Apa kabarnya Dan Brown? Filem yang masih kategori baru yang diambil dari bukunya Dan Brown “Angels and Demons” dengan lakon yang sama Robert Langdon, meski kali ini buku dan filemnya tidak meledak seperti kontroversial Da Vinci Code (DVC).
Masih keinget kalau pas peluncuran novel DVC, baik yang Kristen atau yang bukan pada ribut. Tentu yang non Kristen pada seneng terkagum-kamu ama “penemuan” Dan Brown tersebut (bahwa Yesus itu menikah dan punya anak dan sebagainya). Tapi bagi pihak umat Kristiani, itu bukan saja penghinaan bahkan penghujatan kepada Tuhan Yesus.
Tentu yang luar biasa beruntungnya ya Dan Brown. Baik atau buruk tulisan bukunya, ternyata diperkirakan sampai pertengahan tahun 2006 buku Dan Brown tersebut dicetak lebih dari 60 juta dan diterjemahkan ke 44 bahasa dunia. Engga heran berkat keberhasilan penjualan bukunya, Dan Brown kini diperkirakan berpenghasilan 200 juta dollar ada didalam koceknya.
Dan Brown yang dulunya pengen jadi penyanyi, kini hanya jadi penulis aza udah cukup. Namanya yang sudah melambung tinggi dijajaran penulis novel fiksi Amrik merupakan jaminan bagi penerbit buku. Keberhasilannya Dan Brown tidak lepas dari dorongan istrinya (yang sekaligus menjadi manajernya) Blythe Newton. Dan kini tentu saja nama Dan Brown merupakan musuh besar umat Katolik dan Kristiani. Bukunya merupakan ajaran sesat yang harus dijauhi.
Disatu sisi, sebagai seorang penulis, emang kagak bisa disalahkan kalau Dan Brown bisa punya ide gila menulis seperti cerita di Da Vinci Code. Namanya aza fiksi. Kalau nama-nama yang ada didalam cerita mempunyai kesamaan kayaknya sah-sah aza. Engga sedikit penulis yang mengambil peristiwa sejarah sebagai latar belakang cerita mereka. Dan lucunya penulis yang mencuplik kejadian sejarah itu pun menuliskan dengan cerita sejarah yang salah pula. Atau penulis salah menterjemahkan cuplikan sejarah tersebut.
Dan kalau ada pembaca yang merasa buku novel itu peristiwa yang benar-benar terjadi, memang bukan salah penulis 100%. Pembacanya terlalu pinter atau sebaliknya. Jadi paling engga, kalau membaca ya pakai mikir lah. Even kalau penulisnya menuliskan ceritanya itu diambil dari true story misalnya. Ya kalau masih dalam dunia fiksi ya mau diapakan lagi. Fiksi itu kan imaginasi penulis. Cerita rekaan penulis.
Terlepas dari cerita Dan Brown yang menyesatkan atau memutar balikkan Alkitab. Dipihak laen tentu gw setuju kalau Dan Brown emang kebablasan, kelewatan dalam memutar balikkan atau menginjak-nginjak fakta sejarah, terutama yang berkenaan dengan hidup Tuhan Yesus. Dan Brown tidak memberi kesempatan secuil pun respek kepada sejarah hidup Tuhan Yesus. Karena dia percaya akan buku Holy Blood, Holy
Grail karya Michael Baigent, Richard Leigh, and Henry Lincoln.
Suatu pelajaran yang didapat disini bahwa apa yang kita tuliskan (apalagi ditulis) harusnya kita pikirkan sejauh mana akan mempengaruhi orang yang akan membacanya. Apalagi telah menjadi sebuah buku yang engga bisa begitu saja dihapus kayak men-delete tulisan di program Word. Buku itu akan ‘kekal’. Berapa banyak lagi pembaca yang akan disesatkan olehnya.
Sebaliknya bagi umat Kristiani, ketika membaca buku harusnyalah berpikir kritis. Bukan itu saja, orang Kristen harus mau belajar pengajaran Kristen yang benar. Jadi kalau ada ajaran yang lain dari Alkitab, kita tahu itu pasti bukan ajaran Kristus. Kalau pun membaca buku tulisan baru Dan Brown yang berjudul The Lost Symbol (simbol yang hilang) kita pasti akan mengerti bahwa ‘ajaran’ atau teori Dan Brown tentang kekristenan itu hanyalah sampah.
Sayangnya berapa banyak sih orang Kristen yang mau belajar teologi. Pemimpin Kristen pun belum tentu mau belajar teologi (kasihan jemaatnya). Dan kalau mau belajar pun, belajar yang mudah saja dech(susah-susah belajar buat apa toh?); ‘belajar yang aku senang aza’. Jemaat nya pun engga ada yang protes koq. Maka Dan Brown pun juga akan berkata, “jadi ngga problem kan, klo gw menulis suka-suka gw……”