Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘natal’

christmasKita tahu bahwa dalam cerita di Kejadian 22:1-19 Abraham yang hendak mengorbankan Ishak akhirnya ngga jadi, karena Allah hanya mau menguji iman Abraham.

Tetapi kejadian Tuhan Yesus yang mengerjakan Misi Allah didalam dunia tetap jalan. Tuhan Yesus datang ke dunia menjelma lahir menjadi bayi Maria. Dapat dibayangkan kalau ‘hati’ Allah begitu ‘sakit ‘ melihat penderitaan Kristus.

Kalau kita lanjutkan balik ke cerita Abraham yang jadi membaringkan Ishak di atas pembakaran korban dan melihat api yang membakar tubuh Ishak akan betapa mengerikan. Abraham mungkin juga bisa histeris. Bagaimana mungkin dia seorang bapa mengorbankan anaknya yang tunggal yang dikasihi.

Kalau nggak pingsan, hati Abraham pasti sakit seperti teriris-iris sambil diberi jeruk lemon dan  seperti merasakan tubuhnya sendiri yang terbakar.

Kita bayangkan lebih jauh misalnya. Ishak mengalami penderitaan 33 tahun lamanya sampai mengalami penyiksaan dan akhirnya mati. Dan selama 33 tahun itu Abraham mengetahui semua hal itu didepan matanya, tetapi enggak bisa dan enggak boleh berbuat sesuatu untuk Ishak. Mungkin kalau itu terjadi pada diri Abraham, Abraham bisa mati duluan.

Well, cuma mau menggambarkan bahwa Natal adalah tidak seindah yg kita kira atau kita lihat seperti sekarang – penuh ceria, hadiah, musik, drama, tarian, liburan, ke gereja dengan keluarga dan sebagainya.

Makna Natal ternyata jauh lebih dalam dari yang kita kira selama ini. Makna Natal ada penderitaan, ada pengorbanan, ada ‘air mata’.

Memang tidak salah, Natal kelahiran Kristus raja Damai adalah berita gembira bagi manusia. Karena Dia datang untuk menyelamatkan manusia tetapi dengan mengorbankan diriNya.

Maka Natal bukan saja kita bersyukur atas anugerah Tuhan yang begitu besar yang enggak tertuliskan atau terucapkan oleh bahasa manusia. Bahkan engga mungkin akan terbalaskan oleh usaha manusia.
Natal  ‘sebenarnya ‘ hal yang enggak layak kita terima. Tetapi Allah yang berinisiatif mau menyelamatkan ciptaanNya.

Kita bersyukur akan Natal bukan karena kita layak menerimanya. Tetapi Allah mengasihi. Kita harus sadar akan hal itu bukan karena kita berharga.

Kalau kita mengorbankan salah satu anggota keluarga kita untuk menyelamatkan orang lain, mungkin masih banyak orang yang melakukan demikian. Tetapi mengorbankan anaknya yang tunggal untuk menyelamatkan orang lain. Rasanya enggak ada yang begitu. Mungkin ada yang mengorbankan anaknya untuk memperoleh kekayaan, atau kekuasaan. Untuk dirinya sendiri, itu masih bisa terjadi. Tetapi mengorbankan anaknya untuk orang lain? Orang yang enggak elo kenal, orang asing. Orang jahat yang menghina mengutuk memfitnah menyakiti hati dan sebagainya. Nah elo mengorbankan anak elo sampe menderita dan mati, buat menyelamatkan orang kayak gitu. Kita? No way!!!

Tetapi Allah melakukan hal itu. Mengorbankan AnakNya yang Tunggal Tuhan Yesus Kristus untuk mati menebus dosa elo dan gw.

Kadang kagak ngerti gimana banyak orang Kristen yang gembira ria waktu Natal dan bersedih ria waktu Paskah. Waktu Paskah memperingati kesengsaraan kematian Tuhan Yesus. Kayaknya mulai Tuhan Yesus ‘hadir’ dibumi sebagai bayi itu udah sengsara. Maka nggak salah kalau ada banyak orang yang mengatakan peringatan Natal itu tercampur ama perayaan agama pagan.

Karena peringatan Natal itu enggak perlu hura-hura, tapi kita lebih menyimak bagaimana pengorbanan Kristus bagi manusia, bagi kita dan bagaimana kita meresponi dan melakukan anugerah Allah itu dalam kehidupan kita sehari-hari.

Bukankah lebih baik jika peringatan Natal itu kita peringati dengan hikmat di gereja (tanpa hiburan) dengan lagu-lagu Natal itu sudah menggambarkan bagaimana kita seharusnya menyambut kedatangan sang Raja Damai itu.

Advertisements

Read Full Post »

Lampu Natal

christmas-lights1xMasih teringat oleh perkataan seseorang pakar hukum kondang dari Surabaya, bahwa banyak orKris (orang Kristen) yang senang sama night club, tandanya banyak orang Kristen yang memasang lampu Natal kelap kelip itu lho pada hari Natal, baik itu di pohon Natal atau hiasan di rumah mereka. Lalu anda akan berkerut dahi, apa emang kagak boleh apa memasang lampu Natal. Itu hak pribadi. Juga tidak mencelakakan orang laen. Emang melanggar hukum?

Tahun ini kita terlambat memasang lampu Natal di depan rumah kita. Tetangga kanan kiri depan belakang sudah komplit. Rumah mereka jadi berwarna warni. Ruamh kita aza yang masih polos. Pas lewat beberapa kali depan rumah sempat mikir. Wow, beda juga yach. Mungkin para tetangga bakal bertanya-tanya koq tumben engga pasang lampu night club.

Kadang pas kalau dipikir dua kali, apa yach manfaatnya kita memasang lampu/ hiasan Natal yang berwarna-warni itu? Apa tradisi? Kebiasaan? Ikut-ikutan? Atau malu dikatain tetangga? Merayakan Natal? Wackh…….. naif sekali gitu jawabannya. (emang  jawaban yang terakhir yang banyak dikatakan oleh orang banyak) Memasang lampu atau hiasan Natal di rumahnya berarti ikut merayakan Natal? Orang non Kristen juga bisa lho, memasang lampu dan hiasan Natal di rumahnya tanpa mengerti makna Natal sesungguhnya atau merayakan Natal.

Kalau Natal tiba bukan saja waktunya untuk beli membeli hadiah buat sanak keluarga, tetapi juga memberikan sumbangan bagi orang-orang yang kurang beruntung. Dulu seorang teman pernah menyatakan bahwa buat apa memberi sumbangan bagi orang-orang yang kurang beruntung itu karena mereka diberi engga pernah merasa terima kasih atau bersyukur. Mereka menerima sumbangan seakan mengatakan bahwa ‘mereka selayaknyalah menerima hadiah sumbangan tersebut’. Wow!

Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak membechristmaslightsri Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku.

Lalu merekapun akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau? Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku. Mat25:42-45

Tapi gw keinget akan ayat-ayat diatas yang menyatakan bahwa apa yang kita lakukan semua itu hanyalah untuk Tuhan. Hanya untuk kemulian namaNya. Tentu waktu kita memberi juga disertai dengan ucapan syukur dan berharap bahwa pemberian itu dapat berguna bagi yang menerimanya. Meski tidak sedikit orang yang memberi karena kelebihan atau banyak barang yang sudah tidak dibutuhkan alias barang yang hendak dibuang. Daripada dibuang disampah lebih baek diberikan ke orang yang kurang beruntung dech.

Well, kembali ke pernyataan teman gw. Itu setengah ada benarnya. Kalau banyak orang yang menerima hadiah Natal itu kagak pernah bersyukur. Tetapi kalau mengaca pada diri sendiri, bukannya kita 100% seperti demikian? Diberi, kagak tau terima kasih. Menerima hanya ‘take it for granted’ merasa sudah selayaknya menerima. Ketika Tuhan memberikan anugerahNya. Manusia hanya merasa ya udah selayaknya.

Apalagi ini Natal, sebagian orang berpikir oh ya Natal, waktu kita hepi-hepi. Enggak sedikit perusahaan menengah atas yang mengadakan pesta Natal, tentu engga ada hubungannya dengan kekristenan. Mereka pesta pora makan minum. Yang lebih mengejutkan banyak berita terdengar bahwa di pesta Natal banyak perbuatan dosa yang berhamburan. Bukan hanya makan minum saja, mabuk, pesta liar, bahkan sampai melakukan hubungan seks bebas antar karyawan perusahaan atau dengan boss mereka (ini kejadian nyata). Inilah Natal (menurut mereka). Sebentar lagi kita memasuki libur tahun baru. Maka puaskan dirimu sebelum libur (begitu kali yach mereka mikirnya).

Sayangnya banyak orang Kristen atau lembaga Kristen juga ‘mengikuti’ cara ini. Kebaktian Natal yang “dicampur” dengan pesta Natal. Meski mungkin orang Kristen tidak melakukan tindakan asusila, tetapi dimana bedanya? Tentu saja bedanya paling engga, harus bisa terlihat. Apa kebaktian Natal orang Kristen harus meriah? Meriah itu ya ceria, gembira, bahagia gitu? Atau ada ceria gembira model laen, endak harus ter-ekspresikan lewat emosi tetapi ceria gembira dalam hati, secara pribadi.

Pernah lihat kan ada sebagian gereja yang merayakan Natal bukan dengan hura-hura atau pesta tapi hanya dengan kebaktian Natal yang sederhana dengan kusuk, mendengarkan lagu pujian Natal yang syahdu, merenungkan Firman Tuhan, berdoa mengucap syukur atas kehadiran Putra Allah yang menjelma menjadi manusia di atas bumi ini. Bukankah perayaan Natal akan sungguh bermakna, sungguh berkesan bagi jemaatnya?

Read Full Post »

Selaen cerita Natal, kelahiran sang Juruselamat kita Yesus Kristus apalagi yang diperhatikan. Orang dunia mengatakan, kelahiran bayi Yesus mungkin adalah nomer sepuluh diurutan prioritas hidup mereka. Mungkin yang pertama, adalah hadiah, liburan, pesta pora – makan minum (minuman keras). Kalo menyebutkan hadiah pada saat Natal, kayaknya kagak abis-abisnya dech.

Dari semenjak sebelom hari Natal tiba, toko-toko pada rame banget dengan kosnumer yang beralasan untuk membeli hadiah Natal. Terus berlanjut dengan Boxing Day yang menurut sejarahnya dilakukan oleh negara-negara sekutu Inggris untuk memperingati hari pertama setelah Natal. Atao yang lebih tepat mungkin ada definisi yang mengatakan tradisi dimana hari itu orang-orang yang lebih mampu memberi hadiah kepada orang-orang miskin (yang engga bisa membeli hadiah buat Natal) – maka itu para toko atau supermarket menurunkan harga jual mereka dengan murah meriah untuk pembeli supaya dapat membeli barang-barang yang akan dihadiahkan kepada pada fakir miskin. Atao definisi ketiga yang laen mengatakan hari itu adalah hari perayaan Natal buat para budak (setelah majikan mereka merayakan Natal terlebih dahulu tanggal 25 Desembernya).

Di Amrik Utara kayaknya menganut definisi yang kedua untuk merayakan Boxing Day (BD). Dan arti BD sebenarnya telah bergeser jauh dari sejarahnya. Dari pihak toko adalah kesempatan untuk cuci gudang alias menghabiskan stok yang berkelebihan. Bagi konsumen adalah kesempatan emas untuk mendapatkan barang-barang belian dengan harga super murah.

Minat pembeli untuk membeli barang super murah luar biasa sekali. Maka kadang timbul pikir ini lho kayaknya keserakahan manusia kelihatan. Apalagi kalau barang-barang yang ber-merk. Dari elektronik sampai fashion. Siapa yang tidak kenal merk-merk seperti Sony, Toshiba, Canon, Nikon, Sharp, LG, Nokia, HP, Kingston, GAP, Tommy Hilfiger, Adidas, Nike, Prada, Gucci dan sebagainya. Barang-barang yang biasanya akan berharga mahalnya selangit bok, sekarang banting harga. Murah banget.

Tak peduli dengan orang laen, pokoknya aku-aku dan aku. Untuk memuaskan keakuan kita? Tentunya pengennya begitu. Tetapi setelah nafsu pembelian kita turuti. Kita bawa pulang itu barang-barang yang kita beli. Rasanya juga belum memuaskan hati kita. Pengen something else.

Karna emang dasar hati manusia itu kagak bisa diisi dengan barang-barang duniawi. Maka itu Tuhan Yesus pernah ngomong sama perempuan Samaria, Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.”

Dapat dibayangin kalau saja barang-barang bermerk itu diberikan GRATISSSS, bok apa yang terjadi ya? Nafsu angkara manusia akan membludak kali ya. Enggak tahu itu pakai ukuran besar atau kecil comot aza, itu pakaian wanita atau pria comot juga (gawat!), entah bisa membawa teve ukuran 60 inci atau engga pokoknya dipanggul dulu (awaz pinggang bisa bengkek tauk!)

Read Full Post »

Ribut Parade

Di kota-kota besar di Canada hampir setiap tahun pada akhir tahun diadakan parade Santa Claus (di Indo, Sinter Klas klo engga salah) tentu untuk merayakan tradisi legenda si kakek tua gendut berjubah merah dengan jenggot putihnya yang panjang menjelang Natal. (meski banyak orang yang mengasumsikan Santa Claus dengan perayaan Natal – padahal maknanya sangat jauh berbeda).

Nah parade itu kan memakan biaya, meski banyak sponsor dari perusahaan-perusahaan besar (yang tahun ini dirayakan tanggal 25 Nopember 2007). Tetapi tetap akan makan biaya yang besar. Maka banyak kalangan yang kontra mengajukan keberatan akan perayaan tersebut (alasannya parade tersebut seakan menunjukkan kemewahan). Meski beberapa walikota wilayah distrik tetap menghendaki perayaan tersebut tetap jalan (alasan mereka justru perayaan itu untuk semua kalangan, dari yang miskin sampai super kaya, dari yang kecil sampai kakek nenek).

Nah mungkin ribut-ribut itu ada maksud dibalik pendapat mereka. Jadi gw pikir mereka cuma gede-gedein aza tentang masalah tersebut. Eniwei gw pikir perayaan itu kan hanya memperingati (dan menikmati ?). Lah kalo nggak ada perayaan ya udah toh. Emang gw pikirin. Kan gitu. (gitu aza koq repot)

Terus gw keinget, gimana yo dengan orang Kristen pada akhir tahun ini yang bakal ngerayain Natal? Misalnya orang Kristen engga bisa ngerayain Natal. (disebabkan berbagai masalah mungkin bencana alam, politik, biaya, perang misalnya) Apa kita tetap akan ngotot ngerayain Natal juga? Engga perlu kan. Maka itu klo dipikir lagi perayaan Natal orang Kristen jadinya adalah rutinitas, yang harus tiap tahun dirayakan (wajib karena kebiasaan).

Mungkin kita belom mengalami Natal bersama orang Kristen bawah tanah di Cina daratan (atau di Rusia). Belom tentu mereka bisa ngadain perayaan Natal. Bisa jadi mereka hanya memimpikan hal itu. Ato mereka ngerayain Natal dengan sembunyi-sembunyi dan sediam mungkin. (bersuara artinya penjara ato hukuman seumur hidup)

Sedangkan ditempat laen ato di gereja kita, Natal dirayakan dengan penuh kemewahan bergemerlapan karena tradisi kebiasaan. (maka itu kayak usul teman gw, gereja perlu tuh shock terapi, sekali-sekali gereja tidak merayakan Natal. Lalu gimana ya reaksi orang Kristen di gereja itu?)

Read Full Post »