Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Kata Tulis’ Category

Menulis dari Gambar

Dulu waktu sekolah bahasa Inggris pernah ada pelajaran, dimana para murid disuruh mengambil selembar gambar dari majalah terus kami disuruh berdiri di depan kelas untuk menjelaskan apa yang ada dalam gambar tersebut. Murid yang laen boleh nanya kalo kagak ngerti apa yang kita jelaskan.

Pelajaran itu kayaknya bisa diterapkan pada pelajaran kepenulisan untuk latihan. Kita bisa ambil selembar halaman majalah bergambar lalu kita jelaskan dengan tulisan apa yang kita lihat. Kita bisa pakai metode 6W 1H (What, Who, Where, Why, Which When dan How).

Latihan ini paling kagak bisa membuat kita lebih jeli dalam menulis detil. Membiasakan dari visi menjadi sebuah tulisan. Dari apa yang kita lihat dapat kita jelaskan dalam tulisan. (Sekedar guyon, kalo kita disuruh menjelaskan detil apa yang ada di gambar ini semoga kita tidak mabok menulisnya 🙂

Jurnalis Kristen kayaknya harus demikian ya, apa yang kita lihat, dengar, rasa, (bau), pikir dapat kita tuliskan dan dibaca banyak orang. Tentu semua itu hanya untuk kemuliaan Tuhan. Pelayanan kepenulisan rasanya sudah ditinggalkan oleh banyak orang Kristen (dengan beribu-ribu alasan yang masuk akal) untuk mau menulis.

Pelajaran laen yang pernah gw dapet waktu membuat ide dialog iklan. Salah satu rahasianya pergi tempat manusia berdialog. Ke warung keq, ke mal keq, ke starbuck keq, ke rumah sakit keq. Pengalaman waktu di strabuck, gw udah siap mencatat apa yang diperbincangkan oleh sebelah gw yang duduk mo ngopi. Gw tunggu-tunggu koq pada diem sich? Ya ternyata sepasang co ce sebelah gw itu pada membaca. Pantas engga ngomong-ngomong. Jadi gw harus angkat kaki pindah ke tempat laen.

Kadang macet menulis bukan karena kita engga bisa menulis tapi dari kitanya yang engga mo menulis. Banyak jalan ke Roma. Banyak cara/ide untuk membuat kita menulis. Cuma kitanya mau ato kagak.

Pepatah mengatakan bahwa kebudayaan ditentukan oleh banyaknya pembaca (kalo enggak salah). Gimana mo baca kalo engga ada yang menulis? Prihatin? Bagi penulis untuk menjadi penulis baik salah satu caranya adalah membaca. Bagi Kristiani, membaca juga kegiatan yang wajib (engga percaya kan?). Boro-boro membaca buku Kristen, membaca Alkitab sulit banget untuk bisa ajek.

Resolusi taon baru memperbaharui pembacaan Alkitab dengan lebih teratur (demikian banyak resolusi kerap terdengar) Tapi koq terdengar tiap taon dari orang yang sama?

Read Full Post »

Masih Nulis Koq

Euih, engga kerasa udah seminggu aku belom nge-pos tulisan baruku. Tapi bukannya aku ngga nulis loh. Tetep, tetep nulis meski kerjaan laen bertumpuk, kayak design brosur yang harus aku tuntaskan minggu ini. Jadi pengennya nulis di blog ini jadi terhambat. Bukan ngga bisa nulis sama sekali, tapi nulisnya pake cara cicilan (emang kayak arisan :). Ada waktu 15 menit nulis 15 menit, selebihnya udah sibuk lagi yang laen.

Maka itu sebagai penulis itu dipikir juga kagak gampang bok. Butuh waktu. Kalau waktunya mefet terus ya inspirasi ini kagak bisa kesalur. Terus selaen waktu yang cukup, butuh ketenangan lingkungan, kalo lingkungan pada rame, ato anggota keluarga laennya lagi sibuk dan pada berisik, konsentrasi bakal buyar.

Maka kagak heran ada penulis yang bisa menulis sampe harus ‘mengungsi’ ke sebuah tempat yang sunyi sepi. Mungkin seperti kayak villa, bungalow di atas bukit, lalu kalo penulisnya lagi jenuh bisa lihat keluar jendela ke arah pantai atau danau yang dikelilingi oleh pepohonan hijau, dan diiringi kicauan lembut dari alam. Merasakan sengat mentari atau mendengar rintik hujan menghujam genting basah. Melihat gunung yang masih belum gundul dari hutan lebatnya. Udara segar pun merasuk hidung si penulis, lebih segar dari aroma obat Vicks. Dan tidak kalah pentingnya jauh dari telepon, televisi atau internet. Tidak jarang penulis model begini menulisnya pake tangan ato pake mesin ketik biasa.

Komunikasinya? Pake surat menyurat, ato kalo darurat baru sang penulis akan menelpon keluar. Tidak sedikit seniman yang dipikir senewen karena menyendiri di desa-desa, jauh dari keramaian.

Eh tau engga, sama pengalaman kalo kita lagi saat teduh ato ‘berdiam diri dihadapan Tuhan’ Suasana tenang membuat kita bisa lebih konsentrasi fokus, mendengarkan ‘suara Tuhan’, merenungkan FirmanNya, berdoa dengan kusuk. Merasakan kehadiran Roh Kudus. Indah bukan?

Read Full Post »

400

Kalau anda menduga ini ada hubungannya dengan judul cerita film 300, maka anda salah besar. Apalagi kalau anda menduga ini adalah judul lanjutan dari film 300, maka anda sudah salah besar, malu-maluin dech.

Apaan 400? Begini lho, aku mendengar seorang novelis bercerita bahwa dia menulis novel dengan 100.000 kata. Maka kalau dia mendisiplin dirinya dengan menulis hanya 400 kata setiap hari (seminggu misalnya 5 hari menulis maka jumlahnya menjadi 2000 kata seminggu) maka novel 100.000 kata akan dapat selesai dalam waktu 50 minggu.

Ini kalau anda menulis hanya 400 kata, kalau anda menulis 800 kata maka proses kepenulisan novel tersebut akan semakin pendek separuhnya, dan total penulisan hanya menjadi 25 minggu alias kira-kira 6 bulan atau setengah tahun.

400 kata kalau diketik dalam program Microsoft Word dengan 2 spasi maka hasilnya kira-kira hanya 2 halaman. Kalau 800 kata ya tentu menjadi sekitar 4 halaman. Misalnya saja 400 kata, wah masa 2 halaman per hari kagak bisa sich?

Khaled Hosseini dalam novel terbarunya A Thousand Splendid Sun, kira-kira menulis 103.700 kata. Jika ditulis dalam program Microsoft Word dengan 2 spasi di atas kertas folio A4 akan menghasilkan sekitar 438 halaman.

Tapi kalau kita berangan-angan, wah apa begitu mudah ya menulis novel itu? Sehari 2 halaman. Lah wong aku menulis blog ini aja sampai disini baru berjumlah 210 kata. Maka wejangan penulis kondang lainnya mengatakan untuk membuat outline, kerangka atau frame. Supaya kagak lupa cerita besarnya itu gimana. Dan tidak membingungkan supaya alur cerita yang mau ditulis juga mengalir dengan baik serta enak dibaca oleh pembaca.

Pembuatan kerangka atau outline juga ada penulis yang menentang dikarenakan seakan frame itu membatasi ide menulisnya. Tergantung juga. Kalau ada penulis yang bisa cermat mengingat di kepalanya tentang apa mau diceritakan dalam novelnya, tanpa harus membuat outline, ya monggo aza.

Semua yang hendak kita kerjakan atau capai tentu tidak salah kalau kita mempunyai satu sifat yang baik yakni ketekunan. Ketekunan dibutuhkan kesabaran dan kedisiplinan. Kehidupan Kristen tidak luput dari ketekunan. Ketekunan dalam mengikut Kristus. Tekun untuk belajar FirmanNya. Tekun untuk berdoa.

Kadang karena disibukkan oleh kehiudpan sehari-hari maka kita tidak dapat tekun lagi dalam bersaat teduh dan berdoa. Saat teduh seperti memasak mi instant, 3 menit selesai dan siap dimakan. Berdoa, sambil berlalu melakukan pekerjaan kita lainnya bahkan sambil tiduran (padahal kita masih mempunyai waktu untuk berdoa dengan tenang).

Read Full Post »

Menarik sekali ketika aku mendengarkan radio dengan si kecil, baru aku sadari bahwa mendengarkan radio juga dapat menggunakan imajinasi kita untuk menggambarkan kejadian apa yang kita dengar.

Terlebih lagi jika mendengarkan sandiwara atau cerita drama di radio. Maka jika menyimaknya dengan seksama, kita dapat menggunakan imajinasi untuk menggambarkan apa yang sedang terjadi pada waktu kita mendengarkan.

Padahal sebelumnya waktu di Indo tidak jarang aku mendengarkan sandiwara radio sambil menina bobokkan diriku. Salah satu sandiwara yang masih kuingat judulnya (kalau tidak salah) “Butir-butir Pasir di Laut” yang serinya sampai beratusan.

Hal itu mengingatkanku hampir sama ketika membaca buku kita juga mencoba mengerti kalimat-kalimat yang kita baca dan tidak jarang kita mengimajinasikan menggambarkan apa yang kita baca. Dan ini adalah salah satu sumber ide. Demikian pula dari sekian cuplikan atau penggalan sandiwara radio dapat berkembang puluhan lembar halaman tulisan dalam kepala kita.

Agak jauh sedikit, kadang di radio juga ada konsultasi tentang keluarga Kristen, sang pendengar mengutarakan keluhannya atau masalahnya melalui telepon, dan sang penyiar radio mencoba memberikan solusinya. Mungkin bagi beberapa pendengar hal itu sepertinya cengeng. Tetapi penggalan informasi tersebut dapat menjadikan sebuah ide bagi seorang penulis.

Dulu pernah juga terbersit dalam benak bahwa sandiwara radio sangat membosankan karena waktu mendengarnya sudah tidak berurutan lagi serinya. Ceritanya pun sudah tidak tahu kemana arahnya. Tetapi jika kita coba mendengarkan satu seri itu saja kadang dapat menimbulkan sebuah ide bagi seorang penulis. Memang tidak selalu.

Mendengarkan radio lebih dapat mencetuskan ide kepenulisan daripada menonton televisi. Meski diakui bahwa membaca masih menduduki peringkat pertama dalam memberikan ide bagi kepenulisan. Dan kekurangan yang dialami oleh sandiwara radio atau drama radio (dramara) saat ini merupakan suatu media yang kurang menguntungkan dalam pemasaran (tidak menarik banyak pendengar, kurangnya skenario, kurang tertariknya para penulis skenario untuk menulis dramara atau tidak adanya produser), maka tidak banyak pula sandiwara radio yang ada.

Read Full Post »

Logo MSPTanggal 3 Oktober yang lalu perusahaan surat kabar dimana aku bekerja mengadakan acara “Menumbuhkan Seorang Pembaca” (MSP) yakni penjualan surat kabar untuk satu hari itu akan disumbangkan 100% untuk pembelian literatur yang diatur oleh perpustakaan-perpustakaan sekolah umum (dibawah departemen pendidikan pemerintah) yang memerlukan.

Program ini dimulai sejak tahun 1997 di Vancouver, dan pada tahun 2001 sekitar 100 perusahaan ikut menyumbang akan acara ini. Dan pada tahun 2005, MSP telah menjadi acara tahunan bagi semua propinsi di seluruh Canada.

Acara ini diadakan karena adanya keprihatinan dari pada pakar pendidik dimana diketahui bahwa dari seluruh penduduk Canada yang berjumlah kira-kira 31 juta orang diperkirakan 22% orang dewasa dari jumlah tersebut adalah buta huruf!

Maka pakar pendidikan bekerja sama dengan media surat kabar untuk mengadakan program ini untuk memperkecil jumlah buta huruf yang ada di Canada melalui penyediakan fasilitas buku-buku bacaan kepada para murid (khususnya) bagi sekolah-sekolah dasar.

Dari sekolah dasar diharapkan sejak sedini mungkin para murid dapat dibiasakan mempunyai kebiasaan untuk membaca. Karena kebiasaan membaca merupakan bekal rentetan investasi yang berharga untuk masa depan.

Karena dengan membaca kita dapat mempunyai pengetahuan, membaca membantu kita mengerti ekspresi emosi, bersosialisasi, eksplorasi dunia, mengasah imajinasi, mendulang ketertarikan baru (yang sebelumnya mungkin kita tidak pernah tahu) dan yang pasti melatih kinerja otak kita dengan aktif (beda dengan kinerja otak manusia ketika hanya menonton teve – pasif). Dan mungkin masih banyak gunanya yang lain.

Maka hobi membaca, mempunyai kebiasaan membaca, (dari membaca akan mengakibatkan ekspresi menulis, akting, ide-ide yang luar biasa) adalah bukanlah yang buruk; kebiasaan yang baik. Tidak ada salahnya mempunyai kebiasaan membaca. Dengan membaca seorang anak waktu dewasa dia akan dapat dengan mudah melamar pekerjaan yang dibacanya di surat kabar atau internet. Dia akan mengendarai mobil dengan mudah karena dia tahu tanda lalu lintas dengan membaca. Mudah membaca peta. Maka ada pepatah semakin banyaknya penduduk yang dapat membaca, dapat dikatakan semakin maju negara tersebut. Kita perlu berdoa dan berjuang untuk memberantas buta huruf di negara Indonesia, khususnya dengan letak geografis pulau-pulau yang sporadis akan lebih menyulitkan mengajak banyak anak-anak untuk memulai kebiasaan membaca.

Semua pihak harus mempunyai tekad yang sama untuk mencerdaskan bangsa, diharapkan dengan bangsa yang cerdas, rakyat akan menjadi makmur dan sentosa. MSP Canada hingga saat ini yang baru berjalan 10 tahun dikerjakan dengan semangat gotong royong, dari para konglomerat, politikus, olahragawan, artis , aktris aktor, penyanyi kondang internasional sampai loper koran menyempatkan diri ‘menjual’ surat kabar tanpa bayaran.

Michael Buble

Penyanyi kondang Canada, Michael Buble juga sempat menyumbang 30% dari hasil konsernya di Canada untuk MSP. Microsoft Canada juga ambil bagian. Diperkirakan untuk hasil penjualan plus sumbangan MSP akan mencapai $2,7 juta dolar Canada tahun 2007 ini. Nggak nyangka kan ya, kalau kita kira negara maju kayak Canada (yang kita kira sudah pasti buta huruf itu bukan jamannya lagi tapi nyatanya masih banyak) yang hampir dari semua segi kehidupan telah teratur dengan rapi dan baik, namanya buta huruf itu masih ada.

Kalau teringat Tanah Air, wahhh……… Dapat dibayangkan berapa juta penduduk yang masih buta huruf. Belum lagi masalah dana, dan penyaluran dana, korupsi, dan komplikasi masalah lainnya. Menyedihkan??? Tidak. Itu realita koq. Realita yang sulit diubah. Kalau dengan kekuatan manusia itu mustahil. Bagaimana dari para penulis, pembaca, cendekiawan dan orang-orang yang sadar akan pentingnya membaca (kelompok minoritas) akan merealisasikan program kerja yang super ajubilah itu? @&^%#<&*(!|&>

Read Full Post »