Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Kata Lawas’ Category

Living On The Edge

egg1Setelah kejatuhan manusia dalam dosa, maka manusia tidak saja menyukai berbuat dosa, menentang kehendak Allah tetapi manusia secara status, adalah sendirian, putus hubungan dengan Allah.

Kehidupan manusia pun tanpa arah, maju kena mundur kena. Putus hubungan dengan Allah maka manusia juga kehilangan ikatan hidup dengan Sang Pencipta. Manusia kehilangan ‘sesuatu’ dalam hidupnya, dalam hatinya. Manusia menjadi musafir yang berkeliling-keliling tanpa tujuan (karena manusia sudah kehilangan tujuan). Tujuan yang semula dikira dapat memuaskan hati manusia ternyata tidak memuaskan.

Dikiranya agama dapat memuaskan, ternyata setelah mempelajari semua agama manusia, ternyata manusia merasa ada ‘sesuatu’ yang kurang. Dikira ilmu pengetahuan, karir pekerjaan, uang, seks, cinta, keluarga, pacar, kekuasaan, obat-obatan, olahraga, seni, musik, idola bintang film, penyanyi dan bidang-bidang lainnya dapat memuaskan hati manusia, tetapi tetap saja manusia tidak puas. Ada kekosongan dalam hatinya.

Alangkah tragisnya manusia dengan kehidupan yang demikian. Selama hidupnya manusia bersusah payah untuk mencapai hal-hal yang dikira dapat memuaskan hati ternyata hasilnya NOL besar, hasilnya sia-sia. Kepuasannya hanya sementara dan manusia mencari hal yang lain demikian seterusnya selama hidupnya. Tidak pernah habis-habisnya, seperti lingkaran setan.

Di Ujung Tanduk
Kita pasti pernah mendengar peribahasa ‘seperti telur yang di ujung tanduk’. Mungkin bagi pesulap ada ‘trik’-nya tersendiri yang dapat mendudukkan telur di atas ujung tanduk.

Tetapi secara alami memang amat sukar meletakkan telur di atas sebuah tanduk (banteng) misalnya. Dan peribahasa tersebut memang cocok untuk menggambarkan bagaimana rapuhnya kedudukan telur tersebut sehingga mudah jatuh kekanan kekiri kedepan atau kebelakang.

Bagi kita untuk mencoba meletakkan telur di atas sebuah ujung tanduk mungkin tidak lebih dari sedetik, pasti telur tersebut akan jatuh. Gambaran telur tersebut adalah gambaran manusia yang berdosa. Betapa rapuhnya manusia tersebut untuk jatuh hancur binasa. Sayangnya manusia sering tidak tahu diri bahwa dirinya rapuh, mereka berjuang mati-matian mencari kepuasan dan akhirnya mati sungguhan.

Tidak luput manusia Kristen yang secara status telah dipulihkan hubungannya dengan Tuhan. Tetapi tetap saja manusia secara lahiriah akan mudah jatuh dalam dosa. Cuma bedanya, manusia Kristen yang telah dilahirkan kembali itu digambarkan seperti telur yang di letakkkan di atas batu karang yang kokoh yang melindungi kita dari deburan ombak laut. Batu karang itu adalah Yesus Kristus yang telah rela mati untuk menebus kita dari kematian kekal.

Saudaraku sekalian, jika pada saat ini keadaan kita sangat rapuh, sangat lemah dalam menghadapi hidup dimana kita tidak mendapatkan kepuasan hidup, kita merasa hidup kita kosong, sia-sia, kita senantiasa merasa dikejar-kejar oleh dosa, kita merasa tidak ada jalan lain lagi dan merasa apa arti hidup kita ini.

Sadarilah bahwa kita tidak mampu menolong diri kita sendiri ! Orang lain, keluarga, teman, suami, istri, pacar, tidak dapat menolong kita. Pertolongan mereka hanya terbatas. Sedangkan kita ingin menyelesaikan masalah kita dengan tuntas supaya tidak merongrong hidup kita bukan ?

Hidup di ujung (tanduk) merupakan hidup yang rapuh sekali. Yang tidak sedetik sekalipun akan jatuh hancur dan binasa. Tidak memandang apakah kita muda, tua, kaya, miskin, sakit, sehat; tak sampai sedetik maka hidup kita binasa selamanya. Maka tak heran berapa banyak hidup yang berakhir dengan bunuh diri. Dan hal itu juga tidak menyelesaikan masalah. Bunuh diri hanya menimbulkan masalah bagi orang yang ditinggal, dan bagi si pembunuh diri sendiri akan menghadapi penghakiman tanpa belas kasihan. Inikah hidup kita yang kita inginkan ?

Saudara, coba kita renungkan apakah hidup kita ini berharga ? Atau lebih tidak berharga dari binatang ? Manusia telah diciptakan oleh Allah, maka manusia adalah mahluk ciptaan yang berharga, yang paling berharga. Dalam Mazmur dikatakan, manusia seperti biji mata Tuhan sendiri, yang sangat berharga.

Tuhan telah menawarkan pengampunannya pada kita. Apakah kita ingin menyambutnya atau lebih enak menikmati dunia yang manis yang segera binasa ini ? Karena dosa maka setiap manusia mempunyai masalah. Meski manusia lari kemana pun dia pergi tetap manusia akan dirundung dengan masalah. Adakah jalan keluarnya ?

Yesus Kristus hanyalah satu-satunya jawaban yang kita butuhkan. Kita berserah. Serahkan semua keluhan kita, masalah kita, sakit hati kita, kebencian kita, penyesalan kita, ketidakpuasan hati kita, kekosongan hati kita. Serahkan pada Yesus. Dia yang akan menjawab persoalan kita. Dia yang menolong kita pada waktuNya. Dia pula yang mengisi kekosongan hidup, jiwa kita.

Dia yang akan menyertai kita untuk menghadapi segala permasalahan kita. Seperti janji Tuhan kepada kita, “Marilah kepadaku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu ….. dan jiwamu akan mendapat ketenangan.” Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kita dicobai melampaui kekuatan kita. Pada waktu kita dicobai Ia akan memberikan kepada kita jalan keluar, sehingga kita dapat menanggungnya.

vancouver, ca, 17801

Read Full Post »

Ketika waktu istirahat sekolah, banyak mata yang memandangi diriku. Pertama aku risih juga, tetapi setelah aku berpikir lagi hal itu sudah biasa terjadi dengan diriku. Cuwek saja. Di mana-mana aku jadi pandangan sorotan banyak orang. Aku bukannya orang yang terkenal atau bapakku konglomerat, apalagi aku juga bukan seorang murid yang jenius atau tampan (tapi menurut aku ya boleh lah tampangku :). Tapi aku sering dipelototin orang dan menjadi bahan tertawaan serta gosip karena gara-gara namaku. Yudas Iskandardinata. Entah salah apa, papa mamaku memberi nama aku, Yudas.

Sejak kecil aku sudah tahu siapa itu Yudas dari cerita Sekolah Minggu atau buku-buku rohani anak-anak yang aku baca. Seorang murid Tuhan Yesus yang mengkhianati dan menjual guruNya serta akhirnya mati dengan menggantung diri. Tetapi ketika aku kecil aku tidak mengerti meski banyak orang yang tertawa bisik-bisik dengan melihat kearahku.

Menginjak remaja, aku pun menanggung beban mental yang tidak ringan. Meski papa sudah ribuan kali mengkotbahi aku, kalau nama Yudas itu sebenarnya bagus, yang berarti ‘terpujilah Tuhan’. Tetapi namanya manusia mana bisa melihat yang baik. Maka tidak heran akupun seolah-olah seperti seorang aktor yang terkenal, dimana-mana ketika orang tahu akan namaku, mereka semua ingin melihat aku. Bagaimana tampangku, bagaimana perbuatanku, siapa orang tuaku, mengapa namaku Yudas dan masih banyak lagi pertanyaan yang menggunung dalam pikiran mereka.

Salah satu peristiwa yang menyakitkan hatiku, adalah ketika aku pernah berpacaran dengan seorang gadis yang bernama Dewi. Semua temanku pasti tertawa ketika mendengar nama kami berdua disebut. Yudas dan Dewi. Dewi bisa diartikan tuhan, yang diperuntukkan wanita. Jadi kami berdua seperti cerita dalam Alkitab. Aku adalah si Yudas Iskariot, dan Dewi diibaratkan Tuhan Yesus. Dan banyak teman Dewi menanggapi, jangan-jangan nanti aku menghianati Dewi. Yang lebih parah, mama Dewi tahu tentang hal itu, dan mamanya melarang hubungan kami. Gara-gara namaku Yudas!

Sakit sekali hatiku. Aku sampai menangis ketika menceritakan hal itu pada papaku. Seakan aku ingin menumpahkan kekesalanku padanya. Mengapa dia sampai hati memberi nama Yudas pada diriku. Apakah itu sebuah lelucon dari papaku ? Karena nama keluarga papaku Iskandardinata. Hampir mirip dengan nama belakang Yudas dalam Alkitab, Iskariot. Kadang aku timbul rasa benci pada orang tuaku, karena mereka memberi nama aku Yudas. Apakah mereka kekurangan nama ? Nama anak pendeta yang saleh pun tidak ada yang diberi nama Yudas. Mungkin di seluruh Indonesia juga tidak ada orang yang bernama Yudas selain aku.

Maka sering aku menyembunyikan nama asliku dengan mengganti menjadi Yudi Iskandardinata. Dan tidak jarang pula aku berdoa kepada Tuhan entah bagaimana jalan keluar dari hal yang aku anggap masalah ini. Mungkin aku berbakat menjadi pelawak. Habis semua orang baru mendengar namaku saja sudah tersenyum. Belum lagi kalau diriku dijadikan bahan tertawaan. Ketika pemilihan pengurus komisi remaja di gerejaku, seorang teman pura-pura bertanya, pelayanan apa yang cocok untukku? Teman yang lain menjawab dengan spontan, aku cocoknya menjadi bendahara. Semua jemaat remaja tertawa.

Aku mencoba melupakan rasa benciku yang kadang-kadang timbul pada orang tuaku. Aku mulai sering merenung. Mengapa aku berada di posisi seperti ini? Apa ada maksud Tuhan dibalik ini? Aku sering memikirkan jalan keluar yang terbaik untuk hal ini. Mengganti namaku tidak menjadi jaminan, karena akhirnya toh banyak yang tahu siapa namaku yang sebenarnya. Tanpa kuduga timbul pikiranku, untuk menerjang akan masalah ini dengan kedepan. Maksudnya aku harus berani menghadapi dan aku harus menggunakan kesempatan itu.

Papaku memang seorang pendeta dari kota kecil tetapi juga sering diundang ke kota besar. Apalagi ketika banyak gereja yang tahu bahwa anak dari seorang pendeta itu bernama Yudas, maka nama papa semakin terkenal saja. Nah, sering kali ketika papa berkotbah dari kota ke kota, kalau sedang liburan papa pasti mengajak aku. Dan kebetulan aku senang berpergian pula. Akibatnya aku pun juga jadi bahan tertawaan dan lelucon para jemaat gereja dimana kami singgah. Tetapi dibalik itu banyak orang yang ingin tahu tentang diriku. Maka aku berpikir hal ini merupakan kesempatan baik untuk bersaksi tentang Tuhan Yesus dan hidupku.

Aneh tapi nyata. Karena banyak orang yang ingin tahu siapa itu Yudas Iskandardinata, maka banyak orang yang mendengar berita Injil. Puji Tuhan. Akupun tidak mengerti bagaimana Tuhan bekerja melalui diriku. Aku hanya menceritakan tantangan yang aku hadapi dengan namaku Yudas tersebut terhadap orang dimana saja. Teman segerejaku menyindir, lain kali kalau diundang ke gereja lain jangan lupa bawa bolpen untuk menanda tangani fotomu. Kadang orang lupa nama papaku, malah mereka ingat pendeta yang anaknya bernama Yudas.

Luar biasa. Aku sendiri heran. Tuhan itu ajaib, bisa mengubah dari yang aku anggap tidak berguna menjadi berguna bagiNya. Tentu aku ngeri kalau mengingat riwayat Yudas Iskariot yang akhir hidupnya gantung diri. Tetapi dari perbuatannya banyak orang diingatkan bagaimana untuk hidup dengan benar. Dan bagiku dari namanya aku bisa jadi alat Tuhan.

Kadang aku masih ragu. Ketika suatu hari papaku bertanya kepadaku. Mau nggak aku masuk sekolah Theologia untuk menjadi hamba Tuhan full time. Karena papaku melihat diriku mempunyai potensi dan panggilan itu. Aku membayangkan kalau suatu hari di suatu gereja diumumkan kalau yang berkotbah hari ini adalah pendeta Yudas Iskandardinata. Wah, pendeta Yudas…..kedengarannya kok mengerikan. Atau suatu hari aku menjadi seperti yang aku cita-citakan yakni seorang insinyur asritek dengan nama Ir. Yudas Iskandardinata. Seseorang mungkin akan ditanya, siapa arsitek rumahmu? Ir. Yudas, wah…..

Well, seperti seorang teman bule dari Amerika yang mengatakan padaku, apa arti sebuah nama? Nama yang baik kalau orangnya jahat, tak ada artinya, meski namanya yang bagus seapapun. Nama yang jelek, menurut orang, tetapi orangnya punya segudang prestasi, orang itu tetap akan dipandang sebagai seorang yang hebat. Nama yang jelek juga tidak selalu jelek. Seperti ketika aku ke Amerika, tidak ada yang merasa aneh kalau aku bernama Yudas. Setelah aku beritahu bahwa namaku diambil dari Alkitab, mereka juga biasa-biasa saja. Lalu aku berpikir, apakah orang Indonesia saja yang terlalu sensitif? Mendengar nama Yudas saja sudah tertawa atau curiga.

Nama yang sebagus apapun dan mempunyai arti yang hebat sekalipun, tetapi kalau orangnya jahat juga tidak menolong orang tersebut menjadi baik. Tuhan juga tidak melihat orang dari namanya, tetapi dari hatinya. Biar namamu jelek sekali sampai seluruh dunia kalau dengar nama itu jadi gatal telinganya dan tidak dapat berhenti tertawa, tetapi jika hidupmu berkenan dihadapan Tuhan itu yang lebih berarti.

Banyak perusahaan yang menampilkan iklan bahwa produknya berbeda. Seperti, kami memang beda, berpikir beda, serupa tapi beda dan masih banyak yang lain. Pokoknya mereka ingin beda. Dan jarang orang melihat perbedaan tersebut. Kini aku mempunyai nama beda. Jadi tidak perlu diiklankan. Namaku sudah beda. Itu kesempatan namanya.

Dengan namaku Yudas, seakan Tuhan juga ingin mengajarkan kepada banyak orang bagaimana Yudas yang bertobat dalam Tuhan. Bukan seperti Yudas Iskariot. Dan itu salah satu misiku untuk mengangkat citra nama Yudas. Supaya orang jangan hanya mendengar nama saja, tetapi melihat kualitas hidupnya.

Kemarin aku sempat bersalaman dengan seorang pendeta besar dari Indonesia. Setelah mendengar namaku, aku heran. Biasanya orang, paling tidak, akan tersenyum. Ternyata dia tidak. Pendeta besar itu malah berkata, hebat namamu, imanmu kuat, saya pun belum tentu berani memakai nama seperti kamu. Selamat melayani. Tuhan memberkati.

Vancouver, ca 4802.

Read Full Post »