Setelah kejatuhan manusia dalam dosa, maka manusia tidak saja menyukai berbuat dosa, menentang kehendak Allah tetapi manusia secara status, adalah sendirian, putus hubungan dengan Allah.
Kehidupan manusia pun tanpa arah, maju kena mundur kena. Putus hubungan dengan Allah maka manusia juga kehilangan ikatan hidup dengan Sang Pencipta. Manusia kehilangan ‘sesuatu’ dalam hidupnya, dalam hatinya. Manusia menjadi musafir yang berkeliling-keliling tanpa tujuan (karena manusia sudah kehilangan tujuan). Tujuan yang semula dikira dapat memuaskan hati manusia ternyata tidak memuaskan.
Dikiranya agama dapat memuaskan, ternyata setelah mempelajari semua agama manusia, ternyata manusia merasa ada ‘sesuatu’ yang kurang. Dikira ilmu pengetahuan, karir pekerjaan, uang, seks, cinta, keluarga, pacar, kekuasaan, obat-obatan, olahraga, seni, musik, idola bintang film, penyanyi dan bidang-bidang lainnya dapat memuaskan hati manusia, tetapi tetap saja manusia tidak puas. Ada kekosongan dalam hatinya.
Alangkah tragisnya manusia dengan kehidupan yang demikian. Selama hidupnya manusia bersusah payah untuk mencapai hal-hal yang dikira dapat memuaskan hati ternyata hasilnya NOL besar, hasilnya sia-sia. Kepuasannya hanya sementara dan manusia mencari hal yang lain demikian seterusnya selama hidupnya. Tidak pernah habis-habisnya, seperti lingkaran setan.
Di Ujung Tanduk
Kita pasti pernah mendengar peribahasa ‘seperti telur yang di ujung tanduk’. Mungkin bagi pesulap ada ‘trik’-nya tersendiri yang dapat mendudukkan telur di atas ujung tanduk.
Tetapi secara alami memang amat sukar meletakkan telur di atas sebuah tanduk (banteng) misalnya. Dan peribahasa tersebut memang cocok untuk menggambarkan bagaimana rapuhnya kedudukan telur tersebut sehingga mudah jatuh kekanan kekiri kedepan atau kebelakang.
Bagi kita untuk mencoba meletakkan telur di atas sebuah ujung tanduk mungkin tidak lebih dari sedetik, pasti telur tersebut akan jatuh. Gambaran telur tersebut adalah gambaran manusia yang berdosa. Betapa rapuhnya manusia tersebut untuk jatuh hancur binasa. Sayangnya manusia sering tidak tahu diri bahwa dirinya rapuh, mereka berjuang mati-matian mencari kepuasan dan akhirnya mati sungguhan.
Tidak luput manusia Kristen yang secara status telah dipulihkan hubungannya dengan Tuhan. Tetapi tetap saja manusia secara lahiriah akan mudah jatuh dalam dosa. Cuma bedanya, manusia Kristen yang telah dilahirkan kembali itu digambarkan seperti telur yang di letakkkan di atas batu karang yang kokoh yang melindungi kita dari deburan ombak laut. Batu karang itu adalah Yesus Kristus yang telah rela mati untuk menebus kita dari kematian kekal.
Saudaraku sekalian, jika pada saat ini keadaan kita sangat rapuh, sangat lemah dalam menghadapi hidup dimana kita tidak mendapatkan kepuasan hidup, kita merasa hidup kita kosong, sia-sia, kita senantiasa merasa dikejar-kejar oleh dosa, kita merasa tidak ada jalan lain lagi dan merasa apa arti hidup kita ini.
Sadarilah bahwa kita tidak mampu menolong diri kita sendiri ! Orang lain, keluarga, teman, suami, istri, pacar, tidak dapat menolong kita. Pertolongan mereka hanya terbatas. Sedangkan kita ingin menyelesaikan masalah kita dengan tuntas supaya tidak merongrong hidup kita bukan ?
Hidup di ujung (tanduk) merupakan hidup yang rapuh sekali. Yang tidak sedetik sekalipun akan jatuh hancur dan binasa. Tidak memandang apakah kita muda, tua, kaya, miskin, sakit, sehat; tak sampai sedetik maka hidup kita binasa selamanya. Maka tak heran berapa banyak hidup yang berakhir dengan bunuh diri. Dan hal itu juga tidak menyelesaikan masalah. Bunuh diri hanya menimbulkan masalah bagi orang yang ditinggal, dan bagi si pembunuh diri sendiri akan menghadapi penghakiman tanpa belas kasihan. Inikah hidup kita yang kita inginkan ?
Saudara, coba kita renungkan apakah hidup kita ini berharga ? Atau lebih tidak berharga dari binatang ? Manusia telah diciptakan oleh Allah, maka manusia adalah mahluk ciptaan yang berharga, yang paling berharga. Dalam Mazmur dikatakan, manusia seperti biji mata Tuhan sendiri, yang sangat berharga.
Tuhan telah menawarkan pengampunannya pada kita. Apakah kita ingin menyambutnya atau lebih enak menikmati dunia yang manis yang segera binasa ini ? Karena dosa maka setiap manusia mempunyai masalah. Meski manusia lari kemana pun dia pergi tetap manusia akan dirundung dengan masalah. Adakah jalan keluarnya ?
Yesus Kristus hanyalah satu-satunya jawaban yang kita butuhkan. Kita berserah. Serahkan semua keluhan kita, masalah kita, sakit hati kita, kebencian kita, penyesalan kita, ketidakpuasan hati kita, kekosongan hati kita. Serahkan pada Yesus. Dia yang akan menjawab persoalan kita. Dia yang menolong kita pada waktuNya. Dia pula yang mengisi kekosongan hidup, jiwa kita.
Dia yang akan menyertai kita untuk menghadapi segala permasalahan kita. Seperti janji Tuhan kepada kita, “Marilah kepadaku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu ….. dan jiwamu akan mendapat ketenangan.” Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kita dicobai melampaui kekuatan kita. Pada waktu kita dicobai Ia akan memberikan kepada kita jalan keluar, sehingga kita dapat menanggungnya.
vancouver, ca, 17801