Kali ini gw enggak ikutan lari kok. Lari limabelas menit aza udah ngos-ngosan apalagi yang namanya Maraton. Boro-boro bok! Kapan mo latihannya. Mau mikirin lari sepanjang ukuran maraton aza kagak tega. Bayangin jarak lari maraton yang sah sekitar 42 kilometer. Kalau dibayangin aza bahwa gw lari 2,5 km baru limabelas menit, lah kalo 42 km, bisa-bisa empat jam-an lari terus. Apalagi kalau sebentar lari sebentar jalan, sebentar lari sebentar jalan, kapan sampenya.
Tapi begitulah banyak orang yang kuat untuk bisa lari sejauh itu. Pertanyaannya kan seperti yang banyak dipertanyakan oleh orang banyak, ngapain sich harus bersusah payah lari empat jam-an. Kagak ada enaknya. Cape sich iya pasti. Repotnya. Susahnya. Apa ke-ngangguran tuh orang. Kagak ada kerjaan. Apa kagak bisa ngerjain yang laen keq, mungkin lebih berguna daripada lari.
Para pelari maraton kalo ditanya mengapa, pasti ada alasannya sendiri. Mungkin jarang yang menjawab untuk “membuang waktu” jadi ikutan lari maraton. Tetapi menurut penjelasan para atlit profesional, lari maraton cukup menarik. Ternyata maraton memerlukan strategi untuk menyelesaikan lari selama empat jam tersebut. Jadi kagak asal lari aza. Bisa-bisa harus siap membawa jantung serep. Jadi maraton bukan asal olahraga mengandalkan otot kawat, tapi juga perlu kecerdikan.
Maraton perlu latihan yang tekun. Latihan lari setiap hari. Atlit profesional latihan lari 160 km dalam satu minggu. Jadi misalnya seminggu lari lima hari (dua hari libur buat sayangin tubuh dan jantung) kayak orang kerja enam hari, satu hari libur. Jadi kira-kira satu harinya harus lari sekitar 30 km. Dan dianjurkan untuk pengikut lari maraton latihan konsisten sekitar empat sampai enam bulan sebelum hari pertandingan.
Waktu lari maraton berlangsung dianjurkan minum secukupnya, kagak boleh kebanyakan juga kagak boleh kekurangan, tuh kan musti pinter-pinter ngatur sirkulasi dalam tubuh sendiri. Maka kagak heran banyak para atlit profesional maraton yang mempunyai pelatih. Karena sang pelatih ini yang harus bisa mengatur dengan baik strategi untuk sang pelari.
Kembali ke pertanyaan diatas, mengapa susah payah harus lari sejauh itu. Banyak atlit atau pelari amatir yang ikut mengatakan, maraton merupakan suatu tantangan. Bukan saja untuk dapat menyelesaikan sampai di garis akhir, tetapi tantangan dalam ketekunan untuk berlatih, konsentrasi, disiplin, mengasah semangat untuk tidak mudah putus asa, kesadaran akan sekitarnya waktu sedang berlari jarak jauh dan pembuktian diri (serta kebangaan (?)).
Pelari maraton, mungkin bisa disamakan seperti pendaki gunung. Ngapain jauh-jauh mendaki gunung Himalaya. Mulai perjalanan hingga mendaki ke gunung kayaknya kagak ada enaknya. Enaknya mungkin waktu mencapai puncak gunung. itu pun kalau bisa mencapai puncak gunung. Kalau kagak ya paling bisa cerita pernah ikutan mendaki ke gunung Himalaya tapi gagal (kamsudnya meski gagal lumayan bangga gitu kali yach). Olahraga laennya seperti pendaki batukarang (rock climbing) bukan olahraga umum yang mudah. Jawabnya mungkin sama dengan para pelari maraton.
Refleksi ke iman kekristenan kita. Dalam menghadapi tantangan hidup, insan Kristiani tak dipungkiri harapan dan tujuan hidupnya adalah Kristus. Karena kebangkitan Kristuslah seorang anak Tuhan dapat menghadapi hidup ini. Karena anugerah Kristus, seseorang Kristen dapat bertekun didalam Firman Tuhan. Menjalankan Firman Tuhan. Dan mempunyai pengharapan.
Bagai Rasul Paulus dalam Filipi 3:12, bahwa kita belumlah sempurna, tetapi bukan berarti kita menyerah, kita tetap mempunyai harapan dalam anugerahNya. Karena kita sendiri tidaklah mampu. Kita dimampukan oleh kasih Kristus untuk dapat berperngharapan dan berlari pada tujuan garis akhir.
Sebagai ‘pelari-pelari’ Kristen kita dimampukan untuk berlatih secara rohani, dalam 1Tim4:8, Paulus juga menyinggung bahwa latihan rohani, ibadah, lebih penting daripada latihan badani, karena mengandung janji. Tetapi disayangkan bahwa tidak sedikit anak tuhan menganggap latihan Rohani tidaklah penting, Mungkin mereka karena sudah keenakan dengan hidup ini “take it for granted” jadi beribadah, membaca Firman Tuhan, berdoa, membaca buku rohani juga sembarangan.
Bagai gambaran pelari maraton, kita mungkin tidak akan pernah menjadi pelari maraton, meski kita sudah dimampukan untuk menjadi pelari maraton, karena kita tidak pernah (mau) untuk berlatih. Kalau saatnya lari maraton, mungkin kita 10 kilometer sudah menyerah. Demikiankah keadaan kita?