Gw percaya kalau keajaiban dunia yang direstui oleh para lembaga dunia mempunyai dasar seni yang tinggi dan pemikiran yang hebat dari manusia. Meski cuman 7 aza yang dicatat, tapi masih banyak juga kan yach yang menurut kita keajaiban dunia laennya. Tapi kalau dimasukkin semua nanti julukannya jadi 30 Keajaiban Dunia misalnya, kayaknya koq kurang keyen gitu. Tigapuluh, apa kagak kebanyakan (misalnya). Kagak ada specialnya. Klo tujuh kan kayaknya memang ini bener-bener spesial (pake telor), ajaib gitu.
Gonjang ganjing mengenai tujuh keajaiban dunia pun kagak ada juntrungannya. Karena keajaiban dunia itu kayaknya subyektif dech. Terutama pemilihan 7 keajaiban dunia pada masa modern ini. Yang diprakarsai oleh Bernard Weber, warga Canada untuk menyusun kembali Tujuh Keajaiban Dunia. Subyektifitasnya tentu kembali kepada kepentingan nasional, politik, ekonomi, turisme masing-maisng negara dimana obyek (wisata) 7 keajaiban dunia itu berada. Karena pemilihan ketujuh keajaiban dunia itu berdasarkan voting, maka bisa jadi kegencaran promosi berbagai pihak akan memenangkan banyaknya suara voting. Coba andaikata pemerintah Indonesia gencar berpromosi tentang Candi Borobudur kepada masyarakat dunia mungkin Candi Borobudur bakal masuk menjadi salah satu keajaiban dunia. Ini dugaan gw aza.
Betapa luar biasanya hasil karya Candi Borobudur tersebut, dari segi arsitek, teknik pembangunan, keindahan seni, sampai cara pembuatan; merupakan suatu hasil karya yang mengagumkan. Tetapi nama Candi Borobudur masuk didalam final pun tidak. Atau dikarenakan, pemeliharaan, perawatannya yang masih kurang diperhatikan? Gw kurang paham. Well, tujuh keajaiban dunia yang sekarang kayaknya udah bukan model jaman Herodotus lagi. Karena yang sekarang dibawah pelaksanaan Lembaga New7Wonders, ada New Seven Wonders, Middle Ages Wonders, Ancient World Wonders, Civil Engineering Wonders, Man-made Wonders, Natural Wonders, Underwater Wonders.
Sempet mikir sich, kenapa ada 7 Keajaiban Dunia? Meski UNESCO sempat mencatat konon ada 850 tempat yang dapat disebut sebagai keajaiban dunia. Pertama tentu kagak bisa lepas dari siapa dibelakang dari keajaiban dunia tersebut? Manusia? Alam? No way hosey. Ya tentu sang Pencipta Agung kita, Allah Bapa. Kadang karena setiap hari kita udah biasa dalam lingkungan sekitar kita maka pandnagan kita hanya mentok hanya pandangan kesehari-harian itu. Coba sesekali kita melihat pemandangan diluar “dunia” kita. Kita pasti bisa merasakan bahwa Allah itu ada. Allah itu berkuasa atas alam semesta ini. Atas hidup kita.
Meski manusia bisa membuat hasil karya yang disebut dalam Keajaiban Dunia (seperti Great Wall di China, Taj Mahal di India atau Candi Borobudur) tetap saja semua itu adalah anugerah Allah atas hidup manusia. Membukti manusia adalah ciptaan Allah yang berakal budi. Dicipta menurut peta dan teladan Allah. Kedengarannya akan lucu kalau arsitek pemikir dari pembuat hasil karya keajaiban dunia itu terus berkata, “Thanks god, aku keturunan monyet….” Kesian dech elo.
Ciptaan Allah yang luar biasa yang engga bisa dituliskan dengan kata-kata hanya untuk dinikmati oleh manusia. Binatang kagak bisa menikmati tujuh keajaiban dunia. Maka manusia patut bersyukur bahwa Allah yang mengkaruniakan anugerahNya sehingga manusia mampu menbuat hasil karya yang hebat itu. Demikian pula dengan keajaiban alam, sudah pasti bukan terjadi begitu saja.
Bukan hanya Tujuh Keajaiban Dunia saja yang patut kita kagumi tetapi seluruh alam dan isinya ciptaan Tuhan patut kita kagumi dan syukuri. Dan semua itu hanya untuk kemuliaan Tuhan semata. Jonathan Edwards pernah mengatakan, “Allah memuliakan diriNya melalui ciptaanNya (alam semesta) yang dimengerti oleh ciptaanNya (manusia). CiptaanNya akan ‘berkata-kata’ dengan kekaguman, mencerahkan dan dinikmati dalam hati manusia. Sehingga Dia akan dimuliakan bagi yang mengerti melalui jiwa dan hati mereka.”