Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘novel’

Senja Kala

apelNovel Twilight besutan Stephenie Meyer mungkin sudah engga asing lagi, karena novelnya udah beredar 25 juta dan diterjemahkan dalam 37 bahasa di dunia. Tentu aza gw bukannya mau meng-review novel ini, kalau itu mah udah ketinggalan jaman kemana-mana. Tetapi yang mengingatkan gw tentang novel tersebut adalah ceritanya. Cerita utamanya seorang gadis bernama Isabella Swan atau dengan nama panggilannya Bella usia 17 tahun. Yang bertemu dengan seorang pemuda yang cantik sekali yang terakhirnya diketahui adalah mahluk drakula, vampire penghisap darah.

Dulu gw juga suka baca novel remaja begitu yang bertemakan cerita cinta yang laen daripada yang laen. Cerita yang membuat penasaran gimana sich seornag manusia bisa jatuh cinta ama mahluk ‘laen’, mahluk halus. Ceritanya engga vulgar yang membuat pembaca bulu kuduknya berdiri. Cerita yang lembut yang romantis. Dan itu cinta yang terlarang. Karena penulisnya, Stephenie Meyer, udah memberi tanda paling enggak ceritanya ada hubungannya ama buah terlarang yang ditulis di Kejadian 2:17.

Meyer begitu cerdiknya menuliskan Edward Cullen sang drakula begitu manusiawi sehingga Bellanya pun kagak takut berteman dan jatuh cinta ama drakula. Maka dimakanlah buah tentang pengetahuan yang baik dan yang jahat itu. Manusia yang berdosa bakal suka banget akan cerita yang demikian. Menegangkan. Mudah dinikmati. Apakah salah jika hati ini sudah jatuh? Ini bukan jaman SIti Nurbaya bok! Nyang bisa diatur-atur.

Sesuai dengan judul bukunya Senja Kala (Twilight) begitu gw terjemahin kedalam bahasa Indo. Waktu mentari tenggelam ke ufuk barat. Dan bumi pun diliputi kegelapan. Berkata jujur, emang benar kalau dunia ini diliputi kegelapan. So what gitu lho? Tetapi sayangnya kegelapan itu berakhir di Neraka Permai. Engga ada harapan bagi manusia. Ujung-ujungnya binasa, mati. Enak kalau udah mati, that’s it. Tetapi siksaan api neraka yang kekal akan berlangsung selamanya bagi penghuninya. Dan yang pasti itu kagak enak.

Stephanie Meyer, gw menduga, hanya menggunakan ayat dari Kejadian 2:17 sebagai ide atau referensi penulisan novelnya. Tidak ada sama sekali kaitannya dengan kekristenan. Meski dia mengaku sebagai pengikut Mormon. Tulisan Meyer terasa bahasa remajanya, tipikal teenlit, apalagi memang Meyer bukan profesi penulis sebelumnya. Cukup sederhana kalau dibanding ama penulis wanita laen. Ceritanya juga sederhana, yang membuat magnit adalah cerita seorang cewek remaja jatuh cinta ama drakula alias vampire.

Itu yang membuat beda. Sehingga berjuta remaja khususnya tergila-gila dengan novel tersebut. Apalagi manusia punya keinginan selalu pengen beda. Beda dari yang laen. Engga terkecuali anak Tuhan. Terutama bagi remaja dalam pencarian diri. Bedanya anak Tuhan mencari perbedaan dengan yang laen engga harus liar tak terkendali. Tetapi lebih tunduk dan menurut kepada Firman Tuhan. Biar dunia berkata ah itu mah kuno. Kuper. Yang terutama adalah nama Tuhan dimuliakan.

Sebagai anak Tuhan tidak seharusnya mengidolakan buku macam Twilight. Karena dari tokoh yang dituliskan dipatikan berasal dari kegelapan. Dan hal itu bertentangan dengan Allah. Tetapi demikianlah kita hidup di akhir jaman (dengan teknologi tinggi) yang dibombandir oleh cerita-cerita diluar Kristus. Mungkin kita bakal berkata, jangan fanatik lah. Semua orang membaca cerita-cerita begituan.

Sebagai anak Terang kita tidak bakal mau terseret dengan hal-hal membuat kita jauh dari Tuhan kita bukan? Karena kita senantiasa pengen hidup dekat bersamaNya. Anak kegelapan pasti kagak tahan untuk hidup dengan Kebenaran itu sendiri. Seperti yang gw tulis diatas, kalau dulu mungkin gw bakal seru banget membaca buku novel kayak Twilight. Tapi sekarang udah kehilangan interest. Kayaknya buang waktu gitu. Lebih baek ngerjakan yang laen yang dapat memuliakan nama Tuhan, menjadi berkat bagi banyak orang. Bukannya begitu?

Wow sound fanatik lah, show off lah. Tetapi terus terang ketika anak Tuhan telah bertemu dengan Juruselamatnya. Dia bakal dapat berkata seperti paragraf di atas. Tetapi kalau belum pernah, seseorang kagak bakal mengerti.

Advertisements

Read Full Post »

400

Kalau anda menduga ini ada hubungannya dengan judul cerita film 300, maka anda salah besar. Apalagi kalau anda menduga ini adalah judul lanjutan dari film 300, maka anda sudah salah besar, malu-maluin dech.

Apaan 400? Begini lho, aku mendengar seorang novelis bercerita bahwa dia menulis novel dengan 100.000 kata. Maka kalau dia mendisiplin dirinya dengan menulis hanya 400 kata setiap hari (seminggu misalnya 5 hari menulis maka jumlahnya menjadi 2000 kata seminggu) maka novel 100.000 kata akan dapat selesai dalam waktu 50 minggu.

Ini kalau anda menulis hanya 400 kata, kalau anda menulis 800 kata maka proses kepenulisan novel tersebut akan semakin pendek separuhnya, dan total penulisan hanya menjadi 25 minggu alias kira-kira 6 bulan atau setengah tahun.

400 kata kalau diketik dalam program Microsoft Word dengan 2 spasi maka hasilnya kira-kira hanya 2 halaman. Kalau 800 kata ya tentu menjadi sekitar 4 halaman. Misalnya saja 400 kata, wah masa 2 halaman per hari kagak bisa sich?

Khaled Hosseini dalam novel terbarunya A Thousand Splendid Sun, kira-kira menulis 103.700 kata. Jika ditulis dalam program Microsoft Word dengan 2 spasi di atas kertas folio A4 akan menghasilkan sekitar 438 halaman.

Tapi kalau kita berangan-angan, wah apa begitu mudah ya menulis novel itu? Sehari 2 halaman. Lah wong aku menulis blog ini aja sampai disini baru berjumlah 210 kata. Maka wejangan penulis kondang lainnya mengatakan untuk membuat outline, kerangka atau frame. Supaya kagak lupa cerita besarnya itu gimana. Dan tidak membingungkan supaya alur cerita yang mau ditulis juga mengalir dengan baik serta enak dibaca oleh pembaca.

Pembuatan kerangka atau outline juga ada penulis yang menentang dikarenakan seakan frame itu membatasi ide menulisnya. Tergantung juga. Kalau ada penulis yang bisa cermat mengingat di kepalanya tentang apa mau diceritakan dalam novelnya, tanpa harus membuat outline, ya monggo aza.

Semua yang hendak kita kerjakan atau capai tentu tidak salah kalau kita mempunyai satu sifat yang baik yakni ketekunan. Ketekunan dibutuhkan kesabaran dan kedisiplinan. Kehidupan Kristen tidak luput dari ketekunan. Ketekunan dalam mengikut Kristus. Tekun untuk belajar FirmanNya. Tekun untuk berdoa.

Kadang karena disibukkan oleh kehiudpan sehari-hari maka kita tidak dapat tekun lagi dalam bersaat teduh dan berdoa. Saat teduh seperti memasak mi instant, 3 menit selesai dan siap dimakan. Berdoa, sambil berlalu melakukan pekerjaan kita lainnya bahkan sambil tiduran (padahal kita masih mempunyai waktu untuk berdoa dengan tenang).

Read Full Post »