Feeds:
Posts
Comments

Akhir Tahun Baru

Ini sebenarnya tulisan akhir tahun 2009 eh… dasar….. lupa nge-upload jadi muncul sekarang. Ok lanjut…… Selaen menulis blog ini gw juga diberi tugas oleh pendeta Gagan, hamba Tuhan dari House For All Nations, buat ngedit renungan Mingguan yang tertera di warta jemaat setiap Minggunya. Dari pembacaan atau pengeditan tersebut timbul ide-ide penulisan yang mana akan gw sharingkan di blog ini.

Akhir tahun tak terelakkan lagi bakal akan kita lewati. Banyak hal peristiwa yang tak terelakkan dalam hidup kita. Bahkan dalam membuat keputusan sekalipun. Seringkali kita pun jatuh bangun. Seringkali kita membuat keputusan dengan memohon pimpinan Tuhan, tetapi lebih sering lagi kita membuat keputusan tanpa berdoa kepada Tuhan, iya engga, iya engga?

Banyak hal yang kita bisa belajar dari hidup Yosua. Ya, Yosua itu lho yang menggantikan Musa untuk memimpin bangsa tegar tengkuk Israel yang menyeberang sungai Yordan, mengalahkan kota Yerikho. Sampai akhir hayatnya Yosua masih tetap tegar memimpin bangsa Israel dengan engga meninggalkan Tuhan.

Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN! Yosua24:15

Itu kalimat Yosua yang dikatakan kepada umat Israel. Kalo elo semua orang pengen beribadah ama alah laen go ahead – mungkin Yosua udah tau penyakitnya orang Israel yang selalu kalo engga ke kanan ya ke kiri dalam mengikut Tuhan. Tetapi Yosua juga meng-konfirmasikan bahwa dirinya dan keluarganya bakal tetap kenceng mengikut Tuhan.

Fatsal 24 ini ditulis dalam waktu Yosua kayaknya udah bukan ABG lage, tapi mungkin usianya mendekati 110 tahun (Hakim-hakim 2:7). Kalo orang sekarang bilang entah berapa kilo garam yang udah dimakannya (banyak makan asam garam) udah pengalaman mengikut Tuhan. Tetapi tentu bukan karena dia pengalaman maka Yosua setia mengikut Tuhan. Melainkan dia merasakan pemeliharaan Tuhan selama hidupnya. Seperti janji Tuhan kepada Yosua (Yosua 1:2-9)

Seorangpun tidak akan dapat bertahan menghadapi engkau seumur hidupmu; seperti Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau; Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau …..kuatkan dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh, bertindaklah hati-hati sesuai dengan seluruh hukum yang telah diperintahkan kepadamu oleh hamba-Ku Musa; janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya engkau beruntung, ke manapun engkau pergi.

Dengan jelas banget dengan kata laen bahwa takut akan Tuhan, mentaati perintah Tuhan adalah kunci keberhasilan Yosua, bukan oleh karena kemampuannya. Wah…. definisi ini udah kagak ada dalam kamus hidup banyak orang barangkali “takut akan Tuhan”. Mungkin juga bagi orang Kristen. Lha wong berbuat dosa koq rasanya aman-aman aza. Itu udah biasa. Semua orang melakukannya juga. Sebagai anak Tuhan maka kita perlu tunduk dan taat pada perintah Tuhan, karena Dia yang berkuasa atas hidup kita. APakah kita masih mempunyai rasa “takut akan Tuhan – menjauhi dosa dan mentaati Firman Tuhan?”

Yosua juga merupakan pemimpin keluarga yang baek. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN! Seorang ayah yang dapat memimpin keluarganya untuk taat kepada perintah Tuhan. Semua anggota keluarga Yosua – gw yakin – beribadah kepada Allah.

Dalam usia yang ngga muda lage, Yosua tua masih setia kepada Tuhan. Meski kita tau bahwa Allah yang setia kepada Yosua terlebih dahulu. Yosua, manusia biasa, mana bisa sich setia. Manusia bakal berubah dari waktu ke waktu. Janjinya kagak pernah tetapt. Hari ini bilang A, besok bisa bilang B.  Tetapi Allah Tuhan, Dia engga pernah berubah, dari dulu sekarang hingga selama-lamanya. JanjiNya setia dan digenapi. Tetapi atas anugerah Tuhan Yosua dapat setia kepada Tuhan.

Pada akhir hidup Yosua, banyak orang melihat nama Tuhan dimuliakan. Bahkan setelah Yosua meninggal pun bangsa Israel tetap mengabdi kepada TUHAN selama mereka dipimpin oleh orang-orang yang telah ngeliat sendiri segala keajaiban yang dilakukan TUHAN untuk orang Israel. (Yos.24:31)

Memasuki tahun 2010, teladan Yosua dapat menjadi pelajaran berharga bagi kita. Ingatkan kami senantiasa ya Tuhan, untuk takut kepadaMu, didalam posisi kami masing-masing sehingga hidup kami dapat memuliakan namaMu. Karena kami tahu bahwa Engkau setia takkan pernah meninggalkan kami, terutama dalam menjalani hidup di tahun 2010.

Hari Produktifitas

Engga kerasa kita udah di ujung akhir tahun. Mungkin seperti kebanyakan orang kita bakal mikir, apa yang udah gw lakukan dalam setahun ini (2009). Engga kerasa juga gw udah nge-blog sebanyak ini. Tapi gw mikir, masih banyak yang belom gw sempet tuliskan dalam blog ini, tentu karena keterbatasan waktu. Dan alasan laen, karena gw sering jaid pemerhati. Dimana, kapan saja perhatiin sekeliling gw. Jadinya banyak ide-ide tulisan yang nongol. Dan susyahnya, ide-ide itu ketampung tapi belom bisa dituliskan atau dijabarkan dalam tulisan.

Maka kadang juga ada tulisan yang kurang mantap karena keburu-buru ditulis biar bisa menulis tulisan yang baru. Kadang kalau hal ini kagak tercapai, maka yang gw lakukan menulis poin-poinnya pada lembar tulisan yang baru tersebut. Well…. ribet juga yach. So far ya gw enjoy menulis, yang menarik yang dapat menjadi suatu pelajaran dari apa yang gw renungkan atau pikirkan.

Kegiatan seperti ini teringat temen gw, sebut aza Je namanya. Dia waktu dulu segereja, selalu ngomong selamat berproduktifitas pada waktu sebelum kita berpisah dari pulang kebaktian hari Minggu. Emang gw orangnya kagak bisa diem jadi ya, ucapan Je terjadi juga. Emang kagak semua kegiatan bisa dibilang sebagai produktifitas. Atau menghasilkan. Kecuali emang kegiatannya mencipta sesuatu karya.

Aneh juga, entah karna dari kecil udah diajar berkarya untuk Tuhan, maka suatu hari, seorang teman pengen memuat tulisan gw tetapi isi tulisannya bukan tentang agama. Pokoknya yang sekuler aza dech. Eh engga disangka, sulit juga bok! Engga tau kenapa bisa demikian. Pokoknya idenya udah ada, tapi untuk menelorkan dalam tulisan itu kayaknya amburadul, penuh dengan kekacauan. Sampe deadline, tulisan masih belom rampung n’ kacau. Batal dech menulis buat sang temen.

Tapi kalau menulis dengan fokus kepada Tuhan koq rasanya mudah. Semua tulisannya ke arah Dia, Dia dan Dia. Meski bukan pengen kejar setoran pribadi, karena kayak awal tahun 2009 pengennya mengisi blog ini dengan rata-rata 2-3 tulisan dalam seminggu. Eh, ternyata, kayaknya kagak bisa memenuhi target pribadi tersebut. Well, puji Tuhan kegairahan menulis untuk Tuhan tetap ada. Itu yang patut disyukuri.

Produktifitas dalam bekerja, tentu tidak hanya sebagai alasan mencari nafkah penyambung hidup, tetapi lebih dari itu untuk memuliakan nama Tuhan. Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah. 1Kor.10:31

Allah menciptakan manusia untuk Dia. Segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Kol4:11. Maka tidak laen tidak bukan, hidup kita hanya memuliakan namaNya. Allah menciptakan manusia untuk menguasai bumi dan seisinya; semua itu supaya manusia dapat berkarya untuk memuliakan nama Tuhan. Meski gw tau, kemampuan dan pengenalan terhadap doktrin dan isi Alkitab sangat terbatas, tapi puji Tuhan, Dia telah mengijinkan gw untuk berkarya dalam keterbatasan. Tentu engga lupa untuk tetap semangat belajar pengenalan akan Dia dan membagikan untuk orang yang belom/ tidak mau  mengenalNya.

Hari Sabtu, 5 Desember yang lalu gw berkesempatan menonton pertunjukkan Pohon Natal yang Bernyanyi dari Gereja Broadway, Vancouver. Ini yang kali kedua gw menonton. Dulu sempet terheran juga ya, emangnya pohon Natal ada yang bisa bernyanyi? Pohon Natal mainan kali. Ternyata bukan koq, yang dimaksud paduan suara yang posisinya dibentuk kayak pohon Natal.

Tahun ini merupakan kali yang ke -42 gereja Broadway ngadain Singing Christmas Tree (SCT) yang tujuannya katanya buat sumbangsih gereja dalam bentuk pertunjukkan menjelang Natal bagi masyarakat Vancouver. Emang sich, acara yang dikemas bentuk kabaret, ditengahnya diselipkan pemberitaan Injil singkat. Tentu cara yang sangat halus untuk menginjili orang non-Kristen biar mau masuk gereja.

Maka kembali pembuka dan penutupan acara kagak ada doa. Jadi mirip kayak pertunjukkan kabaret di Broadway New York. Bukankah hal ini sama dengan konser-konser musik musisi Kristen yang didepannya memang menyanyikan lagu-lagu kontemporer Kristen, dengan harapan pesan syair yang dinyanyikan dapat menjadi penginjilan bagi non-Kristen.

Bagi gw kurang setuju dengan konsep yang seperti demikian. Kayaknya koq, di iming-iming dulu dengan “gula-gula” lalu dikotbahi. Keinget dulu ada cerita sosial gospel ada sebuah gereja membawa sumbangan sandang pangan ke sebuah desa, setelah acara pemberian sumbangan, lalu di putar filem dengan judul Yesus, di akhir filem ada kotbah singkat penginjilan.

Kayaknya Tuhan Yesus engga demikian. Malah sebaliknya, Tuhan Yesus berkotbah dulu. Kotbahnya begitu mempesona (bukan dibuat-buat untuk mempesonakan orang laen, tetapi gw percaya Firman yang diberitakan Tuhan Yesus penuh dengan kuasa) sehingga banyak orang berbondong-bondong mengikutiNya. (Matius 13) Dan sampai suatu saat Tuhan Yesus melihat orang banyak itu maka timbul belas kasihan dalam hatinya untuk menyembuhkan yang sakit diantara orang banyak tersebut. (Mat14:14) Karena orang banyak itu masih nongkrong disana, maka para muridNya pun meminta Tuhan Yesus utnuk menyuruh orang banyak itu pulang saja.

Tetapi Tuhan Yesus meminta muridNya untuk memberi makan orang banyak itu. Maka disini dapat dilihat urutan yang benar. Adalah diajarkannya Firman Tuhan terlebih dahulu. Firman Tuhan yang diutamakan. Pemberitaan Firman Tuhan didahulukan tanpa ada embel-embel bonus apapun. Tetapi apa yang terjadi pada pemberitaan Injil masa sekarang. Datanglah Kebaktian Kebangunan Rohani, setelah KKR diadakan ramah tamah. Setelah KKR ada pementasan drama spektakuler, ada aktor Hollywood terkenal menyanyi, ada drama musikal, ada pembagian konsumsi, ada kesembuhan dan sebagainya.

Maka tidak heran, orang banyak akan datang karena ada “Bonus”nya bukan karena mencari Firman Tuhan. Apakah gereja tahu/ sadar akan hal itu? Gw duga pasti tahu. Tapi kalau tanpa embel-embel Bonus, gereja mah sepi bok…….. mana ada orang yang mau datang? Menyedihkan? Enggak tuh. Kayaknya normal-normal aza. Berapa banyak sich gereja Kristen sekarang yang mengutamakan Firman Tuhan lebih dari segalanya? Berapa banyak gereja sekarang yang berani melihat jemaatnya lebih sedikit daripada kursi gerejanya hanya untuk Kebenaran?

Hari Selasa, 1 Desember 2009, gw berkesempatan menikmati renungan yang dibawakan oleh Ravi Zacharias, di gereja Willingdon, Burnaby bersama teman segereja gw, Edi. Gereja yang berkapasitas kurang lebih 500 kursi itu pun penuh. Meski dalam bayangan gw acara tersebut bakal mem-bludak karna nama Ravi Zacharias pembicara Internasional yang bukan aza dikenal di Amrik Utara, Eropa, Timur Tengah bahkan sampai di Cina juga.

Dr. Ravi Zacharias lahir di Madras, India pada tahun 1946. Beliau dikenal sebagai seorang apologetika Kristen dari Kanada, Amerika. Beliau dan keluarganya pindah ke Toronto, Kanada, ketika beliau masih sebagai seorang remaja, tetapi sekarang beliau hidup di Atlanta, Georgia, Amrik.

Beliau terlahir dari keluarga pandita Hindu (kasta Nambudiri Brahmin), kemudian beliau bertobat kepada Tuhan Yesus dan menyerahkan diri menjadi hamba-Nya yang setia. Dengan gelarMaster of Divinity (M.Div.) dari Trinity International University di Deerfield, Illinois; beliau juga menguasai banyak disiplin ilmu, di antaranya perbandingan agama, aliran agama, kebudayaan dan filsafat.

Ravi merupakan pembicara utama pada the National Day of Prayer di Washington, D.C. dan the Annual Prayer Breakfast for the United Nations di New York City. Dan telah menulis beberapa buku tentang keKristenan, di antaranya, Can Man Live Without God? (1994), The Lotus and the Cross: Jesus Talks with Buddha (2001), dan lain sebagainya.

Tuhan telah memakai Ravi dengan luar biasa, dengan talenta mengajarnya Ravi dapat menjelaskan pertanyaan-pertanyaan sulit dengan sistimatis. Malam itu Ravi berbicara tentang ide. Meski tidak menggali lebih jauh mengenai ide. Tetapi sempat disampaikan jika seseorang tidak mendapat jawaban yang benar dari pertanyaannya, maka dapat timbul ide yang salah.

Ide yang salah mengakibatkan keputusan yang salah pula. Disini gw ngeliat betapa pentingnya orang Kristen belajar Firman Tuhan dengan benar. Sehingga mereka bisa mengabarkan Injil dengan ajaran yang benar. Karna orang mengabarkan Injil dengan salah, betapa besar tanggung jawabnya kepada Tuhan.

Yang dikagumi banyak orang dari Ravi bukan intelektualnya tetapi gw yakin bahwa Tuhan dapat memakai orang siapa saja dalam bidangnya masing-masing. Ravi yang sedemikian jenius dalam perbandingan agama, pertanyaan filsafat, kebudayaan dan akademis, dipakai Tuhan dalam menghadapi orang-orang dari akademis yang juga luar biasa pandainya. Seperti juga Tuhan telah memakai Petrus sang nelayan yang gw duga mengabarkan Injil dikalangannya.

Yang menjadi catatan kecil pada acara malam hari itu, emang engga suatu hal yang besar; seperti ditayangkannya cuplikan filem serial televisi “Desperate Housewives” sebagai gambaran bagaimana seorang pelaku utama filem tersebut mencari jawaban dari Tuhan. Mungkin kita pada  tahu bahwa filem serial tersebut mempunyai image yang kurang baek dengan banyaknya cerita perselingkuhan dan seks bebas. Mengapa ditayangkan gw sendiri juga kurang paham. Apa kekurangan cuplikan filem laennya?

Demikian juga dengan sajian band (oleh gereja Willingdon?) – jadi bukannya worship atau puji-pujian – yang menyanyikan lagu dari U2 Bono “I Still Haven’t Found, What I’m Looking For.” Mungkin liriknya ‘kelihatannya’ bagus. Tetapi mengingat siapa kelompok band U2 kita tau bagaimana kira-kira kehidupan mereka (meski mereka mengaku ber-agama Katolik). Lalu juga ada lagu dari filem Hannah Montana “The Climb” yang juga dinyanyikan. Entah mengapa menyanyikan kedua lagu itu? Bukannya lagu puji-pujian? Apakah kompromi dengan pertimbangan banyak pengunjung non-Kristen yang menghadiri acara tersebut?

Lainnya yang sempat gw amati adalah karena tidak adanya worship maka tidak ada doa pembukaan dan penutup dari acara tersebut. Memang satu pihak, acara tersebut kayaknya mantap banget dengan pembicara seperti Ravi Zacharias yang menjawab semua pertanyaan dengan jawaban yang cukup detil dan contoh-contoh mudah dimengerti. Tetapi disisi lain, ada apa dengan acara tersebut? Acara sekuler yang di ‘make-up’ dengan kekristenan, acara Kristen dengan cara kompromi untuk menjangkau non-Kristen untuk datang tanpa dengan perasaan kuatir untuk dipertobatkan? Atau ada yang salah dengan pihak panitya-nya?

Yang terakhir, gw percaya bahwa Tuhan memakai Ravi Zacharis untuk menjadi saluran berkatNya. Dibalik itu jika kejeniusan Ravi, cara sistimatisnya, dan cara mengajar banyak orang secara logika, serta dapat memberikan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan orang yang sangat jenius; hal itu akan percuma jika hanya sampai disana saja. Hanya akan menjadikan pemenang perdebatan, membanggakan nama seseorang saja. Sebaliknya diskusi yang digumuli harus menjadikan jalan keluar bagi orang non-Kristen (ada orang non-Kristen yang puas dengan jawaban Ravi Zacharias tetapi dia masih belom bertobat menerima Yesus). Karna semua itu kembali kepada Tuhan semata, Dialah Allah yang patut disembah dan dimuliakan. Tak ada jawaban logika manusia yang dapat mengubah hidup seseorang diperdamaikan kembali dengan Allah; jika tanpa Allah Roh Kudus yang menyentuh hati seseorang, memanggilnya untuk menjadi anakNya.

GPS

GPS sudah bukan barang mewah atau langka yang hanya dimiliki segelintir orang berduit, tapi sudah menjadi umum (terutama di negara maju/ industri). Singkatan dari Global Positioning System, sistim navigasi yang menggunakan 24 satelit (sampai saat ini) dengan banyak fungsi seperti digunakan dalam militer untuk menuntun peluncuran bom yang hendak di arahkan ke tempat tertentu. Pemantau gempa/ tsunami sampai dengan fungsi sebagai alat kompas, terutama dipakai pengendara mobil sebagai pengganti peta.

Nah yang pengen gw sampaikan disini fungsi GPS yang sebagai peta penunjuk jalan. Biasanya GPS yang sudah canggih dengan komputerisasi akan menunjukkan peta/ jalan/ tempat dengan tepat dan benar. Tetapi apa yang pernah gw baca di sebuah surat kabar, GPS-nya ngacau.

Hal itu dialami oleh Robert Jones, usia 43 tahun yang mengendarai BMW-nya yang seharga $45.000 ke suatu kota yang belom pernah dikunjunginya, eh…. ternyata dia nyetir sampai ke sebuah puncak bukit, dan mobilnya ‘bertengger’ di ujung bukit. Kagak bisa maju (karna depannya jalan menurun yang curam) atau mundur. Maju kena mundur juga kena. Wah…. Jadinya dia harus memanggil mobil pemadam kebakaran dan mobil derek.

Jones mengatakan hal itu gara-gara dia mengikuti jalan yang ditunjukkan oleh GPS mobilnya. (GPS-nya lagi mabuk kali he..he..he…) tetapi polisi kagak mau tahu. Jones tetap didenda $1000 dolar. Urusan alasannya tentang GPS hendaknya disampaikan kepada hakim di pengadilan, begitu kata polisi.

Pengalaman Jones juga pernah gw alami. Waktu itu pas lagi mengendarai mobil teman yang ada GPS-nya. Dari tujuan A kita mau ke B. Eh…. engga tahunya kita nyasar pada jalan buntu (di dalam kota). Selidik punya seilidik, GPS punya temen gw belom di update programnya. Padahal kita berharap GPS itu tidak pernah salah. Ternyata salah juga.

Menulis tentang GPS ini gw jadi keinget Tuhan Yesus pernah berkata: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.Yoh14:6. Kalimat ini luar biasa. Luar biasanya bukan saja kebenaran dari kalimat itu, tapi juga kenyataan kagak ada manusia lain di muka bumi yang pernah ngomong perkataan seperti demikian.

Luar biasanya lagi Tuhan Yesus mengatakan hal yang pertama, Akulah Jalan. William Hendriksen menuliskan bahwa Tuhan Yesus bukan menunjukkan jalan tetapi Dia adalah jalan itu sendiri. Maka kalau tidak melewati jalan itu, kita bakal tersesat. GPS hanya bisa menunjukkan jalan kepada kita tetapi tetap aza bisa salah.

Akulah Jalan, menyatakan bahwa Tuhan Yesus adalah satu-satunya jalan. Kagak ada jalan laen. Manusia mikirnya, banyak jalan menuju Roma (bener sich) tapi hanya satu jalan menuju surga. Dan tentu saja banyak manusia yang menolak atau menghina perkataan Tuhan Yesus tersebut, karena manusia yang berdosa, “Sebab hati bangsa ini telah menebal, dan telinganya berat mendengar, dan matanya melekat tertutup; supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik sehingga Aku menyembuhkan mereka.” Mat13:15.

Manusia kagak bisa menyelamatkan dirinya. Bahkan manusia kagak bisa mencari jalan Kebenaran itu dengan usahanya. Karena keselamatan itu hanya diberikan oleh Tuhan Yesus kepada orang-orang yang dikasihiNya. Tuhan Yesus yang akan membuka hati, mata telinga manusia yang berdosa itu dapat mendengar suaraNya.

Maka tugas kita orang-orang yang percaya untuk mengabarkan Kabar Baik itu kepada setiap orang yang kita temui. Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan. Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Roma10:13,14

Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut.Amsal14:12 16:25

Follow Me

Twitter-bird-logo-001Baru-baru ini sempet terdengar kalau Miley Cyrus alias si Hannah Montana mogok menulis Twitter-nya. Alasannya emang masih belom diketahui dengan benar. Kabar terakhir penghentian Miley menulis Twitter-nya dikarenakan co-nya. Ada juga yang bilang dikarenakan mama Miley.

Dan tentu aza para penggemar Miley Cyrus, yang dikabarkan sebanyak 1,1 juta pengikut (followers) tentu pada kuciwa, karena idolanya kagak bisa nongol lagi di Twitter. Asal tau aza, Twitter itu kayak SMS tapi melalui internet. Yang panjang hurufnya dibatasi sampe 140 huruf.

Jadi Twitter mirip kayak blog super mini. Ada penulis Twitter yang ngebuat Twitter-nya mirip kayak buku harian. Misalnya, dari pagi jam 6 sang penulis udah bangun, terus gosok gigi (jam 6:15), baca koran (jam 6:30), nongkrong di depan komputer (jam 6:40), makan pagi (jam 7:00) dan seterusnya. Tentu sang penulis kagak perlu membondong komputer laptop, tapi cukup dengan Blackberry misalnya.

Oke, kira-kira udah cukup DECH tentang Twitter. Yang keinget bagi gw salah satu semboyan Twitter adalah “Follow Me” dan nantinya bakal ada pengikut (follower) yang mengikuti Twitter tersebut. Contohnya adalah Twitter dari Miley Cyrus dengan 1,1 juta fans-nya.

Tentu Follow Me-nya Twitter boleh diibaratkan kayak Pied Piper, itu lho cerita legenda Peniup Suling – karena begitu indahnya lagu yang disulingkan sehingga banyak anak-anak yang mengikuti kemana saja si Peniup Suling itu pergi. Tetapi Tuhan Yesus juga pernah memanggil muridNya dituliskan di Matius4:19 “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.”

Pas waktu itu Tuhan Yesus sedang menyusuri pantai Galilea, yang tentunya Dia bukan sedang santai menikmati keindahan pantai. Tuhan Yesus tahu pasti ketika Dia ada ditempat itu ada tujuannya. Engga ada kamus “kebetulan” bagi Tuhan. Karna Dia tahu bahwa dia akan menemui bakal muridNya.

Ketika Tuhan Yesus “memilih” kedua saudara nelayan ikan, Petrus dan Andreas; Matius mencatat Tuhan Yesus “melihat” mereka yang sedang bekerja. Dan gw percaya Tuhan Yesus bukan kayak psycholog yang meng-observasi dulu kedua orang tersebut layak enggak jadi muridNya – tetapi Dia sudah tahu bahwa kedua penjala ikan itu akan menjadi muridNya.

Tuhan Yesus tidak melihat keadaan “luar” mereka. Koq mau-maunya memilih penjala ikan. Apa kekurangan orang laen toch masih banyak yang profesinya lebih baikan keq dari nelayan ikan. Tetapi Tuhan Yesus melihat “jauuuh” dari apa yang dilihat manusia. Karena Dialah Tuhan.

Seorang teman pernah komentar mengapa TuhanYesus engga memilih seorang CEO perusahaan yang top, kan banyak koneksi, orang yang berpengaruh, kaya, mudah untuk menginjil. Kayaknya pikiran itu benar. Mengapa memilih penjala ikan yang tentunya mereka miskin, fisik yang mungkin tidak menarik. Tetapi ingat jika seorang CEO yang menjadi murid Yesus, maka bisa dipercaya bahwa orang mengikut Yesus hanya karena karisma manusia (si CEO itu), karena pengen deket ama si CEO itu, melihat kehebatan si CEO itu. Mereka tidak akan melihat Tuhan Yesus.

Sama, ketika orang Kristen menginjil dengan segala kemewahan fasilitas yang dipunyai, orang datang ke gereja karena kenyamanan fasilitas, mereka pengen ‘deket’ dengan Tuhan Yesus karena roti! Kalau dibanding dengan penginjilan jaman dulu (misal jamannya John Sung) dan jaman sekarang tidak ada bedanya. Menjala jiwa-jiwa bagai Tuhan Yesus.

Meski banyak juga orang yang menyelewengkan Injil hanya untuk kemegahan dirinya sendiri. Bagaimana dengan pemberitaan Injil gereja bawah tanah di China yang super sangat sederhana, tetapi mereka tetap bisa memberitakan Injil dan banyak orang bertobat mengikut Yesus.

Maka motivasi “memberitakan Injil” itu untuk mengikut Tuhan Yesus atau untuk mengangkat diri sendiri. Kadang ada orang berpikir untuk menjadikan Twitter sebagai sarana pengabaran Injil, engga salah. Tetapi kalo motivasinya, biar yang ikut gw (follower) bisa mencapai jutaan orang, dan membuat kita bisa menyombongkan diri. Maka kita perlu kembali kepada Tuhan.

Batik Made in USA

ja batikApa engga salah? Mungkin aja ada, mungkin juga engga. Ini kan bayangan gw. Sebelon tanggal 2 Okto 2009, kayanya Batik itu bisa diakui karya dari negara mana aza. Pernah sekali ngobrol ama teman kerja dari Singapore yang menunjukkan ada Batik dari Afrika, dari Jepang. Dalam hati gw tertegun, lho bukannya batik berasal dari Indonesia? Lah ini koq ada batik Afrika, batik Jepang.

Seorang teman juga menuding negara tetangga tercinta kita, Malaysia, yang bikin susah orang aza. Karena pernah ada anggapan bahwa batik berasal dari Malaysia. Ini emang kagak salah seluruhnya, karna batik dianggap bukan budaya dari suatu negara, tapi budaya dari bangsa serumpun. Maka kalo kagak ada yang meng-klaim batik asalnya dari mana, Malaysia boleh aza meng-klaim batik merupakan budayanya dunk.

Kadang kita juga perlu mengaca diri, mengapa kejadian ini bisa sampai terjadi. Karena emang kagak ada tindakan atau kasarnya “kepedulian’ kita untuk meng-sahkan mengumumkan kepada dunia bahwa Batik adalah budaya bangsa Indonesia. Syukur kalau angklung akan disahkan menjadi budaya Indonesia tahun 2010. Bagaimana dengan wayang orang? Wayang kulit? Konon pernah terdengar berita wayang juga berasal dari Malaysia. Dan mungkin masih banyak kebudayaan bangsa Indonesia lainnya yang seharusnya membuat kita bangga di kalangan dunia.

Pelajaran laen tentu bagaimana kita sekarang menghargai, peduli dan memelihara kebudayaan Indonesia. Karena itulah maka bangsa asing yang akan “membeli” hak kebudayaan itu menjadi milik mereka. Betapa tragisnya kalau bangsa asing menghargai kebudayaan itu tetapi bangsa pemiliknya tidak.

Kebudayaan yang kita punyai dapat menjadikan jati diri. Identitas diri. Misalnya menjadikan Batik menjadi pakaian nasional. Maka kalau ada orang memakai Batik di Alaska sekali pun pasti diketahui bahwa budaya Batik itu berasal dari Indonesia dan pakaian nasional Indonesia, misalnya.ja batik1

Dan refleksi dari peristiwa di atas adalah bahwa identitas orang Kristen bukan memakai kalung salib. Rumahnya banyak kayu salib atau gambar Tuhan Yesus. Atau membawa-bawa Alkitab kemana-mana. Tuhan Yesus pernah mengatakan begini: “Jikalau suatu pohon kamu katakan baik, maka baik pula buahnya; jikalau suatu pohon kamu katakan tidak baik, maka tidak baik pula buahnya. Sebab dari buahnya pohon itu dikenal.” Mat12:33

Buah orang Kristen bukan saja perbuatan nyata yang kelihatan oleh orang banyak tetapi juga hal-hal yang tidak kelihatan. Bengong kan? Kamsudnya kalo perbuatan nyata itu gampang bisa dibuat. Tetapi kalau hal-hal yang engga kelihatan itu adalah kehidupan sehari-hari tanpa sandiwara. Perbuatan nyata bisa kelihatan manis, kalau lagi pas ada di gereja. Kalo udah sampai di rumah jadi saingan penghuni neraka.

Buah dari pohon adalah hidup yang telah diserahkan sepenuhnya kepada Tuhan Yesus. Oleh karna panggilanNya, kita dimampukan untuk meresponi panggilanNya. Jadi buah pertobatan itu kagak bisa digantikan oleh apa pun. Orang dunia bukan saja bisa melihat perbuatan nyata orang Kristen sejati tetapi juga bisa merasakan ada yang beda dengan anak Tuhan.

Dan anak Tuhan kagak bisa diem-diem-an. Karena Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Kita telah dipilih Tuhan untuk menjadi terang dunia. Ibarat kalau seseorang memakai Batik, paling tidak kita tahu bahwa Batik ada kaitannya dengan bangsa Indonesia. Kagak perlu menulis dengan spidol gede-gede “saya orang Indonesia” di dadanya. Ketika orang lain disekitar kita, mereka tahu bahwa kita adalah orang Kristen. Bukan dengan sengaja menunjukkan kayak orang Farisi. Tetapi dari hati akan terpancarkan perbuatan kasih yang akan memuliakan nama Tuhan.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.