Baru-baru ini sempet terdengar kalau Miley Cyrus alias si Hannah Montana mogok menulis Twitter-nya. Alasannya emang masih belom diketahui dengan benar. Kabar terakhir penghentian Miley menulis Twitter-nya dikarenakan co-nya. Ada juga yang bilang dikarenakan mama Miley.
Dan tentu aza para penggemar Miley Cyrus, yang dikabarkan sebanyak 1,1 juta pengikut (followers) tentu pada kuciwa, karena idolanya kagak bisa nongol lagi di Twitter. Asal tau aza, Twitter itu kayak SMS tapi melalui internet. Yang panjang hurufnya dibatasi sampe 140 huruf.
Jadi Twitter mirip kayak blog super mini. Ada penulis Twitter yang ngebuat Twitter-nya mirip kayak buku harian. Misalnya, dari pagi jam 6 sang penulis udah bangun, terus gosok gigi (jam 6:15), baca koran (jam 6:30), nongkrong di depan komputer (jam 6:40), makan pagi (jam 7:00) dan seterusnya. Tentu sang penulis kagak perlu membondong komputer laptop, tapi cukup dengan Blackberry misalnya.
Oke, kira-kira udah cukup DECH tentang Twitter. Yang keinget bagi gw salah satu semboyan Twitter adalah “Follow Me” dan nantinya bakal ada pengikut (follower) yang mengikuti Twitter tersebut. Contohnya adalah Twitter dari Miley Cyrus dengan 1,1 juta fans-nya.
Tentu Follow Me-nya Twitter boleh diibaratkan kayak Pied Piper, itu lho cerita legenda Peniup Suling – karena begitu indahnya lagu yang disulingkan sehingga banyak anak-anak yang mengikuti kemana saja si Peniup Suling itu pergi. Tetapi Tuhan Yesus juga pernah memanggil muridNya dituliskan di Matius4:19 “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.”
Pas waktu itu Tuhan Yesus sedang menyusuri pantai Galilea, yang tentunya Dia bukan sedang santai menikmati keindahan pantai. Tuhan Yesus tahu pasti ketika Dia ada ditempat itu ada tujuannya. Engga ada kamus “kebetulan” bagi Tuhan. Karna Dia tahu bahwa dia akan menemui bakal muridNya.
Ketika Tuhan Yesus “memilih” kedua saudara nelayan ikan, Petrus dan Andreas; Matius mencatat Tuhan Yesus “melihat” mereka yang sedang bekerja. Dan gw percaya Tuhan Yesus bukan kayak psycholog yang meng-observasi dulu kedua orang tersebut layak enggak jadi muridNya – tetapi Dia sudah tahu bahwa kedua penjala ikan itu akan menjadi muridNya.
Tuhan Yesus tidak melihat keadaan “luar” mereka. Koq mau-maunya memilih penjala ikan. Apa kekurangan orang laen toch masih banyak yang profesinya lebih baikan keq dari nelayan ikan. Tetapi Tuhan Yesus melihat “jauuuh” dari apa yang dilihat manusia. Karena Dialah Tuhan.
Seorang teman pernah komentar mengapa TuhanYesus engga memilih seorang CEO perusahaan yang top, kan banyak koneksi, orang yang berpengaruh, kaya, mudah untuk menginjil. Kayaknya pikiran itu benar. Mengapa memilih penjala ikan yang tentunya mereka miskin, fisik yang mungkin tidak menarik. Tetapi ingat jika seorang CEO yang menjadi murid Yesus, maka bisa dipercaya bahwa orang mengikut Yesus hanya karena karisma manusia (si CEO itu), karena pengen deket ama si CEO itu, melihat kehebatan si CEO itu. Mereka tidak akan melihat Tuhan Yesus.
Sama, ketika orang Kristen menginjil dengan segala kemewahan fasilitas yang dipunyai, orang datang ke gereja karena kenyamanan fasilitas, mereka pengen ‘deket’ dengan Tuhan Yesus karena roti! Kalau dibanding dengan penginjilan jaman dulu (misal jamannya John Sung) dan jaman sekarang tidak ada bedanya. Menjala jiwa-jiwa bagai Tuhan Yesus.
Meski banyak juga orang yang menyelewengkan Injil hanya untuk kemegahan dirinya sendiri. Bagaimana dengan pemberitaan Injil gereja bawah tanah di China yang super sangat sederhana, tetapi mereka tetap bisa memberitakan Injil dan banyak orang bertobat mengikut Yesus.
Maka motivasi “memberitakan Injil” itu untuk mengikut Tuhan Yesus atau untuk mengangkat diri sendiri. Kadang ada orang berpikir untuk menjadikan Twitter sebagai sarana pengabaran Injil, engga salah. Tetapi kalo motivasinya, biar yang ikut gw (follower) bisa mencapai jutaan orang, dan membuat kita bisa menyombongkan diri. Maka kita perlu kembali kepada Tuhan.