Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘olahraga’

Sun Run

Wow, enggak kerasa udah seminggu belom ngisi blog ini. Maklum lage sibuk banget. Ada proyek gede untuk Tuhan, jadi semua kegiatan laennya ditunda dulu, konsentrasi. Eniwei, tanggal 20 April yang lalu sehari sebelum peringatan Hari Kartini, masih sempet ikut lomba ‘n rekreasi lari pagi, Sun Run. Yang ngadain sich emang surat kabar lokal yang paling gede di Vancouver, Vancouver Sun (penyelenggara yang sama waktu ngadain program “Menumbuhkan Seorang Pembaca”). Sun Run sudah diadakan sebanyak duapuluhempat kali (setahun sekali) maka enggak heran pesertanya pun mencapai 60.000 lebih!

Kali ini memang merupakan kali pertama gw ikutan Sun run, meski dulu pernah hobi lari juga, tapi udah keabisan waktu luang, jadinya kagak pernah lari lagi (aduh manis bener alasannya, kata lainnya emang males koq he..he..he..). Juga ajakan temen gw Yohanes yang senang dengan outdoor aktifitas, ada waktu sedikit luang maka gw ambil kesempatan itu. Asal tahu aja Sun Run, lomba lari yang sebenarnya berjarak 10 km atau yang biasa disebut dengan Ten K. Tetapi karena kali ini Putri juga ikut maka kita ikut yang Mini Sun Run, hanya berjarak 2,5 km. Lumayan lah bagi yang sudah 4 tahun kagak pernah lari.

Pagi jam 6 kita harus udah bangun untuk bersiap-siap, jam tujuh berangkat untuk mendapatkan parkir mobil gratis. Udara baru mencapai 3 derajat. Wackh!!! Dingin abis bok! Begitu masih mau lari? Jangan heran waktu kita nyampai di tempat tujuan, udah banyak peserta laennya yang pada ngantre. Panitya lumayan pinter memakai jasa para badut (clown) untuk mengajak kita melakukan pemanasan (warming up). Lumayan juga berkeringat dengan ikut pemanasan selama 15 menit. Dan jam delapan lebih lima menit (molor 5 menit) kita pun sudah melajukan ini kaki.

Waktu lari sempat merenung. Ini faedahnya olahraga lari. Santai, murah (kecuali kalo larinya pake pakaian sport fashion dengan merk-merk terkenal ya mahal dunk), bisa dilakukan dengan aktifitas laen misalnya dengerin iPod lagu-lagu atau kotbah. Paulus pernah mengatakan, “aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” Ef3:13,14

Tentu maksud Paulus bukan untuk mendapatkan piala kemenangan dalam olahraga lari. tetapi gw percaya kalo Rasul Paulus menggambarkan akan iman pengenalan kita kepada Kristus seperti orang yang berlomba lari. Orang lari biasanya menuju ke depan (kalau ada yang mundur mungkin itu ada sedikit kelainan) apalagi kalo orang berlomba ya tentu pengen meraih kemenangan mencapai garis akhir, garis finish.

Demikian pula untuk mengenal Kristus lebih baik (tentu bukan mengenalNya melalui Facebook atau MySpace atawa Friendster) kita perlu mengenal Kristus dengan benar. Belajar Firman Tuhan, mungkin bisa ambil sekolah teologi awam atau ikut Bible Study; supaya apa? Ya supaya kita kagak salah mengenalNya. “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya,”

Ternyata manfaat lari selain bisa buat merenung, cuci mata (secara positif – ngeliat keindahan alam sekitar) secara psikologi dikatakan dapat ngilangin stres dan menambah semangat, disiplin. Kayak membangun kepercayaan diri, ketekunan dalam fokus untuk mengalahkan tantangan, menyelesaikan waktu atau tujuan yang hendak dicapai.

Tentu sebagai pelari dibutuhkan latihan. Kayak diri ini udah lama kagak pernah latihan lari so pasti ngos-ngosan dech. Latihan itu bukan saja (mungkin dapat) menghasilkan suatu prestasi, tetapi juga baik untuk kesehatan tubuh diri sendiri. Puji Tuhan, kalo Tuhan masih memberikan kesempatan pada kita buat olahraga.

Advertisements

Read Full Post »

Kalau dua dekade yang lalu gw akan berkata Persebaya my home team atau Niac Mitra my home galatama team. Bagi yang kurang tahu apa seh itu Persebaya atawa Niac Mitra, itu lho kesebelasan sepak bola kebanggaan arek Suroboyo. Wah ternyata gibol (gila bola) juga yach. Tapi enggak terlalu gila amir koq. Juga enggak bonek (bondo nekad – modal nekad) entah nekad dalam hal apa. Malah sempat menjadi korban bonek koq :(

Nah kalau kota Vancouver juga punya tim kebanggaan bagi arek-arek Vancouver, yakni Canucks (baca Ke-naks), itu nama tim es hoki. Kalau ada yang tahu tentang tempat main es skating, nah tempat yang sama pula dipakai untuk pertandingan es hoki. Yang memang mainnya diatas es. Pakai sepatu yang berpisau itu. Gw menulis ini karena kemaren merupakan suatu pertandingan yang menentukan bagi Canucks untuk maju babak selanjutnya, tetapi tim Canucks ternyata kalah total. Maka pupus sudah perjalanan mereka tahun ini untuk bisa menjadi jawara es hoki di Amrik Utara.

Banyak penggemar yang frustasi bahkan tidak sedikit pula yang menangis atau minum bir sampai mabuk, karena tim kesayangannya kalah. Padahal itu hanya sebuah pertandingan. Tapi rasanya dimana saja sama. Di Surabaya, dulu kalau Persebaya kalah frustasi dech kayaknya, sampai suporter bonek bahkan membuat ulah merusak sana sini (tentu yang gw duga sih pasti ada dalangnya yang memprovokasi). Penggemar berat bola di Inggris Manchester United, juga sama. Mungkin mereka juga akan histeris kalau melihat tim kesayangannya kalah.

Mungkin bedanya yang gw rasa penggemar berat disini tidak sampai merusak. Ya apa boleh buat. Dalam pertandingan pasti ada yang kalah dan yang menang. Kalau timnya menang mulu, wach bosan donk nontonnya. Iya enggak? Maka itu dalam pertandingan bukan saja kalah menang yang harusnya dilihat oleh penonton atau penggemarnya. Tetapi harusnya semangat juang yang dapat menularkan pada para penonton. Semangat kompetisi untuk memenangkan pertandingan.

Seperti dalam pelayanan dalam gereja, bukan sukses atau berhasilnya suatu pelayanan yang dilihat tetapi bagaimana dari suatu pelayanan, semangat melayani dan menjadi berkat bagi orang lain, itu yang lebih utama. Tentu yang gw maksud bukan kalau pelayanan acak-acakan asal semangat, it’s okay. Bukan itu. Tetap hasil pelayanan akan menjadi persembahan dengan bau yang harum bagi Tuhan, dengan melayani, memberikan yang terbaik bagi kemuliaan Tuhan.

Karena kalau hanya melihat pada hasil pelayanan saja, maka seperti gambaran pertandingan di dunia ini. Banyak olahragawan yang bertanding dalam olahraga menjadi sumber penghasilannya. Mereka disebut sebagai olahragawan profesional. Mereka melakukan pertandingan bukan karena hanya hobi, karena keahlian mereka. Dan keahlian olahragawan itu dihargai dengan uang.

Mungkin pertamanya olahraga tersebut menjadi hobi, yang kemudian menjadi sumber penghidupan mereka. Tentu para olahragawan itu masih tetap hobi atau senang dengan olahraga tersebut tetapi sekarang motivasinya bukan saja untuk kesenangan, bukan saja untuk tubuh yang sehat, tetapi juga untuk uang. Bahkan ironisnya, motivasi mereka mungkin sudah beralih hanya pada uang saja. Jadi akhirnya tanpa uang gw enggak bakal bermain es hoki, gitu kira-kira.

Bukannya banyak dari kita yang berpikir demikian, dalam hidup ini apa yang gw kerjakan harus menguntungkan harus menghasilkan uang, kalau enggak itu mah bo’ong namanya. Semua tahapan itu dinilai dengan uang. Sampai-sampai pelayanan di gereja juga dinilai dengan uang, gawat kan?

Ketika Canucks kalah dan tersingkir, hujatan celaan makian hinaan berhamburan mengahmpiri para pemain tim tersebut. Ala itu mah biasa, begitulah dan dimana saja sama saja. Betul juga sih seperti komentar teman gw itu. Penonton paling pinter untuk berkomentar.

Pernah dulu sekali nonton teve bareng-bareng ama beberapa temen. Eh pas nonton kan perlu konsentrasi donk. Rupanya satu temen ini punya bakat komentator, dari awal sampai tengah pertandingan, mulutnya kagak bisa diem, (apa dia enggak capek yach?) komentar mulu. Rupanya temen yang laen kayak gw, jelas terganggu donk. Temen yang laen kagak kekurangan akal diambilnya itu tensoplas, langsung ditempel di mulut temen yang punya hobi komentar itu.

Hanya intermeso aja, kayaknya ngomong aja pasti gampang donk. Coba dipraktekkan di lapangan. Padahal tadi pas lagi nonton di teve Ronaldo tinggal menyundul bola aza udah pasti gol. Tinggal disontek dikit aza pasti menang. Aduh nendang begitu aza koq melenceng, padahal kipernya udah salah arah.

Coba dech di komentator disuruh maen sendiri. 120% pasti kagak bisa melakukan seperti apa yang dia omongkan. Kelihatannya mudah, tapi kalau di lapangan susahnya, stres-nya, bingungnya, takutnya campur aduk jadi satu. Enggak segampang yang kita kira.

Maka pelajaran yang gw sering dapet, meski hati ini gemes ngeliat pertandingan seperti itu yach, tapi gw belajar nahan diri untuk kagak asal ngomong. Apa yang kita lihat enggak segampang yang kita kira. Hal ini juga berlaku pada kehidupan kita sehari-hari. Percaya dech bahwa banyak hal yang kita lihat itu tidak seperti apa yang kita duga.

Karena demikian pula didalam gereja, didalam pelayanan, berkomunitas. Seringkali terjadi salah paham hanya karena kita berprasangka terlebih dahulu. Sebelum tahu kejadian sebenarnya. Alkitab pernah menulis, Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Atau yang sering kita dengar, ‘don’t judge a book by its cover’.

Read Full Post »

Gol!

Wah sayang, kayaknya salah waktu menulis dengan judul Gol, harusnya waktu Piala Dunia berlangsung atau paling enggak Piala Eropa gitu yach. Tapi nggak kenapa lah. Tulisan ini berbunga di kepala ketika mikirin si Beckham itu. Nah media di kotaku kan sedikit terguncang gitu lho dengan kedatangan selebriti yang banyak ngomongin, yang kagak tahu juga banyak tapi mereka masih mo nanya siapa sih itu Beckham (David Beckham)?

Maka media pada nuturin siapa dia. Supaya orang tidak salah mengerti, nanti dipikir Beckham itu merek Ham yang baru (ham itu apa ya definisinya, daging yang diiris tipis yang diasinkan, biasanya dipotong dari paha babi, kira-kira begitu menurut kamus pribadiku). Kabarnya dari sekitar 48.500 penonton yang memadati stadion itu ada yang kecewa dikarenakan Beckham tidak mencetak gol. Tetapi tidak sedikit pula yang gembira paling tidak sudah bisa melihat bintang pujaannya secara langsung atau bahkan mendapat tanda tangannya misalnya.

Meski mungkin Beckham membawa misi untuk mengenalkan olahraga sepak bola ke Amrik Utara dan supaya lebih banyak masyarakat meminati olahraga ini. Tetapi hal itu tidaklah mudah. Pada tahun 1988, Pele dan Franz Beckenbauer pernah bermain sepak bola di New York dengan sekitar 75.000 penonton. Tetapi ternyata sampai saat ini olahraga sepak bola masih (mungkin) bercokol di nomer 10 pada daftar olahraga yang paling digemari di Amrik Utara.

Selesai sudah pesta Beckham selama 3 hari 5-7 Nopember 2007, dan entah apakah pesta itu akan berdampak. Hal ini jadi mengingetkan cerita tentang Tuhan Yesus yang masuk ke Yerusalem. Wak! Waktu masuk Yerusalem Tuhan Yesus sangat dielu-elukan. Biar hanya naik di atas keledai (Beckham mana mau disuruh datang ke Canada naik keledai?), tetapi sambutannya luar biasa.

Tetapi sayang seribu sayang, kalau sambutan yang luar biasa dari orang Israel itu karena ada maunya. Para penyambut itu mempunyai pengharapan yang berbeda. Orang banyak yang sangat besar jumlahnya menghamparkan pakaiannya di jalan, ada pula yang memotong ranting-ranting dari pohon-pohon dan menyebarkannya di jalan. Dan orang banyak yang berjalan di depan Yesus dan yang mengikuti-Nya dari belakang berseru, katanya: “Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, hosana di tempat yang mahatinggi!” Matius 21:8,9.

He..he.. gw sih bukannya mo bandingin Beckham sama Tuhan Yesus, pasti kagak setara lah. Kesian deh elo, para orang Israel, pengennya ikut Tuhan supaya dapat roti dan ikan 12 bakul (kelebihannya). Kesian juga deh kita-kita yang sama kayak orang Israel yang ikut Tuhan hanya karena matre. Kesian juga orang yang udah buang duit pengennya nonton Beckham nendang bola masuk ke jala gawang, ternyata……… tidak ada gol.

Read Full Post »