Setiap tahun perusahaan dimana gw bekerja selalu memberikan inspirasi, melalui kegiatan sosial mereka yang diberi nama Raise a Reader – Menumbuhkan seorang Pembaca, yang tahun ini diadakan pada tanggal 28 September 2011. Kenapa ada kegiatan ini tentu ada maksudnya. Ternyata kegiatan membaca itu selalu kurang, dimana pun manusia berada. (apalagi menulis, wah boro-boro dech).
Jangan heran di negara yang disebut maju seperti Canada, jumlah buta huruf masih banyak, apalagi orang yang malas ngebaca. Emang sich kalo dibanding ama negara berkembang, negera-negara Barat masih lebih banyak pembacanya. Maka itu toko buku disini masih bisa survive alias belom bangkrut.
Padahal dengan membaca adalah salah satu sumber untuk mendapat pengetahuan. Untuk jadi lebih pinter. Lebih bijaksana. Lebih kreatif. Lebih imajinatif. Lebih kaya (mungkin). Lebih fokus. Lebih….. kayaknya masih banyak lebihnya dech buat seseorang membaca. Dengan banyak membaca, seseorang dapat menulis. Ini resep dasar menulis. Apalagi moto Raise a Reader tahun ini, membaca dapat mengubah hidup. Wow!
Dan bagi seorang kristiani membaca tidak kalah pentingnya dengan fellowship. Apa artinya kalo hanya banyak bersekutu tapi gak pernah baca Alkitab? Poin gw bukan dengan banyaknya membaca lalu seseorang bisa lebih rohani atau lebih dari orang kristen pada umumnya. Tetapi kebiasaan membaca, juga akan membiasakan kita membaca Alkitab.
Karena betapa buanyaknya orang yang menyebut dirinya Kristen malas membaca Alkitab. Apalagi membaca buku-buku kristen. Padahal dengan membaca Alkitab terjalinnya suatu persekutuan pribadi seseorang dengan Allah. Dan hal ini sering diabaikan oleh banyak orang kristen yang menganggap persekutuan atau mendengar kotbah (ke gereja) lebih penting daripada membaca Alkitab.
Padahal Alkitab adalah Kabar Baik. Tapi mungkin kita lebih seru membaca kabar buruk. Lebih menarik. Benarkan? Entah benar atau tidak, surat kabar dengan headline kabar buruk akan lebih laku daripada dengan headline kabar baik. Kabar buruk lebih menarik perhatian manusia.
Mungkin kita lebih senang mendengar atau membaca berita dosa orang lain. Coba di atas meja ada tabloid berita kejahatan dan disampingnya ada buletin gereja. Gw yakin, kebanyakan orang bakal mengambil, membaca, tertarik sama tabloid berita kejahatan. Kata lainnya, karena kita orang berdosa, maka kalo kita denger berita orang berdosa, kita merasa senang atau membenarkan dosa yang pernah kita perbuat. Gitu kali?
Atau kita bisa lebih bangga bahwa untung gw enggak melakukan kejahatan kayak begitu. Berita buruk juga bisa jadi bahan gossip. Enak dan gampang diomonginnya. Coba Kabar Baik alias Alkitab. Boro-boro kita mau ngomongin, mau mulai aza kagak tau gimana caranya.
Balik lagi ke perihal membaca. Kebiasaan membaca Alkitab bukan tergantung pada hobby kita membaca atau enggak. Membaca Alkitab juga bukan untuk kepentingan kita. Bukan supaya pengetahuan Alkitab kita makin baik sehingga kita dapat membela iman kita ketika seseorang bertanya kepada kita. Membaca Alkitab juga bukan kiat ‘masuk surga’. Atau kita bakal terhindar dari mara bahaya.
Karena kita membaca Firman Tuhan yang adalah Tuhan sendiri. Supaya makin hari kita lebih mengenal Dia, yang telah mewahyukan DiriNya kepada kita. Semua adalah dari Dia, dan untuk Dia, untuk kemuliaanNya. Sehingga kita dapat menyadari bahwa hidup kita sepenuhnya berserah kepadaNya untuk kemuliaanNya.
Masalahnya, kita membaca aza udah alergi. Apalagi membaca Alkitab. Membaca Alkitab hanya dengan pimpinan Roh Kudus. Kalo cuman kebiasaan, atau hobby, pas kita inget kita baca, pas kagak besok aza dech dan seribu alasan laennya.
Tidak ada salahnya menumbuhkan seorang anak untuk biasa membaca, khususnya membaca Alkitab setiap hari. Dengan demikian mulai sejak dini seseorang atau seorang anak membaca mengenal Allah dalam hidupnya. Sehingga dalam saat untuk mempraktekkan tidaklah sulit.