Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘Tuhan’

Hamtu

Kata ini terdenger di telinga gw dari tulisan sodara gw David Andreas di kolom buletin gerejanya. Apaan hamtu? Itu lho singkatan dari Hama Tuhan. Ya amplop, apa kagak ada singkatan laen kayak H T atau yang laennya dech. Hamtu, jangan salah nyebutinnya nanti jadi hantu. Wah dikit banget bedanya. Emang sich kayak kata teman, hamtu yang benar akan menjadikan rumah Tuhan tempat untuk mencari kebenaran. Hamtu bukan jadi hantu dalam gereja. Kamsudnya tauk sendiri dech.

Yang pasti hamtu itu hamba Tuhan, hambanya tuhan. Semua setuju kan? Kalau hamba manusia itu disingkat jadi hama. Tauk kan hama itu apa? Pengganggu hidup buat tanaman. Kalo dipikir bener juga yach. Kalau hamba manusia, bakal banyak masalah di gereja. Maka itu sekali hamtu harus tetap hamtu jangan coba-coba ganti profesi jadi hama atau hantu.

Tentu tulisan ini bukan untuk membahas khusu tentang hamtu, bakalan nanti terbit buku khusus tentang hamtu. Tetapi percaya atau enggak, hamtu itu pribadi khusus dalam gereja Tuhan. Seorang teman bilang, hamtu harus tau posisinya, mau jadi lawan atau kawan bagi jemaat. Wach, yang bener aza. Dipikir-pikir bener juga lho.

Hamtu, kan hamba Tuhan, ya pasti menurut apa kata tuannya donk. Namanya hamba Tuhan ya, apa kata Tuhan ya harus dilakukan. Apa yang mau disampaikan oleh Tuhan kepada manusia tentunya adalah kebenaran. Tuhan ingin menunjukkan mengingatkan manusia melalui hambaNya bahwa hidup mereka yang berdosa harus balik kembali kepada Kebenaran. Sebagai manusia berdosa siapa yang pengen deket sama kebenaran? Enggak ada lah yaow.

Maka kalau hamtu itu hamba Tuhan, hamba Kebenaran sebenarnya dia akan dibenci oleh banyak manusia termasuk jemaatnya. Karena Kebenaran itu menyakitkan. Manusia berdosa pasti benci akan kebenaran. Kalau hamtu hamba kebenaran maka dia adalah lawan manusia.

Tetapi bener apa enggak, banyak hamba kebenaran itu yang ‘berkawan’ dengan jemaatnya. Enggak berkawan ya dia bakalan di ‘kick out’ dari gereja setempat. Kagak ada pekerjaan. Kagak ada lowongan bagimu. Kalau kagak ada pekerjaan, gimana mo hidup donk. Maka kompromi dikit lah.

Malah ada hamtu yang kalau bisa “menyenangkan” jemaatnya. Bahkan menghibur. Kagak salah ada yang komentar wach hamtu itu lama-lama bisa jadi standing comedian pelawak solo (sendirian). Karena hamtu itu udah lucu dengan ilustrasinya atau ‘lawakannya’ bisa diterima lagi oleh para pendengarnya. Itu hamtu yang sukses. Para jemaat pengunjung kan udah capek-capek mo datang ke gereja, udah keluarin uang kagak sedikit dari bensin, uang tol, uang angkot, sampai dengan uang persembahan. Kalau sekarang hamtunya ‘menghibur’ lucu ya endak kenapa toh.

Masa jemaat, pengunjung udah jauh-jauh datang ke gereja mengorbankan waktu tenaga, sampai di gereja dimarah-marahin, dinasehati, disuruh bertobat, kagak bertobat masuk neraka loe. Jemaat mah tambah stress bok. Ke gereja, jemaat kan harus bisa ‘relieve’ melepaskan semua bebannya. Santai supaya bisa konsentrasi. Hamtu yang suka ‘marah-marah’ itu sih enggak ada roh kudusnya. Bisanya cuman menakut-nakuti jemaat.

Nah kalo kita disuruh milih. Mau nonton di teater 1, hamtunya sabar, santai, banyak ilustrasinya waktu berkotbah, tidak bertele-tele, straight forward. Teater 2, udah hamtunya suka ‘marah-marahin’ jemaat, ngatain jemaat kalo kagak bertobat masuk neraka, bicaranya membingungkan, kalau membuka halaman Alkitab saja sampai puluhan kali.

Teater satu itu hama. Teater dua hamtu. Yang menjelaskan, yang menyampaikan kebenaran Firman Tuhan kepada manusia. Dan yang jelas, teater dua pasti kosong melompong teater-nya. Teater satu box office, alias penuh dengan pengunjung. Dan ini imajinasi gw yang belom ada kali yach kalau satu gereja ada beberapa kebaktian bersamaan waktu (kayak bioskop). Teater 1, filmnya drama menguras air mata. Teater 2, komedi, dari pendetanya sampe jemaatnya bareng tertawa terpingkal-pingkal. Teater 3, petualangan seru mendebarkan. Teater 4, horor siap-siap untuk bulu kuduk berdiri. Teater 5, filem tipe sinderela happy ending ever after. Mau milih mana? Silahkan masuk menurut anda.

Kalo orang sekuler bilang itu namanya win-win situation. Sama-sama menang. Pendeta senang karena jemaat senang. Jemaat senang, pendeta bisa menyenangkan. Maka ada pepatah yang bilang, kalao pengen cari kebenaran jangan yang menyenangkan hati kita. Kebenaran akan menunjukkan dosa-dosa kita supaya kita bertobat. Itu bukan lagi menyenangkan, tapi menyenapkan (dari bahasa Jawa ‘senep’ – sakit perut).

Advertisements

Read Full Post »

Ada Apa Dengan Kebaikan?

helping-hand.jpgSiapa sich yang engga suka akan kebaikan? Kebaikan tidak merugikan orang lain. Kita semua (yang waras) pada umumnya dianjurkan untuk berbuat baik kan? Bahkan berbuat baik akan mendapat pahala. Terlebih Tuhan kita baik. Tapi apakah kita sendiri baik? Apakah kita benar-benar suka dengan kebaikan?

Jawabnya tentu saja tidak donk. Anda pasti engga setuju. Kita senderung senang atau suka berbuat baek atau berbuat jahat? Pada umumnya manusia kan lebih suka berbuat seuatu yang menguntungkan dirinya sehingga membuahkan kejahatan, atau dosa. Ngaku dech, kita kan lebih mudah melakukan suatu hal yang tidak baik daripada kebaikan itu sendiri. “Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata,” Kej6:5

Manusia pengen berbuat baik tetapi aku yang harus untung, harus senang, harus puas, harus nyaman, harus sehat dan sebagainya. Semuanya hanya untuk aku, diriku. Aku berbuat baik (hanya) untuk dipuji. Aku berbuat baik supaya dapat pekerjaan. Berbuat baik supaya dapat proyek bisnis. Berbuat baik supaya Juliet jadi pacarku. Berbuat baik supaya disembuhkan oleh Tuhan. Berbuat baik supaya masuk sorga. Nah lu!

Lalu apa bedanya dengan orang Kristen? Orang Kristen bisa berbuat baek, non Kristen juga bisa. Ngga ada bedanya donk? Orang Kristen memberi sumbangan kepada panti asuhan, non Kristen juga banyak yang memberi sumbangan malah mungkin lebih-lebih dari pada orang Kristen. Orang Kristen menolong orang miskin, non Kristen juga bisa. Orang Kristen mendoakan temannya yang sedang mencari pekerjaan, non Kristen juga engga masalah mendoakan teman mereka.

Seorang teman Kristen mengeluh, wah banyak lembaga yang mau menginjil tetapi harus diumpan dulu dengan memberi sumbangan berupa makanan pakaian kebutuhan sehari-hari. Orang laen juga bisa bok. Teman Kristen yang laen juga mengeluh (wah kayaknya banyak orang Kristen yang suka mengeluh yach), wah si A Ping, si A Boen, si A Tong, dulu minta didoakan supaya dapat kerjaan, dapat jodoh, dapat mobil. Sekarang sesudah terkabul permintaan mereka, mengucapkan terima kasih aja kagak.

Bedanya dimana donk? Alkitab mengajarkan, ada bedanya. Manusia pada umumnya berbuat kebaikan, hanya karena pamrih, ada maunya, supaya mendapat pahala atau hanya sekedar kasihan. Menurut Alkitab, perbedaan orang Kristen (yang sejati) berbuat baik hanya karena ingin memuliakan Tuhan, karena siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru. Dia bukan hanya memikirkan diri sendiri lagi tetapi dia lebih mengutamakan untuk kemuliaan Bapa.

Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah. 1Kor10:31. Jadi kalau si A Ping, si A Boen, si A Tong sesudah mendapatkan apa yang mereka minta, yang berdoa jangan mengeluh, malah harus puji Tuhan bahwa rencana Allah berjalan dalam hidup A Ping, A Boen dan A Tong. Karena kita berdoa kan kepada Tuhan. Maka berilah pujian bagiNya.

Tentu kita engga iri hatikan kalau melihat Tuhan memberkati orang laen. Karena Tuhan tidak sekedar melihat perbuatan kita tetapi melihat hati kita. “Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” 1Sam.16:7

Kebaikan itu akan terasa indah jika dilakukan dalam Tuhan. Kebaikan itu bukan hanya kosong, yang mungkin hanya sebagai tindakan umum biasa saja. Kebaikan akan menjadi rasa syukur kita pada Tuhan Yesus, Allah kita atas anugerahNya, atas kebaikanNya yang terlebih dahulu tercurah buat kita sehingga kita layak untuk hidup bersamaNya.

Kebaikan anak Tuhan adalah buah Roh (karena ia adalah ciptaan baru), kebaikan itu akan terpancar sendirinya tanpa harus disengaja atau dibuat-buat untuk dipertunjukkan kepada orang lain.

Read Full Post »