Feeds:
Posts
Comments

Archive for July, 2017

Ciptaan yang Mahal

North-Shore-Vancouver-Deep-Cove-Hiking-Trail-Food-view-1Lima bulan waktu telah berlalu dengan ‘sengaja’ tak terasakan. Dan selama itu gw gak menulis. Bener-bener dech. Alasan? Ooh jangan kuatir gw pasti punya buanyak alasan yang mungkin bisa gw tulis as a novel. Ha..ha..ha..

Tapi header yang udah gw ganti dan background jadi suasana summer musim panas. Ya itu musim yang sekarang kita jalani disini meski mungkin tinggal 2 bulan lagi udah kembali ke musim gugur. Musim panas adalah musim dimana banyak digunakan masyarakat di Amrik Utara sini untuk kegiatan luar ruang (outdoor). Maka kegiatan panca indera manusianya kemungkinan besar bersentuhan dengan alam.

Yang terutama tentu adalah indera mata yang menjadi salah satu sensor untuk mengagumi keindahan ciptaan Tuhan. Yang tak akan dapat digantikan dengan media apa pun juga. Maka kalau ada “tour” untuk menikmati keindahan alam yang begitu indahnya dan biayanya juga mahal; seharusnya itu lumrah. Kualitas bagus harus dibayar mahal.

Baru-baru ini di internet sempat terberitakan tentang penjualan apartemen di kota Vancouver yang mahal harganya yang menjadikan salah satu rekor termahal di negara Kanada. Harganya mencapai 25 juta dolar Kanada. Kalau di Rupiahkan mungkin seperti ini Rp. 268.066.124.040,- (dua ratus enampuluh delapan milyar …….)

Keistimewaannya  yang gw duga adalah pemilik apartemen tersebut bisa melihat menikmati 360 derajat keliling pemandangan yang ruar biasa indahnya. Bayangin kalao di ruang tamu sekali menoleh ke jendela ngeliat pemandangan gunung, laut, lampu-lampu kota berkerlap-kerlip, matahari yang terbit dan terbenam.

Di kamar tidur sekali membuka jendela akan terlihat pemandangan indah dengan sisi yang berbeda. Di dapur, ketika capek memasak menoleh ke sebelah, terlihat pemandangan yang dapat menghibur kepenatan tubuh. Dan pemandangan-pemandangan itu dihargai sekitar 25 juta dolar.

Mahal? Tergantung! Murah! Yang membeli apartemen tersebut seharusnya membayar royalti kepada sang pencipta pemandangan. Jadi 25 juta itu dihitung-hitung sih murah. Karena si pembeli apartemen, setelah beli apartemen tersebut dia juga “memiliki” pemandangan tersebut.

Bulan Juli yang baru kemarin, gw sempet mendaki bukit atau gunung yang gak tinggi-tinggi amat. Perjalanan mendaki sekitar 90 menit. Tetapi cukup melelahkan karena pendakiannya mirip kalo kita naik tangga. Belom lagi harus memanjat dengan bantuan rantai di bebatuan raksasa dan celah-celah yang sempit. Alhasilnya setelah mencapai di atas bukit, tampak pemandangan yang indah luar biasa. Sulit dijelaskan dengan kata-kata. Lebih mudah ngeliat aja. 🙂

Pemandangan yang begitu indah, harus dibayar dengan harga yang “mahal”. Kita harus menyediakan waktu, tubuh kita bakal capek, biaya transportasi dan mungkin banyak yang lainnya. Secara realita, kita sering melupakan akan sang pencipta dari pemandangan yang begitu indahnya.

Kalau ikut pake konsep penjualan rumah mewah yang 25 juta itu karena pemandangannya yang indah. Berapa biaya yang harus kita bayar untuk Tuhan kalau semua hal dalam hidup kita harus dibayar? Manusia gak bisa bayar. Berapa yang harus dibayar. Oksigen 24 jam aja enggak murah. Tubuh organ manusia untuk bisa bekerja normal juga ada biayanya. Mentari yang kita nikmati berapa biayanya. Hiasan tumbuh-tumbuhan pohon yang hijau disekitar kitar, berapa biayanya.

Manusia paling bisa hutang. Ngebayarnya? Kalau ada duit. Gitu kali ya jawabnya. Karena bagaimana mungkin. Contoh: seorang pemuda berusia 20 tahun. Kalau dia harus bayar hidupnya yang selama 20 tahun juga kagak bakal lunas tapi karena dia harus hidup dia bakal hutang lagi. Hutangnya numpuk. Manusia gak bisa bayar lunas.

Eh begitu, manusia masih belagu. Masih pongah. Dibilang semua itu emang udah dari sononya. Ciri manusia itu begitu kali ya. Udah dipojok kefefet masih belagu. Maka itu kalau dipikir-pikir mana bisa sih manusia itu menyelamatkan dirinya sendiri? Enggak bisa. Apalagi menyelamatkan orang laen. Mimpi kali.

Kita menganggap itu sudah sewajarnya. Dunia diciptakan untuk kita. Untuk kita nikmati. Tetapi seharusnya kita mengucap syukur akan anugerah tersebut. Bukan itu saja seharusnya kita mengucap syukur kepada Tuhan akan segala hal dalam hidup kita. Tetapi seringkali kita udah terbiasa, kita menganggap itu hal yang wajar.

Biarlah kita tidak bosan-bosannya mengucap syukur selama dalam hidup karena Syukur kepada Allah karena karunia-Nya yang tak terkatakan itu!

Advertisements

Read Full Post »