Feeds:
Posts
Comments

Natal Sebuah Tangisan

christmasMulai pertengahan bulan Nopember para pebisnis udah mulai menggelar dagangannya baik mulai dari hotel, toko sampai pada pusat perbelanjaan dengan saputan wajah pemasaran citra Natal. Tentu dengan hiasan dan lagu-lagu Natal yang mendayuh untuk melarutkan insan bisa mulai melakukan belanja Natal.

Oh ya Natal bukan saja milik perusahaan yang membuat pesta buat para karyawannya tetapi juga milik gereja untuk menarik insan masuk ke dalam gedung gereja. Bahkan bagi orang Kristen Natal adalah suatu penikmatan diri bahkan mungkin pelampiasan hasrat daging.

Mungkin bagi non Krsiten, Natal suatu ibadah khusuk bagi kristiani, tetapi sebenarnya adalah suatu penikmatan diri dibalik ibadah. Apakah demikian? Karena Natal bukan suatu perayaan yang dinikmati dengan penuh ria.

Tetapi Natal adalah waktu tangisan, pengorbanan, perasaan campur aduk. Natal adalah peristiwa Kristus yang datang ke dunia menjelma sebagai manusia. Dia lahir sebagai seorang bayi bukan untuk pesiar bertamasya mengunjungi bumi. Tetapi untuk sebuah misi khusus yang maha berat.

Natal adalah waktu, kalau di ibaratkan, dimana Allah Bapa mengirim AnakNya yang Tunggal ke dunia dalam rencana mengorbankan AnakNya mati untuk menebus dosa manusia. Jika digambarkan dalam perasaan manusia maka itu bukanlah suatu momen yang indah penuh perayaan dengan nyanyian tarian lampu berkelap kelip. Tetapi momen yang penuh tangisan.

Keinget cerita Abraham yang mentaati perintah Allah untuk membawa anakanya yang tunggal Ishak; Ia berfirman kepadanya: “Abraham,” lalu sahutnya: “Ya, Tuhan. FirmanNya: “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.” Kej.22:1-2. Keesokan harinya pagi-pagi bangunlah Abraham, ia memasang pelana keledainya dan memanggil dua orang bujangnya beserta Ishak, anaknya; ia membelah juga kayu untuk korban bakaran itu, lalu berangkatlah ia dan pergi ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Ay.3

Percaya enggak sebagai manusia normal Abraham pasti punya otak ama perasaan. Semalaman mungkin dia kagak tidur. Mikiiiiirrr terus. Bertanya-tanya terus. Kuatir. Dan enggak nemuin jawabannya. Lalu Abraham menuruti perintah Tuhan Allah. Apakah mudah? Dalam diri Abraham pastilah terjadi perang batin. Bahkan mungkin Abraham sambil jalan sambil mengeluarkan air mata menangis. Allah pun tahu koq kalau Abraham begitu mengasihi Ishak. Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak.

Maka itu arti Natal adalah suatu anugerah yang gak terukur. Kasih Allah Bapa sungguh begitu besar sampai rela mengorbankan AnakNya yang Tunggal Tuhan Yesus Kristus untuk datang sebagai seorang manusia. Ketika melewati Natal seharusnya kita merenung bahwa kita gak selayaknya ditebus ama Tuhan Yesus. Kita yang hina. Pengorbanan Tuhan Yesus yang begitu besar ngga terukur.

Sedih aja kalau Natal dilewati dengan makan minum menyanyikan lagu Natal tanpa tau artinya, kado yang berserakan di bawah pohon natal. Eh cuman itu toh arti Natal? Dangkal banget. Apalagi kalau kita Kristen. Ngga beda ama non Kristen yang berhura ngerayain libur akhir tahun. Padahal begitu besar banget pengorbanan Kristus.

Ya Tuhan ampuni kami yang sering kali meremehkan anugerahMu. Perbaharui kami setiap hari untuk lebih mengerti akan pengorbananMu. Dan menceritakan pengalaman ini kepada yang laen.

Advertisements

allah-atau-mamonPernah mendengar cerita tentang Polikarpus? (tentu gak ada hubungannya ama Penghapus atau penyakit Lupus) Menurut situs Sabda BioKristi “Polikarpus dilahirkan sekitar tahun 69. Menurut Irenaeus, Polikarpus adalah murid rasul Yohanes. Irenaeus sendiri adalah murid dari Polikarpus. Polikarpus bekerja sebagai uskup di jemaat Smirna, Asia Kecil pada pertengahan abad kedua. Ia dikenal sebagai seorang yang memiliki iman yang teguh dan hidupnya sangat sederhana.

Polikarpus adalah seorang saksi mata dari tradisi pengajaran gereja yang masih berbentuk lisan. Ia mengenal dengan baik Anicetus, Uskup Roma. Polikarpus dikenal juga sebagai seorang uskup yang sangat membela ajaran gereja yang ortodoks serta sangat membenci ajaran-ajaran sesat.

Pada tahun 154 Polikarpus pergi ke Roma untuk menyelesaikan pertikaian tentang perayaan Paskah dengan jemaat Roma. Polikarpus diterima dengan hormat oleh Anicetus, Uskup Roma. Polikarpus memperoleh persetujuan dari Anicetus bahwa jemaat jemaat di Asia Kecil boleh meneruskan kebiasaan mereka dalam merayakan Paskah pada 14 bulan Nissan.

Tidak lama sesudah kembali dari Roma, Polikarpus ditangkap dan digiring ke Roma. Ia diminta oleh kaisar untuk menyangkal Kristus serta mengutuk Kristus, namun Polikarpus tidak mau. Sampai tiga kali kaisar bertanya kepadanya apakah ia mau mengutuk Kristus agar sang uskup dilepaskan dari hukuman mati. Namun, dengan imannya yang tegas dan teguh kepada Kristus, Polikarpus menjawab kaisar dengan perkataan sebagai berikut, “Aku telah melayani Kristusku 86 tahun lamanya, namun belum pemah sekalipun Ia berbuat jahat kepadaku. Bagaimana aku dapat mengutuk Kristusku, Juru Selamatku?” Kemudian Polikarpus dibakar dan sisa-sisa tubuhnya dibawa orang dan dikuburkan di Smirna.”

Cerita Polikarpus tersebut sebenarnya teringat ketika gw lagi baca sebuah ayat yang mungkin kita udah tahu banget yakni Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” Mat.6:24

Lalu apa hubungannya ama Polikarpus. Ayat di Matius itu kan ngomongin tentang uang ama Tuhan, mana yang kita pilih. Kita pasti udah denger tuh ayat beribu-ribu kali, tetapi dalam pikiran kita pasti jawabnya ya pasti kita pilih Tuhan lah. Karena Dia Allah yang kekal. Sebagai anak Tuhan harus turut Firman Tuhan. Dan masih banyak jawaban lainnya.

Nah itu menurut teori tetapi kalau menghadapi kenyataan akan laen kali. Apa lagi kalau kita menghadapinya sendiri. Kadang yang kita pikirkan sebagai teori seperti bayangan yang sulit dipraktekkan. Apalagi Mamon (yang diartikan Harta benda dan kekayaan dibayangkan sebagai oknum (yang jahat) ketamakan, yang gak bisa dimiliki separuh-separuh); itu sangat nyata dalam hidup kita. Siapa yang gak butuh duit dalam hidup ini? Apalagi dalam kondisi ekonomi yang tidak menentu seperti sekarang.

Ikut Tuhan Yesus (dalam jalan Kebenaran) atau ikut duit sepuluh milyar? Apa salah dapetin duit sepuluh milyar? Enggak donk. Tetapi katika kita fokus kepada sepuluh milyar betapa sulitnya mata kita memandang kepada Kristus. Percaya tidak kalau kita mengalami sendiri barulah kita tahu. Mungkin sekarang kita bisa mengatakan hal itu enggak mungkin. Kita akan pilih Kristus. Tetqpi kenyataan akan berbicara laen.

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya n  untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Mat19:23,24

Tuhan Yesus bukan as-ngom (asal ngomong) mengenai ayat di Matius itu. Karena itu adalah kenyataan. Ketika seseorang sudah mempunyai harta kekayaan yang berjibun; bangun tidur pun ia akan memikirkan duitnya terlebih dahulu daripada memikiran Firman Tuhan.

Sebelum tidur boro-boro memikirkan renungan harian tetapi mungkin memikirkan tutup buku hari itu, berapa duit yang udah didapat dan dikeluarkan hari itu. Bagaimana bisa kita mengutamakan Tuhan dalam hidup kita. Karena emang susyah orang kaya kalau gak memikirkan harta kekayaannya.

Maka itu Tuhan mengatakan bahwa Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan itu bukan tanpa alasan. Pasti ada dasarnya. Karena Dia tahu jahatnya hati manusia yang berdosa. So gimana donk?

Kalau gw ketemu seorang kaya yang katanya cinta Tuhan itu gw agak ragu. Betapa susahnya seorang kaya yang harus mengenyampingkan kekayaannya yang hasil jerih payahnya hasil keringatnya hasil kerja kerasnya, begitu saja. Tetapi jika seseorang yang sudah dipenuhi Roh Kudus menyerahkan hidupnya kepada Krsitus dia bisa mengontrol hawa nafsunya, tidak kuatir setiap saat akan harta bendanya. Kalau hart kekayaannya lenyap sekejap pun dia rela karena hart kekayaannya itu hanya “titipan” dari Tuhan. Bukan punya kita. Tetapi punya Tuhan.

Cuplika

  Rasanya akhir-akhir ini waktu semakin sempit aja untuk bisa menulis blog, karena memang dulunya idealnya pengen nulis blog yang cukup panjang supaya bisa menuliskan menjelaskan apa yang pengen dituliskan maka memang perlu riset dan waktu untuk menulis blog. 

Maka timbukl pikiran untuk menulis blog dengan lebih praktis lebih singkat mungkin bisa terbaca dengan baik. Bukannya mau meniru renungan harian tetapi artikel singkat yang bisa menjadi berkat. Semoga ini bisa mengikis alasan gw yang sebenarnya sih kayaknya ini hanya sebuah kemalasan yang terselubung 🙂

Sebenarnya gw harus menyadari untuk kembali ke dasar bahwa tujuan gw menulis ini kan bukan untuk catatan harian gw, atau untuk menghabiskan waktu atau mengasah hobi atau keahlian menulis gw. Tetapi semata hanya untuk berbagi menjadi berkat bagi sesama, tentu juga memuliakan nama Tuhan.

Dengan adanya kolom Cuplika ini semoga gw bisa merekam banyak rantai kehidupan yang gw alami sehari-hari dan bisa gw tuangkan dalam bentuk tulisan.

outreachPokoknya judul di atas ga ada hubungannya ama lagu tahun 80 an. Cuma mirip aja. Well kenapa gw beri judul begitu tentu ada alasannya. Tahun 2014, sekarang udah mencapai bulan Oktober, dua bulan lagi udah Desember, Natal lagi, lalu tahun baru. Waktu bergulir bertambah tua-nya bumi ini. Mencapai sepuluh bulan, gw kehilangan dua orang teman kerja. Maksudnya kehilangan itu bukan karena mereka dipecat atau mengundurkan diri dari pekerjaan di perusahaan. Tapi sungguh mereka “hilang” dan tidak kembali lagi di bumi ini.

Iya maksudnya mereka sudah almarhum. Nah kadang kita itu bertanya-tanya ya mengapa begitu mengapa begini dan tentu ga nemuin jawab pastinya. Tapi yang pasti waktu mendengar orang-orang disekitar kita itu meninggalkan dunia, apa reaksi kita? Sedih. Pasti. Tapi bagi gw yang lebih menyedihkan itu kalau kedua teman gw itu meninggal dunia dengan belom menerima Kristus sebagai juruselamat mereka!

Sering peristiwa begini merupakan refleksi bagi diri gw. Mereka berdua bekerja sama dalam satu perusahaan dengan gw. Lima hari seminggu, kira-kira duapuluh hari sebulan ketemu gw. Terus gw sering nanya gitu ama diri gw, apa yang telah gw pernah lakukan sama mereka? Berbuat baik? Menolong mereka? Bahkan memberitakan Injil bagi mereka? (karena mereka berdua gw yakin belom Kristen)

Gw yakin, gw pernah berbuat baik sama mereka, karena hubungan teman sekerja oke punya alias kagak pernah berantem atau musuhan. Menolong mereka? Tentu, gw rasa juga pernah menolong mereka. Lalu mengabarkan Injil bagi mereka? Hmmm….. emang gw pernah mikir begitu sih. Cuman kadang gentar juga menghadapi mereka. Karena mereka pekerja kasar, tentu saja kalau seuatu yang enggak menyenangkan hati mereka, mereka bisa bertingkah seenak jidat mereka.

Mungkin juga gw kurang iman bagaimana seperti Musa atau Yeremia yang pernah beralasan kepada Tuhan, yang disuruh untuk menyampaikan berita Tuhan kepada orang Mesir dan Israel, tetapi menghindar dengan alasan nggak pandai ngomong atau masih kurang ini itu. (Yer1:6 Maka aku menjawab: “Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda.) (Kel4:10 Lalu kata Musa kepada TUHAN: “Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulupun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mupun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah.)

Atau gw takut ditolak, atau dibenci, ngga dianggap sebagai temen lagi. Atau juga akan dianggap sebagai tindakan pemaksaan agama. Well, rasio gw pinter ber-argumen di dalam otak. Sehingga pikir punya pikir, bukannya dari perbuatan aja orang bisa melihat gw ini kan beda, dan karakter orang Kristen bakal kelihatan. Itu sudah cukup?

Kalau cuma kesaksian hidup aja udah cukup, lah terus ngapain Yohanes Pembaptis sampe teriak-teriak di padang gurun Yudea “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” Mat3:1-2. Tuhan Yesus sendiri, “Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang.” Mar 1:38. Jadi ternyata pengabaran Injil harus dilakukan selain diimbangi dengan kesaksian hidup kita yang baik.

Kita nggak tahu kapan waktunya Tuhan memanggil hidup manusia, maka kita juga harus giat-giatnya mengabarkan Injil setiap saat terhadap sekeliling kita. Kapan terakhir kali kita menyinggung keselamatan kekal kepada sekitar kita; kepada temana-teman, rekan kerja, keluarga kita. Sebagai manusia normal kayaklah kita engga ingin kalau teman keluarga dekat kita yang setiap hari mungkin kita temui, tiba-tiba meninggal dan mereka belum menerima Kristus sebagai Juruselamat mereka. Lalu kita baru sadar bahwa mereka belum selamat. Terlambat sudah.

 

Di tengah gonjang-ganjing pemilihan presiden di Indonesia, dilaksanakan kampanye yang dimulai dari awal Juni 2014 yang lalu. Dari pembacaan dan pengamatan berita-berita di media, memang seakan menyuarakan salah satu calon presiden dengan identitas nomer dua menjadi favorit. Apalagi dibuahi dengan hasil-hasil survey yang menyatakan calon presiden tersebut lebih banyak dipilih.

Tetapi sebulan lebih masa kampanye pun hampir usai, berita-berita survey pun ikut berubah. Kalau tadinya hasil survey mempunyai jarak yang jauh maka kini hasil itu makin mendekat atau artinya seimbang bahkan mungkin saja kandidat nomer satu bisa menjadi presiden.

Tentu hal ini terlepas dari kebenaran berita media survey atau kampanye hitam atau propaganda dari keduabelah pihak sehingga akan membuat keyakinan bagi para pendukungnya untuk bisa ‘nyoblos’ sesuai dengan suara terbanyak.

Sebagai insan percaya tidak salah kita berdoa kepada Tuhan untuk memohon agar Indonesia memilih seorang presiden yang baik (menurut pandangan kita) untuk menjadikan negara Indonesia berubah lebih baik. Tentu keinginan itu tidaklah salah. Tetapi yang sering kali kita lupakan, kita berdoa pengen terjadi sesuai seperti impian kita.

Kalau Indonesia berubah lebih baik, Puji Tuhan. Itu adalah anugerah Tuhan yang luar biasa bagi bangsa Indonesia. Tetapi itu adalah kehendak kita. Apakah kita sudah bertanya kepada Tuhan, Tuhan kehendakMu gimana untuk Indonesia?

Pilihan calon presiden nomer satu atau nomer dua? Maaf aja kalau gw mendramatisir seakan Tuhan koq ikut pemilihan umum. Karena sebenarnya Dialah penentu pemilihan umum ini. Bukan suara terbanyak. Kalau pun sampai teman-teman kita pada ikutan kampanye, monggo. Enggak salah. Biar mereka berusaha memberitahu, mempengaruhi bahkan mungkin ‘sedikit’ mengancam; supaya kita memilih sesuai dengan suara kampanye tersebut.

Tetapi itu adalah usaha manusia. Penentunya adalah Tuhan. Bukannya tidak mungkin jika berkeinginan supaya calon presiden yang mempunyai semangat demokrasi akan menjadi presiden. Juga bukannya tidak mungkin jika calon presiden yang nomer ganjil itu akan menjadi presiden.

Jika kita menganggap bahwa Tuhan akan mengabulkan keinginan kita untuk menjadi Indonesia lebih baik, itu adalah baik. Tetapi hal itu belum tentu bagi rencana Tuhan. “Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya.” Amsal 16:9

Jika Jokowi akan menang menjadi Presiden Indonesia, kita mengucap syukur dan berkata itu adalah kehendak Tuhan. Bagaimana misalnya Prabowo yang menang kemudian mungkin Indonesia tidak akan sejaya yang mana kita pikirkan; apakah itu bukan kehendak atau rencana Tuhan?

Gw percaya baik siapa pun presiden Indonesia mendatang adalah dalam rencana Tuhan. Tuhan bahkan ijinkan anak-anakNya jika mengalami penindasan, penganiayaan dalam pemerintahan mendatang. Karena kita tahu bahwa tidak sedikit semakin anak-anak Tuhan ditindas atau dianiaya, nama Tuhan semakin ditinggikan.

Bahkan tidak jarang karena keadaan kita semakin baik, nama Tuhan pun dilupakan. Maka rencana Tuhan dalam kita, bukan karena hidup kita jaya terus maka Tuhan dimuliakan. Tetapi sebaliknya meski hidup kita menderita (bahkan menderita karena nama Yesus) kita dapat memuliakan nama Tuhan.

Kiranya kita tidak salah berdoa, “Jadilah Kehendak Kami, Bukan Seperti KehendakMu.” Karena anak-anak Tuhan memikirkan hal yang di surga bukan di bumi ini saja, maka kita pun harus mengerti akan kehendak Bapa kita.

Seperti Rasul Paulus menuliskan bahwa Tuhan mencipta kita hanya untuk kemuliaan NamaNya. Demikian pula dengan adanya pemilihan umum ini juga merupakan bagian dari rencanaNya untuk kemuliaan NamaNya. Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! Rm 11:36

alkitabSuatu saat menjelang usai pekerjaan gw, gw diberitahu bahwa manajer gw pengen ketemu gw. Dengan tanpa prasangka ya gw menuju kantor manajer. Gw kira ada sesuatu yang mau dibicarakan mengenai pekerjaan. Ternyata enggak. Dia cuma nanya sambil menunjukkan sebuah kitab. “Ini punya elu?’ tanyanya. Ternyata kitab itu Alkitab. Bukan jawab gw. Kenapa gw tanya lebih lanjut. Dia cuma bilang karena Alkitab itu udah 2 hari nongkrong di depan meja penerima tamu.

Dia bilang, “Ya kita prihatin aja kalau ada seseorang yang sengaja meletakkan Alkitab itu disitu.” Gw tahu manajer gw bertanya begitu karena dia tahu gw orang Kristen. Asal tahu aja meski katanya Kanada itu “negara Kristen” tetapi kalau hal-hal berbau keagamaan di tempat kerja (tempat umum) itu menjadi sensitif dan tabu. Mungkin manajer gw tahu kali kalau orang Kristen itu suka memberitakan Injil. Suka memberi traktat atau Alkitab.

Karena Alkitab itu bukan punya gw, dia minta gw memberikan Alkitab itu ke bagian administrasi. Maka sambil membawa Alkitab itu kepada Denny bagian admin, gw berkata; “Den, ini gw ada sesuatu yang baek buat elo.”

Dia malah balik bertanya, “Kenapa elo bawa itu kitab ke gw?” Gw beritahu aja bahwa sang manajer pengen Alkitab itu diberikan kepadanya untuk diapain gw juga kurang tahu.

Gw cuman nyentil aja, “Den elo perlu baca tuh kitab.”

Eh si Denny malah menjawab, “Tengkyu, gw gak bakal baca tuh kitab. Karena gw tau gw bakal masuk neraka.” Jawab si Denny  dengan entengnya.

Gw gak mau kalah, “Gw pikir elo gak tahu apa itu neraka. Kalau elo tahu, elo bakal gak mau masuk kesono.” Si Denny cuma ngomong, “well gw enggak tertarik ama agama. Karna gw bukan orang yang beragama.”

“Eh tau enggak, kalo kita merasa susah hidup di dunia ini, apalagi di neraka bakal 100 kali enggak enak. Gw kira ini bukan hal beragama apa enggak lho, tapi gimana dengan hidup kita setelah di bumi ini.”

Eh dia malah ngebalik, “Kamu koq jadi serius? Gw kira kita cuma basa-basi aja.”

“Well mungkin kita basa-basi, tapi hal ini kenyataan lho.” jawab gw.

“Eh tau nggak, gw enggak tahu kalo neraka itu ada apa enggak, tapi gw nggak mau pusingin hal itu.” kata si Denny dengan nada mulai meninggi.

Gw tahu gw enggak mau percakapan kita itu nanti jadi pertengkaran. Karena gw mengawali percakapan itu tanpa kepikir bakal jadi serius. Maka gw hanya mengakhiri dengan, “Paling enggak elo mungkin bisa baca Alkitab ini.”

“Tahu enggak Alkitab ini bakal menuh-menuhin bak sampah gw.” Balasnya sengit.

“Den daripada dibuang kenapa kamu enggak berikan kepada orang yang membutuhkan membaca buku itu.” Dia hanya membalas, “Itu bukan urusan elo.”

Gw sih enggak heran ama jawaban teman sekerja gw itu. Sikap yang udah umum. Padahal banyak orang tuh ngakunya, “Iya gw percaya Tuhan tuh ada.” Tuhan yang gimana, modelnya apa; pasti mereka kagak bisa jelasin. Pokoknya gw percaya ada Tuhan, titik. Tentu tuhan yang dimaksud sesuai dengan pikirannya.

Bukan Tuhan yang menciptakan langit dan bumi ini. Tapi tuhan yang abstrak mungkin. Seringkali banyak orang pengen bukti Tuhan. Tapi dibuktikan dengan Kebenaran, mereka hanya akan menolak karena tidak sesuai dengan apa yang mereka harapkan. Mungkin juga, bagi mereka Tuhan yang ada itu dengan ‘bukti’. Manusia pada umumnya akan ‘percaya’ Tuhan itu ada karena mereka sukses, mereka mengalami mujizat, mereka melihat (terbukti) sesuai dengan logika mereka.

Maka sebagai orang percaya, adalah tugas kita untuk memberitakan kabar baik, kabar yang benar supaya banyak orang mengenal siapa Tuhan Yesus. Tentu hal itu tidak mudah. Keinget seorang teman yang bercerita bahwa dia mempunyai seorang teman yang udah divonis ama dokter karena kanker, hidupnya gak lebih dari 2 bulan. Begitu pun orang tersebut marah ketika sang teman memberitakan kabar baik.

Tugas orang percaya masih banyak dan panjang, meski tidak sedikit orang yang berlabel Kristen tidak pernah mengabarkan Injil dengan berbagai alasan (yang masuk akal). Tetapi sebagai orang Kristen yang sejati mau enggak mau dia pasti gak tahan untuk tidak memebritakan kabar baik kepada orang laen. Bukan dipaksa-paksa, bukan ikut-ikutan, tapi otomatis. Menjadi bagian gaya hidupnya.

Tentu hal itu bukan karena kehebatan kita, kemauan kita atau usaha kita; tetapi karena Kasih Karunia Tuhan yang telah mengisi hidup kita, sehingga Roh Kudus memimpin hidup kita untuk memberitakan Kabar Baik itu. Mungkin gw bukan pengabar Injil yang baek, tetapi senantiasa belajar untuk mengarah kesana. Kesaksian hidup tanpa Pengabaran Injil adalah OK (Omong Kosong).

Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis: “Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!” (Rm 10:14,15)

Semangat Memuji

“Bilamana kamu berkumpul, hendaklah tiap-tiap orang mempersembahkan sesuatu; yang seorang mazmur, yang lain pengajaran, atau penyataan Allah, atau karunia bahasa roh, atau karunia untuk menafsirkan bahasa roh, tetapi semuanya itu harus dipergunakan untuk membangun” (1Kor 14:26)

Latar belakang gw bergereja di gereja yang kalo beribadah suasananya tenang, kalem, kualitas musik, dan menghayati syair pujiannya; katimbang cara bernyanyi yang semangat bergairah dan ber-ekspresi. Karna suatu saat seseorang mengatakan gereja asal gw itu kaku kurang hidup gak bergairah kurang semangat. Well, gw cuma bilang kalo mau memuji Tuhan dengan semangat dan bergairah, serta ber-ekspresi, silahkan saja asal enggak kacau, jangan sampe membuat jemaat kelelahan terus nanti waktu mendengar Firman Tuhan jadi mengantuk kecapekan.

Terus hal yang laen, kalau kita waktu memuji menyanyi semangat bernyala-nyala, bergairah; boleh gw tanya, apa kita juga semangat bergairah dalam mengabarkan Injil? Apa kita juga punya semangat menyala-nyala dalam berdoa dan membaca Firman Tuhan? Apa kita juga semangat untuk mendengarkan Firman tuhan waktu ibadah?

Karena kalo kita semangat dan bergairah memuji Tuhan, maka konsekwensinya kita juga harus semangat dalam berhubungan dengan Tuhan. Bukan milih-milih. Waktu memuji semangat. Waktu mendengar kotbah, kita ngantuk, lemes, letoi. Kita harus satu paket. Semangat total. Kagak sebagian.

Karena kalo kita cuma mementingkan memuji dengan semangat tapi untuk belajar Firman Tuhan letoi, itu kayak maunya kita aje. Alias semau gue. Karena ibadah bukan saja memuji Tuhan tetapi mendengarkan Firman Tuhan dan berdoa. Ibadah yang sejati kepada Tuhan adalah datang untuk menyembah Tuhan utnuk memuliakan namaNya. Jadi bukan kepentingan pribadi. Jika kita ingin memuji Tuhan dengan semangat maka beribadahlah total dengan semangat pula. Berdoalah dengan semangat. Membaca dan mendengarkan Firman Tuhan dengan semangat. Berpuasa dengan semangat. Melayani dengan semangat walau berat.

Karena semua unsur ibadah harus dilakukan dengan ucapan syukur dan suka cita kepada Tuhan. Pujian juga seperti persembahan kepada Tuhan. Bukan sekedar lahiriah menggugah emosi sehingga kita merasa seperti “dekat” dengan Tuhan. Tetapi Tuhan melihat hati manusia. Contoh persembahan Kain dan Habel. Tuhan hanya menerima persembahan Habel.

Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita,seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati,dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat. Ibr.10:25.