Untuk kedua kalinya gw nonton konser musik Kristen. Kali ini udah agak pengalaman, kagak kayak yang pertama waktu nonton konsernya Third Day. Kenapa gw mau nontonkonser musik untuk yang kedua kalinya?
Karena gw harap musik yang akan dipertunjukkan paling engga seperti musik dalam ibadah. Yang tidak hura-hura (kayak konser musik duniawi), ada damai waktu ikut menyanyikan lagu-lagu yang dinyanyikan oleh pembawa konser. Dan tentu siapa yang engga tahu nama besar artis musik Kristen seperti Michael W Smith, seperti lagunya Friends atau Above All. Michael juga merupakan salah satu pelopor musik Kristen kontemporer (sejaman dengan Amy Grant, Sandy Patty).
Selain Michael W Smith konser musik kali ini diiringi oleh salah satu pemusik Kristen yang besar pula yakni Steve Curtis Chapman yang nge-top dengan lagunya I Will be Here yang biasa dinyanyikan waktu pernikahan Kristen. Juga datang Brian Doerksen (berasal dari Abbotsford – satu jam dari kota Vancouver) pencipta lagu Come Now Is The Time To Worship. Sebagai pemusik pembuka acara terseb
ut.
Tentang konser itu sendiri. Seperti yang gw tulis di atas, harapan gw konser kali ini bisa lebih membuat suasana seperti worship. Tetapi hal itu tidak terjadi. Karena itulah konser musik demikian kata tetangga yang duduk di sebelah kiri gw. Konser musik yang harus memenuhi kriteria bisa membawa energi untuk dirasakan oleh para penonton. Pemusik harus bisa membuat penonton menikmati, bergoyang, engga ngantuk dan mungkin kalau bisa, histeris. Maka musik harus dilantunkan dengan keras untuk bisa menjaga penonton supaya engga bosan. Dan tentu engga boleh dilupakan adalah untuk menyenangkan penonton.
Konser musik tersebut kayaknya kagak beda ama konser musik duniawi. Jangan mengatakan bahwa momen itu kan baik untuk menjangkau jiwa-jiwa yang belom mengenal Tuhan Yesus. Gw percaya bahwa Tuhan pasti bisa memakai banyak cara untuk memanggil anakNya. Memang konser kayaknya kurang ada unsur ibadahnya (secara fisik) karena konser untuk sang artis mempertontonkan keahliannya kepada massa yang pengen nonton.
Tetapi ada satu hal yang mengusik pikiran gw. Bagaimana pun khusuknya musik gerejawi tetapi diiringi dengan kelompok musik atau band (Gitar listrik, keyboard dan drum); pertama, akan kehilangan keanggunan, keaslian, jiwa dari lagu tersebut. Misalnya lagu himne, “It is well, with my soul” gubahan Horatio Gates Spafford diiringi dengan band akan sulit sekali measakan “kenyamanan jiwa” dalam Tuhan seperti yang dimaksud oleh sang pengarang lagu. Kedua, dentuman drum akan sulit mengiring lagu-lagu yang lembut. Apakah karena drum untuk mengiring lagu-lagu yang berirama cepat? Dentuman drum juga akan memecah konsentrasi menghayati syair lagu; yang seharusnya dapat berkata-kata menjadi berkat bagi yang menyanyikan atau yang mendengarkan.
Puji-pujian merupakan media kemonukasi kepada Tuhan. Maka ada ungkapan pujilah Dia. Bermazmur bagi Dia. Karena semua puji-pujia itu hanya layak untuk Kristus Tuhan kita. Engga bener, kalau kita berkata ‘pujilah kita’, ‘bermazmur bagi kita’. Maka kita memuji dengan hati yang tulus dan tindakan untuk memuliakan Tuhan. Bukan kita datang memuji Tuhan untuk memuaskan diri dan panca indera kita.
Minggu ini Vancouver dan sekitarnya dihajar ama udara panas. Rata-rata temperatur mencapai 28-29 derajat celcius. Dan pas menulis tulisan ini, suhu udara bertambah naik menjadi 31 derajat (tetapi serasa kayak 37 derajat). Masyarakat pun terdengar mulai “panik”. Entah apa yang akan terjadi kalau suhu udara mencapai 40 derajat misalnya.
Mantan pemain sepak bola Piala Dunia Perancis Zinedine Zidane sempat datang ke Canada. Tentu kedatangan Zizou, nama panggilan Zinedine Zidane tidaklah semeriah kedatangan David Beckham. Tetapi bagi penggemar sepak bola, kedatangan mantan bintang sepak bola itu tetap saja menarik perhatian.
dari Kamerun, dan Alessandro Costacurta, Gennaro Gattuso, and Franco Baresi dari Itali; tidak terlaksana karena kurang profesionalnya para panitya penyelenggara. (entah kenapa teman Zidane itu kagak muncul satu pun, yang muncul hanya Zidane seorang)
Alkitab mengajarkan kita untuk berpikir sejenak untuk memikirkan hari-hari kita. Waktu kita. Karena seringkali kita ‘take it for granted’ alias karena kehidupan ini udah jalan seperti biasa, maka kita pun berpikir, emang ini udah sewajarnya koq. Atau kata laennya seringkali kita enggak menghargai waktu kita.
muda seperti dia masih berusia 20 tahun, postur tubuhnya bisa dibuat sekekar dan selangsing David Becham misalnya; tetapi dia engga bisa melawan waktu usianya yang telah mulai uzur (Zizou lahir tahun 1972, jadi usianya sekarang 37 tahun). Sebagai pemain sepak bola dia bakal kalah secara fisik kalau dibanding dengan Christiano Ronaldo yang masih berusia 24 tahun misalnya.
Ini tentu bukan pengen cerita Invisible Man. Tapi cuma kebayang aza tentang Invisible itu. Yang engga keliatan. Yang engga keliatan tentu bukan mahluk halus atau dunia roh. Yang dimaksud disini misalnya dalam sebuah pertunjukkan konser, seorang artis menyanyikan sebuah lagu yang syahdu yang membuat banyak orang menitikkan air matanya.
Ketika berita kematian Michael jackson baru-baru ini, ada kejadian kecil yang gw anggap agak lucu. Sampai 2 jam setelah diperkirakan Michael Jackson udah engga bernafas, CNN masih bingung alias belom pasti Michael Jackson itu udah mati atau masih koma.
Apa kabarnya Dan Brown? Filem yang masih kategori baru yang diambil dari bukunya Dan Brown “Angels and Demons” dengan lakon yang sama Robert Langdon, meski kali ini buku dan filemnya tidak meledak seperti kontroversial Da Vinci Code (DVC).
Grail karya Michael Baigent, Richard Leigh, and Henry Lincoln.
Kebanyakan dari kita pasti, paling engga, pernah merayakan hari ultah, yang jelas ya untuk memperingati hari kelahiran (seharusnya) tetapi kebanyakan yang dilakukan adalah menghitung usia yang telah kini dicapai dan harapan apa yang pengen dicapai pada masa yang akan datang.
Setelah kejatuhan manusia dalam dosa, maka manusia tidak saja menyukai berbuat dosa, menentang kehendak Allah tetapi manusia secara status, adalah sendirian, putus hubungan dengan Allah.
Salah satu hal yang perlu diperhatikan waktu kita di dunia air (baik di sungai, danau atau di laut) adalah life jacket atau pelampung. Karena seberapa kuatnya kita berenang, atau tahan untuk tidak bernafas, tetap saja terbatas kekuatan kita. Maka kita perlu alat pembantu yang dapat membuat kita bertahan mengapung di air. Yakni pelampung. Alat yang paling mudah dibawa (daripada perahu karet misalnya).
Sering kali, orang mengukur iman dengan pengalaman, kejadian yang dialami. Dengan adanya pengalaman mujizat yang dialami maka itulah iman. Dan tak sedikit yang meng-klaim bahwa itu tanda iman, adanya pengalaman, kesaksian hidup. Pengalaman mujizat itu belum tentu akibat dari iman. Banyak orang ateis yang kagak punya iman tapi juga sering mengalami mujizat. Tetapi sayangnya banyak anggapan dari orang Kristen bahwa kalau engga mengalami mujizat, itu mungkin belum cukup imannya kepada Tuhan. Atau kurang beriman. Maka minta Tuhan supaya kita lebih beriman lagi.