Feeds:
Posts
Comments

Numpang share nggak panjang-panjang. Dari kotbah Minggu kemaren di gereja HFAN yang diambil dari 1 Yohanes 2:28. Maka sekarang, anak-anakku, tinggallah di dalam Kristus, supaya apabila Ia menyatakan diri-Nya, kita beroleh keberanian percaya dan tidak usah malu terhadap Dia pada hari kedatangan-Nya. 2:29 Jikalau kamu tahu, bahwa Ia adalah benar, kamu harus tahu juga, bahwa setiap orang, yang berbuat kebenaran, lahir dari pada-Nya.

Dari kata kunci ini gw teringat akan tulisan Yohanes yang laen yakni yang ada di buku Yohanes 15 ayat (4) Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. (5) Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. (6) Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.

Apa yang dimaksud dengan tinggal didalam Aku (Kristus)? Pak Gagan memberi contoh tinggal seperti didalam rumah. Kalau tinggal didalam rumah itu ada 2 hal yang perlu diperhatikan yakni pertama Status dan kedua (bagaimana) Hidup di rumah tersebut. Kalau Status kita adalah tamu di rumah tersebut maka jelas Hidup kita juga sebagai tamu bukan pemilik rumah tersebut.

Kalau Status kita sebagai anak Pemilik Rumah maka Hidup kita mencerminkan kita “pemilik” rumah tersebut. Ketika Status kita menjadi Anak Tuhan, maka Hidup kita harus mencerminkan Hidup didalam Kristus.Karena konsepnya Kita tinggal didalam Kristus dan Kristus ada didalam kita. Dan jika kita ada didalam Dia maka pasti kita akan berbuat kebenaran, bukan berbuat kebaikan.

Puji Tuhan. Dan terima kasih kepada pendeta Gagan dari HFAN yang telah menjadi saluran berkat Firman Tuhan yang menguatkan dan mengingatkan jemaat untuk kembali menyadari meng-refleksi diri. Kotbah hari Minggu July 3rd, 2016 tidak seperti kebanyakan kotbah yang “menghibur” tetapi kotbah yang tidak biasa, kotbah yang “tidak menyenangkan” karena jemaat harus serius menanggapinya. Tetapi itulah kotbah yang sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan.

Coba baca ayat Firman Tuhan di bawah ini: ” (3) Dan inilah tandanya, bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintah-Nya. (4) Barangsiapa berkata: Aku mengenal Dia, tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran. (5) Tetapi barangsiapa menuruti firman-Nya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah; dengan itulah kita ketahui, bahwa kita ada di dalam Dia. (6) Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.” 1 Yoh 2:3-6

Empat ayat Firman Tuhan ini sebenarnya sudah cukup jelas. Kalau kita BERANI disebut dipanggil sebagai orang Kristen, pengikut Kristus yang sejati maka kita akan menuruti peritah-perintah Tuhan. Bahkan dunia atau orang non-Kristen akan melihat juga bahwa kita adalah orang Kristen karena menuruti perintah-perintah Tuhan.

Dan terus terang, perintah-perintah Tuhan itu “nggak ada yang enak” buat kita. Semuanya kayaknya susah. Susah untuk di turuti dan apalagi dilakukan. Tentu kita mikir, apa aja sih perintah-perintah Tuhan itu? (Perintah Tuhan yang menurut Firman Tuhan bukan menurut diri kita sendiri lho). Itulah pekerjaan rumah kita mencari tahu apa tuh perintah Tuhan. Kurang jelas atau bingung, bisa telpon minta penjelasan pak Gagan atau dibahas di care group atau komsel. Ini hanya sharing bukan kotbah jadi nggak akan dibahas lebih lanjut.

Mungkin kita belom selesai merenungkan ayat 3, ayat keempat udah beruntun menohok diri kita kembali. Barangsiapa berkata: Aku mengenal Dia, tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran. Maka kotbah pak Gagan minggu kemarin sebenarnya hal yang so serious. Dan biasanya kita itu paling pinter kalau bikin alasan, apalagi kita enggak bisa menuruti perintah Tuhan. Tetapi sayangnya Firman Tuhan ora kompromi, menyebut orang Kristen yang enggak bisa menuruti perintah Tuhan itu pendusta dan tidak didalam Tuhan.

Maka bersyukurlah kita dapat mendengar kotbah yang serius seperti Minggu kemarin karena kita bisa diingatkan kembali dan minta kekuatan dari Roh Kudus untuk bisa kembali menuruti perintah-perintah Tuhan. Kekristenan sebenarnya hal yang serius. Hal antara mati dan hidup seseorang. Motivasi kita ke gereja kayaknya bukan untuk menghibur diri tetapi dimana kita bisa bertemu dengan Tuhan bersama sekalian umatNya. Biarlah kita bersama-sama belajar Hidup dan Berjalan dalam Kekudusan.

Madesu

madesuDari jadul ini singkatan udah disebut sebut orang untuk menunjukkan masa depan seseorang yang kurang baik maka disebut masa depannya suram.

Rasanya ngga ada orang yang suka disebut punya masa depan suram. Semua pengen masa depan cerah. Kata orang itu namanya harapan.

Masa depan yang lebih baik dari tahun lalu misalnya. Maka diharapkan tahun ini lebih baik lebih cerah. Tentu yang dimaksud masa depan yang lebih baik adalah masalah keuangan, kekayaan, kesehatan, kebutuhan jasmani, hubungan keluarga pribadi. Untuk pengharapan milik orang lain atau orang banyak bukan urusan kita. Gitu kali ya kira kira pengharapan kita.

Ya itu mah pengharapan egois. Self centre. Yang penting gw jadi lebih baik, lebih cerah; masa bodoh ama orang lain mau masa depan suram kek, siram kek, karam kek terserah.

Memasuki tahun baru, harapan kita masa depan cerah. Kadang kita hanya berharap harap sesuai keinginan kita. Sebagai Kristiani seharusnya tidaklah demikian. Karena pengharapan kita hanya pada Kristus. Bukan pada dunia ini.

Secara logika dan realita. Kalau kita berharap pada dunia, keadaan dunia ndak akan semakin baik. Masalah ekonomi global melanda dunia. Kita ke negara mana saja kedapatan masalah ekonomi. Mencari pekerjaan tidak segampang dulu. Berbisnis juga tidak mudah, banyak kendalanya.

Karena masalah ekonomi pasti akan merembet ke masalah keuangan. Akan merambat ke masalah hubungan antar manusia. Keluarga. Teman. (Sosial) Sandang Pangan. Bahkan sampai ke agama. Apalagi politik.

Belum lagi masalah perselisihan politik, dagang yang mengarah perang, infasi atau terorisme. Bencana alam. Sakit penyakit yang semakin berkembang. Haaissh. Melihat semua itu secara global, apakah dunia ini akan semakin baik? Rasanya enggak.

Masa depan cerah? Kadang kita jangan terbawa oleh impian kita. Memang siapa yang tidak senang harapan, keinginan atau impian kita menjadi nyata? Tetapi ingat, semua keinginan kita tak lebih dari hawa nafsu. Karena kita masih berdosa.

Jadi apa kita ngga boleh berharap atau punya pengharapan? Boleh aja. Tetapi pengharapan itu hanya ditujukan kepada Tuhan Yesus. Bukan kepada dunia, bukan diri sendiri. Bahkan Tuhan Yesus yang memberi pengharapan, sumber pengharapan dan satu-satunya pengharapan sejati dan kekal.

Pengharapan dunia hanya sementara pasti engga bisa memuaskan hati manusia. Maka itu manusia terus mencari mencari.Dan hasilnya nol besar. Kasihan lagi bagi orang Kristen yang mendambakan masa depan cerah dengan memperalat Tuhan. Jadi fokusnya itu pengharapan cerah buat hidupnya bukan kepada Tuhan. Maka pengharapan orang Kristen itu nggak beda sama orang yang berpengharapan ke orang pinter  atau berhala atau gunung keramat.

Masa depan suram bagi dunia ini? Iya! Itu engga bisa diharapkan. Bukan pesimis atau skeptis. Karena itu tadi pengharapan itu bukan hanya sementara saja . Masa depan cerah di dunia ini hanya sementara. Sebagai umat Kristiani yang telah ditebus oleh Kristus kita akan mempunyai Masa Depan Cerah dalam Kristus. Dan bukan di dunia ini. Kita hanya bisa bersandar kepada Kristus sebagai pengharapan yang sejati. Tidak ada kepastian dalam dunia. Tetapi dalam Kristus ada kepastian. Ada masa depan cerah sesuai dengan kehendakNya.

Coretan Pengharapan

pengharapanSebagai insan Kristiani yang telah dipanggil oleh Kristus menjadi anak anakNya maka pengharapan Kristiani seharusnya beda dengan pengharapan dunia.

Pengharapan dunia hanya mau menerima, meminta, memaksa, memerintah bahkan mengancam. Lihat saja berapa seringnya orang kristen kalau kepepet karena masalah lalu berdoa kan? Tapi doanya bagaimana? Itu tadi, meminta, memaksa, memerintah dan mengancam.

Karena jelas Tuhan dianggap sapi perah, sumber berkat, pembantu penyedia kemauan manusia. Sadar atau nggak sadar manusia pengen jadi Tuhan.

Manusia berdoa sembahyang semedhi untuk minta berkat dari tuhan. Manusia juga mencoba menyuap/ membujuk tuhan dengan menyembah memberi makan, sesaji kepada tuhan supaya tuhan memberkati mereka. Manusia pun keliling mencari cari tuhan yang lain yabg punya kuasa untuk memberkati mereka. Sampai akhirnya kepada setan pun manusia berharap.

Itulah pengharapan manusia untuk hidupnya lebih baik makmur sejahtera. Tapi apakah benar hidup manusia itu akan lebih bahagia setelah mendapatkan apa yang diharapkan? Jawabannya adalah tidak. Bukankah setelah mendapatkan apa yang diharapkan manusia masih pengen lebih lagi?

Maka harus diakuilah bahwa di dunia ini nggak ada yang dapat memuaskan hati manusia. Tuhan Yesus pernah berkata minum air yang diberikan olehNya maka engkau tidak akan pernah haus lagi. Wow perkataan yang berani dan besar.

Tentu saja karena Dia adalah Tuhan. Dan hanya Dia saja yang bisa memberikan pengharapan sejati. Maka kita hanya meresponi saja yakni menerima meminum Air Hidup itu.

Pengharapan sejati adalah ketika kita menaklukkan diri kita kepada Kristus. Sekarang kita tidak berharap menurut keegoisan kita keinginan kita. Tetapi sekarang kita berharap total kepada Yesus. Berserah total kepada Kristus. Menyerahkan semua kuatir kita, masalah kita, keinginan kita semuanya kepada Kristus.

Karena sekarang pengharapan kita hanya fokus kepada Kristus. Kita berserah kepada kehendakNya, rencanaNya untuk hidup kita, baik atau tidak baik kita akan menurutinya.

Kita belajar percaya dan taat kepada kehendakNya. Kita tetap menjalankan hidup seperti biasa tetapi harapan kita bukan lagi pada cita-cita impian kita, tetapi berharap kepada Yesus Kristus.

christmasKita tahu bahwa dalam cerita di Kejadian 22:1-19 Abraham yang hendak mengorbankan Ishak akhirnya ngga jadi, karena Allah hanya mau menguji iman Abraham.

Tetapi kejadian Tuhan Yesus yang mengerjakan Misi Allah didalam dunia tetap jalan. Tuhan Yesus datang ke dunia menjelma lahir menjadi bayi Maria. Dapat dibayangkan kalau ‘hati’ Allah begitu ‘sakit ‘ melihat penderitaan Kristus.

Kalau kita lanjutkan balik ke cerita Abraham yang jadi membaringkan Ishak di atas pembakaran korban dan melihat api yang membakar tubuh Ishak akan betapa mengerikan. Abraham mungkin juga bisa histeris. Bagaimana mungkin dia seorang bapa mengorbankan anaknya yang tunggal yang dikasihi.

Kalau nggak pingsan, hati Abraham pasti sakit seperti teriris-iris sambil diberi jeruk lemon dan  seperti merasakan tubuhnya sendiri yang terbakar.

Kita bayangkan lebih jauh misalnya. Ishak mengalami penderitaan 33 tahun lamanya sampai mengalami penyiksaan dan akhirnya mati. Dan selama 33 tahun itu Abraham mengetahui semua hal itu didepan matanya, tetapi enggak bisa dan enggak boleh berbuat sesuatu untuk Ishak. Mungkin kalau itu terjadi pada diri Abraham, Abraham bisa mati duluan.

Well, cuma mau menggambarkan bahwa Natal adalah tidak seindah yg kita kira atau kita lihat seperti sekarang – penuh ceria, hadiah, musik, drama, tarian, liburan, ke gereja dengan keluarga dan sebagainya.

Makna Natal ternyata jauh lebih dalam dari yang kita kira selama ini. Makna Natal ada penderitaan, ada pengorbanan, ada ‘air mata’.

Memang tidak salah, Natal kelahiran Kristus raja Damai adalah berita gembira bagi manusia. Karena Dia datang untuk menyelamatkan manusia tetapi dengan mengorbankan diriNya.

Maka Natal bukan saja kita bersyukur atas anugerah Tuhan yang begitu besar yang enggak tertuliskan atau terucapkan oleh bahasa manusia. Bahkan engga mungkin akan terbalaskan oleh usaha manusia.
Natal  ‘sebenarnya ‘ hal yang enggak layak kita terima. Tetapi Allah yang berinisiatif mau menyelamatkan ciptaanNya.

Kita bersyukur akan Natal bukan karena kita layak menerimanya. Tetapi Allah mengasihi. Kita harus sadar akan hal itu bukan karena kita berharga.

Kalau kita mengorbankan salah satu anggota keluarga kita untuk menyelamatkan orang lain, mungkin masih banyak orang yang melakukan demikian. Tetapi mengorbankan anaknya yang tunggal untuk menyelamatkan orang lain. Rasanya enggak ada yang begitu. Mungkin ada yang mengorbankan anaknya untuk memperoleh kekayaan, atau kekuasaan. Untuk dirinya sendiri, itu masih bisa terjadi. Tetapi mengorbankan anaknya untuk orang lain? Orang yang enggak elo kenal, orang asing. Orang jahat yang menghina mengutuk memfitnah menyakiti hati dan sebagainya. Nah elo mengorbankan anak elo sampe menderita dan mati, buat menyelamatkan orang kayak gitu. Kita? No way!!!

Tetapi Allah melakukan hal itu. Mengorbankan AnakNya yang Tunggal Tuhan Yesus Kristus untuk mati menebus dosa elo dan gw.

Kadang kagak ngerti gimana banyak orang Kristen yang gembira ria waktu Natal dan bersedih ria waktu Paskah. Waktu Paskah memperingati kesengsaraan kematian Tuhan Yesus. Kayaknya mulai Tuhan Yesus ‘hadir’ dibumi sebagai bayi itu udah sengsara. Maka nggak salah kalau ada banyak orang yang mengatakan peringatan Natal itu tercampur ama perayaan agama pagan.

Karena peringatan Natal itu enggak perlu hura-hura, tapi kita lebih menyimak bagaimana pengorbanan Kristus bagi manusia, bagi kita dan bagaimana kita meresponi dan melakukan anugerah Allah itu dalam kehidupan kita sehari-hari.

Bukankah lebih baik jika peringatan Natal itu kita peringati dengan hikmat di gereja (tanpa hiburan) dengan lagu-lagu Natal itu sudah menggambarkan bagaimana kita seharusnya menyambut kedatangan sang Raja Damai itu.

superheroTidak gw pungkiri kalo komik-komik Superheroes banyak gw baca, karena dulu mah engga ada mainan laen (sekarang kan ada Internet, PS3, iPad dan sebagainya, malah buku bacaan mungkin udah gak pernah disentuh). Maka gak heran pula kalo filem the Avengers yang diputar akhir-akhir ini mengusik perhatian gw.

Tentu pertanyaan di atasa mungkin muncul di pikiran. Gimana ya jadinya kalo para SuperHero itu, the Avengers, hidup pada jaman sekarang. Tentu gak perlu detil, seperti karakter atau sifat masing-masing SuperHero itu berbeda, tetapi beberapa hal yang menarik yang melintas dipikiran.

1. Gak tau dimana alamat rumahnya alias musti rahasia. Entah engga percaya diri atau tidak mau memperkenalkan diri sampe takut diburu musuh-musuhnya atau mungkin bakal sering diminta foto selfie dan tanda tangan. Maka superhero harus misterius. Gak bakal punya Facebook atau website sendiri kayak Justin Bieber atau Lady Kaga. Gak perlu sensasi udah terkenal koq.

2. Menjadi hakim. Kagak tunggu hakim dari pengadilan tapi menghakimi sendiri. Maka banyak orang jahat takut dan benci pada mereka. Tentu ini adalah salah satu karakter kunci SuperHero dari banyak pembuat komik bahwa kita harus melakukan keadilan (sesuai dengan standar keadilan kita). Terlalu lama menunggu keadilan dari pemerintah. (Pemerintah adalah lembaga yang dicipta oleh Allah)

3. Punya kelebihan. Biasanya kelebihan super natural. Tentu hal ini melawan kodrat alam.

4. Biasanya orang baek-baek. (menurut mereka sich) Suka menolong sesama. Melawan kejahatan (yang menurut mereka jahat – padahal SuperHero sering menentang pemerintah)

5. Kaya-nya luar biasa. Emangnya semua pada gratis ? Kostum-nya juga harus beli. Gak tau dapat dari mana tuh uangnya. CEO perusahaan konglomerat harusnya sibuk luar biasa waktunya terbatas. Eh CEO yang jadi SuperHero masih banyak waktu menolong orang, melawan kejahatan. Punya teknologi super canggih. (Kalo gak Kaya mana bisa punya tekno yang super canggih?)

6. SuperHero masih terbatas dalam ruang dan waktu.

7. Ternyata SuperHero juga punya masalah. Nah lo.

8. Baca Alkitab the Avengers (bukan Bible)

9. Tidak perlu Tuhan. Masyarakat menganggap SuperHero sebagai pengganti Tuhan. Yang bertindak kan SuperHero bukan Tuhan. Mengapa perlu Tuhan?

10. Penyelesaian masalah harus dilakukan dengan kekerasan. Hukum rimba yang berlaku. Yang kuat yang menang.

Mungkin masih banyak karakter superhero yang belom gw sebutkan disini. So selama superhero itu  berbentuk manusia yang punya masalah, tentu juga punya kelemahan atau kekurangan. Jelas mereka juga dapat berbuat kesalahan. Kalau saja andai kata misalnya, emang bener SuperHero itu ada, maka mereka pun juga memerlukan keselamatan penebusan dari Tuhan Yesus Kristus. Karna mereka kagak bisa menyelamatkan diri mereka sendiri.

Alkitab mengatakan, Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, (Rm3:23)

Natal Sebuah Tangisan

christmasMulai pertengahan bulan Nopember para pebisnis udah mulai menggelar dagangannya baik mulai dari hotel, toko sampai pada pusat perbelanjaan dengan saputan wajah pemasaran citra Natal. Tentu dengan hiasan dan lagu-lagu Natal yang mendayuh untuk melarutkan insan bisa mulai melakukan belanja Natal.

Oh ya Natal bukan saja milik perusahaan yang membuat pesta buat para karyawannya tetapi juga milik gereja untuk menarik insan masuk ke dalam gedung gereja. Bahkan bagi orang Kristen Natal adalah suatu penikmatan diri bahkan mungkin pelampiasan hasrat daging.

Mungkin bagi non Krsiten, Natal suatu ibadah khusuk bagi kristiani, tetapi sebenarnya adalah suatu penikmatan diri dibalik ibadah. Apakah demikian? Karena Natal bukan suatu perayaan yang dinikmati dengan penuh ria.

Tetapi Natal adalah waktu tangisan, pengorbanan, perasaan campur aduk. Natal adalah peristiwa Kristus yang datang ke dunia menjelma sebagai manusia. Dia lahir sebagai seorang bayi bukan untuk pesiar bertamasya mengunjungi bumi. Tetapi untuk sebuah misi khusus yang maha berat.

Natal adalah waktu, kalau di ibaratkan, dimana Allah Bapa mengirim AnakNya yang Tunggal ke dunia dalam rencana mengorbankan AnakNya mati untuk menebus dosa manusia. Jika digambarkan dalam perasaan manusia maka itu bukanlah suatu momen yang indah penuh perayaan dengan nyanyian tarian lampu berkelap kelip. Tetapi momen yang penuh tangisan.

Keinget cerita Abraham yang mentaati perintah Allah untuk membawa anakanya yang tunggal Ishak; Ia berfirman kepadanya: “Abraham,” lalu sahutnya: “Ya, Tuhan. FirmanNya: “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.” Kej.22:1-2. Keesokan harinya pagi-pagi bangunlah Abraham, ia memasang pelana keledainya dan memanggil dua orang bujangnya beserta Ishak, anaknya; ia membelah juga kayu untuk korban bakaran itu, lalu berangkatlah ia dan pergi ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Ay.3

Percaya enggak sebagai manusia normal Abraham pasti punya otak ama perasaan. Semalaman mungkin dia kagak tidur. Mikiiiiirrr terus. Bertanya-tanya terus. Kuatir. Dan enggak nemuin jawabannya. Lalu Abraham menuruti perintah Tuhan Allah. Apakah mudah? Dalam diri Abraham pastilah terjadi perang batin. Bahkan mungkin Abraham sambil jalan sambil mengeluarkan air mata menangis. Allah pun tahu koq kalau Abraham begitu mengasihi Ishak. Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak.

Maka itu arti Natal adalah suatu anugerah yang gak terukur. Kasih Allah Bapa sungguh begitu besar sampai rela mengorbankan AnakNya yang Tunggal Tuhan Yesus Kristus untuk datang sebagai seorang manusia. Ketika melewati Natal seharusnya kita merenung bahwa kita gak selayaknya ditebus ama Tuhan Yesus. Kita yang hina. Pengorbanan Tuhan Yesus yang begitu besar ngga terukur.

Sedih aja kalau Natal dilewati dengan makan minum menyanyikan lagu Natal tanpa tau artinya, kado yang berserakan di bawah pohon natal. Eh cuman itu toh arti Natal? Dangkal banget. Apalagi kalau kita Kristen. Ngga beda ama non Kristen yang berhura ngerayain libur akhir tahun. Padahal begitu besar banget pengorbanan Kristus.

Ya Tuhan ampuni kami yang sering kali meremehkan anugerahMu. Perbaharui kami setiap hari untuk lebih mengerti akan pengorbananMu. Dan menceritakan pengalaman ini kepada yang laen.