Seorang teman Kristen bercerita bahwa tanpa diduga putrinya bertanya, “Dad, bisa minta uang untuk bikin Tato?” Teman gw jadi kebakaran jenggot. (untung dia engga punya jenggot
Maka dengan membeberkan fakta dan alasan laennya, maka jawabannya si teman adalah NO kepada putrinya.
Teman Kristen laen juga pernah cerita, putrinya juga pernah minta di Tato, tapi kagak diberi. Eh diem-diem si putri rupanya berusaha sendiri. Ketika pas berpakaian santai di rumah, si teman ngeliat di tungaki kaki kanan putrinya ada Tato bergambar Salib. Setelah di interograsi, si putri ngaku dan kagak berani lagi. Tapi udah terlanjur. Kalau mo menghapus tato kan engga mudah dan engga murah. Maka sang temen ini hanya makan ati. Malah si putri ngomong, “Biar orang laen tau Mam, kalau aku orang Kristen.”
Emang di Alkitab kagak ada ditulis tentang Tato boleh atau dilarang. Meski gw percaya kalau Tato udah ada sejak jaman Alkitab. Yang pernah disebutkan di Alkitab mungkin bisa diambil dari Imamat 19:28, “….. dan janganlah merajah tanda-tanda pada kulitmu; Akulah TUHAN.” Kata “merajah tanda-tanda pada kulit” kalau ditelusuri dari bahasa aslinya (Ibrani) dapat berarti tulisan/ gambar dengan tinta yang dilekatkan (permanen) pada tubuh ya alias Tato.
Kitab Imamat di Perjanjian Lama juga toh bagian dari Firman Tuhan, maka jangan ada alasan bahwa kita hidup dalam pernjanjian Baru. Malah di 1 Korintus, Paulus menuliskan bahaw “Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, –dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” 1 Kor6:19,20.
Menurut cacatan operasi Kulit dari Masyarakat Amerika, ditengarai bahwa lebih dari 50% orang yang udah terlanjur di Tato pengen dihapus dari kulit tubuhnya. Sayangnya Tato itu kagak bisa di Delete begitu aza kaya pas kita salah ngetik di Word, misalnya. Dan biaya operasi ‘penghapusan’ Tato itu tidak murah. Bisa makan biaya sekitar $5.000 – 20.000 dolar tergantung gede kecilnya Tato, dengan proses sekitar 2 tahunan. Dan itu pun hasilnya ngga dijamin Tato-nya bakal hilang 100% alias paling engga ada bekas-bekas Tato yang masih kelihatan.
Tentu kita bakal binung, ngapain gitu yach (di Tato segala). Tubuh ciptaan Tuhan yang udah baek begini masih pengen ‘dicorat-coret’. Maka ada pernyataan yang mengatakan kalau Tato itu tanda pemberontakan. Pengen laen daripada yang laen. Keren. Pengen keliatan kayak anggota mafia, biar disegani. Di Jepang, konon, Tato tanda Yakuza. Di Amrik, Tato dikenal sebagai tanda bekas narapidana atau anggota rock band. Di Inggris, bagi penzinah akan di Tato dengan tanda BC (Bad Cahracter).
Atau di ketentaraan, bagi prajurit yang bersalah akan di tato dengan tanda D ‘deserter’ (pembelot). Juga ada tato sebagai tanda budak. Ada juga sepasang kekasih yang menato tubuhnya dengan nama kekasihnya. Tetapi setelah bubaran, mereka pada menyesal – ngapain harus di Tato segala. Tato juga banyak dijumpai di tubuh para homoseks. Tato juga tanda hubungan seks, kekerasan, pemakai obat bius. Tato juga berkenaan dengan sakit penyakit (seperti AIDS, Hepatitis B (C), tetanus, sipilis - yang disebabkan oleh pemakaian berulang dari jarum Tato yang dipakai. Kayaknya Tato konotasi-nya lebih banyak negatif daripada sebaliknya.
Jadi, boleh atau engga boleh? Paulus pernah menulis, “”Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. “Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun. 1Kor.10:23.
Sumber:
Danny Sugerman, Appetite for Destruction: the Days of Guns N’ Roses; Ronald Scutt, Art, Sex and Symbol