Apa engga salah? Mungkin aja ada, mungkin juga engga. Ini kan bayangan gw. Sebelon tanggal 2 Okto 2009, kayanya Batik itu bisa diakui karya dari negara mana aza. Pernah sekali ngobrol ama teman kerja dari Singapore yang menunjukkan ada Batik dari Afrika, dari Jepang. Dalam hati gw tertegun, lho bukannya batik berasal dari Indonesia? Lah ini koq ada batik Afrika, batik Jepang.
Seorang teman juga menuding negara tetangga tercinta kita, Malaysia, yang bikin susah orang aza. Karena pernah ada anggapan bahwa batik berasal dari Malaysia. Ini emang kagak salah seluruhnya, karna batik dianggap bukan budaya dari suatu negara, tapi budaya dari bangsa serumpun. Maka kalo kagak ada yang meng-klaim batik asalnya dari mana, Malaysia boleh aza meng-klaim batik merupakan budayanya dunk.
Kadang kita juga perlu mengaca diri, mengapa kejadian ini bisa sampai terjadi. Karena emang kagak ada tindakan atau kasarnya “kepedulian’ kita untuk meng-sahkan mengumumkan kepada dunia bahwa Batik adalah budaya bangsa Indonesia. Syukur kalau angklung akan disahkan menjadi budaya Indonesia tahun 2010. Bagaimana dengan wayang orang? Wayang kulit? Konon pernah terdengar berita wayang juga berasal dari Malaysia. Dan mungkin masih banyak kebudayaan bangsa Indonesia lainnya yang seharusnya membuat kita bangga di kalangan dunia.
Pelajaran laen tentu bagaimana kita sekarang menghargai, peduli dan memelihara kebudayaan Indonesia. Karena itulah maka bangsa asing yang akan “membeli” hak kebudayaan itu menjadi milik mereka. Betapa tragisnya kalau bangsa asing menghargai kebudayaan itu tetapi bangsa pemiliknya tidak.
Kebudayaan yang kita punyai dapat menjadikan jati diri. Identitas diri. Misalnya menjadikan Batik menjadi pakaian nasional. Maka kalau ada orang memakai Batik di Alaska sekali pun pasti diketahui bahwa budaya Batik itu berasal dari Indonesia dan pakaian nasional Indonesia, misalnya.
Dan refleksi dari peristiwa di atas adalah bahwa identitas orang Kristen bukan memakai kalung salib. Rumahnya banyak kayu salib atau gambar Tuhan Yesus. Atau membawa-bawa Alkitab kemana-mana. Tuhan Yesus pernah mengatakan begini: “Jikalau suatu pohon kamu katakan baik, maka baik pula buahnya; jikalau suatu pohon kamu katakan tidak baik, maka tidak baik pula buahnya. Sebab dari buahnya pohon itu dikenal.” Mat12:33
Buah orang Kristen bukan saja perbuatan nyata yang kelihatan oleh orang banyak tetapi juga hal-hal yang tidak kelihatan. Bengong kan? Kamsudnya kalo perbuatan nyata itu gampang bisa dibuat. Tetapi kalau hal-hal yang engga kelihatan itu adalah kehidupan sehari-hari tanpa sandiwara. Perbuatan nyata bisa kelihatan manis, kalau lagi pas ada di gereja. Kalo udah sampai di rumah jadi saingan penghuni neraka.
Buah dari pohon adalah hidup yang telah diserahkan sepenuhnya kepada Tuhan Yesus. Oleh karna panggilanNya, kita dimampukan untuk meresponi panggilanNya. Jadi buah pertobatan itu kagak bisa digantikan oleh apa pun. Orang dunia bukan saja bisa melihat perbuatan nyata orang Kristen sejati tetapi juga bisa merasakan ada yang beda dengan anak Tuhan.
Dan anak Tuhan kagak bisa diem-diem-an. Karena Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Kita telah dipilih Tuhan untuk menjadi terang dunia. Ibarat kalau seseorang memakai Batik, paling tidak kita tahu bahwa Batik ada kaitannya dengan bangsa Indonesia. Kagak perlu menulis dengan spidol gede-gede “saya orang Indonesia” di dadanya. Ketika orang lain disekitar kita, mereka tahu bahwa kita adalah orang Kristen. Bukan dengan sengaja menunjukkan kayak orang Farisi. Tetapi dari hati akan terpancarkan perbuatan kasih yang akan memuliakan nama Tuhan.
hihihi batik motif parang….