Percaya atau tidak, kata sifat yang satu ini cukup kuat sebagai ujian dalam kehidupan sehari-hari. Mungkin banyak orang Kristen berkata engga mungkin lah, masa gw bisa tamak serakah greedy, gw kalau sudah berkecukupan ya cukup lah, gw kan juga punya Tuhan Yesus, Dia yang akan menjaga gw supaya tidak serakah. Namanya daging, mana ada yang namanya cukup. Pasti pengen lebih.
Mungkin Iblis, mungkin hawa nafsu diri sendiri yang mencobai. Perlahan-lahan, tanpa kita sadari. Contoh seperti sikon di Amrik. Melihat harga-harga jual beli rumah naik membumbung, maka kata orang kalau kagak ikutan jual beli rumah itu mah bodoh. Atau kasus laen. Keluarga A telah memiliki rumah kecil dengan 2 kamar misalnya. Tapi hati ini kagak merasa puas. Pengen punya rumah yang kamar empat, tentu rumahnya lebih gede, harganya juga lebih mahal. Karena Bank (juga serakah) memberi kemudahan kredit. Maka keluarga A pun membeli rumah yang lebih gede, otomatis hutangnya juga tambah gede.
Dilaen kasus juga demikian. Karena kartu kreditnya sering di gesek (alias dipakai) maka Bank memberi kredit lebih banyak lagi. Mau enggak? Tentu mau donk. Dapat uang lebih banyak lagi untuk bisa belanja atau beli ini ityu dengan enggak kuatir uangnya terbatas. Bank ngeliat bahwa konsumennya antusias, maka bank memberi pilihan laen lagi. Karena keluarga A sedang mencicil rumah, dan harga rumah naik terus, maka bank memberikan kredit dengan jaminan rumah yang dicicil (dengan jumlah besar) alias credit on-line. Konsumen bisa beli mobil baru, laptop Apple baru, keliling dunia, memperbaiki dapur dan sebagainya. Tapi engga sadar kalau semua itu uang hutangan.
Karena banjir barang-barang made in China yang super murah meriah, maka tidak heran konsumen didorong makin untuk menikmati konsumerisme, hidup ini terasa lebih indah karena barang-barang kebutuhan atau yang mewah mudah dijangkau. Dan bank juga tidak mau kalah untuk berlomba menurunkan bunga bank supaya dapat menggelontorkan kredit murah. Banyak pula masyarakat yang kurang mampu tergiur dengan sikon tersebut, maka mereka pun mencoba menggapai keuntungan dengan membeli rumah/ apartemen yang sebenarnya tidak terjangkau, tetapi karena pembayaran dilakukan dengan mencicil, jadi tidak masalah. Dan ketika bank menghadapi kredit macet. Maka proses sirkulasi itu pun menyambung dari rakyat kecil sampai konglomerat semuanya ketimpa masalah.
Kayaknya benar seperti yang dituliskan oleh Alkitab, janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Ibr13:5 Apakah kata cukup akan menjadi cukup bagi hidup kita? Seringkali kita merasa tidak cukup. Pengen lebih. Dan akhirnya keinginan lebih itu yang akan menguasai hidup kita. Bukankah kita yang harus menguasai keinginan itu?
Bukankah segala berkat materi yang kita “miliki” sekarang bukan usaha kita? Bukan milik kita? Bukan kehebatan kita? Kalau kita sadar semua itu hanya pemberian Tuhan. Yang harus kita pertanggung jawabkan. Yang kita terima dengan tujuan untuk memuliakan nama sang Pencipta kita. Kadang kita merasa, NO, ini milik gw, usaha gw, jerih payah gw, kehebatan gw. Tapi kalau kita jeli, kalau semua itu tidak Tuhan “berikan” pada kita, mana mampu kita menerimanya? Bagiamana kita dapat mendapatkannya? Semua itu hanya kemurahan Tuhan. Maka selayaknyalah kalau kita “kembalikan” untuk Tuhan. Kata laennya, semua apa yang kita punya selayaknya kita “kembalikan” untuk Tuhan. Bukan untuk kesenangan atau kepuasan diri kita sendiri.
Manusia berdosa tidak mungkin akan merasa cukup. Mungkin sampai meninggalkan dunia fana ini juga kagak cukup. Ingat akan ilustrasi Tuhan Yesus mengenai orang kaya yang masuk neraka (dan Lazarus duduk di pangkuan bapa Abraham), orang kaya tersebut masih pengen SMS kepada sanak keluarganya mengingatkan supaya mereka bertobat (tapi apa daya HP-nya keburu hangus kebakar, kali yach).
Manusia berdosa merasa cukup ketika dia bertemu dengan Kristus. Dia dipuaskan dari kedahagaan duniawi. Cukup, timbul dari penguasaan diri, pemikiran yang dewasa, menahan diri dan hanya memandang pada Yesus sebagai Tuhan pemilik atas hidup ini. Jika kita bisa berkata cukup, karena Allah yang telah memanggil kita untuk berdaulat atas hidup ini. Jika tidak, betapa kasihannya kita, hidup menahan-nahan diri untuk menjadi konsumeris, hedonist dan materialis. Pengen itu ditahan. Padahal air liurnya sudah berjatuhan menetes-netes.
Tetapi anak Tuhan yang sejati, tidak perlu untuk menahan-nahan menjadi tamak karena Roh Kudus yang akan membimbing hidup kita otomatis untuk lebih taat pada Firman Tuhan daripada kedagingan kita. Hidup Kristen adalah hidup yang berkemenangan atas dosa. Biarlah kita berjaga-jaga, karena Iblis itu seperti singa yang mengaum siap menerkam setiap waktu kita lengah.
Kasus kredit macet yang melanda seluruh dunia. Jatuhnya harga-harga saham dunia, jatuhnya harga minyak, perumahan; juga tidak lepas dari ketamakan manusia. Beberap teman yang sedang kebingungan karena membeli saham dalam jumlah tertentu cukup lumayan tetapi harganya makin meroket menurun dalam jangka waktu yang tak menentu untuk bisa kembali ke harga normal. Hari-harinya penuh dengan kekuatiran dan bingung karena duitnya bakal hilang. Mungkin juga doanya akan memohon pasar saham akan pulih kembali (supaya bisa melanjutkan keserakahannya?) Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, … (Lukas12:15)