Kalo anda mengira tulisan ini mengenai filem IronMan yang dibintangi oleh Robert Downey Jr pada tahun 2008 yang lalu, pasti salah besar. Karna gw kagak pengen men-review filem yang udah lewat. Meski ada filem IronMan 2, yang akan diluncurkan tahun 2010, gw juga kagak bakal me-review filem tersebut.
IronMan yang satu ini lebih lengkapnya disebut dengan IronMan Triathlon, alias pertandingan 3 cabang olahraga, yakni berenang dengan jarak 3,86 km (biasanya berenang di danau yang gede areanya, jadi bukan berenang di kolam renang), lalu disambung dengan menggenjot sepeda sepanjang 180,25 km (iya bener 180 km!) dan terakhir lari maraton sejauh 42,195 km.
Ketiga cabang olahraga itu dilakukan bersambungan, tanpa henti (ya, tanpa istirahat) sekaligus dalam satu hari. Kalau Gatotkaca, ksatria Pringgodani, punya julukan “otot kawat tulang besi”, jaman modern kali disebut IronMan.
Dan peserta IronMan ini kagak sedikit, diperkirakan ada 3000 orang pengikut pertandingan ini (dari seluruh dunia). Emang sich kalo dipikir, tubuh para peserta IronMan itu terbuat dari daging plus campur karet kali. Terus paru-parunya punya ada 4 tabung oksigennya sebagai cadangan paru-paru. Dan jantungnya mungkin pake baterai Duracel, yang lamaaaa abisnya. (it keeps going and going and going and going).
Tentu aza, para peserta itu bukan kayak superhero yang pernah kita bayangkan Batman, Spiderman atau Superman dengan mengganti bajunya udah jadi superhero. Tetapi para IronMan tersebut melatih dirinya, dengan ketekunan, kesabaran, tidak putus asa. Sehingga dapat menghasilkan suatu daya tahan tubuh yang luar biasa kuatnya.
Fokus dan konsentrasi penuh pada latihan mereka. Gw pernah membaca bagaimana seseorang melatih dirinya untuk mengikuti IronMan Triathlon ada yang berlatih 4 bulan bahkan ada yang sampai 10 bulan. Konon katanya latihannya 5 hari seminggu, 4 jam tiap harinya. Luar biasa kan? Jadi kayak model atlit profesional aza.
Atlit pebulutangkis, atlit sepak bola dan atlit-atlit lainnya mempunyai komitmen yang teguh dalam menjalani latihan mereka. Secara dunia, tentu para atlit berlatik sekeras mungkin untuk tujuan menjadi juara, menjadi terkenal, menjadi nomer satu di dunia, kebanggaan negara, kebanggaan diri, kebanggaan sementara.
Keinget akan rasul Paulus yang juga pernah menulis seperti ini: “Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi.” 1Kor9:25
Bukan berarti kita engga boleh berprestasi atau menggapai cita-cita kita, tapi ada yang sesuatu yang lebih tinggi daripada apa yang dapat kita raih dalam dunia ini; yakni mengerjakan panggilan Tuhan kepada kita. Memberitakan Injil, menjadikan Injil hidup dalam hidup kita.
Tentu, wow, itu mah muluk banget impiannya. Mau hidup bener di hadapan Tuhan aza susyah, apalagi mau memberitakan Injil bagi orang laen? Klo kita berusaha sendiri mau hidup bener sich itu mah mustahil. Karena ga ada orang yang hidup bener dihadapan Allah. Kita bisa hidup bener karena pemberian Allah, melalui karya penebusan Anaknya yang Tunggal Tuhan Yesus Kristus. Diluar itu mah omong kosong.
Maka bagi kita yang udah dipanggil oleh Kristus, kita patut bersyukur ‘n kudu fokus ama panggilan itu. Kita ini kan manusia rapuh istilahnya. Gampang banget untuk jatuh dalam dosa. Maka kagak ada jalan laen selaen ya kita kudu harus “stick” ama Tuhan. Jangan menjauhkan diri kita dari ibadah atau persekutuan orang kudus, membaca ayat-ayat cinta Tuhan, chatting ama Dia, menjauhi pencobaan, fokus ama Dia dan mempraktekkan ajaranNya.