Baru hari ke delapan negara Canada mendapatkan medali. Lebih cepetan Indo dapat medalinya. Seorang komentator teve berkomentar memang angka delapan membawa keberuntungan (bagi yang percaya). Padahal sebelumnya masyarakat Canada yang mengikuti Olimpik pada bertanya-tanya, apa yang terjadi? Dana pemerintah kurang untuk bidang olahraga? Kekurangan atlit yang berbakat? Fasilitas pelatihan yang kurang memadai? Kurang semangat? Atau tidak mau menang ? (yang terakhir kayaknya pertanyaan paling gebleg dech)
Sebelum Olimpik dimulai tidak sedikit kalangan yang komentar untuk mengurungkan kontingen Canada ke Beijing 2008. Kadang orang ngomong kagak dipikir kali yach. Abis kagak bayar sich ya. Kalau aza sampai cancel tuh pemberangkatan kontingen Canada, banyak sekali yang dirugikan. Selain mental atlit yang sudah lama dipupuk. Akomodasi pemberangkatan dan selama di China. Panitya Olimpik. Mencoreng nama baik Canada. Tentu saja rencana pembatalan tersebut berkaitan dengan politik. Pembebasan Tibet dan ‘campur tangan’ China di Darfur. Dan hak asasi manusia di China yang dinilai sangat buruk oleh kalangan negara barat.
Dan setelah pembukaan Olimpik Beijing 2008 yang super mewah dan wah. Maka jurnalis Canada juga kagak mau kalah untuk mengkorek-korek kelemahan pembukaan tersebut. (mungkin sirik kali yach) Dari penyanyi cilik cewe yang “lip-sync” menjadi berita utama suratkabar lokal. Padahal menurut gosip acara seperti Super Bowl (olahraga football gaya Amrik) tidak sedikit penyanyi yang bernyanyi di acara tersebut pakai cara lip-sync juga, koq sekarang ‘ada kesempatan’ menunding keras China. Belom lagi acara kembang api yang yang dikira kembang api sungguhan ternyata komputer animasi yang di putar di layar plasma, yang di letakkan di atas stadion.
Jurnalis yang menulis sebelumnya bahwa pembukaan itu hebat, sekarang merasa ‘tertipu’ karena ‘kecewa’ maka jurnalis barat tersebut ‘mencaci’ kepalsuan China. Tetapi acara pembukaan Olimpiade itu kan bagian dari pertunjukan hiburan. Tau sendiri kan ibarat kalau kita menonton sebuah film, banyak spesial efek dan adegan aksi yang kagak masuk akal, karena semua itu memang sudah di atur atau memakai animasi komputer. Lah sekarang menonton acara pembukaan yang dibuat dengan konsep yang sama, penonton yang merasa ‘ketipu’ marah-marah. Lucu juga.
Belom lagi kasus pesenam muda China putri yang dianggap masih berusia 10-12 tahun, padahal China mengklaim mereka sudah berusia 16 tahun. Memang sich kita kagak tahu kebenarannya sampai mana. Dan hati para masyarakat Canada tambah panas. Udah dituding dengan kasus sedemikian, eh malah menyabet emas. Siapa yang tidak sirik negliat acara pembukaan seperti demikian yang memakan biaya 100 juta dollar (Asian Games 2006 di Doha, Qatar katanya malah memakan biaya 160 juta). Tapi itu kan duit China sendiri bukan duit hutangan dari negara barat misalnya.
Terus ngeliat negara-negara laen koq enak banget yach menyabet medali emas, perak dan perunggu. Apalagi kalao ngeliat MIchael Phelps yang menyabet 8 emas buat dirinya sendiri, emangnya kagak bisa bagi-bagi keq. Banyak orang kagak tau sich betapa beratnya dia berlatih. Latihannya kan enggak satu dua bulan lalu bisa jadi legenda Olimpik kayak demikian? Kagak bukan? Bertahun-tahun, entah berapa ribu jam dihabiskan untuk menjadi yang terbaik. Nah itu susahnya, yang terbaik saja yang ngedapatin medali, yang kurang sedikit aja waktu atau prestasinya, harus pulang dengan tangan kosong.
Sedikit catatan bagi Michael Phelps, dia merupakan pribadi yang spesial, dari kecil divonis menderita ‘autisme’ dengan hiperaktif, maka olahraga renang menjadi salurannya. Konon panjang lengannya lebih panjang dari rata-rata atlit lainnya, dan ketahanan bernafasnya juga lebih panjang dari yang lain. Jadi selain berlatih dengan super keras, Phelps merupakan pribadi yang dianugerahi oleh Tuhan dengan bakat-bakat alamnya. Gw percaya Tuhan juga menganugerahkan masing-masing pribadi dengan bakat-bakatnya yang unik.
Maka kagak heran China sebagai tuan rumah pengen memberikan yang terbaik pula, dari acara pembukaan penutupan, atau pada waktu berlangsungnya sampai dengan mendapatkan medali. Semua yang terbaik. Demikian pula dengan kekristenan harusnya mengembalikan yang terbaik kepada Tuhan. Baik waktu, pelayanan, sampai dengan finansial. Kekristenan bukan jual beli. Bukan bisnis. Apalagi politik. Berapa banyak gereja menerapkan manjemen politik. Sikut sana sikut sini untuk mewujudkan impiannya, yang disebut sebagai ‘pelayanan yang hanya bagi Tuhan’.
Ditengarahi banyak sekali pengaruh politik dalam Olimpiade Beijing. Tetapi yang sebenarnya Olimpiade atau pertandingan olahraga apa dan dimanapun sudah diracuni oleh kepentingan pihak-pihak tertentu. Bener kan olahraga bukan lagi untuk memacu semangat kompetisi, mengajar mental, atau karena seseorang menyukai olahraga tersebut. Tetapi olahraga sudah menjadi alat, komoditi mencapai impian atau kepentingan seseorang.