Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘tamak’

Tamak n Thanksgiving

Di Canada, tanggal 13 Oktober atau setiap hari Senin kedua di bulan Oktober, diadakan Thanksgiving Day alias hari pengucapan syukur. Thanksgiving day diadakan karena merupakan waktu pengucapan syukur atas panen dari pada para petani sebelum memasuki musim dingin. Kalau musim dingin dapat dipastikan tanaman pada ‘take a break’ alias kagak bisa bertumbuh. Maka panen terakhir sebelum musim dingin disyukuri bersama seluruh keluarga untuk makan bersama dengan hidangan ayam turki yang gede yang bisa memberi makan seluruh anggota keluarga.

Rasanya bukan kebetulan jika krisis moneter di Amrik Utara (dan di seluruh dunia) bertepatan dengan Thanskgiving Day. Bagi anak Tuhan yang bermain di bursa efek, dalam sikon seperti ini apakah mereka tetap dapat mengucap syukur kepada Tuhan? Pasti enggak mudah. Pas lagi kagak ada masalah sih ya no problem kalau ngomong “Puji Tuhan”. kalau masalah datang?

Seorang teman laen, masih bingung dan kuatir serta stres jadi satu, numpuk. Karena dia cukup besar mengucurkan uangnya untuk membeli saham. Entah sampai kapan sikon moneter ini akan kembali baik seperti semula. Rupanya dia tersungging setelah tahu gw menyinggung tentang ketamakan banyak orang yang hanya pengen kaya mendadak, ketika mereka ‘bermain’ dalam bursa efek. “Lho apa salah kalau orang mau investasi untuk masa depan mereka?” tanya temen gw. Orang kalau insvestasi untuk masa depan karena mereka ‘kuatir’ akan masa depan mereka. Maka mereka siap-siap. Mencari sesuatu untuk jaminan masa depan. Tetapi sayangnya tindakan mereka tidak sampai disana, tetapi kalau bisa mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya dalam lumbung mereka.

Keinget ilustrasi Tuhan tentang orang kaya yang tanahnya berlimpah-limpah hasilnya. Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku. Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan aku akan menyimpan di dalamnya segala gandum dan barang-barangku. Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah! Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah.

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Sebab hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian. Perhatikanlah burung-burung gagak yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mempunyai gudang atau lumbung, namun demikian diberi makan oleh Allah. Betapa jauhnya kamu melebihi burung-burung itu! Lukas12:16-24

Kuatir itu normal. Semua orang punya rasa kekuatiran. Kekuatiran yang berlebihan itu engga normal. Semua orang kagak ada yang bisa tahu pasti masa depannya. Investasi boleh-boleh aza. Engga ada yang melarang. Tetapi sayang sekali kalau investasi yang berlebihan itu hanya menjadikan kuatir. Invetasi yang berlebihan akan mengutamakan harta daripada Tuhan. Bukannya kita seringkali lebih kuatir kehilangan harta kita daripada kehilangan Tuhan (sebagai perbandingan aza). Karena hati kita seringkali sudah terikat sama harta. Kita merasa tidak bisa hidup tanpa harta kita.

Kita sering lebih kuatir akan kehilangan harta, ketidak tentuan masa depan daripada mengucap syukur atas hidup ini. Tuhan sudah memberikan janjinya, manusia itu lebih jauh sempurna dari ciptaan Tuhan yang laennya. Tuhan memperhatikan kita lebih, daripada ciptaan yang laen. Eh, kitanya masih aza kuatir. Kecuali kalau kitanya enggak percaya sama janji Tuhan tersebut. Harta yang terkumpul di dunia kagak bisa kita bawa mati. Jadi kalau Tuhan sudah menganugerahkan berkatnya dengan cukup. Maka cukuplah. Kecuali hati kita masih kosong. Karena jika Tuhan Yesus telah bertahta sebagai Raja dalam hati kita, niscaya hidup kita akan dicukupkan dan kita tidak perlu lagi mencari mengumpulkan harta di bumi.

Advertisements

Read Full Post »

Tamak

Percaya atau tidak, kata sifat yang satu ini cukup kuat sebagai ujian dalam kehidupan sehari-hari. Mungkin banyak orang Kristen berkata engga mungkin lah, masa gw bisa tamak serakah greedy, gw kalau sudah berkecukupan ya cukup lah, gw kan juga punya Tuhan Yesus, Dia yang akan menjaga gw supaya tidak serakah. Namanya daging, mana ada yang namanya cukup. Pasti pengen lebih.

Mungkin Iblis, mungkin hawa nafsu diri sendiri yang mencobai. Perlahan-lahan, tanpa kita sadari. Contoh seperti sikon di Amrik. Melihat harga-harga jual beli rumah naik membumbung, maka kata orang kalau kagak ikutan jual beli rumah itu mah bodoh. Atau kasus laen. Keluarga A telah memiliki rumah kecil dengan 2 kamar misalnya. Tapi hati ini kagak merasa puas. Pengen punya rumah yang kamar empat, tentu rumahnya lebih gede, harganya juga lebih mahal. Karena Bank (juga serakah) memberi kemudahan kredit. Maka keluarga A pun membeli rumah yang lebih gede, otomatis hutangnya juga tambah gede.

Dilaen kasus juga demikian. Karena kartu kreditnya sering di gesek (alias dipakai) maka Bank memberi kredit lebih banyak lagi. Mau enggak? Tentu mau donk. Dapat uang lebih banyak lagi untuk bisa belanja atau beli ini ityu dengan enggak kuatir uangnya terbatas. Bank ngeliat bahwa konsumennya antusias, maka bank memberi pilihan laen lagi. Karena keluarga A sedang mencicil rumah, dan harga rumah naik terus, maka bank memberikan kredit dengan jaminan rumah yang dicicil (dengan jumlah besar) alias credit on-line. Konsumen bisa beli mobil baru, laptop Apple baru, keliling dunia, memperbaiki dapur dan sebagainya. Tapi engga sadar kalau semua itu uang hutangan.

Karena banjir barang-barang made in China yang super murah meriah, maka tidak heran konsumen didorong makin untuk menikmati konsumerisme, hidup ini terasa lebih indah karena barang-barang kebutuhan atau yang mewah mudah dijangkau. Dan bank juga tidak mau kalah untuk berlomba menurunkan bunga bank supaya dapat menggelontorkan kredit murah. Banyak pula masyarakat yang kurang mampu tergiur dengan sikon tersebut, maka mereka pun mencoba menggapai keuntungan dengan membeli rumah/ apartemen yang sebenarnya tidak terjangkau, tetapi karena pembayaran dilakukan dengan mencicil, jadi tidak masalah. Dan ketika  bank menghadapi kredit macet. Maka proses sirkulasi itu pun menyambung dari rakyat kecil sampai konglomerat semuanya ketimpa masalah.

Kayaknya benar seperti yang dituliskan oleh Alkitab, janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Ibr13:5 Apakah kata cukup akan menjadi cukup bagi hidup kita? Seringkali kita merasa tidak cukup. Pengen lebih. Dan akhirnya keinginan lebih itu yang akan menguasai hidup kita. Bukankah kita yang harus menguasai keinginan itu?

Bukankah segala berkat materi yang kita “miliki” sekarang bukan usaha kita? Bukan milik kita? Bukan kehebatan kita? Kalau kita sadar semua itu hanya pemberian Tuhan. Yang harus kita pertanggung jawabkan. Yang kita terima dengan tujuan untuk memuliakan nama sang Pencipta kita. Kadang kita merasa, NO, ini milik gw, usaha gw, jerih payah gw, kehebatan gw. Tapi kalau kita jeli, kalau semua itu tidak Tuhan “berikan” pada kita, mana mampu kita menerimanya? Bagiamana kita dapat mendapatkannya? Semua itu hanya kemurahan Tuhan. Maka selayaknyalah kalau kita “kembalikan” untuk Tuhan. Kata laennya, semua apa yang kita punya selayaknya kita “kembalikan” untuk Tuhan. Bukan untuk kesenangan atau kepuasan diri kita sendiri.

Manusia berdosa tidak mungkin akan merasa cukup. Mungkin sampai meninggalkan dunia fana ini juga kagak cukup. Ingat akan ilustrasi Tuhan Yesus mengenai orang kaya yang masuk neraka (dan Lazarus duduk di pangkuan bapa Abraham), orang kaya tersebut masih pengen SMS kepada sanak keluarganya mengingatkan supaya mereka bertobat (tapi apa daya HP-nya keburu hangus kebakar, kali yach).

Manusia berdosa merasa cukup ketika dia bertemu dengan Kristus. Dia dipuaskan dari kedahagaan duniawi. Cukup, timbul dari penguasaan diri, pemikiran yang dewasa, menahan diri dan hanya memandang pada Yesus sebagai Tuhan pemilik atas hidup ini. Jika kita bisa berkata cukup, karena Allah yang telah memanggil kita untuk berdaulat atas hidup ini. Jika tidak, betapa kasihannya kita, hidup menahan-nahan diri untuk menjadi konsumeris, hedonist dan materialis. Pengen itu ditahan. Padahal air liurnya sudah berjatuhan menetes-netes.

Tetapi anak Tuhan yang sejati, tidak perlu untuk menahan-nahan menjadi tamak karena Roh Kudus yang akan membimbing hidup kita otomatis untuk lebih taat pada Firman Tuhan daripada kedagingan kita. Hidup Kristen adalah hidup yang berkemenangan atas dosa. Biarlah kita berjaga-jaga, karena Iblis itu seperti singa yang mengaum siap menerkam setiap waktu kita lengah.

Kasus kredit macet yang melanda seluruh dunia. Jatuhnya harga-harga saham dunia, jatuhnya harga minyak, perumahan; juga tidak lepas dari ketamakan manusia. Beberap teman yang sedang kebingungan karena membeli saham dalam jumlah tertentu cukup lumayan tetapi harganya makin meroket menurun dalam jangka waktu yang tak menentu untuk bisa kembali ke harga normal. Hari-harinya penuh dengan kekuatiran dan bingung karena duitnya bakal hilang. Mungkin juga doanya akan memohon pasar saham akan pulih kembali (supaya bisa melanjutkan keserakahannya?) Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, … (Lukas12:15)

Read Full Post »