Sering kali, orang mengukur iman dengan pengalaman, kejadian yang dialami. Dengan adanya pengalaman mujizat yang dialami maka itulah iman. Dan tak sedikit yang meng-klaim bahwa itu tanda iman, adanya pengalaman, kesaksian hidup. Pengalaman mujizat itu belum tentu akibat dari iman. Banyak orang ateis yang kagak punya iman tapi juga sering mengalami mujizat. Tetapi sayangnya banyak anggapan dari orang Kristen bahwa kalau engga mengalami mujizat, itu mungkin belum cukup imannya kepada Tuhan. Atau kurang beriman. Maka minta Tuhan supaya kita lebih beriman lagi.
Sempat merenungkan apa sich ukuran buat iman itu. Iman dapat diukur ketika kita menghadapi masalah, ketika kita mendapat berkat, ketika kita mengalami godaan, menghadapi karakter kita, ketika kita ditantang untuk menyangkal Tuhan atau mungkin masih banyak lagi tolok ukurnya. Urusan mujizat itu urusan Tuhan. Jadi kalau engga terjadi mujizat bukan berarti kita enggak beriman kan? Karena kita kan berimannya kepada Tuhan, bukan pada mujizat. Orang yang enggak beriman juga bisa mengalami mujizat. Bukankah hidup kita sampai hari ini juga suatu mujizat? Apakah mujizat itu selalu berarti berkat materi?
Mujizat atau engga mujizat; berkat atau engga ada berkat; apakah kita layak menerimanya? Lha wong (kita ini lho) orang yang udah mau mati dibuang ke api neraka kekal, masih mau ngomongin berkat ‘n mujizat? Bukankah keselamatan kekal (yang juga merupakan mujizat dan berkat bagi yang mnerimanya dalam Yesus Kristus) lebih penting daripada berkat mujizat materi? Terus terang aza sering kita hanya membahas berkat dan mujizat dari Tuhan itu ketika kita menerima berkat materi yang nyata.
Meski banyak juga dari kita yang mengatakan kita bukan pengikut atau enggak membahas tentang teologi berkat atau kesuksesan (diri sendiri), tetapi yang sering dibicarakan adalah hal tersebut. Maka mengapa tidak membicarakan hal yang lebih penting bahwa bukti iman adalah kesetiaan, ketaatan pada Firman Tuhan daripada diri sendiri, sikon kita atau berkat. Dan iman tumbuh bukan karena berkat (atau pengalaman), tetapi oleh karena Firman Tuhan.
Ketika menulis tentang tulisan ini, gw pas bisa bersamaan membaca tentang hal iman yang ditulis oleh Phillip Yancey (Jesus I Never Knew) pada hal gw enggak berencana mau mencari ‘reference’. Kalau kita percaya, ini adalah berkat Tuhan, jadi gw menulis dengan lebih mantep (bukan kebetulan). Gw pikir iman gw masih lebih sangat kecil dari biji sesawi. Tetapi gw percaya bahwa hidup gw sampai hari ini enggak lebih dari kasih anugerahNya semata.
Iman itu juga kagak bisa dibanding-bandingin atau di ‘fotocopy’. Karena gw percaya bahwa iman adalah anugerah. Kita enggak bisa beriman atas kemauan kita. Karena iman itu adalah pemberian Allah. Maka kita enggak bisa minta iman seenak jidat kita. Kalau Sang Pemberi belum mau memberi, kitanya mau apa? Paksa dong. Ngotot dong. Apa salahnya sich? Kan kita ‘anakNya’. Sebagai anak, gw paling kagak suka kalau minta sama ortu. Hidup si anak sampai hari ini udah (merasa) dicukupi, karena ortu si anak tahu apa yang terbaik buat anaknya.
Kata laennya, Tuhan tau apa yang terbaik buat kita. Bukan berarti kita enggak boleh minta. Boleh-boleh aza. Tuhan Yesus juga pernah berdoa minta kepada BapaNya.“Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” Mat26:39.
Hidup iman seseorang kepada Tuhan engga bisa di ‘fotocopy’. Karena iman bukan formula koq. Kita (mungkin) kagak bakal punya iman seperti Abraham atau Nuh misalnya. Kita juga kagak bakal mencontoh iman Musa misalnya; (gw percaya Tuhan kagak sembarangan menyuruh kita membelah sungai Ciliwung terus kita bisa jalan melewatinya, misalnya). Tapi kita bisa belajar dari pengalaman mereka, belajar dari hidup mereka, belajar dari kelemahan mereka, belajar kesetiaan mereka kepada Tuhan, belajar tentang iman mereka.
setuju, tidak ada yang bisa mengukur dan menimbang iman seseorang melalui apa yang telah dilakukan atau dialami. Iman adalah satu pengalaman hidup pribadi dengan Tuhan.
Sangat terberkati membaca artikel anda, Bro!
Praise the Lord. Semua hanya untuk kemuliaanNya.