Gereja dimana gw beribadah saat ini, House For All Nations ngadain Retreat dari tanggal 15-18 Mei 2009 yang lalu. Tentu paling engga kita udah pada tau kalau retret itu perlu untuk kerohaniaan seseorang. Ibarat retret kayak handphone yang baterainya di ‘charge’ kembali. Karena engga dipungkiri bahwa dalam perjalanan kehidupan Kristen banyak turun naiknya. Ketika sedang dalam keadaan turun, ikut retret adalh hal yang tepat. Pas lagi naek juga kagak masalah ikut retret biar tambah seger kuat ‘n diperbaharui dalam rohani kita.
Alasan gw ikut retret ini yang pasti bukan cari ‘berkat’ tapi memang mau belajar Firman Tuhan, dimana kita ‘mengucilkan’ diri selama 4 hari untuk bisa dekat ama Tuhan (istilahnya yach). Tanggal 15 Mei setelah pulang dari Seattle Amrik, gw langsung tancap ke retret. Jadi perginya baru jam 6.30 malam. Karena pas Jum’at itu mulainya ‘long weekend’ pasti bakalan macet di hi-way, maka gw ambil jalan tikus. Jalannya lebih kecilan, lebih muter tapi lancar. Puji Tuhan sesuai rencana, jam 8 nyampai dah di tempat retret. Jadi engga jadi telat untuk dengerin Firman Tuhan. Karena Sesi I, dimulai jam 8 malam.
Tema retret kali ini God Honoring Faith, tentang iman. Maka dalam sesi pertama, pembicara memberikan pendahuluan tentang iman, dengan banyak contoh-c0ntoh. Ini yang cukup memprihatinkan gw, karena kalau kebanyakan contoh atau ilustrasi, jemaat itu biasanya yang diingat contoh atau cerita (apalagi ceritanya lucu) bukan Firmannya. Enggak jarang contoh atau cerita itu menjadi ’standar’ untuk menjalankan iman Kristen. Kalau menurut gw sich, sebaiknya kita belajar konsepnya apa itu iman, bagaimana beriman, mengapa harus beriman dan sebagainya misalnya. Emang sich di gereja juga sering diberitakan tentang iman ini pula karena tema gereja tahun ini, juga sama temanya, God Honoring faith.
Pokok pembahasan bisa diambil dari bagian Alkitab yang berlainan dengan apa yang sudah kita denger sebelumnya. Memang sich ini perlu pengetahuan dan pembelajaran yang konsisten dari pembicara. Mungkin gw udah kebiasa ama kultur gereja reform yang mana biasanya waktu retret selalu pembahasannya mendalam. Ibarat retret itu kayak penggemblengan rohani untuk supaya disegarkan, dikuatkan, ditingkatkan, kembali ke semangat kasih mula-mula untuk bersaksi bagi Kristus. Tapi yang gw alami memang agak beda sich.
Retret yang kali ini gw ikuti agak santai. Mungkin panitya emang pengennya demikian kali yach. Karena pesertanya juga seluruh keluarga. Mungkin sebutannya lebih cocok kalau jadi Family Bible Camp atau apalah karena melibatkan seluruh anggota keluarga. Well semoga retreat kali ini semakin mendekatkan kita kepada Tuhan, memperbaharui semangat kita untuk melayani terutama menyenangkan hati Tuhan. Dan memperteguh iman kita kepadaNya, dimana kita tahu bahwa masa depan di dunia tidak pasti tapi didalam Tuhan ada janjiNya.