. Berita di Indo yang pernah gw baca minggu lalu bahwa ada seorang ibu hamil tujuh bulan meninggal dunia (bersama janinnya) karena menahan lapar selama 3 hari tidak makan. Karna keluarga itu sudah tidak punya apa-apa lagi untuk di makan.
Lalu inget nggak, waktu Tuhan Yesus diikuti oleh paling sedikit 5000 orang di daerah danau Tiberias. Pada waktu itu memang bukan kejadian paceklik atau terjadi bencana kelaparan, tetapi orang-orang itu sangat takjub dengan seseorang yang bernama Yesus.
Ternyata ketakjuban, keterpesonaan, impresi itu hanya sebatas kekaguman emosi seseorang tidak sampai menggerakkan atau mengubah hati seseorang. Apalagi Tuhan Yesus ‘mendemonstrasikan’ mujizat lima roti dua ikan yang dapat mengenyangkan seluruh pengunjung pada waktu itu. “Adegan’ mujizat itu juga hanya menambah impresi emosi penonton waktu itu. Tentu Tuhan Yesus bukan pengen ngebuat sensasi emosi, tetapi karena didorong oleh KasihNya kepada orang banyak tersebut.
Mujizat yang Tuhan Yesus lakukan waktu itu seharusnya menaklukkan hati manusia yang berdosa menjadi percaya bahwa Dialah Mesias yang dijanjikan itu. Tetapi karena motivasi awalnya orang banyak itu sudah salah, maka mereka hanya pengen membuktikan bahwa orang yang bernama Yesus itu memang punya kelebihan dan tidak salah pilih kalau orang banyak mendesas-desuskan bagaimana kalau Yesus diangkat sebagai raja mereka. Wackh, itu pilihan tepat.
Tuhan Yesus dapat melakukan mujizat tanpa harus diatur dulu (seperti kebanyakan pendeta jaman sekarang yang katanya kalau melakukan mujizat (kesembuhan) harus diatur dulu bersama dengan orang-orangnya), lalu bisa memberi makan lagi. Karena perut, kita mengikut Yesus. Bagaimana kalau perut kosong, apa kita masih mengikut Yesus? Pilih mana, makanan untuk memenuhi perut kita atau Yesus? Atau dua-dua (kayak orang Israel waktu itu). Dalam keadaan lapar, Tuhan Yesus masih mengutamakan Firman daripada jasmaninya, “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” Mat 4:4. Gw pikir setelah Tuhan Yesus ngomong begitu, secara fisik Yesus masih lapar. Tetapi Yesus lebih mengutamakan taat pada Firman Tuhan daripada mengikuti daging atau mengikuti anjuran si Iblis yang sedang mencobai.
Prinsipnya taat dulu kepada Allah. Pandang kepada Allah lebih dahulu daripada masalah kita. Karena Firman Tuhan itu menghidupkan. Kuatir sih kuatir dengan masalah hidup kita. Hanya kuatir dengan masalah kita akan membuat kita semakin kuatir. Berita kekurangan pangan dan akibatnya menjadikan kita kuatir. Maka enggak heran waktu kemaren ke supermarket, banyak rak-rak yang kosong. Bukan karena kekurangan barang, tetapi sudah habis diborong kosumen.
Kuatir boleh-boleh aza. Tetapi terlalu kuatir, juga tidak baik (untuk hidup, kesehatan, hubungan keluarga, kerja dan sebagainya). Karena Allah kita Allah yang hidup. Ibaratnya Allah itu monitor senantiasa berita-berita CNN, Dunia Dalam Berita, dari Kompas sampai Liputan 6; enggak luput dari perhatian Tuhan. Karena Dia hidup dan perhatian, maka ada harapan.