Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘presiden’

Obapa

prodigal-sonEntah sempet nonton upacara pelantikan Barrack Obama menjadi presiden Amrik Serikat yang ke 44 atau enggak. Tapi dari banyaknya komentar tidak sedikit yang bernada A. Dari kejutan, calon presiden yang tidak diunggulkan kini menjadi jenderal garis depan. Dari keturunan bangsa kulit hitam yang banyak diragukan kemampuannya, tetapi dapat mengungguli lawan-lawannya di pencalonan presiden. Maka tidak heran banyak orang yang menaruh pengharapannya di pundak presiden Obama. Terutama rakyat Amrik yang dilanda bencana ekonomi yang hebat dari yang sudah-sudah.

Meski sempat diragukan tentang kepemimpinannya, tetapi presiden Obama tetap diharapkan dapat memimpin rakyat Amrik keluar dari jerat hutang ekonomi, bahkan mungkin diharapkan oleh semua bangsa di muka bumi ini. Tidak heran upacara pelantikan dan pidatonya dapat menyedot begitu banyak pemirsa yang menonton televisi di seluruh dunia. Belom lagi penonton yang berduyun-duyun datang ke daerah Gedung Putih yang diperkirakan mencapai 1,5 juta orang. Inikah pesta kemenangan rakyat Amrik dalam saat krismon? Atau pesta pengharapan?

Keinget akan cerita Alkitab di Lukas 15:11-32 tentang perumpamaan anak yang hilang. Yang menarik adalah ketika bagian “Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya.Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan iapun mulai melarat.”(ayat 3,4)

Kalau dalam gambaran bisokop pikiran gw, sikon ekonomi Amrik dan dunia mungkin lagi seperti demikian. Saat seperti seorang tua yang lagi sakit berat yang kronis, yang entah apa ada obatnya untuk menyembuhkannya? Untuk berpikir besok masih bisa hidup atau tidak, mungkin juga belom tau. Maka timbul penyakit nomer satu, stres. Yang dapat mengakibatkan penyakit laennya bermunculan. Belom lagi kejiwaan seperti frustasi, putus asa, depresi. Mungkin dapat berdampak negatif pada orang disekitarnya.

Gambaran anak yang hilang, setelah dia jatuh miskin. Tak ada seorang temannya pun yang mendekat. Tak ada teman. Tak ada seorang pun. (ini realita bukan. Kalau ada temen kita dateng-dateng pinjam duit donk, atau cariin kerjaan donk…. apakah kita masih peduli padanya atau ….. ngaciiir…..). Si anak bungsu pun demikian. Mencari pekerjaan pun susah minta ampun. Sampai pekerjaan yang dibawah standarnya pun dia mau. Menjaga babi. Yang kotor dan bau.

Ketika punggunya sudah menempel di tembok terakhir. Enggak bisa kemana-mana. Kekanan kekiri buntu. Keatas (emangnya Spiderman) juga kagak bisa. Terpaksa disana terus, bertahan. Tetapi karena perutnya terus menagih makanan, maka dia pun harus berebut dengan babi untuk makan (makanan babi). Mengiris hati dech kalau membayangkan seseorang sampai demikiann (kita tau berapa banyak saudara kita mungkin sikonnya bisa jadi kayak demikian). Kagak ada lagi apa yang mau dimakan. Terpaksa apa saja dimakan. Hanya untuk menyambung hidup.

Ketika Obama menjadi presiden Amrik, maka rakyat Amrik berharap bapak presiden bisa mengubah sikon hidup mereka. Mereka menaruh harapan besar kepada bapak presiden. Maka tampak tidak belebihan mereka sangat suka cita ketika mendengar beliau menyatakan sumpah dan pidatonya. Bukan saja mereka berharap pada janji-janjinya tetapi juga pada perubahan sikon akan terjadi.

Memang sayang sekali kalau presiden Obama bukanlah Tuhan. Dia engga bisa mennetukan masa depan. Dia pun kagak tau masa depan itu kayak apa. Tetapi beliau akan menuntaskan tugasnya dengan semampunya. Meski kadang usaha manusia bisa beda dengan rencana Tuhan. Manusia udah begitu luar binasa berusaha, tetapi jika Tuhan tidak mengijinkan, maka sia-sialah usahanya.

Seperti anak yang bungsu, luar biasanya, dia bisa sadar. Meski mungkin pertama dia lagi ngelamun kali yach. Wah enaknya hidupku yang dulu. Ngelamun terus…… Ehhh, gimana kalau setengah atau 10% dari kehidupan masa lalu itu aku alami. Masih sangat-sangat mendingan rasanya katimbang aku harus tidur di ranjang jerami bertemankan babi, dan ber-aromakan ‘beacon’. Sang anak bungsu berani melangkahkan kakinya untuk kembali kepada bapanya.

Tidak adak tindakan laennya lagi yang bisa dilakukan jika tidak kembali ke Bapa. Setelah peristiwa 911, 2001, diperkirakan banyak sekali rakyat Amrik yang berbondong-bondong kembali ke gereja. Maksudnya pengen bertobat kembali ke Tuhan. Meski engga semua, mungkin dua tiga bulan mereka sudah lupa dan kembali ke kehidupan lama mereka. Akhir 2008 Tuhan kembali mengijinkan sikon ekonomi dunia ambruk. Manusia akan tetap masih berkutat berusaha dengan usahanya sendiri. Ketika sampai harus tidur dengan babi. Mungkin disana saatnya manusia baru sadar. Aku harus kembali kepada Tuhan.

Pengharapan apa yang bakal kita harapkan pada tahun 2009 ini? Mungkin presiden Obama, mungkin presiden baru yang laennya, mungkin para tokoh ekonomi dunia yang jenius. Kita akan menunggu entah sampai kapan pengharapan (sia-sia) itu. Karena pengharapan yang sejati telah datang. Dia telah mewartakan harapan yang pasti dan sejati kepada kita.

“Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa,aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa.”
Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya.

Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia.Kata anak itu kepadanya: “Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa.”

Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: “Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya.Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita.Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.”

Advertisements

Read Full Post »

Bertemu Presiden

Emangnya mimpi apa, gw bertemu presiden? Juga bukan melamunkan hal itu gimana kalau terjadi. Cuma menarik aza ketika gw ngeliat tayangan youtube yang dikirm ama teman gw. Ngeliat Presiden memarahi peserta pertemuan ketika pas presiden pidato eh koq ada yang tidur. Mungkin banyak dari kita yang udah pernah nonton tayangan tersebut karena juga pernah ditayangkan di televisi swasta Indo. Anda bisa ngeliat tayangan singkatnya di YouTube.

http://www.youtube.com/results?search_query=presiden+marah&search_type=&aq=f

Menariknya lagi kalau saja (misalnya) peserta pertemuan itu bukan saja ngantuk, mungkin ada yang lagi SMS, lagi ngebuka laptop-nya, atau lagi mainin iPhone-nya, atau lagi dengerin mp3, atau lagi maen game Nintendo DS, sampai yang lebih lagi, ada yang lagi pacaran melalui HP-nya. Entah segimana murkanya sang presiden kalau tau, peserta pertemuannya engga mendengarkan pidatonya. Engga kebayang. Tapi dari sono harusnya peserta pertemuan belajar untuk bisa siap mendengarkan pidato bapak presiden, bagaimana pun boring-nya. Ya itu lah sudah resiko dan itu juga tugas yang harus di emban.

Keinget dulu kalau pas ikutan upacara bendera. Apa menariknya? Dari awal sampai akhir mungkin kalau ditanya bagian mana yang berkesan? Mungkin kagak ada. Tapi itu kewajiban. Para murid harus siap untuk mengikuti. Bukan saja keharusan tetapi ada pelajaran yang dapat dipelajari dari upacara bendera.

Tentu kalau gw refleksikan kedalam kekristenan. Bagaimana respon kita waktu kita beribadah. Waktu kita mendengarkan kotbah di gereja yang disampaikan oleh hamba Tuhan. Mungkin secara fisik kita berpikir, kotbah sang pendeta membosankan lebih baik gw melakukan sesuatu yang fun lah supaya kagak bosan dan mengantuk. Mengantuk tertidur, kalau ketahuan jemaat laen jadi bikmal (bikin malu). Maka lebih baek melakukan sesuatu aza deh. (kalau keliatan jemaat laen malah lebih memalukan. iya enggak ?)

Masalahnya kan bukan kita harus disiplin untuk bisa mendengarkan kotbah sang pendeta atau enggak. Tetapi bagaimana respon kita waktu ‘menghadap Tuhan’. Kita beribadah kan bukan untuk “setor muka” supaya dilihat bapak pendeta, dilihat para diaken atau pengurus gereja laennya. Oh, si anu ini rajin ke gereja, setia melayani, pasti orang Kristen yang saleh nich. Orang laen mah bisa kita bohongi tapi Tuhan, sorry, mau pake cara apa saja, kita kagak bisa bohongin Tuhan. Karena Tuhan tahu kenal betul luar dalam bobroknya manusia itu. Jadi kalau mau maen-maen sama pendeta, masih bisa. Sama pengurus gereja, enggak masalah. Tapi sama Tuhan. Tiada maaf.

Kita waktu datang menghadap Tuhan, pas hari Minggu ke gereja, bukan untuk meluangkan waktu, bukan untuk menemani pacar, suami atau istri. Tapi menghadap Tuhan. Kalau dibandingkan sedikit aza, masa kita bertemu presiden kalau ada waktu (bertemu presiden biasanya yang terjadi adalah bapak presiden yang mengundang kita. Lalu coba kita membalas undangan presiden, ‘maaf pak, kalau ada waktu saja, saya datang yach’. Enggak kebayang gimana dech kalau undangan presiden dijawab demikian). Tapi pada umumnya kalau presiden mengundang, kita pasti menyambut dengan hangat, gembira dan bangga. Karena kagak sembarang orang kan yang diundang sama presiden.

Maka menghadap Tuhan kagak sembarangan. Memang sich kita bisa saja menghadap Tuhan dimana kapan saja. Tetapi ketika kita menghadap hadiratNya. Dan mendengarkan FirmanNya, alangkah baiknya jika kita mempunyai sikap yang penuh hormat, konsentrasi, memperhatikan dan mempersiapkan diri. Mempersiapkan diri secara jasmani dan rohani baik juga. Kalau gw tahu nanti waktu dalam kebaktian mendengarkan kotbah gw bakal mengantuk maka gw siap-siap beli kopi dulu, minum sebelum berangkat. Mungkin tiap orang kagak sama. Bagi bukan peminum kopi mungkin ada cara persiapan laen yang dapat dilakukan. Tidur lebih panjang mungkin. Ini sebagai contoh saja.

Nah apakah kita akan menyiapkan diri jika presiden Amrik George W Bush memberikan undangan kepada kita untuk hadir di White House? Apakah kita akan menyambut hangat jika bapak presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengundang kita ke Istana Negara? Tentu kita akan menyiapkan diri sebaik mungkin. Kita akan memilih baju yang terbaik, mungkin. Merias diri supaya kagak keliatan kusut. Mandi susu. Dan laen sebagainya. Apakah kita bakalan menyiapkan diri dengan baik kalau Minggu ini Tuhan mengundang kita di rumahNya?

Read Full Post »