Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Kata Harian’ Category

christmasKita tahu bahwa dalam cerita di Kejadian 22:1-19 Abraham yang hendak mengorbankan Ishak akhirnya ngga jadi, karena Allah hanya mau menguji iman Abraham.

Tetapi kejadian Tuhan Yesus yang mengerjakan Misi Allah didalam dunia tetap jalan. Tuhan Yesus datang ke dunia menjelma lahir menjadi bayi Maria. Dapat dibayangkan kalau ‘hati’ Allah begitu ‘sakit ‘ melihat penderitaan Kristus.

Kalau kita lanjutkan balik ke cerita Abraham yang jadi membaringkan Ishak di atas pembakaran korban dan melihat api yang membakar tubuh Ishak akan betapa mengerikan. Abraham mungkin juga bisa histeris. Bagaimana mungkin dia seorang bapa mengorbankan anaknya yang tunggal yang dikasihi.

Kalau nggak pingsan, hati Abraham pasti sakit seperti teriris-iris sambil diberi jeruk lemon dan  seperti merasakan tubuhnya sendiri yang terbakar.

Kita bayangkan lebih jauh misalnya. Ishak mengalami penderitaan 33 tahun lamanya sampai mengalami penyiksaan dan akhirnya mati. Dan selama 33 tahun itu Abraham mengetahui semua hal itu didepan matanya, tetapi enggak bisa dan enggak boleh berbuat sesuatu untuk Ishak. Mungkin kalau itu terjadi pada diri Abraham, Abraham bisa mati duluan.

Well, cuma mau menggambarkan bahwa Natal adalah tidak seindah yg kita kira atau kita lihat seperti sekarang – penuh ceria, hadiah, musik, drama, tarian, liburan, ke gereja dengan keluarga dan sebagainya.

Makna Natal ternyata jauh lebih dalam dari yang kita kira selama ini. Makna Natal ada penderitaan, ada pengorbanan, ada ‘air mata’.

Memang tidak salah, Natal kelahiran Kristus raja Damai adalah berita gembira bagi manusia. Karena Dia datang untuk menyelamatkan manusia tetapi dengan mengorbankan diriNya.

Maka Natal bukan saja kita bersyukur atas anugerah Tuhan yang begitu besar yang enggak tertuliskan atau terucapkan oleh bahasa manusia. Bahkan engga mungkin akan terbalaskan oleh usaha manusia.
Natal  ‘sebenarnya ‘ hal yang enggak layak kita terima. Tetapi Allah yang berinisiatif mau menyelamatkan ciptaanNya.

Kita bersyukur akan Natal bukan karena kita layak menerimanya. Tetapi Allah mengasihi. Kita harus sadar akan hal itu bukan karena kita berharga.

Kalau kita mengorbankan salah satu anggota keluarga kita untuk menyelamatkan orang lain, mungkin masih banyak orang yang melakukan demikian. Tetapi mengorbankan anaknya yang tunggal untuk menyelamatkan orang lain. Rasanya enggak ada yang begitu. Mungkin ada yang mengorbankan anaknya untuk memperoleh kekayaan, atau kekuasaan. Untuk dirinya sendiri, itu masih bisa terjadi. Tetapi mengorbankan anaknya untuk orang lain? Orang yang enggak elo kenal, orang asing. Orang jahat yang menghina mengutuk memfitnah menyakiti hati dan sebagainya. Nah elo mengorbankan anak elo sampe menderita dan mati, buat menyelamatkan orang kayak gitu. Kita? No way!!!

Tetapi Allah melakukan hal itu. Mengorbankan AnakNya yang Tunggal Tuhan Yesus Kristus untuk mati menebus dosa elo dan gw.

Kadang kagak ngerti gimana banyak orang Kristen yang gembira ria waktu Natal dan bersedih ria waktu Paskah. Waktu Paskah memperingati kesengsaraan kematian Tuhan Yesus. Kayaknya mulai Tuhan Yesus ‘hadir’ dibumi sebagai bayi itu udah sengsara. Maka nggak salah kalau ada banyak orang yang mengatakan peringatan Natal itu tercampur ama perayaan agama pagan.

Karena peringatan Natal itu enggak perlu hura-hura, tapi kita lebih menyimak bagaimana pengorbanan Kristus bagi manusia, bagi kita dan bagaimana kita meresponi dan melakukan anugerah Allah itu dalam kehidupan kita sehari-hari.

Bukankah lebih baik jika peringatan Natal itu kita peringati dengan hikmat di gereja (tanpa hiburan) dengan lagu-lagu Natal itu sudah menggambarkan bagaimana kita seharusnya menyambut kedatangan sang Raja Damai itu.

Read Full Post »

superheroTidak gw pungkiri kalo komik-komik Superheroes banyak gw baca, karena dulu mah engga ada mainan laen (sekarang kan ada Internet, PS3, iPad dan sebagainya, malah buku bacaan mungkin udah gak pernah disentuh). Maka gak heran pula kalo filem the Avengers yang diputar akhir-akhir ini mengusik perhatian gw.

Tentu pertanyaan di atasa mungkin muncul di pikiran. Gimana ya jadinya kalo para SuperHero itu, the Avengers, hidup pada jaman sekarang. Tentu gak perlu detil, seperti karakter atau sifat masing-masing SuperHero itu berbeda, tetapi beberapa hal yang menarik yang melintas dipikiran.

1. Gak tau dimana alamat rumahnya alias musti rahasia. Entah engga percaya diri atau tidak mau memperkenalkan diri sampe takut diburu musuh-musuhnya atau mungkin bakal sering diminta foto selfie dan tanda tangan. Maka superhero harus misterius. Gak bakal punya Facebook atau website sendiri kayak Justin Bieber atau Lady Kaga. Gak perlu sensasi udah terkenal koq.

2. Menjadi hakim. Kagak tunggu hakim dari pengadilan tapi menghakimi sendiri. Maka banyak orang jahat takut dan benci pada mereka. Tentu ini adalah salah satu karakter kunci SuperHero dari banyak pembuat komik bahwa kita harus melakukan keadilan (sesuai dengan standar keadilan kita). Terlalu lama menunggu keadilan dari pemerintah. (Pemerintah adalah lembaga yang dicipta oleh Allah)

3. Punya kelebihan. Biasanya kelebihan super natural. Tentu hal ini melawan kodrat alam.

4. Biasanya orang baek-baek. (menurut mereka sich) Suka menolong sesama. Melawan kejahatan (yang menurut mereka jahat – padahal SuperHero sering menentang pemerintah)

5. Kaya-nya luar biasa. Emangnya semua pada gratis ? Kostum-nya juga harus beli. Gak tau dapat dari mana tuh uangnya. CEO perusahaan konglomerat harusnya sibuk luar biasa waktunya terbatas. Eh CEO yang jadi SuperHero masih banyak waktu menolong orang, melawan kejahatan. Punya teknologi super canggih. (Kalo gak Kaya mana bisa punya tekno yang super canggih?)

6. SuperHero masih terbatas dalam ruang dan waktu.

7. Ternyata SuperHero juga punya masalah. Nah lo.

8. Baca Alkitab the Avengers (bukan Bible)

9. Tidak perlu Tuhan. Masyarakat menganggap SuperHero sebagai pengganti Tuhan. Yang bertindak kan SuperHero bukan Tuhan. Mengapa perlu Tuhan?

10. Penyelesaian masalah harus dilakukan dengan kekerasan. Hukum rimba yang berlaku. Yang kuat yang menang.

Mungkin masih banyak karakter superhero yang belom gw sebutkan disini. So selama superhero itu  berbentuk manusia yang punya masalah, tentu juga punya kelemahan atau kekurangan. Jelas mereka juga dapat berbuat kesalahan. Kalau saja andai kata misalnya, emang bener SuperHero itu ada, maka mereka pun juga memerlukan keselamatan penebusan dari Tuhan Yesus Kristus. Karna mereka kagak bisa menyelamatkan diri mereka sendiri.

Alkitab mengatakan, Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, (Rm3:23)

Read Full Post »

outreachPokoknya judul di atas ga ada hubungannya ama lagu tahun 80 an. Cuma mirip aja. Well kenapa gw beri judul begitu tentu ada alasannya. Tahun 2014, sekarang udah mencapai bulan Oktober, dua bulan lagi udah Desember, Natal lagi, lalu tahun baru. Waktu bergulir bertambah tua-nya bumi ini. Mencapai sepuluh bulan, gw kehilangan dua orang teman kerja. Maksudnya kehilangan itu bukan karena mereka dipecat atau mengundurkan diri dari pekerjaan di perusahaan. Tapi sungguh mereka “hilang” dan tidak kembali lagi di bumi ini.

Iya maksudnya mereka sudah almarhum. Nah kadang kita itu bertanya-tanya ya mengapa begitu mengapa begini dan tentu ga nemuin jawab pastinya. Tapi yang pasti waktu mendengar orang-orang disekitar kita itu meninggalkan dunia, apa reaksi kita? Sedih. Pasti. Tapi bagi gw yang lebih menyedihkan itu kalau kedua teman gw itu meninggal dunia dengan belom menerima Kristus sebagai juruselamat mereka!

Sering peristiwa begini merupakan refleksi bagi diri gw. Mereka berdua bekerja sama dalam satu perusahaan dengan gw. Lima hari seminggu, kira-kira duapuluh hari sebulan ketemu gw. Terus gw sering nanya gitu ama diri gw, apa yang telah gw pernah lakukan sama mereka? Berbuat baik? Menolong mereka? Bahkan memberitakan Injil bagi mereka? (karena mereka berdua gw yakin belom Kristen)

Gw yakin, gw pernah berbuat baik sama mereka, karena hubungan teman sekerja oke punya alias kagak pernah berantem atau musuhan. Menolong mereka? Tentu, gw rasa juga pernah menolong mereka. Lalu mengabarkan Injil bagi mereka? Hmmm….. emang gw pernah mikir begitu sih. Cuman kadang gentar juga menghadapi mereka. Karena mereka pekerja kasar, tentu saja kalau seuatu yang enggak menyenangkan hati mereka, mereka bisa bertingkah seenak jidat mereka.

Mungkin juga gw kurang iman bagaimana seperti Musa atau Yeremia yang pernah beralasan kepada Tuhan, yang disuruh untuk menyampaikan berita Tuhan kepada orang Mesir dan Israel, tetapi menghindar dengan alasan nggak pandai ngomong atau masih kurang ini itu. (Yer1:6 Maka aku menjawab: “Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda.) (Kel4:10 Lalu kata Musa kepada TUHAN: “Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulupun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mupun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah.)

Atau gw takut ditolak, atau dibenci, ngga dianggap sebagai temen lagi. Atau juga akan dianggap sebagai tindakan pemaksaan agama. Well, rasio gw pinter ber-argumen di dalam otak. Sehingga pikir punya pikir, bukannya dari perbuatan aja orang bisa melihat gw ini kan beda, dan karakter orang Kristen bakal kelihatan. Itu sudah cukup?

Kalau cuma kesaksian hidup aja udah cukup, lah terus ngapain Yohanes Pembaptis sampe teriak-teriak di padang gurun Yudea “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” Mat3:1-2. Tuhan Yesus sendiri, “Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang.” Mar 1:38. Jadi ternyata pengabaran Injil harus dilakukan selain diimbangi dengan kesaksian hidup kita yang baik.

Kita nggak tahu kapan waktunya Tuhan memanggil hidup manusia, maka kita juga harus giat-giatnya mengabarkan Injil setiap saat terhadap sekeliling kita. Kapan terakhir kali kita menyinggung keselamatan kekal kepada sekitar kita; kepada temana-teman, rekan kerja, keluarga kita. Sebagai manusia normal kayaklah kita engga ingin kalau teman keluarga dekat kita yang setiap hari mungkin kita temui, tiba-tiba meninggal dan mereka belum menerima Kristus sebagai Juruselamat mereka. Lalu kita baru sadar bahwa mereka belum selamat. Terlambat sudah.

 

Read Full Post »

Tetapi Seandainya Tidak

even if notSetahun telah lewat  dan tiba di bulan Oktober di Kanada merayakan hari Pengucapan Syukur alias Thanksgiving. Tentu gw bukan mau menulis tentang Thanksgiving seperti yang udah pernah gw tulis di tahun 2012. Meski mau ga mau gw juga mikirin tentang Thanksgiving. Gimana toh manusia itu mengucapin syukur atawa terima kasih.

Gw pernah nge-tweet dengan menulis seperti begini: “Thanksgiving = Keuntungan Pribadi ?” Tentu kamsudnya udah bisa ditebak. Kalo kita mengucapin syukur alias terima kasih karena diri kita diuntungkan. Kalo engga, mana bisa mulut kita ngomong terima kasih. Iya ngga? Jadi karena kita ‘untung’ baru kita ngomong tengkyu. Kalo engga ya ngapain ngomong tengkyu segala.

Bukan hanya orang non Kristen doang bok yang begitu. Orang yang berani menyebut dirinya Kristen juga kagak sedikit, berperilaku demikian. Take it for granted. Bahasa kerennya. Karna seharusnya orang Kristen nyebut dech, sadar bahwa dirinya itu udah ‘ditebus’ mahal ama darah Yesus yang rela mati baginya. Jadi mereka terima kasih bukan hanya dirinya menerima keuntungan. Karna seharusnya ga layak menerima keselamatan tetapi diselamatkan juga sama Tuhan Yesus. Itu yang disebut sebagai anugerah.

Tunggu!!! stop!!! Lah apa hubungannya ama judul di atas ? Begini. Judul di atas itu ter-inspirasi ama renungan harian yang gw baca tiap hari. yang diambil dari peristiwa Daniel bersama sohib-nya Sadrakh, Mesakh dan Abednego. Yang pas waktu itu ketiga sahabatnya Daniel itu lagi diseret ke hadapan raja Nebukadnezar gara-gara mereka bertiga kaga mau menyembah patung raja Nebukadnezar.

Karena geregetan maka raja Nebukadnezar mengancam menghukum ketiga sohib Daniel itu dimasukkan kedalam dapur perapian. Meski gw percaya ketiga sohib Daniel tersebut harusnya kuatir tetapi mau gimana lagi. hanya bisa pasrah. Lalu ketiga orang itu menjawab menjawab raja Nebukadnezar: “Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini. Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja;

tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.” Daniel 3:16-18.

Tetapi Seandainya Tidak: bukan tindakan sembrono yang berpikir pesimis. That’s it kayaknya ga ada gunanya. Kalo mati pun juga ya apa boleh buat. Gw percaya mereka kagak berpikir demikian tapi mereka punya keyakinan bahwa seandainya mereka mati secara fisik mereka ga bakal meninggalkan Tuhan mereka.

Tetapi Seandainya Tidak: bukan take it for granted. Bukankah mereka itu udah setia sama Tuhan dan berani mati, mengapa sich Tuhan teganya kagak menolong mereka? Bukankah banayk diantara kita yang sering berpikir demikian. Jadi kayak model bisnis. Karena merasa kita udah setia melayani Tuhan. Banyak memberi uang waktu dan tenaga bagi Tuhan; kenapa Tuhan kagak memberkati kita?

Tetapi Seandainya Tidak: sikap iman mereka kepada Tuhan yang hidup. Sering kali kita bisa ‘ber-iman’ kepada Tuhan karena panca indra kita bisa melihat mendengar merasa mencium ‘berkat’. Coba apa yang ada dihadapan kita itu jaan buntu. Jalan yang gelap gulita yang tak berakhir. Ingin beriman kepada Tuhan? Ah yang benar. Coba ketika melihat setitik berkat maka ‘iman’ kita timbul. Jadi iman kita bertumpu pada berkat?

Abraham, bapa orang beriman. Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui. Ibr 11:8. Ah kalo begitu jadi orang Kristen mah geblek. Ga tau apa-apa mudah di bo’ongi? Ga punya rencana.

Filsafat dunia itu berkata sedia payung sebelum hujan. Itu kan untuk jaga-jaga. Karena kuatir. Apa salah membuat rencana? Biasanya yang terjadi adalah membuat rencana dulu baru berdoa meminta bertanya kepada Tuhan apakah rencana ini berkenan sama Tuhan?

Dan seringkali yang terjadi adalah rencana kita bukan rencana Tuhan. Rencana kita bertentangan dengan Firman Tuhan. Mana bisa dunk bisnis dicampur ama Firman Tuhan. Yang realistis lah. Lebih celaka dipikir rencana kita adalah (sesuai) rencana Tuhan.

Tuhan Yesus memberikan contoh teladan yang harus dicontoh oleh anak-anak Tuhan. Rasul Paulus menuliskan di Kis Para Rasul 8:32: Seperti seekor domba Ia dibawa ke pembantaian; dan seperti anak domba yang kelu di depan orang yang menggunting bulunya, demikianlah Ia tidak membuka mulut-Nya.

Ketaatan Tuhan Yesus akan rencana Allah Bapa, Dia hanya mengikuti menggenapi rencana tersebut. Itu yang harus dilakukan oleh anak Tuhan. Berserah pasrah kepada rencana Tuhan.

Tetapi Seandainya Tidak: Suatu pernyataan iman yang tegas dari ketiga sohib Daniel kepada raja Nebukadnezar. Bahwa hidup mereka bukan tergantung kepada Nebukadnezar; melainkan kepada Allah.

Read Full Post »

TabernacleComplete1aMelalui pembacaan Alkitab tahunan yang saat ini nyampai di kitab Keluaran pasalnya yang ke 27-28. Ini merupakan pasal yang cukup sulit dibaca, secara tulisan. Karna emang kita gak kebayang gimana ya itu kemah suci yang Tuhan maksudkan, mungkin kita sendiri harus Gugel cari tau sendiri gimana kira-kira kemah suci pada jaman Musa tersebut. Belom lagi isi kemah suci. Belom lagi pakaian iman yang harus dibuat. Detil dech. Pusing lah.

Dulu kalo baca bagian ini gw cepetin dech bacanya, kayaknya pengen baca yang lebih bisa diimajinasikan. Tetapi saat ini coba gw pikirkan kenapa ya ada tulisan macam begini? Secara gampang-gampangan, kalau di telusur lebih dikit, Tuhan itu sang Pencipta yang dengan FirmanNya Dia bisa menciptakan semua itu. Kenapa Tuhan pake cara begitu? Emangnya Tuhan nganggur, kebanyakan waktu sampe mikirin yang detil, yang kecil-kecil juga disebutin. Wach?

Tapi hal itu menyatakan bahwa Allah itu Maha Kuasa. Emang sich Dia pasti bisa menciptakan semua itu tanpa bantuan manusia. Tapi dalam peristiwa ini Allah mau manusia yang membuat karya tersebut atas dasar perintahNya!

Manusia pada tau semua lah, lebih banyak kagak menurutnya daripada menurutnya. Tul kan? Lebih banyak mau-maunya sendiri daripada menurut peraturan yang ada. COntoh gampang, pas kita mengemudirkan mobil atau motor, kalau pas sepi kagak ada polisi atau kendaraan laen; pas di perempatan jalan lampu merahnya lama gitu, gak sabaran kan langsung terobos lampu merah. Jedarrr!!! Tabrakan terjadi pas aja ada mobil laen yang lewat.

Kamsud gw contoh ini kejadian biasa kan? Nah tuh kan manusia itu lebih condong berbuat dosa daripada enggak, karna udah pada dasarnya berdosa. Maka gw mikir eh bener juga yach. Allah ngasih perintah detil begini kayaknya bukan kagak ada maksudnya.

Kedua, kalo manusia itu menurut perintah Allah pasti gak asal-asalan. Coba kalo Tuhan ngasih skesta gambar kemah suci. Terus diserahkan ama manusia untuk membuatnya. Gw pikir pasti hasilnya menurut manusia, standar manusia karena pikirnya ini kan gw yang buat terserah gw donk.

Maka Tuhan beri standar biar tau bahwa Tuhan punya standar kagak main-main harus the best. Lagipula manusia juga belom pernah lihat ‘wujud’ Allah. Maka dengan perintah itu biar manusia mengikuti kehendak Allah meski belom ngeliat Allah secara langsung.

Pelajaran laen yang gw pikir, yakni Allah itu selain Arsitek Agung juga Interior Designer dan Fashion Designer (Kel 28) yang Sejati. Kalo dipelajari secara hurufiah setiap benda yang ditulis di kemah suci bisa jadi sebagai simbol yang senantiasa ditujukan kepada Allah yang Maha Kudus.

Dan perintah Tuhan harus dipenuhi sesuai dengan peraturanNya. Dan tidak boleh satu pun yang meleset atau salah. Hal itu tanda akan kesempurnaan Allah, yang secara standar Allah, peraturanNya akan sulit dipenuhi oleh manusia. Maka Allah juga memberi perintah mempersembahkan korban sebagai lambang perdamaian.

Allah kalo mencipta pasti ada maksudnya, gak ada kata Allah mencipta pas kebetulan atau asal-asalan, atau karna kebanyakan waktu (itu kan kita ? 🙂 Jadi pembacaan Alkitab melalui ayat-ayat ini pasti ada maksud Allah juga kepada pembacanya, bukan sekadar iseng numpang lewat atau kebanyakan halaman.

Mungkin kita bakal kayak orang Israel, Tuhan memberikan buanyak peraturan ini itu, kita susah berat hati mengikutinya, apalagi kalau kita dicap sebagai orang Kristen. Tetapi dibalik itu semua, satu hal yang Tuhan mau bagi kita apakah kita taat dengan peraturan yang diberikan oleh Tuhan? Banyak dari kita yang protes aku mau bikin peraturan sendiri. Silahkan saja. Yang pasti peraturan itu bakal menuju kebinasaan. Dan peraturan Tuhan melalui cipataanNya akan membawa kemuliaan nama Tuhan dan hidup yang sesuai dengan rencana Tuhan.

Read Full Post »

Kita-kita yang hidup di benua Amerika Utara bulan Oktober Nopember biasanya ada perayaan pengucapan syukur alias Thanksgiving. Asal muasalnya jangan ditanya bisa dipastikan masih banyak diperdebatkan. Ada yang mengatakan bahwa perayaan itu dibawa oleh para imigran baru dari Inggris pada masa 1600 an. Tradisi perayaan pengucapan syukur dan bertepatan dengan waktu panen para petani dari hasil sawahnya, maka dijadikanlah perayaan itu pada bulan sepuluh dan sebelas.

Kita mengucap syukur karena diberi berkat, mengalami kesembuhan penyakit, mendapat pekerjaan, mendapat anak, lolos dari bencana bahkan sampai dapat jodoh sekalipun. Kadang kalau dipikri lebih panjang lagi apa begitu karena kita sudah mendapatkan “sesuatu” yang menguntungkan kita maka kita mengucap syukur. Bagaimana kalo enggak?

Pas kita masih sakit, masih gagal mendapat pekerjaan, dipecat, untuk makan hari ini saja belom tau, dikejar petagih hutang, mengalami kecelakaan – apa kita mengucap syukur kepada Tuhan? Anda ngomong itu wong edan kali. Karena stress berat maka pikirannya konslet. Gak heran bisa mengucap syukur pas waktu mengalami musibah.

Mengucap syukurlah pas waktu kita tidak bisa mengucap syukur. Itu mengucap syukur yang sejati. Kamsud gw, ketika kita kagak dapat keuntungan apa-apa, gak dapat berkat, sakit belom disembuhkan, uang masih pas-pasan, bencana masih berlangsung – kita bisa mengucap syukur bukan karena hasilnya yang bisa kita lihat dan rasakan. Tapi tau bahwa Tuhan Allah Pencipta langit dan bumi ini termasuk kita

Berkat Tuhan terlalu besar bagi kita manusia yang kerdil ini. Karena belom kita kepikir apa keuntungan yang kita dapat pada saat hidup, Tuhan sudah menciptakan kita dengan begitu sempurna. Tuhan sudah memperlengkapi hidup manusia dengan berkat-berkatNya yang luar biasa. Kita bisa bernafas dengan bebas (coba bayangin kalo kita sekali sedot bayar seribu perak, sehari berapa biaya yang harus kita bayar). Kita dapat mata yang bisa melihat pemandangan yang luar biasa indahnya, yang kagak bisa ditiru dengan ciptaan manusia (bayangin kalau kita lihat pemandangan gunung pantai poho-pohon yang hijau bunga berwarna indah, bandingkan dengan animasi buatan manusia – bagus mana?) Masih banyak berkat yang laennya.

Emang kita manusia kagak tau diri. Kagak pernah puas. Maka gak layak mengucap syukur (sebenernya). Banyak mana kita mengucap syukur atawa mengeluh? Pasti banyak mengeluhnya. Entah sadar atau tidak kita mengucap syukur itu seperti bisnis. Dapat berkat mengucap syukur. Kalo kagak dapat, ngapain mengucap syukur, biasa-biasa aza.

Mengucap syukur supaya dilihat oleh orang banyak? Amit-amit dech. Masa serendah itu ah. Supaya banyak orang memuji kita karena Tuhan memberkati kita. Idiih malu atuh. Itu kan udah ketahuan motifasinya.  Ada yang laen, kita mengucap syukur karena kebiasaan. Karena kebiasaan, jadi otomatis. Bukannya dari hati yang sungguh-sungguh.

Kalo kita mengucap syukur karena berkat, orang non Kristen pun bisa mengucap syukur. Kalau orang diluar Kristen bisa pasrah, orang Kristen terlebih lagi, bukan sekedar pasrah buta. Melainkan tahu kepada siapa kita pasrah. Bukan pasrah sama nasib, keadaan atau hidup ini. Tetapi pasrah kepada Tuhan Yesus Allah yang hidup.

Kiranya kita boleh bersukur bukan karena merasakan berkat tetapi mengerti sedalam-dalamnya bahwa tanpa anugerah Tuhan kita kagak bisa bersyukur.

Read Full Post »

Merek

Dalam perjalanan ke Beijing China, selain menyaksikan keindahan kehebatan ciptaan Tuhan di tanah leluhur “Naga” sekaligus mengagumi, tersempat berpikir bahwa penduduk di China tidak kalah atau sama juga dengan penduduk dunia laennya, yakni gengsi untuk memakai merek-merek terkenal dunia.

Seperti contohnya, pakaian dan sepatu olahraganya seperti Adidas, Nike itu sudah menjadi keharusan. Jaket pesta seperti Armani, D&G juga tak boleh ketinggalan. Jaket sport seperti Columbia, North Face untuk menahan udara dingin. Tas wanita LV, Hermes, Coach menjadi bukti umum. Mobil Audi, VolkWagon atau BMW menjadi bagian dari kehidupan. Tidak lupa iPhone/ iPad juga wajib milik.

Maka tidak heran, banyak orang yang bekerja mati-matian hanya untuk mengejar materi tersebut. Dan mereka gak bisa lepas daripadanya. Mereka bukan saja sebagai promosi gratis dari merek-merek dunia itu, tapi hidup mereka menjadi bagian dari merek-merek tersebut. Kalo dipikir lebih jauh lagi, bukannya kita juga seperti mereka?

Bukankah kita bakal malu kalau ketahuan teman kita, jika kita tidak memakai atau tidak mempunyai barang-barang yang ber-merek dunia tersebut? Pertanyaan nakal: Apakah Tuhan Yesus bakal memakai merek-merek terkenal itu (misalnya kalo Beliau hidup secara fisik dijaman sekarang?) Lalu pertanyaan berikutnya pasti nyantel di otak kita, masa gak boleh punya barang-barang ber-merek dunia seperti itu? Barangnya bukan barang curian. Belinya juga bukan dengan duit hasil korupsi. Nah lho!

Sebagai orang beriman kita bukan mempermasalahkan boleh atau enggak boleh memiliki barang-barang ber-merek tersebut (nanti jadi legalisme dunk). Tetapi gimana cara pandang kita terhadap barang-barang/ materi ber-merek tersebut. Kalo kita kudu punya barang-barang tersebut gak peduli berapa harganya, mungkin kita udah termasuk kategori materialisme. Kalo gak punya barang ber-merek tersebut tengsin, gengsi bok. Apalagi jika ketemu rekan bisnis. Wackh!

Tuhan Yesus pernah bersabda, “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.” Mat6:19,20.

Kristen dewasa akan mengerti prioritas hidup, yang kekal atau yang sementara. Kita melihat ke dunia ini atau ke atas (surga). Kita mengabdi kepada Tuan yang Benar atau mamon. Wah….wah… yang realita dunk, sok suci ah. Masa orang mau barang yang berkualitas gak boleh? Mungkin kita punya 1001 alasan untuk bisa memiliki barang-barang yang ber-merek tadi.

Boleh-boleh aza punya barang-barang ber-merek tetapi……. bukan keharusan. Tidak memaksakan diri – bekerja mati-matian hanya untuk bisa membeli barang ber-merek. Artinya kalo memerlukan dan mempunyai doku yang cukup tentu boleh saja. Meski itu bukan prioritas yang utama. Karena Tuhan menitipkan harta (duit, harta kekayaan dan sejenisnya) bukan untuk dinikmati oleh pribadi kita. Tetapi titipan tersebut hanya untuk memulikan nama Tuhan. Karena Tuhan yang memiliki harta, Dia pula yang berhak. Iya enggak? Ya enggak?

Tuhan juga memberi hikmat kepada kita untuk bisa mengontrol harta yang dititpkan Tuhan. Bukan dihambur-hamburkan untuk diri kita. Karena mamon sangat sekali gampang menjebak “keperluan” kita. Kita yang enggak perlu dibuat untuk menjadi perlu. Maka hendaklah kita melatih diri untuk mengendalikan diri dengan dekat kepada Tuhan. Roh Kudus yang akan senantiasa mengingatkan kita dan kita dengan rendah hati akan menurutinya.

Tidak mudah. Itu sudah pasti. Tawaran dunia begitu manis. Siapakah yang tidak ingin? Bahkan hamba Tuhan sekali pun, jika tidak hati-hati mereka bisa jatuh dalam dosa materialisme ini. Masa hamba Tuhannya atau gembala sidangnya pakaiannya tidak ber-merek. Mobilnya butut. Handphone-nya juga jaman bahula. Laptopnya mungkin lebih pelan dari jalan onta.

Apakah kita merasa lebih malu dihadapan manusia daripada dihadapan Allah? Gw percaya Tuhan Yesus ‘kalo hidup secara fisik di jaman sekarang’ Beliau kagak peduli ama barang-barang yang ber-merek. Karna Dia tahu bagaimana menyenangkan hati Bapa di Surga.

Read Full Post »

Older Posts »