Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘teman’

Dilema ini banyak sekali dialami oleh orang Kristen. Mungkin sekali, mungkin tidak. Beranikah kita mengorbankan persahabatan kita hanya perbedaan pandangan doktrin, ibadah bahkan keselamatan? Mungkin masih banyak orang Kristen yang harus “berkompromi” meski tidak 100% kompromi, tetapi mungkin 10-50%. Demi supaya kagak kehilangan persahabatan.

Ini sedihnya. Mungkin dalam pikiran kita mau untuk bersikap tegas akan ajaran, cara ibadah, bahkan jalan keselamatan. Tetapi bertentangan dengan cara pemikiran, konsep bahkan agama teman kita. Seringkali yang terjadi kita hanya bersifat pasif alias diem seribu satu bahasa. Karena kita “takut” kehilangan persahabatan kita.

Mungkin banyak dari kita bakal bertanya “seberapa jauh” kita boleh bergaul dengan teman-teman yang disekitar kita berada. Kalau saja teman kita berkata kasar atao berhumor porno tentu kita bisa menunjukkan jati diri kita. Bahwa anak Tuhan tidaklah sama gaya hidupnya dengan mereka. Hidup anak Tuhan telah diperbaharui, yang lama telah berlalu.

Seharusnya anak Tuhan yang telah diberi hidup baru oleh Kristus, tidak akan kuatir kehilangan persahabatannya dengan sahabatnya. Karena Kristus lebih dari segala sahabat yang ada di dunia ini. Karena Kristus yang berkuasa atas hidup ini. Dia mampu memberi sahabat yang tepat bagi kita.

Cuman mungkin yang menjadi masalah bukan takut kehilangan persahabatannya, tetapi bagaimana mengemukakan kebenaran itu kepada teman kita. Tentu kita kagak bisa asal “semprot” menegur atau “menghakimi” teman kita itu kagak bener. Sehingga kita tetap bisa bersahabat dan tetap memberitakan Injil serta menjadi teladan baginya.

Sayangnya dalam memberitakan Injil beberapa golongan “memaksakan” temannya untuk mau menerima injil yang diberitakan itu. Tentu hal ini sedikit banyak membuat benang merah bagi teman yang belum mengenal Kebeneran Kristus. Kita sebagai pengabar Injil bukan pemaksa atau mengubah seseorang yang tidak percaya menjadi percaya Yesus.

Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Mat5:14

Tidak ada orang yang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan tempayan atau menempatkannya di bawah tempat tidur, tetapi ia menempatkannya di atas kaki dian, supaya semua orang yang masuk ke dalam rumah dapat melihat cahayanya. (Luk8:16)

Perumpamaan ini sungguh menarik dan nyata. Karena kita adalah terang dunia, maka terang itu mau tidak mau akan menarik perhatian dunia yang gelap ini. Terang itu akan bersinar dalam kegelapan. Dan kegelapan akan membenci terang. Karena dalam kegelapan kalau ada terang maka bukan gelap lagi.

Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu. Yoh15:19

Itulah resiko yang Tuhan Yesus sudah katakan. Dunia akan membenci kita, karena kita bukanlah dari dunia. Teman, keluarga kita akan membenci kita karena kekristenan kita. Itu bukan hal yang baru. Teman-teman kita yang lain mungkin akan melakukan, menikmati hidup dalam dosa, tetapi kita sebagai anak Tuhan, sebagai ciptaan Baru, kita tidak mau hidup dalam dosa.

Pertanyaannya tentu, beranikah kita menunjukkan jati kekristenan kita kepada teman, keluarga, masyarakat, bahkan lingkungan kita? Resikonya, kita mungkin dikucilkan, dihina, hidup tidak tenang dan sebagainya. Jika kita mengaku sebagai anak Tuhan, maka kita tidak perlu ragu bahwa kita siap untuk dibenci, dibuang bahkan sakit hati. Tuhan kita Yesus Kristus sebagai contoh telah dibenci oleh dunia ini, masa anakNya tidak?

Advertisements

Read Full Post »

Yohanes

young-manMungkin kalian kagak tau siapa tuh Yohanes. Yang pasti bukan Yohanes muridnya Tuhan Yesus yang disebut dalam Alkitab. Yohanes yang atu ini, temen gw. Nama belakangnya engga gw sebutin biar kagak jadi rasanan. Well, gw tumbuh sama Yohanes, meski Yohanes mungkin 10 taon lebih muda dari gw. Kita ketemunya hanya di gereja. Maka itu waktu gw es em a, Yohanes kerasa masih kecil, belom ada sepinggang gw, tingginya. Anaknya ceria menyenangkan, suka ketawa, baek, menurut, suka menolong.

Setelah lulus es em a, gw kagak pernah ngeliat Yohanes lagi, karena kita udah beda benua. Tetapi setelah lima taon kemudian. Waktu gw pulang kampung. Ngeliat satu co kurus tinggi di gereja. Wajahnya kayak pernah ngeliat. Teman yang laen ngebilang, itu mah Yohanes. Astaganaga, Yohanes. Udah segede itu. (gw kagak mikir sich. ya iyah lah, namanya anak dikasih makan, ya tumbuh donk, jadi gede – normal kan?). Kayaknya dalam ati nich bangga dech ngeliat lima taon yang lalu kayaknya Yohanes itu masih kecil gitu. Eh sekarang udah jadi pemuda. Beberapa taon kemudian terdengar bahwa Yohanes menjadi guru sekolah minggu. Wach jempol. Iya enggak?

Waktu pun berlalu cepat. Kesibukan demi kesibukan melatih kita merasa biasa akan kehadiran seseorang dalam hidup ini. Sepuluh taon kemudian, gw harus meninggalkan ibu pertiwi. Di negara paman Obama, kontak dengan teman-teman segereja di tanah air cukup akrab. Sampai terdengar bahwa Yohanes menikah dengan pacarnya. Wow, kayaknya kalau direnungkan, hmm…. dulu Yohanes yang masih kecil, serasa waktu begitu cepat, kini dia sudah menikah.

Tahun 2005 ketika kita berjumpa lagi. Yohanes sudah menggendong momongan. Dua lagi. Yohanes bukan yang dulu yang masih kecil, tapi kini dia sudah menjadi seorang ayah. Waktu tak tertahankan. Semua begitu cepat rasanya. Begitu senang melihat Yohanes yang kini telah lengkap. Istri yang baik dan setia. Anak-anaknya yang lucu dan cantik. Inilah anugerah Tuhan. Tentu kita syukuri bukan? Gw belom bisa membayangkan nanti gimana kalau Yohanes udah jadi kakek? Itu hanya khayalan gw.

Medio Nopember 2008 gw menerima kabar. “Eh masih inget Yohanes nggak?” “Masih donk.” “Yohanes yang kurus-kurus tinggi itu loh.” “Iya gw masih inget. Emangnya kenapa?” “Dia….. meninggal dunia.” Apa??? Gw langsung terbungkam seribu bahasa. Pikiran gw langsung melamunkan diri Yohanes yang gw kenal. Pikiran gw kosong entah apa yang harus gw pikirkan mendengar berita begini.

Aih, itu kehendak Tuhan, gw menghibur diri. Kalau sudah waktunya, ya apa mau dikata. Perasaan gw campur baur. Entah sedih, entah hati ini berat, entah pikiran gw melanglang kemana. Gw juga enggak bahagia mendengar berita duka cita demikian. Tetapi gw yakin kalau Yohanes sudah menerima Tuhan Yesus sebagai juruselamatnya, Yohanes bakal bahagia, dia akan bersama Bapa di Surga.

Yohanes meninggal di perantauan. Ketika dia berjuang mencari pekerjaan. Jauh dari istri dan anak-anaknya. Yohanes mengalami kecelakaan. Cairan didalam otak gw kembali mengalir ke masa lalu. Menikmati masa-masa ketika gw bertemu dengan Yohanes.

Aih, aih…. hidup ini singkat atau apa? Mungkin kita masih bersungat sungut menerima hidup ini. Sedangkan masih banyak orang yang lebih menderita daripada kita. Kita masih enggak mau menggunakan waktu yang singkat ini dengan baik-baik. Kadang kita masih senang menunda-nunda bahkan (mungkin menolak) untuk menerima dan percaya kepada Tuhan Yesus. Kadang kita masih pengen seneng-seneng mulu dech. Peduli amir ama sekolah, study, gereja, keluarga. Pokoqnya gw enjoy myself.

Waktu berjalan terus, engga pernah bisa di puter kembali (emangnya kayak video nyang bisa di rewind, terus dimainin lage) atau kayak filem Time. No, kagak bisa bok. Waktu kan berjalan terus. Kehidupan menuju ke depan. Itu kita kagak bisa menyangkal. Ketika waktunya tiba. Kita belom siap. Kita belom percaya sebagai anak Tuhan sejati. Tujuannya hanya ada dua, yang di bawah atau yang di atas sana.

Dan tujuan itu kekal alias selamanya – bukan cuma satu dua jam, satu dua minggu, atau satu dua tahun. Enggak bok! Selamanya…..!!! Tujuan yang ke bawah adalah neraka sebagai orang buangan; orang yang mati; bangkai yang “dibuang ke dalam neraka, ke dalam api yang tak terpadamkan; (di tempat itu ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam.)” Markus 9:43-44. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

Read Full Post »

No Place For Truth

Lord Jesus, sungguh indah semua apa yang kita kerjakan untukMu hanya sesuai dengan jalanMu. Gw enggak layak. Siapa sich gw? Seminar No Place For Truth telah selesai, bukan saja meninggalkan bekas memori bagi gw tapi sekiranya dapat menjadi berkat dan dapat gw laksanakan dalam hidup gw. Penuh tantangan, tentu saja tidak mudah untuk menegakkan kebenaran dalam hidup yang telah bengkok ini.

Tuhan, gw berpikir how hunger we are about Thy Words. Kita sungguh engga bisa rindu mendengarkan Firman Tuhan jika Engkau tidak menganugerahkan FirmanMu pada kami. Kami manusia berdosa yang tidak bakal mencari kebenaranMu. Hidup kami masih amburadul. Tetapi hanya karena penebusan AnakMu yang Tunggal Tuhan Yesus kami dilayakkan. Kami disucikan dan diperbaharui setiap hari.

Ajar kami semakin hari semakin bersinar di dunia yang semakin gelap ini tanpa rasa takut diejek, dikucilkan, bahkan dihina hanya untuk kemuliaan namaMu. Komitmen-komitmen yang harus kami lakukan membaca FirmanMu 15 menit setiap hari, berdoa, melayani Engkau dan mengasihi sesama kami.

Mungkin kami masih emosi merasa ‘kehilangan’ teman, guru dan hamba Tuhan kami pak Tjipto yang tidak bersama dengan kami lagi, tetapi kiranya Firman yang telah kami dengar tidak sia-sia.

Read Full Post »