Anda pernah menjawab pertanyaan seperti berikut, “Apakah anda bangga jadi orang Indonesia?” “Apa sich bangganya jadi orang Indonesia?” Jawaban itu masih mending klo kita menjawab ama orang yang kagak tahu tentang sejarah Indonesia. Tapi kalau yang mendengar jawaban kita tau tentang sejarah Indo mungkin aza kita bisa ‘uncomfortable’.
Jawabnya pasti bangga dong. Lahirnya aza di Indo. Sekolah hidup bekerja bergereja di Indo. Enggak sedikit bok yang malu-malu (in) mengatakan engga bangga kalau jadi orang Indo. Tapi hidupnya, tinggalnya masih di Indo. Makannya juga makanan khas Indo. Mungkin ada orang yang kena penyakit ‘lupa ingatan’ lupa dimana dia berada atau hidup.
Kita pun bakal malu kalau dibanding ama penduduk negara laen. Yang bangga banget ama negara mereka. Menjunjung tinggi, membela nama negara mereka misalnya (emang engga 100%). Bahkan sampai bangga dengan produk dalam negeri (dan tentu mereka pake produk negaranya sendiri dunk). Mungkin kita pernah denger akan pepatah, baik buruk negara gw, ya tetep negara gw.
Pernah gw cerita kan kalau seorang teman ketika dianya ditanya, dari negara mana asalnya? Dianya menjawab, dari Singapore, Malaysia, Thailand atau Filipina. Bukan dari Indonesia. Menyedihkan kan? Karena Indonesia dikenal orang dengan berita bomnya (apalagi yang baru terjadi di dua hotel gede di Jakarta). Emang sich orang hanya bakal nginget jeleknya. Jeleknya suatu negara. Jeleknya seseorang.
Seharusnya kita mikir yang lebih positif. Betapa hebatnya tanah air kita. Alamnya. Sumber alamnya. Kecantikan alamnya (seperti Bali, Lombok atau yang laennya). Masyarakatnya yang majemuk dan ramah tamah. Budayanya yang kaya. Negara laen mungkin kagak punya kelebihan-kelebihan ini. Kita juga tau kalau negara laen juga mempunyai kelebihan. Tetapi mereka mempunyai kejelekannya juga. Kayaknya tepat peribahasa yang berkata, ‘rumput tetangga lebih hijau dibanding rumput rumah sendiri’.
Bandingkan dengan kekristenan, apa anda bangga jadi orang Kristen? Apa pas ada masalah, pura-pura bukan jadi orang Kristen? Apa kita berani tampil sebagai orang Kristen dimana, kapan saja? Mungkin ada sebagian orang Kristen mau makan aza sungkan untuk berdoa, karena teman semejanya semua bukan orang Kristen. Entar di julukin “alien dari mana ini?”, atau jadi bahan olokan.
Mungkin sebagian dari kita tahu bahwa slogan gay/ lesbian itu adalah “pride” bangga ama dirinya, keadaaanya. Mereka bukan lagi takut-takut ketahuan, malu-malu bahwa diri mereka beda, atau disembunyikan, tapi mereka malah bangga, mereka menuntut hak mereka enggak dibedakan. Aneh juga kan ya, yang menentang Alkitab enggak malu-malu, tetapi yang memberitakan kebenaran melalui dirinya, yang malah malu.
Apakah kita bangga sebagai orang Kristen di antara anggota keluarga kita yang belom percaya? Di antara anak-anak kita? Dimana kita tahu semakin hari identitas sebagai orang Kristen bukan lagi hal yang special. Udah biasa. Kuno malah. Banyak juga kan orang mengaku dirinya Kristen tapi hidupnya ajubilah lebih buruk dari non Kristen atau agama laen? Maka engga heran ada orang Kristen yang malah malu kalau identitasnya ketahuan.
Firman Tuhan mah keras banget, “Sebab barangsiapa malu karena Aku dan karena perkataan-Ku di tengah-tengah angkatan yang tidak setia dan berdosa ini, Anak Manusiapun akan malu karena orang itu apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan Bapa-Nya, diiringi malaikat-malaikat kudus.” Markus8:38.
Tentu gw kagak tau motif-nya apa kalau seseorang ber-KTP Kristen tetapi dia bukan orang Kristen atau kristen-kristenan. Meski kadang bagi orang Kristen yang sudah lahir baru, apakah kita bangga menjadi orang Kristen, sebagai anak Tuhan, pengikut Kristus diantara dunia ini?