Kebanyakan dari kita pasti, paling engga, pernah merayakan hari ultah, yang jelas ya untuk memperingati hari kelahiran (seharusnya) tetapi kebanyakan yang dilakukan adalah menghitung usia yang telah kini dicapai dan harapan apa yang pengen dicapai pada masa yang akan datang.
Disatu sisi, sang remaja akan gembira karena udah mencapai usia delapan belas misalnya, dianggap semakin dewasa. Tetapi bagi sang opa yang berusia enam puluh lima, mungkin dia kagak bisa berbangga diri, karena seperti ada ungkapan nakal mengatakan, itu mah udah dekat ama bau tanah. alias makin tua ya makin mendekati saat meninggalkan bumi tercinta ini selama-lamanya.
Jadi ketika merayakan ultah makin gembira atau makin dipres atau malah menyesal, mengapa waktu begitu cepat jika waktu dapat dimundurkan lagi sepuluh duapuluh tahun lalu mungkin kita bisa berbuat sesuatu yang lebih baik lagi? Atau hanya menerima nasib aza dech. Menariknya di Alkitab tercatat ada beberapa tokoh yang ber-ultah, misalnya….
Dan terjadilah pada hari ketiga, hari kelahiran Firaun, maka Firaun mengadakan perjamuan untuk semua pegawainya. Ia meninggikan kepala juru minuman dan kepala juru roti itu di tengah-tengah para pegawainya: kepala juru minuman itu dikembalikannya ke dalam jabatannya, sehingga ia menyampaikan pula piala ke tangan Firaun; tetapi kepala juru roti itu digantungnya, seperti yang ditakbirkan Yusuf kepada mereka. Kej40:20-22.
Di Perjanjian Lama tentu kita masih ingat cerita tentang Yusuf yang di penjara bertemu dengan juru minuman dan makanan. Selanjutnya anda bisa membaca Alkitab kembali kalau udah lupa cerita selengkapnya. Demikian juga di Perjanjian Baru juga dituliskan tentang raja Herodes yang merayakan ultah. Tetapi pada hari ulang tahun Herodes, menarilah anak perempuan Herodias di tengah-tengah mereka dan menyukakan hati Herodes,… Mat 14:6
Meski tidak sedikit orang menentang perayaan ultah karena asal usul ultah yang ditengarai dari perayaan pagan, penyembah berhala, sihir dan sebagainya. Jadi seperti di Alkitab dituliskan tokoh yang merayakan ultah itu non believer (Firaun dan Herodes). Tetapi bukan berarti perayaan ultah itu tidak boleh. Tentu yang memprihatinkan ketika peryaan ultah itu menjadi hura-hura pesta bahkan sampai lupa diri. Karna saking excited kali yach.
Tetapi sebaliknya waktu perayaan ultah dapat menjadi hikmat bagi yang merayakan. Betapa waktu yang telah berlalu bagi yang ber-ultah dapat menjadi suatu pelajaran yang berharga untuk menatap masa yang akan datang. Waktu perayaan ultah dapat menjadi sautu ajang reuni keluarga misalnya. Mengembalikan keakraban dan kesatuan keutuhan keluarga. Perayaan ultah dapat juga menjadi suatu persekutuan antar jemaat misalnya.
Di awal Perjanjian Baru, dituliskan tentang kelahiran Tuhan Yesus. Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Luk2:11. Sampai saat ini orang Kristen memperingati dan merayakan kelahiran Tuhan Yesus. Alangkah indahnya jika perayaan itu menjadi suatu ajang pemberitaan Injil misalnya, daripada hanya menjadi suatu pesta hedon yang mungkin bakal menjadi huru hara.
Berapa banyak gereja jaman sekarang yang berpikir perayaan Natal adalah suatu celebration daripada suatu kebaktian untuk mengabarkan Kabar Baik. Panitia Natal bekerja keras untuk membuat suatu acara yang meriah, megah, hanya dapat menyenangkan hati jemaat. Seharusnya ibadah itu menyenangkan hati Tuhan. Bukan bagaimana kita merasa comfortable waktu memperingati dan merayakan hari kelahiran Tuhan Yesus tersebut.