Feeds:
Posts
Comments

Apa Yang Kau Cari

D7UwI5hW4AAvxczSalah satu tragedi yang terjadi di sejarah manusia, (meski tidak terlalu heboh), ketika meninggalnya 11 orang dalam waktu kurang dari dua minggu di pegunungan Himalaya, Everest di bulan Mei 2019. Bulan Mei merupakan salah satu waktu favorit untuk mendaki gunung Everest dikarenakan cuaca lebih sedikit hangat, tidak berangin. Sehingga kesempatan untuk mencapai puncak Everest lebih besar.

Maka tidak heran di bulan Mei itulah para turis atau kerennya para pendaki berbondong-bondong berdatangan. Sehingga pendakian pun berjubel antri (seperti terlihat di foto). Dan hal itu juga yang membuat malapetaka mengintip para pendaki tersebut.

Dengan ketinggian 8848 meter para pendaki akan sulit bernafas, maka diperlukan tabung oksigen. Belum lagi harus berdiri dengan posisi yang tidak nyaman dengan kedinginan suhu udara yang bisa mencapai minus 20 sampai 30 derajat celcius. Antrian biasanya akan memakan waktu sekitar 20-30 menit. Tetapi kadang ada pendaki yang susah jalan akan membuat macet. Antrian bisa memakan 50-60 menit.

Untuk mencapai puncak Everest diperkirakan akan memakan waktu 40-60 hari. Maka tidak heran, di suhu udara yang demikian dingin, seorang pendaki akan mudah jatuh sakit. Sedikit kekurangan oksigen dia akan merasa pusing, muntah, mulai tidak sadar diri, anggota tubuh akan terasa sensitif sakit. Dan celakanya jika seorang pendaki ingin kembali turun, hal itu tidak mudah dikarenakan jalan yang sempit. Dan jika sampai terjatuh, kemungkinan ‘hilang’ sangat besar.

Pendakian yang sama sekali tidak mudah. Kemungkinan kehilangan nyawa cukup besar. Biaya pendakian diperkirakan sekitar $30.000 – 50.000 dolar amerika. Belum lagi persiapan fisik mental yang tidak bisa hanya disiapkan dalam 1-2 tahun. Dan hebatnya hal itu tidak membuat orang takut ingin mencapai puncak Everest. Baik itu mereka berusia muda atau pun udah pensiun. Apa yang hendak mereka capai?

190530-everest-crowding-mc-10253_d688ad35c8da0069e96d1d67bcd8c05a.nbcnews-fp-1200-630Tantangan? Kehebatan? Hobbi? Atau ingin dikagumi dan dikenang dalam sejarah? Ingin berhasil tentu ada resiko. Seseorang pendaki Everest terkenal George Mallory mengatakan “Because it’s there”. Ada yang menafsirkan arti kalimat pendek itu bahwap puncak Everest itu seakan seperti sebuah piala. Sebuah kejuaraan. Harus berjuang untuk merebut atau menjadi Juara. Mallory juga menyatakan pendakian itu membuat dia bisa fokus. Bisa jadi hidupnya berputar-putar tak ada arah tujuan dan dia akhirnya menemukan. Dengan mendaki puncak Everest.

Ketika hidup seseorang tidak punya tujuan. Semuanya dirasa bosan. Kehidupan rutin. Semua serba ada. Tidak ada lagi tantangan. Tidak ada lagi sesuatu yang membuat dia bergairah. Maka dicarilah sesuatu yang menggairahkan. Apakah demikian dengan hidup kita?

Apakah demikian yang dialami oleh orang muda yang kaya didalam Alkitab yang sempat menemui Tuhan Yesus? Ada seorang datang kepada Yesus, dan berkata: “Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus: “Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah.” Kata orang itu kepada-Nya: “Perintah yang mana?”

Kata Yesus: “Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Kata orang muda itu kepada-Nya: “Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?” Kata Yesus kepadanya: “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya. Mat 19:16-22

Perjumpaan tersebut banyak dituliskan orang muda yang kaya itu berat hati meninggalkan Yesus karena sayang akan uangnya. Mungkin ada sisi lain yang menceritakan bahwa orang muda yang kaya itu sudah memperoleh semua apa yang di idamkan oleh manusia. Kekayaan, sukses, keluarga, bahkan sampai agama pun sudah dijalani dengan baik. Lalu apa lagi? Aku ingin lebih Tuhan. Apa lagi yang harus ku perbuat untuk memperoleh hidup yang bahagia, yang kekal?

Poin Tuhan Yesus hanya mudah. Just come back to Me. Kembali kepadaKu. Fokus kepadaKu. Lepaskan ikatan dunia ini. Dalam Yohanes 1:38 Tetapi Yesus menoleh ke belakang. Ia melihat, bahwa mereka mengikut Dia lalu berkata kepada mereka: “Apakah yang kamu cari?”

Yesus tahu kedua calon muridNya mengikuti Dia tapi Yesus tahu jauh dalam hati mereka. Maka Yesus bertanya “Apakah yang kamu cari?” Seperti Mallory mengatakan “Because it’s there” Itu yang kucari. Aku ingin mencapai gol itu. Untuk memenuhi hidupku. Untuk memuaskan hidupku. Apakah hal duniawi akan memuaskan hidupku? Tidak! Setelah mendapatkan satu hal, aku akan mencari yang lain. Sampai hidup ini selesai aku akan tetap mencari.

Tuhan Yesus hanya ingin mengatakan, Engkau berasal dari Aku. Maka kembalilah ke Aku. Tetapi manusia melangkah menjauh. Maka hanya Anugerah Tuhan saja manusia itu bisa bertobat. Layakkah kita bertobat? Sebenarnya tidak! Manusia yang sudah jatuh dalam dosa adalah calon penghuni neraka permai. Tetapi karena Kasih Karunia Allah yang menebus dosa manusia untuk tidak menjadi penghuni neraka, mengirim AnakNya yang Tunggal menggantikan kita-kita manusia menerima hukuman. Tidak ada jalan lain. Kembali kepada sang Pencipta kita.

Advertisements

GettyImages-480811275.jpgTak disangkal bahwa pernyataan orang Kristen adalah kelompok eksklusif. Tetapi hal ini juga dilakukan oleh banyak kelompok lainnya. Dan tentu bukan itu saja sebagai penyebab orang Kristen dibenci oleh non-kristen atau bahkan dunia. Sejarah mencatat betapa banyak orang Kristen yang telah dianiaya, ditangkap, diancam, dipukuli, disiksa, dan dihukum mati. Hal itu bukan kebetulan tetapi ada penyebabnya.

Jika dilihat dari kacamata dunia, ada beberapa “cap” bagi orang Kristen yang membuat mereka menjadi “aneh” “beda” dengan yang lain. Mereka memiliki bahasa, musik, dan film bahkan hidup yang berbeda.

Ide tulisan diambil dari artikel “7 Alasan ‘Dunia’ Membenci Anda Sebagai seorang Kristen” tulisan Dale Chamberlain di crosswalk.com.

Integritas moral Anda mengganggu orang

Di sebuah sekolah dasar, seorang anak tidak pernah mengucapkan kata-kata kutukan/ sumpah serapah. Dia seorang anak yang dibesarkan dari keluarga Kristen dan percaya bahwa mengutuk itu salah.

Ketika beberapa siswa lain mengetahui hal ini, mereka menjadikannya sebagai misi hidup mereka untuk membuatnya mengucapkan kata-kata umpatan. Mereka mencoba segalanya. Mereka semakin banyak mengutuk di sekelilingnya. Mereka menghinanya – dan bahkan ibunya. Mereka bahkan menawarkan untuk menyuapnya dengan uang dan makanan ringan jika dia hanya mengatakan satu kata kutukan. Dia tidak pernah melakukannya.

Dia tidak goyah dengan apa yang dia yakini. Dan untuk beberapa alasan, hal itu mengganggu anak-anak lain. Mungkin itu membuat anak lain merasa bersalah ketika dia berkata mengutuk. Mungkin mereka hanya berpikir dia konyol. Apa pun masalahnya, mereka terganggu oleh kekuatan keyakinannya.

Ini terjadi dengan orang percaya. Keyakinan yang kuat dan komitmen yang kuat untuk hidup bersama mereka memperoleh respons yang kuat. Dan respons itu tidak selalu positif.

Orang Kristen mudah Menghakimi dan Sok Benar

Di sisi lain, kadang-kadang orang Kristen bersalah karena menghakimi. Orang Kristen cenderung berpikir bahwa kami lebih baik daripada orang lain karena kami telah mengalami transformasi. Kita menjalani kehidupan Kristen yang baik.

Kita menjadi sombong dalam keyakinan kita, dan itu membuat kita memandang rendah orang lain. Orang bisa merasakannya. Dan mereka tidak menyukainya.

Ketika orang lain berbuat “normal” seperti berkata kotor, berbohong, seks bebas, cinta sesama jenis; orang Kristen mengatakan hal itu tidak baik, tidak benar, itu berdosa. Emangnya siapa dikau?

the-judgemental-uber-guy-126402_1.jpgOrang Krsiten terlalu Fanatik

Kata Fanatik sebenarnya kurang tepat. Karena Fanatik berarti ekstrim. Mereka tidak toleransi akan keadaan orang lain. Semisal tentang aborsi, perkawinan sesama jenis ayau bunuh diri akan dianggap dosa oleh orang Kristen. Menganggap dirinya (agamanya) yang selalu benar.

Tentu hal itu hanya sebuah serangan atau mempertahankan diri saja. Karena sebenarnya orang Kristen tidak membenci pribadi tetapi hanya memberitahu bahwa tindakan yang diambil itu salah tidak sesuai dengan keinginan Allah.

Kebenaran orang Kristen hanya berdasarkan Alkitab. Karena Tuhan Yesus mengatakan, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.” Dan tidak ada satu pribadi lain yang berani berkata seperti itu. Karena Dialah Allah.

Orang Kristen bahkan sampai berani mati, rela kehilangan segalanya hanya untuk ‘membela’ Tuhannya. Mereka rela berkorban untuk orang lain. Dunia merasa orang Kristen bukan hidup di dunia ini. Orang Kristen terlalu suci untuk dunia ini. Dunia suka akan ‘pecundang’. (Meskipun itu hanya alasan saja). Nyatanya tidak ada seorangpun yang mau jadi pecundang.

Benar atau salah orang Kristen akan tetap salah. Karena memang demikian adanya. Tuhan Yesus sendiri telah mengatakan Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu.” Yoh 15:18

Jadi, beranikah kita akan tetap mengikut Kristus. Karena resikonya dunia akan membenci kita. Kita akan dikucilkan, kita akan di ‘bully’, aniaya, dipecat dari pekerjaan, keadaan hidup akan semakin memburuk dengan adanya kita sebagai orang Kristen.

Tetapi tentu Tuhan Yesus tidak akan tinggal diam karena Dia tidak pernah meninggalkan anak-anakNya. “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman. Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.”

Ayat-ayat itu klasik kedengarannya tetapi percaya, janji Tuhan tidak pernah meleset. Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.

Yoga dan Kekristenan

Image result for yogaYoga telah menjadi praktik kontroversial di kalangan orang Kristen Barat untuk sementara waktu sekarang – kontroversi lain adalah pemakaian celana yoga yang ketat yang seronok di depan umum. Namun baru-baru ini, sebuah gereja Katolik di India mengeluarkan pernyataan, menolak gagasan bahwa agama Kristen dan yoga adalah cocok. Pertanyaan tentang orang Kristen yang terlibat dalam yoga ini adalah pertanyaan yang kompleks karena orang-orang berlatih yoga dengan cara dan konteks budaya yang berbeda. Apa arti yoga bagi umat Hindu, Kristen di AS, dan Kristen di India? Dan apa arti kata yoga?

Kita akan membahas pertanyaan-pertanyaan ini, berkonsultasi dengan para ahli di bidangnya.

Berikut ini ikhtisar singkat tentang kontroversi agama Kristen dan Yoga:

Gereja Siro-Malabar, sebuah gereja Katolik di India, mengatakan, “Meskipun yoga membawa manfaat positif, yoga tidak dapat menyatukan seseorang dalam hubungan yang lebih dekat dengan Tuhan,” demikian laporan dari FaithWire.com.

“Ada bahaya dalam menafsirkan hasil yang diperoleh melalui latihan yoga sebagai manfaat spiritual. Para pemimpin Hindu juga tidak setuju dalam menghadirkan yoga yang terpisah dari agama Hindu,” kata laporan itu.

“Komisi Gereja Siro-Malabar, di Kerala, India, mengatakan beberapa sifat utama yoga bertentangan dengan kepercayaan Kristen. Pengalaman yoga adalah bahwa praktisi, alam, dan Tuhan menjadi satu, tetapi menurut agama Kristen, alam dan Tuhan tidak bisa menjadi satu,” tambah laporan itu.

Latihan yoga telah menjadi membingungkan dan kontroversial bagi kelompok agama di seluruh dunia, di luar Amerika Serikat dan tempat kelahiran yoga, India.

Crosswalk.com melaporkan pada 2014 bahwa “sebuah sekolah dasar di Austria tidak akan lagi mengajarkan yoga di kelas-kelas olahraga setelah para orangtua mengeluh.”

“Ingrid Karner mengajar anak-anak yoga sebulan sekali di gym, yang sebelumnya telah disetujui oleh administrator sekolah. Karner tidak akan lagi mengajarkan pose yoga kepada siswa setelah orang tua menghubungi sekolah, mengatakan bahwa dia tidak ingin anaknya terpapar pada bentuk olahraga karena alasan agama,” Crosswalk melaporkan.

Artikel Crosswalk.com yang sama mengatakan bahwa orang tua di San Diego, yang memandang yoga sebagai praktik keagamaan Hindu, menuntut distrik sekolah mereka karena sekolah itu mengajarkan yoga pada anak-anak sebagai ekstrakurikuler. Gugatan itu dipatahkan pada tahun 2013 dan banding pada tahun 2015.

Komunitas di seluruh dunia terbagi berdasarkan subjek.

Apa arti yoga bagi mereka yang mengikuti agama-agama Timur?

Praktek yoga diajarkan dalam teks-teks India kuno, dan tiga agama besar (Hindu, Budha, dan Jainisme) berasal dari teks-teks itu. Dari perspektif Hindu, yoga adalah bagian penting untuk mencapai tujuan akhir mereka, moksha, yang merupakan kesatuan dengan Tuhan dan kebebasan dari siklus kelahiran dan kematian.

Yayasan Hindu Amerika (HAF) menjelaskan, menggunakan teks-teks Hindu kuno, bahwa yoga terdiri dari empat jenis, yang diterjemahkan ke: pengabdian, pengetahuan, tindakan, atau konsentrasi. Jenis yoga ini bertindak sebagai jalan menuju tujuan, moksha.

“Dari empat, deskripsi [konsentrasi] yoga memiliki kesamaan dengan yoga seperti yang dipahami sebagian besar hari ini,” lapor HAF dalam artikel mereka, “Yoga Melampaui Asana: Pemikiran Hindu dalam Praktek.”

Mengapa yoga konsentrasi begitu penting bagi iman Hindu?

“Karena konsentrasi, atau hadir, memungkinkan kita [umat Hindu] untuk fokus ke dalam pada diri Ilahi kita… Kita dapat fokus pada membuat setiap pikiran, kata, dan tindakan kita tanpa pamrih dan dengan demikian, persembahan yang layak kepada Yang Ilahi yang berada di dalam (hidup) kita semua. Tetapi di situlah letak apa yang saya lihat sebagai keterputusan mendasar dengan ajaran yoga dan [Kekristenan],” Sheetal Shah, Direktur Senior di HAF, mengatakan dalam artikel trustnet.com.

Shah melihat “keterputusan mendasar” antara agama Kristen dan agama-agama Timur ketika praktik yoga yang lengkap, fisik dan spiritual diikuti. Alkitab mengajarkan umat Tuhan untuk bermeditasi, tetapi untuk merenungkan Firman Tuhan.

“Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, …” Yosua 1:8. “Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.” Kolose 3:2.

Dan Alkitab mengajarkan umat Allah untuk mempersembahkan seluruh diri mereka dalam ibadah, tetapi persembahan itu hanya untuk Tuhan, bukan diri mereka sendiri.

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” Roma 12:1.

Alkitab juga mengajarkan perlunya fokus dan pembaruan pikiran manusia, tetapi harus diperbarui untuk mengenal Allah lebih baik, secara pribadi.

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Roma 12:2.

Image result for yogaApa arti yoga bagi orang Kristen di Barat?

Saya membayangkan bahwa kebanyakan orang percaya yang mengajukan pertanyaan, “Apakah benar bagi orang Kristen untuk berlatih yoga?” sudah menegaskan bahwa adalah salah untuk “fokus pada membuat setiap [pemikiran] mereka, kata, dan tindakan tanpa pamrih dan dengan demikian, persembahan yang layak kepada Yang Ilahi yang berada di dalam kita semua,” seperti kata Shah.

Kebanyakan orang Kristen hanya menikmati pelemasan otot (stretching) yang unik. Beberapa orang Kristen mengatakan bahwa mereka merenungkan Firman Tuhan atau kekudusan-Nya saat melakukan stretching. HAF menjelaskan bahwa praktik ini, yang paling umum di Amerika Serikat, bukan benar-benar yoga; itu adalah Asana.

Teks Hindu yang lebih baru ditulis, tetapi masih kuno, menjelaskan yoga sebagai terdiri dari enam bagian atau “anggota badan,” salah satunya disebut Asana, yang mengacu pada pose yang terlibat dengan yoga.

“Hari ini, yoga sebagian besar disalahpahami dan dipraktikkan terutama sebagai asana, atau postur fisik. Latihan Asana saja terbukti memiliki segudang manfaat kesehatan. Dan sementara mempraktikkan Asana untuk meningkatkan kesehatan sangat dapat diterima, itu bukan tujuan atau tujuan yoga,” HAF menjelaskan dalam artikel mereka,” Yoga Melampaui Asana: Pemikiran Hindu dalam Praktek. ”

HAF melanjutkan untuk menegaskan pentingnya asana karena itu adalah jalan paling umum bagi orang-orang Barat untuk mengambil langkah lebih lanjut dan mengadopsi kepercayaan Timur. Tetapi mereka mengatakan, “tanpa wawasan, kebijaksanaan, dan bimbingan yang tepat [dari seorang guru],” yoga “modern adalah asana tanpa pemahaman, keyakinan, atau niat, dan oleh karena itu, hanya tetap pada tingkat latihan fisik.”

Jika orang Kristen tidak mengadopsi kepercayaan Timur, apakah salah dengan latihan fisik?

Albert Mohler menjawab pertanyaan ini dalam artikelnya, “Tubuh Yang Lentur – Haruskah Orang Kristen Mempraktikkan Yoga?”

“Orang Amerika telah mengubah yoga menjadi ritual olahraga, sarana memusatkan perhatian, dan jalan menuju kehidupan yang lebih panjang dan kesehatan yang lebih baik. Banyak orang Amerika berusaha untuk menyangkal atau meminimalkan aspek spiritual yoga – yang membuat banyak orang khawatir di India. Ketika orang-orang Kristen berlatih yoga, mereka harus menolak kenyataan apa yang dilambangkan yoga atau gagal melihat kontradiksi antara komitmen Kristen dan arti yoga sebenarnya. Kontradiksi itu tidak sedikit, juga bukan hal yang sepele,” kata Mohler.

Tetapi dia mengenali kompleksitas pertanyaan ketika dia mengatakan bahwa, “Tidak ada yang salah dengan latihan fisik, dan posisi yoga dalam diri mereka sendiri bukanlah masalah utama.” Masalahnya memang rumit. Sementara beberapa orang Kristen tidak terlalu khawatir tentang hal itu, orang Kristen lainnya sangat peduli pada kedua belah pihak.

Bagaimana orang Kristen biasanya berlatih yoga?

Bagi sebagian orang Kristen Barat, sejarah agama dan pentingnya yoga bukanlah sesuatu yang mencegah mereka untuk mempraktikkannya sendiri. Mempraktikkan yoga, atau asana, mungkin tidak memiliki makna religius bagi mereka, atau sebenarnya meningkatkan iman Kristen mereka. Menemukan kelas yoga di kampus perguruan tinggi Kristen, tempat kerja, atau gereja menjadi semakin umum.

Terutama dalam budaya yang sangat sibuk, berisik, dan serba cepat; Menenangkan diri dengan berlatih yoga (asana) dapat menawarkan waktu pemulihan dan refleksi yang sering diterima banyak orang yang terlalu stres dan berbeban berat. Seperti Mazmur 46:10 yang berkata “Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah!” yoga dapat memberikan waktu, ruang, dan struktur bagi orang Kristen untuk diam dan memusatkan perhatian kita pada kehadiran Allah bersama kita.

Banyak orang Kristen menggunakan waktu yoga mereka untuk merenungkan bagian Alkitab (seperti Yosua 1: 8 menyarankan) atau untuk fokus pada doa sederhana.

Aspek fisik ini adalah sesuatu yang cenderung hilang dalam agama Kristen Barat, terutama bagi kita yang mengabaikan puasa dan merasa sulit untuk mengangkat tangan kita dalam ibadah.

Pusat Nasional untuk Hukum & Kebijakan (NCLP) adalah organisasi Kristen yang menangani banding San Diego yang disebutkan sebelumnya dalam artikel ini. BBC melaporkan, “Alasan mengapa banyak orang di Barat berpikir yoga adalah non-religius, adalah karena yoga jatuh ke titik buta teologis, kata Dean Broyles, presiden dan ketua penasihat organisasi itu. Dia mengatakan bahwa agama Kristen Protestan cenderung berfokus pada kepercayaan dan kata-kata, daripada praktik fisik atau pengalaman.

Bisakah yoga menjadi sekadar fisik?

David Powlison berbicara tentang orang-orang Kristen yang terlibat dalam kegiatan fisik yang secara tradisional disertai oleh filsafat non-Kristen. Dia mengatakan praktik seperti refleksologi didasarkan pada filsafat Timur, tetapi pertanyaannya: apakah memijat kaki itu salah?

“Yoga adalah mencari cara untuk menjadi satu dengan Tuhan, tetapi apakah stretching itu salah? Dan misalnya pelajaran karate. Ada pandangan dunia yang diberikan dalam hal itu. Apakah salah mempelajari teknik bela diri?” tanya Powlison.

Ada banyak tempat di seluruh Alkitab yang memanggil orang-orang Kristen untuk memperhatikan dan memperhatikan tubuh kita. 1Korintus 6: 19-20 mengatakan bahwa, sebagai orang Kristen, tubuh kita bukan milik kita sendiri tetapi adalah bait suci Roh Kudus. Kita diingatkan bahwa kita harus merawat tubuh fisik kita dengan baik.

Orang Kristen dapat menggunakan metode latihan dan meditasi ini untuk memuliakan Tuhan. Meluangkan waktu untuk meregangkan, menggerakkan, menguatkan, dan memperhatikan tubuh kita dapat menjadi cara kita menyembah Tuhan dan menghormati Roh Kudus di dalam diri kita. Lebih dari metode latihan lainnya, yoga menawarkan dan mendorong perhatian, niat, dan fokus. Ketika diarahkan kepada Tuhan, semua itu bisa menjadi suatu penyembahan dan indah.

Apa arti yoga bagi orang Kristen di India?

Orang-orang Kristen yang tinggal di India juga bertentangan dengan praktik kuno ini. Dalam budaya di mana yoga dianut secara spiritual dan fisik, orang-orang Kristen secara alami lebih berhati-hati dalam mempraktikkan yoga dalam konteks budaya mereka.

Beberapa orang Kristen melakukan yoga dengan tetangga Hindu mereka sebagai cara untuk memperkenalkan Injil, tetapi Gereja Siro-Malabar mengatakan bahwa pendekatan itu membingungkan umat Hindu India.

“Banyak orang Hindu memandang kesenangan orang Kristen terhadap yoga sebagai bagian dari upaya rahasia untuk mempertobatkan orang dan sebagai pelanggaran yang tidak perlu terhadap adat istiadat Hindu,” menurut Gereja Siro-Malabar dalam artikel Faithwire.com.

Menurut sensus 2011, 79,8% populasi India mempraktikkan agama Hindu dan 2,3% mengidentifikasi sebagai orang Kristen. Dalam lingkungan seperti ini, apakah desakan bagi orang Kristen untuk menghindari yoga aturan legalistik? Atau itu hanya cara bagi orang Kristen untuk mencintai sesamanya. Sementara orang-orang Kristen di Amerika mungkin bebas untuk melakukan pose yoga secara bebas, orang-orang Kristen di India mungkin benar untuk mempertimbangkan pendekatan yang lebih peka secara budaya dengan tetangga-tetangga Hindu mereka.

Apa signifikansi spiritual dari pose yoga pada umumnya?

Jika Anda berlatih yoga (asana), Anda mungkin mengenali beberapa pose umum dari kelas yoga ini. Meskipun sangat membantu dalam budaya Barat, mereka juga memiliki makna spiritual dalam agama Timur. William Kremer menulis, “Bagi mereka yang tahu, misalnya, asana yoga, atau posisi, mempertahankan unsur-unsur makna spiritual mereka sebelumnya.”

1. Salam Matahari

Rangkaian pose ini dilakukan sebagai pemanasan atau pendinginan dalam yoga. Itu membuat darah mengalir dan menghangatkan tubuh. Manfaat dari salam matahari adalah untuk meregangkan seluruh tubuh dan mempersiapkan Anda untuk pose yang lebih menantang jika dilakukan sebagai pemanasan. Sebagai pendinginan, tujuannya adalah untuk menenangkan dan memfokuskan Anda, mempersiapkan pikiran Anda untuk menghadapi sisa hari itu.

Dalam agama Hindu, Salam Matahari atau “Surya namaskar adalah serangkaian posisi yang dirancang untuk menyambut Surya, Dewa Matahari Hindu.”

2. Pose Ular Kobra

Bagian dari Penghormatan Matahari ini meregangkan tubuh, ketika Anda melihat ke atas dan melengkungkan punggung Anda dengan tangan yang ditanam dengan kuat di bawah bahu di atas tikar dengan jari-jari kaki dengan lembut beristirahat di belakang.

Arti alternatif di balik pose ini juga disebut Bhujangasana adalah gagasan Hindu “kekuatan roh-ular (kundalini) yang diaktifkan dan diangkat dalam tubuh melalui yoga; juga terkait dengan Patanjali, orang bijak yang menulis Yoga Sutra, yang digambarkan sebagai ular-manusia. ”

3. Pose Pejuang

Pejuang Satu, Pejuang Dua dan Pejuang Tiga adalah pose yang membutuhkan keseimbangan saat Anda merentangkan tangan ke atas atau ke luar dan memutar tubuh dan pose menerjang. Seperti pose yoga lainnya, ini membutuhkan fokus dan pernapasan yang tenang. Pose-pose ini bertujuan untuk “memanjangkan” tubuh, meningkatkan fleksibilitas pada anggota tubuh.

Pose-pose ini memiliki makna alternatif dalam agama Hindu. Pose-pose Pejuang Satu, Pejuang Dua dan Pejuang Tiga, juga dikenal sebagai Virabhadrasana dan menggambarkan sebuah mitos tentang “perselisihan keluarga” yang berdarah, karakter sentralnya adalah dewa Virabhadra, inkarnasi Siwa.

4. Memutar Separuh Pinggang

Pose Memutar Separuh Pinggang dalam yoga ini lebih bersifat setengah jadi. Ini adalah pose duduk, dengan satu kaki terlipat, yang lain ditekuk, Anda menyandarkan lengan yang berlawanan ke paha dan meregangkan tulang belakang dan dada, memutar bahu dan memfokuskan pandangan Anda ke belakang. Peregangan ini sering menjadi pendinginan yoga ketika tubuh sudah hangat, untuk memaksimalkan peregangan anggota tubuh.

Memutar Separuh Pinggang, juga dikenal sebagai Lord of Fish atau Matsyendrasana dinamai untuk “guru dan pendiri abad pertengahan hatha yoga Hindu yang mempelajari rahasia yoga Tantra dan seni gaib saat berada di perut ikan.”

Apa yang Alkitab katakan tentang kontroversi seperti yoga?

Orang-orang Kristen telah berjuang untuk menentukan apa yang benar atau salah yang harus mereka lakukan selama berabad-abad. Gereja Korintus tinggal di kota penuh dosa yang penuh dengan penyembahan berhala dan Paulus mendorong mereka untuk menjadi bijak dalam pilihan mereka dalam 1 Korintus 10:23:

“’Saya punya hak untuk melakukan apa saja,’ kata Anda — tetapi tidak semuanya bermanfaat. “Saya memiliki hak untuk melakukan apa saja — tetapi tidak semuanya membangun.”

Memang ada banyak kebebasan dalam iman Kristen karena Allah kita selalu menjadi Allah yang melihat hati.

Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” 1 Samuel 16: 7.

Tetapi Paulus mengingatkan kita bahwa kebebasan kita dalam Kristus bukanlah kebebasan liar untuk melakukan apa pun yang kita inginkan. Mengasihi tetangga kita adalah ciri khas seorang Kristen yang matang.

Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih. Galatia 5: 13.

Carilah Roh Kudus ketika Anda menghadapi pilihan untuk berlatih yoga (asana) atau tidak, atau menghakimi mereka yang melakukan atau tidak berlatih.

Tetapi jagalah, supaya kebebasanmu ini jangan menjadi batu sandungan bagi mereka yang lemah.

1 Korintus 8: 9.

Ekspotir: Crosswalk.com

 

 

 

 

 

 

 

“Ma, pendeta itu sungguhan atau pake topeng sich?”
“Hush….. Yus, nakal kamu. Ya tentu itu sungguhan.” bisik mamanya di telinga Yus.
“Tapi kayaknya topeng, mam.” balas Yus kagak mo kalah.
“Eh, Yus, mama engga suka ah Yus ngomong seperti itu.”
Yus jadi diem. Eh koq kebetulan papanya Yus mengajak mama berkenalan dengan pendeta Todd.

“Mam, sini kenalin. Pendeta Tood, ini istri saya Laura.”
Mama dan pendeta Todd pun bersalaman.
“Eh… yang ini belom berkenalan.” kata papa menuju arah diriku.
“Yus, kenalan donk sama om Todd.” Yus pun membalas salam tangan pendeta Todd.

“Om, om…. boleh tanya om.” tanya Yus.
“Silahkan.”
“Topengnya beli dimana om?” Mama Yus hampir pingsan mendengar pertanyaan anaknya yang kagak tau diri itu. Pendeta Todd sendiri binung, apa maksudnya bocah kecil itu bertanya.

“Maksudmu topeng yang mana?” tanya pendeta Todd.
Mama dengan gemetar menarik punggung Yus untuk menyingkir. Eh dasar bocah, masih ingusan. Yus malah menjawab pertanyaan pendeta Todd.
“Topeng yang disitu.” tunjuk Yus kearah wajah pendeta Todd. Mama hampir pingsan untuk kedua kalinya. Papa hanya bengong aza. Kagak ngarti.

“Mama…..!!!!” teriak Yus memeluk tubuh mamanya. Dia ketakutan melihat wajah pendeta Todd yang dipandangnya seksama.
“Dasar bocah.” selutuk papa sambil mengajak pendeta Todd ke meja perjamuan. Kebetulan papa ngeliat Lars. “Lars, sini kenalin donk sama pendeta Todd.”

“Todd Bentley.”
“Lars.”
“Eh Todd, kapan anda akan berkotbah lagi di gereja kami?” Papa melotot mendengar pertanyaan Lars yang kayaknya kurang aturan. Masa memanggil pendeta Todd, tanpa tendeng aling-aling memanggil namanya. Pakai sebutan kak keq, om keq. Aduh anak remaja jaman sekarang emang begitu yach?

Catatan cuplikan dari kotbah Pdt Stephen Tong pada 6 Januari 2008 di Newton Life

Para Rasul dan Nabi mewakili Wahyu Allah dalam Perjanjian Lama dan Baru. Gereja-gereja dari semua generasi dibangun di atas pengajaran para rasul dan para nabi. Mereka adalah fondasi gereja, dengan Yesus Kristus sebagai batu penjuru. Ajaran para rasul dan para nabi semuanya menunjuk kepada Yesus Kristus. Kekristenan adalah Kristus.

Dan di atas fondasi gereja ini, Allah telah memberikan Gereja 3 pelayanan utama: penginjilan, pelayanan pastoral dan pengajaran. Mengkhotbahkan Injil adalah persyaratan pertama. Itu adalah panggilan untuk menjadi saksi bagi dunia sehingga orang berdosa dapat dibawa ke hadapan hadirat Allah. Setelah orang-orang ini datang ke gereja, kita perlu menggembalakan kerohanian mereka dan mengajarkan mereka doktrin yang benar. Khotbah itu seperti melahirkan anak. Gereja yang tidak memberitakan Injil adalah bunuh diri. Setelah anak lahir, dia perlu diasuh dan dididik sehingga dia dapat tumbuh, dewasa, dan menjadi sehat. Tetapi tidak baik hanya menjadi sehat tetapi tetap tidak tahu. Jika Anda tidak merawat anak, ia akan sakit. Jika dia tidak diajar, dia akan bodoh.
And upon these foundation of the church, God has given the Church 3 main ministries: evangelism, pastoral ministry and teaching. Preaching the gospel is the first requirement. It is the call to be witnesses to the world so that sinners might be brought before the presence of God. After these people come to the church, we need to pastor their spirituality and teach them the right doctrines. Preaching is like giving birth to a child. A church that does not preach the gospel is suicidal. After the child is born, he needs to be nurtured and educated so that he might grow up, mature and become healthy. But it is no good just to be healthy but remain ignorant. If you do not take care of the child, he will be sick. If he is not taught, he will be ignorant.

Orang-orang datang ke gereja melalui Injil dan tumbuh melalui pelayanan pastoral. Tetapi ini tidak cukup. Mereka harus belajar membedakan antara yang baik dan yang jahat. Jadi mereka perlu belajar doktrin. Rasul Paulus berkata bahwa dia tahu siapa yang dia percayai. Orang Kristen perlu memahami dasar iman mereka.

1. Ini adalah kehendak Tuhan

Setiap orang Kristen dituntut untuk mematuhi kehendak Tuhan. Pengkhotbah dapat mengkhotbahkan Injil dan setiap orang percaya juga dapat mengkhotbahkan Injil. Kita harus memiliki sikap serius terhadap kehendak Tuhan. Seberapa pentingkah kehendak Tuhan? John Calvin mengatakan tidak ada yang lebih besar dari kehendak Tuhan selain dari Tuhan sendiri. Tuhan adalah Tuhan semesta alam. Keinginannya lebih besar dari semua keinginan.

Jika kita menghormati Tuhan, kita akan taat pada kehendak-Nya. Keinginannya serius dan mendalam. Jika Dia tidak menghendaki, tidak ada langit dan bumi. Semua hal ada karena kehendak-Nya dalam penciptaan. Jika Dia tidak menghendaki, tidak ada keselamatan. Keselamatan terjadi karena kehendak Tuhan dalam penebusan. Karena kehendak Tuhan dalam penciptaan, semua hal ada. Karena kehendak Tuhan dalam penebusan, kita diselamatkan. Karena kehendak Tuhan dalam wahyu, kita dapat memahami kebenaran Tuhan. Kehendak Tuhan sangat besar dan mendalam. Karena itu kita tidak boleh mengambil nama Tuhan dengan sia-sia dan mengatakan kehendak Tuhan dengan sembarangan.

Kehendak Tuhan berbeda dari petunjuk Tuhan. Kehendak Tuhan adalah agar kita menjadi kudus. Tetapi dalam tuntunan Tuhan, beberapa akan menikah dan sebagian lagi tidak. Tetapi apakah sudah menikah atau belum, kita harus menjalani kehidupan yang suci. Demikian pula, adalah kehendak Tuhan bahwa kita memberitakan Injil. Beberapa dibimbing untuk menjadi pengkhotbah, beberapa tidak. Tetapi apakah kita adalah pengkhotbah atau bukan, kita harus mengkhotbahkan Injil. Seorang pengkhotbah memberitakan Injil sebagai profesinya, tetapi seorang Kristen yang normal berkhotbah tentang gaya hidupnya. Memberitakan Injil bukanlah bimbingan Tuhan, itu adalah kehendak Tuhan. Baik pengkhotbah atau awam, kita harus memberitakan Injil.

2. Itu adalah perintah Yesus Kristus

Yesus berkata jika kita mencintai-Nya kita akan mengikuti perintah-Nya. Orang Kristen harus mencintai Tuhan dan mematuhi perintah-Nya. Yesus Kristus memberikan dua perintah besar kepada kita. Yang pertama adalah internal dan yang kedua adalah eksternal.

Sebelum Yesus dikhianati, Dia memberikan perintah baru kepada para murid-Nya untuk saling mengasihi. Mengapa ini perintah baru? Karena dalam Perjanjian Lama, kita diperintahkan untuk mencintai Tuhan. Ini mencakup 4 dari 10 perintah pertama, yaitu mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, pikiran, dan kekuatan kita. Yang kedua adalah mencintai sesama seperti diri kita sendiri. Ini adalah Perjanjian Lama. Namun Perjanjian Lama tidak mengatakan saling mencintai. Cinta di sini menjadi tanggung jawab bersama. Jika kita saling mengasihi, orang akan tahu bahwa kita adalah murid Kristus. Itu adalah tanda dari murid Kristus yang sejati. Seperti yang Yesus katakan, dunia akan tahu kita adalah murid-murid-Nya jika kita saling mengasihi. Kami membuktikan bahwa kami adalah murid-murid Kristus melalui cinta kami.

Menjangkau secara eksternal, Kristus memerintahkan kita untuk pergi ke seluruh dunia dan memberitakan Injil kepada semua bangsa, membaptis mereka dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus, dan Dia akan bersama kita sampai akhir zaman. Karena itu, berdasarkan perintah ini, kita harus memberitakan Injil.
 
3. Cinta Kristus memaksa kita

Kita tahu Yesus telah mati untuk kita. Kita yang hidup harus hidup untuk Dia karena Dia mati untuk kita. Rasul Paulus terus mengkhotbahkan Injil terlepas dari semua penderitaan dan bahaya yang terus-menerus dia hadapi karena dia didorong oleh kasih Kristus. Dia secara internal termotivasi untuk mengkhotbahkan Injil. Apakah pengkhotbah itu baik atau buruk dapat dipastikan dengan bagaimana ia termotivasi dalam mengkhotbahkan Injil. Jika dia melakukannya untuk alasan pribadi apa pun itu tidak ada nilainya. Tetapi jika itu karena kasih Kristus, itu sangat berharga.

Kami mencintai karena Kristus pertama-tama mengasihi kami. Roh Kudus-Nya bekerja di hati kita. Sejauh mana kita memahami kasih-Nya didasarkan pada seberapa banyak kita memahami penderitaan-Nya. Semakin kita memahami penderitaan-Nya, semakin kita tahu bagaimana mengasihi Dia. Kami akan melakukan hal-hal yang orang tidak akan lakukan, menderita apa yang orang tidak akan menderita, karena kami terinspirasi oleh kasih Tuhan. Ia menerima kekuatan gaib yang melampaui kemampuan dan pengalamannya sendiri. Ketika kita mencintai seseorang, kita rela mati dan menantang semua keterbatasan kita. Tidak ada yang bisa menghentikan kita. Tidak ada bahaya yang bisa menakuti kita.

Apakah kita ingin memberitakan Injil? Ini bukan hanya masalah belajar dan berprestasi dalam ujian. Kita perlu diilhami oleh kasih Kristus, dan kemudian tanpa henti kita akan terus mengkhotbahkan Injil agar orang lain dapat berbagi dalam berkat-berkat.

Ketika kita dipaksa secara internal, itu bukan lagi pilihan kita. Kami tidak lagi memiliki kehendak bebas untuk melawannya. Tiba-tiba, kami beralih dari aktif menjadi pasif. Gelombang besar menggerakkan kita. Tidak ada cara bagi kita untuk melakukan hal yang berbeda. Rasul Paulus berkata bahwa kasih Kristus memaksa kita. Kekuatan-Nya untuk menaklukkan kita lebih besar daripada kekuatan kita untuk menolak. Inilah yang dimaksud dengan kuasa Kristus yang mengalahkan kita. Kami akan bekerja lebih keras dari biasanya. Apakah kita punya pengalaman seperti itu? Ketika kita melihat orang yang belum diselamatkan, orang berdosa yang terhilang, bagaimana perasaan kita?

4. Ini adalah kebutuhan pria

Hanya Kristus yang dapat melihat kebutuhan sejati manusia. Ketika kita lebih kaya, kita pikir kita membutuhkan hal-hal yang lebih baik. Kami menjual mobil lama kami dan membeli mobil baru. Kami mengubah furnitur dan gaya hidup kami. Kami memiliki kenikmatan kelas yang lebih tinggi. Konsep kehidupan yang lebih baik berbeda untuk orang yang berbeda. Tetapi kehidupan yang lebih bermakna lebih baik adalah menikmati budaya yang lebih dalam, seni, moralitas, kebenaran, bentuk musik yang lebih besar, bentuk cinta yang lebih murni, kedekatan dengan Tuhan. Ini adalah kehidupan yang lebih baik yang melampaui perubahan material. Jika kita tidak menambah pengetahuan dan menjadi lebih baik dalam karakter, dan kita berpakaian sendiri dengan semua jenis perhiasan, itu seperti babi dengan banyak pakaian mahal dan perhiasan di atasnya.

Yang benar-benar kita butuhkan adalah kasih Allah, terang kebenaran Allah dan sentuhan Roh Kudus. Dan dalam kehidupan kita, kita hendaknya menginginkan bagian dalam kontribusi kepada umat manusia. Yang paling membutuhkan adalah Injil Yesus Kristus. Ini sangat paradoks, karena walaupun ini adalah kebutuhan terbesar pria, itu juga kebutuhan yang paling tidak sensitif bagi pria. Itulah sebabnya sangat sulit untuk memberitakan Injil. Orang benar-benar membutuhkannya tetapi mereka tidak tahu mereka membutuhkannya. Gereja memiliki masalah di mana mereka hanya berkhotbah kepada mereka yang datang, daripada pergi keluar untuk mengkhotbahkan Injil. Agar orang-orang datang, kita harus pergi dan membuat mereka datang. Di satu sisi, kita tahu mereka membutuhkan Injil. Di sisi lain, mereka tidak berpikir mereka membutuhkan Injil. Hanya sedikit orang yang bersedia menjadi pengkhotbah. Ketika kita benar-benar ingin mempertimbangkannya, kita menjadi kalkulatif. Pengalaman kami memberi tahu kami bahwa orang tidak merasakan kebutuhan mereka sehingga kami terus ditolak.

Inilah paradoks Injil. Itu adalah kehendak Tuhan dan juga yang paling sulit untuk taat. Kami melihat ini dalam banyak hal. Bisakah kita hidup tanpa makan dan minum? Kita tidak bisa. Bisakah kita hidup tanpa bernafas? Kita tidak bisa. Bernafas lebih penting daripada minum, dan minum lebih penting daripada makanan. Udara lebih penting daripada air dan air lebih penting daripada makanan. Kita bisa hidup tanpa makanan selama 3 hari, tetapi kita akan mati tanpa air selama 3 hari. Dan kita akan mati tanpa udara selama 3 menit. Tetapi yang lebih penting lebih murah. Kami tidak pernah membayar satu sen pun untuk oksigen. Kami membayar minuman kami dan membayar lebih banyak untuk makanan. Yang paling penting tidak bisa dibeli dengan uang. Dan hal yang paling mahal dari segi moneter adalah hal-hal yang tidak benar-benar kita butuhkan.

Kita harus memberitakan Injil. Rasul Paulus berkata, celakalah dia jika dia tidak memberitakan Injil. Apa pun yang dia lakukan adalah untuk Injil. Kerja kerasnya, debatnya, penderitaannya, kematiannya, semua yang dia lakukan, semuanya demi Injil. Berapa banyak orang Kristen yang dapat menyatakan hal ini? Rasul Paulus berkata bahwa dia ingin orang lain membagikan berkat Injil. Mengkhotbahkan Injil adalah tindakan sejati yang membuat kita keluar dari keegoisan kita. Tuhan telah memenuhi kebutuhannya sehingga dia ingin memenuhi kebutuhan orang lain akan Injil.

5. Kita adalah orang berdosa yang ditebus dengan hutang

Semakin kita memiliki rasa hutang, semakin baik kita bisa menjalani hidup kita. Apakah kita tahu ketika kita berhutang sesuatu pada orang lain? Sikap orang yang sempurna adalah orang yang sadar akan hutangnya. Mengapa kita bersikap kasar kepada orang lain? Karena kita tidak berpikir kita berhutang budi pada mereka. Mengapa kita tidak menghormati orang? Karena kita tidak berpikir kita harus menghormati orang lain. Kita akan masuk ke dalam kesempurnaan ketika kita melihat apa yang kita miliki. Orang yang benar-benar rendah hati tidak menganggap dirinya rendah hati. Seseorang yang bergerak menuju kesempurnaan tahu bahwa ia tidak sempurna.

Jika kita tidak merasa berhutang budi kepada Tuhan untuk memberitakan Injil, kita tidak akan memberitakannya. Rasul Paulus merasakannya dengan sangat dalam.

Sikap seperti apa yang kita miliki dalam mengkhotbahkan Injil? D.L. Moody mengatakan dia tidak bisa tidur jika dia tidak memberitakan Injil selama satu hari. Dia bukan penginjil hanya untuk massa, tetapi dia sangat rajin dalam penginjilan pribadinya.

Semoga kita membuat perjanjian dengan Allah di tahun baru ini bahwa kita akan berbuah bagi-Nya, untuk taat kepada kehendak-Nya, untuk dibatasi oleh Roh-Nya, untuk diilhami dan memiliki rasa hutang kepada Allah sehingga kita bersedia untuk bagikan Injil kepada orang lain.

Topeng dan Temanku N

Cukup sering aku bertemu dengan N waktu dalam bekerja. Dan pas waktu itu kita dapat duduk bersama makan pagi dan siang (Brunch= Breakfast dan Lunch). Menunggu makanan yang kami pesan hendak disajikan, kami pun ngobrol.

Gw kenal N belum lama mungkin hanya sekitar 2 tahun. Gw mengenalnya dari waktu kami bekerja dalam perusahaan yang sama. Setelah pertemuan pertama kami pun saling mengenal lebih jauh ternyata dia seorang anak Tuhan. Tentu senang dong kalau ketemu dengan anak Tuhan (seharusnya begitu kan – jangan sampe kita merasa seneng kalau ketemu sama anak setan) namanya saudara seiman dalam Tuhan.

Ternyata N dulunya aktif banget dalam gereja, bahkan dia berencana hendak menjadi hamba Tuhan tetapi mungkin pertimbangan keluarga maka rencana itu ditunda sampe entah kapan. Gw cukup terkesan ketika dia bercerita waktu dia masuk ke perusahaan dimana kita berkerja dia langsung mengatakan untuk tidak mau bekerja pada hari Minggu (karena biasanya bagi pekerja baru, dia ditempatkan pada jadwal yang tidak enak, jadwal kerja tengah malam hingga pagi hari, bekerja pada hari Sabtu dan Minggu – karena perusahaan dimana kita bekerja buka 7 hari nonstop), karena hari Minggu dia ingin berbakti kepada Tuhan.

Entah mengapa N bercerita mengenang masa lalunya tetapi kini dia tidak ke gereja sama sekali! Apa yang terjadi? Berulang kali aku mendorong dan mengajak untuk datang ke persekutuan rumah tangga, tetapi N selalu mempunyai alasan yang masuk akal untuk tidak dapat datang ke gereja. Gw tentu enggak bisa memaksanya donk.

Yang selalu gw inget selama kita berteman dan seringkali kita ngobrol, dia pernah berkata, “Ah gw sekarang malas ke gereja.”

“Kenapa?” tanya gw.

“Iya di gereja banyak orang munafik.”

“Lah betul sekali ucapan elo, memang orang munafik itu perlu bertobat, maka mereka perlu datang ke gereja berbakti kepada Tuhan.” jawab gw. Tapi mungkin dia kagak senang dengan jawaban gw.

“Kalo ke gereja kan orang munafiknya jadi lebih baikan donk. Enggak tetep munafik, malah kayaknya ada yang tambah menjadi-jadi.” balas N kagak mau kalah. Percakapan kita enggak berlanjut.

Gw pikirin tuh percakapan dengan N. Siapa sih dari kita yang enggak munafik? Orang munafik kan biasanya didepan tampak saleh, baik, keren tetapi sebenarnya dibalik itu hidupnya berantakan, pemberontak dan banyak hal negatif lainnya. Siapa yang sih yang mau ke gereja? Kalo diberi pilihan sebebas-bebasnya mungkin kita akan memilih engga ke gereja. Siapa sih yang mau ke sekolah? Kalau diberi pilihan bebas sih mending nonton bioskop atau jalan-jalan ke mal. Tetapi demi supaya pacar kita berkata bahwa kita adalah orang yang saleh maka kita ke gereja aza deh, atau demi supaya ortu enggak marah-marah ya kita ke sekolah dech.

Nah terus kalo ada orang yang ngaku dia orang Kristen terus enggak mau ke gereja, ke rumah Tuhan, koq rasanya kurang masuk akal. Harusnya wong Kristen kan cinta Tuhan maka dia akan sukacita kalo ke rumah Tuhan. Karena dia ke rumah Tuhan kan mo ketemu sama Tuhan. Kecuali kalo ada kamsud laennya ya angkat tangan dech. Memang dia bukan anak Tuhan kali. Entah anak siapa.

Semaraknya dunia maya tak dipungkiri sebagai orang Kristen juga ikut imbasnya, dari jemaat biasa, jemaat engga biasa, sampe pendeta and pendeti, semua ikut mejeng di dunia maya atau lebih tepatnya sosmed (sosial media) yang pasti bukan sosis medan 🙂 Apalagi dalam suasana Natal begini tentu pemejengan di sosmed itu bertambah, belum lagi trend terakhir ber-selfie ria yang tambah memarakkan sosmed.

Salah atau benar sosmed hanya sebuah media, alat untuk penjangkauan di komunitas seseorang. Yang engga punya komunitas juga bisa mejeng dirinya sendiri tanpa biaya marketing atau biro iklan. Pewartaan diri ini apa salah? Yangg engga pernah terjadi pada waktu-waktu sebelumnya apalagi pada jaman kakek nenek kita kali. Yang mungkin bagi orang ‘dulu’ pewartaan diri itu tabu, alias engga mau menonjolkan diri sendiri.

So apa hubungannya dengan Natal? Natal atau tepatnya pewartaan kelahiran Anak Allah di dunia ini. Allah pake sosmed melalui para malaikat kepada Mikha, Yesaya (nubuatan), Maria, dan para gembala serta orang majus (melalui ilmu perbintangan). Dan sebenarnya masih ada satu lagi oknum yang mendengar pewartaan kelahiran Kristus itu adalah Herodes. Yang kalau menurut sosmed jaman sekarang Herodes akan akan beri Like alias jempol untuk warta kelahiran Kristus tersebut. Tapi apakah hal “Like” itu tulus dari dalam hati Herodes, itu yang dipertanyakan. Tentu kita tahu kalau membaca dari Alkitab bagaimana karakter Herodes sebagai raja penguasa tentu tidak mau ada saingan.

Ketika raja Herodes mendengar hal itu terkejutlah ia beserta seluruh Yerusalem. Maka dikumpulkannya semua imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi, lalu dimintanya keterangan dari mereka, di mana Mesias akan dilahirkan. Lalu dengan diam-diam Herodes memanggil orang-orang majus itu dan dengan teliti bertanya kepada mereka, bilamana bintang itu nampak. Kemudian ia menyuruh mereka ke Betlehem, katanya: “Pergi dan selidikilah dengan seksama hal-hal mengenai Anak itu dan segera sesudah kamu menemukan Dia, kabarkanlah kepadaku supaya akupun datang menyembah Dia.” Mat.2:3, 4, 7, 8

Kedengarannya aja Herodes pengen datang menyembah bayi Yesus. Percaya atau tidak, pasti Herodes kagak mau ada saingan bakal raja bagi dirinya. Tidak heran kalau dia mempunyai rencana jahat misalnya untuk membunuh bayi Yesus. Hal itu terlihat dengan tindakan Herodes yang selanjutnya, Ketika Herodes tahu, bahwa ia telah diperdayakan oleh orang-orang majus itu, ia sangat marah. Lalu ia menyuruh membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah, sesuai dengan waktu yang dapat diketahuinya dari orang-orang majus itu. Mat2:16

Balik lagi ke judul di atas. Ternyata Natal pertama itu sangat sederhana ga neko-neko, ga pake sensasi, ga pake selfie,  tapi banyak didengar orang bahkan menjadi berita yang menakutkan bagi beberapa orang. Lain dengan dunia kita sekarang. Peristiwa yang harusnya sederhana kini akan menjadi sensasi, akan di eksploit menjadi berita heboh. Karena kecanggihan tekno sepersekian detik akan merajalela di seantero dunia.

Dan sebaliknya. Berita Allah tentang Kebenaran akan ditolak mentah-mentah oleh manusia. Sedangkan berita hoaks yang kagak tau juntrungannya akan menjadi sensasi dan dipercaya. Menyedihkan? Welcome to our world. Tidak heran manusia dari dulu sampai sekarang akan tetap menolak kebenaran. Karena dosa. Bukankah kita juga lebih tertarik kepada berita-berita yang aktual dengan keinginan tahuan yang besar daripada berita Kebenaran.

Denag adanya MedSos berita-berita simpang siur akan jauh lebih mudah mendekati kita. Dan akan lebih mudah pula untuk menjauhkan kita dari berita Kebenaran. Karena kita akan lebih menikmati memikirkan merenungkan berita-berita “benar” di MedSos itu yang membuai kita daripada Alkitab. Kiranya ditengah maraknya berita-berita MedSos kita masih bisa lebih banyak waktu untuk merenungkan Firman Tuhan.