Kayaknya kagak ada orang yang pengen hidupnya jadi miskin. Benek kagak? Kalo disuruh milih, kaya atau miskin? Tentu kaya donk. Tetapi entah kenapa Tuhan Yesus mengajar begini, “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.” Lho apa kagak salah? Miskin, bahagia? Mana bisa bok? Kalau kita yang pernah merasakan miskin, pasti kagak enak. Boro-boro bahagia. Mikirin besok bisa hidup apa kagak, masih susah eh…. disuruh bahagia. Tuhan Yesus thank You banget atas ajarannya, tetapi ini masalah perut, masalah kelangsungan hidup; masalah Sorga bisa enggak ditunda dulu keq?
Klasik kan, pengakuan seperti itu ? Masalah kebutuhan hidup eh… dala koq malah dikotbahi, percaya Tuhan Yesus, engkau akan selamat de el el….. Kadang kita sudah terlekat dengan kebutuhan materi lebih utama daripada kebutuhan rohani. Apa gunanya kebutuhan rohani kalau orangnya tak tertolong. Tentu hal ini bukan dalam kasus emergensi. Orang kehausan hampir mati, lalu dikotbahi dulu.
Menarik kan kalau Tuhan Yesus mengambil keadaan miskin ini dalam mengawali kotbahnya dibukit. Tapi ngomong-ngomong, kalau ngeliat riwayat Tuhan Yesus. Tuhan Yesus sendiri telah mengalami apa itu keadaan miskin. Kalau seorang bayi dilahirkan di kandang binatang, kayaknya bayi yang dilahirkan atau ibu yang melahirkan itu dari keluarga yang kaya, kemungkinannya sangat kecil sekale. Karena Tuhan Yesus masa kecilnya yang ‘miskin’ lalu Dia mengajar, jadilah miskin, begitu?
Yang disebut miskin, tentu statusnya. Dan pada umumnya konotasi miskin karena tidak punya uang, tidak memiliki kemewahan. Meski bisa makan 3 kali sehari dengan kenyang tapi kalau rumahnya dari gedek, lampunya pakai petromaks, jalan rumahnya lewat gang becek, naiknya cuman motor bebek, uangnya cukup untuk makan sehari habis, mungkin harus meminta sedekah kepada orang yang murah hati; itu mah miskin. Titik. Iya nggak. Iya nggak. Tapi anehnya Tuhan Yesus memulai kotbahnya dari keadaan yang kurang menyenangkan ini.
Padahal kata pertama menunjukkan bahwa semua orang pengen bahagia, mencari kebahagiaan menurut pandangannya masing-masing. Lah kalo miskin emangnya bisa bahagia? Bisa donk. Bener engga? Berapa banyak pemulung sampah yang keadaannya kotor bisa tidur nyenyak dan nikmat. Sedangkan seorang konglomerat harus gelisah dalam tidurnya di atas ranjang emasnya. Tetapi gimana mencari kebahagiaan yang sejati. Kagak bisa tidak, harus kembali ke Allah. Maka itu Tuhan Yesus ngajar, orang yang miskin di hadapan Allah.
Jadi Tuhan Yesus juga bukan menekankan kata miskin itu secara lahiriah saja. Miskin menunjukkan adanya kebutuhan, kekurangan, tergantung pada orang laen. Miskin secara rohani, bahwa kita memerlukan pertolongan Tuhan Yesus untuk dapat kembali ke Allah. Banyak orang yang tidak suka disebut miskin. Engga ada orang yang menyebut Tuhan Yesus itu kaya. Dia anak seorang tukang kayu. Allah yang bertahta di surga mulia harus turun menjelma menjadi manusia (yang miskin); memerlukan pengorbanan ‘harga diri’ yang luar biasa. Kerendahan hati yang ‘menyakitkan’ (gambaran bagi manusia). Tetapi Tuhan Yesus tetap taat dan melakukan kehendak BapaNya.
Endak mudah dech untuk berendah hati. Butuh penyerahan hati dan diri total kepada Allah. Menyingkirkan ego kita. Berapa besar persentasinya ketika seseorang berkata “hidupku untuk Kristus”? 10%…. 30%…. 70%…. 100% ?
Tuhan Yesus ajar kami untuk belajar lebih hari lebih memberikan hidup kami kepadaMu. Kami yang lemah pasti tak mampu menghadapi hidup dalam jalan kebenaranMu, tanpa Engkau. Ampuni kami Bapa. Ajar kami berserah. Berserah.
miskin di hadapanNya yaitu kita menjadi rendah hati dan butuh pertolongan dari Tuhan. Berharap kepadaNya selalu.