Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Kata Cerita’ Category

alkitabSuatu saat menjelang usai pekerjaan gw, gw diberitahu bahwa manajer gw pengen ketemu gw. Dengan tanpa prasangka ya gw menuju kantor manajer. Gw kira ada sesuatu yang mau dibicarakan mengenai pekerjaan. Ternyata enggak. Dia cuma nanya sambil menunjukkan sebuah kitab. “Ini punya elu?’ tanyanya. Ternyata kitab itu Alkitab. Bukan jawab gw. Kenapa gw tanya lebih lanjut. Dia cuma bilang karena Alkitab itu udah 2 hari nongkrong di depan meja penerima tamu.

Dia bilang, “Ya kita prihatin aja kalau ada seseorang yang sengaja meletakkan Alkitab itu disitu.” Gw tahu manajer gw bertanya begitu karena dia tahu gw orang Kristen. Asal tahu aja meski katanya Kanada itu “negara Kristen” tetapi kalau hal-hal berbau keagamaan di tempat kerja (tempat umum) itu menjadi sensitif dan tabu. Mungkin manajer gw tahu kali kalau orang Kristen itu suka memberitakan Injil. Suka memberi traktat atau Alkitab.

Karena Alkitab itu bukan punya gw, dia minta gw memberikan Alkitab itu ke bagian administrasi. Maka sambil membawa Alkitab itu kepada Denny bagian admin, gw berkata; “Den, ini gw ada sesuatu yang baek buat elo.”

Dia malah balik bertanya, “Kenapa elo bawa itu kitab ke gw?” Gw beritahu aja bahwa sang manajer pengen Alkitab itu diberikan kepadanya untuk diapain gw juga kurang tahu.

Gw cuman nyentil aja, “Den elo perlu baca tuh kitab.”

Eh si Denny malah menjawab, “Tengkyu, gw gak bakal baca tuh kitab. Karena gw tau gw bakal masuk neraka.” Jawab si Denny  dengan entengnya.

Gw gak mau kalah, “Gw pikir elo gak tahu apa itu neraka. Kalau elo tahu, elo bakal gak mau masuk kesono.” Si Denny cuma ngomong, “well gw enggak tertarik ama agama. Karna gw bukan orang yang beragama.”

“Eh tau enggak, kalo kita merasa susah hidup di dunia ini, apalagi di neraka bakal 100 kali enggak enak. Gw kira ini bukan hal beragama apa enggak lho, tapi gimana dengan hidup kita setelah di bumi ini.”

Eh dia malah ngebalik, “Kamu koq jadi serius? Gw kira kita cuma basa-basi aja.”

“Well mungkin kita basa-basi, tapi hal ini kenyataan lho.” jawab gw.

“Eh tau nggak, gw enggak tahu kalo neraka itu ada apa enggak, tapi gw nggak mau pusingin hal itu.” kata si Denny dengan nada mulai meninggi.

Gw tahu gw enggak mau percakapan kita itu nanti jadi pertengkaran. Karena gw mengawali percakapan itu tanpa kepikir bakal jadi serius. Maka gw hanya mengakhiri dengan, “Paling enggak elo mungkin bisa baca Alkitab ini.”

“Tahu enggak Alkitab ini bakal menuh-menuhin bak sampah gw.” Balasnya sengit.

“Den daripada dibuang kenapa kamu enggak berikan kepada orang yang membutuhkan membaca buku itu.” Dia hanya membalas, “Itu bukan urusan elo.”

Gw sih enggak heran ama jawaban teman sekerja gw itu. Sikap yang udah umum. Padahal banyak orang tuh ngakunya, “Iya gw percaya Tuhan tuh ada.” Tuhan yang gimana, modelnya apa; pasti mereka kagak bisa jelasin. Pokoknya gw percaya ada Tuhan, titik. Tentu tuhan yang dimaksud sesuai dengan pikirannya.

Bukan Tuhan yang menciptakan langit dan bumi ini. Tapi tuhan yang abstrak mungkin. Seringkali banyak orang pengen bukti Tuhan. Tapi dibuktikan dengan Kebenaran, mereka hanya akan menolak karena tidak sesuai dengan apa yang mereka harapkan. Mungkin juga, bagi mereka Tuhan yang ada itu dengan ‘bukti’. Manusia pada umumnya akan ‘percaya’ Tuhan itu ada karena mereka sukses, mereka mengalami mujizat, mereka melihat (terbukti) sesuai dengan logika mereka.

Maka sebagai orang percaya, adalah tugas kita untuk memberitakan kabar baik, kabar yang benar supaya banyak orang mengenal siapa Tuhan Yesus. Tentu hal itu tidak mudah. Keinget seorang teman yang bercerita bahwa dia mempunyai seorang teman yang udah divonis ama dokter karena kanker, hidupnya gak lebih dari 2 bulan. Begitu pun orang tersebut marah ketika sang teman memberitakan kabar baik.

Tugas orang percaya masih banyak dan panjang, meski tidak sedikit orang yang berlabel Kristen tidak pernah mengabarkan Injil dengan berbagai alasan (yang masuk akal). Tetapi sebagai orang Kristen yang sejati mau enggak mau dia pasti gak tahan untuk tidak memebritakan kabar baik kepada orang laen. Bukan dipaksa-paksa, bukan ikut-ikutan, tapi otomatis. Menjadi bagian gaya hidupnya.

Tentu hal itu bukan karena kehebatan kita, kemauan kita atau usaha kita; tetapi karena Kasih Karunia Tuhan yang telah mengisi hidup kita, sehingga Roh Kudus memimpin hidup kita untuk memberitakan Kabar Baik itu. Mungkin gw bukan pengabar Injil yang baek, tetapi senantiasa belajar untuk mengarah kesana. Kesaksian hidup tanpa Pengabaran Injil adalah OK (Omong Kosong).

Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis: “Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!” (Rm 10:14,15)

Advertisements

Read Full Post »

Marwan

Ellen hanya berdiri termangu melihat tubuh Marwan yang kaku terbujur yang tiga perempat tubuhnya tertutup oleh kain putih. Hanya kelihatan kepalanya saja. Ellen hanya ingin melihat wajah Marwan terakhir kali sebelum wajah itu akan ditutup dengan kain putih. Ellen hanya membersihkan ingus dari hidungnya. Tak ada airmata lagi yang keluar dari matanya. Kemarin seharian dia sudah menangis tak henti-hentinya. Penyesalan demi penyesalan seakan diiringi oleh tangisan Ellen, penyesalan yang seakan tak ada artinya lagi.

Ellen menyesal bahwa dia merasa masih banyak yang harus dia lakukan untuk Marwan. Seperti janji pada dirinya sendiri enam tahun yang lalu. Dia pun hanya bisa termangu mendengar bahwa Marwan yang masih berusia enam tahun itu mengidap gejala skizofrenia. Ellen tak mampu lagi berpikir pada waktu itu. Setelah kematian Marto suaminya setahun sebelumnya, Ellen hanya bisa berserah pada tantangan hidup. Meski dia tahu dia hanya harus berserah kepada Tuhan. Tetapi kepergian Marto menjadikan impiannya melayang hilang.

Sebagai ibu rumah tangga, Ellen sudah tidak pernah bekerja lagi setelah kelahiran Marwan. Dengan pekerjaannya yang sukses Marto yang mencukupi segala kebutuhan rumah tangga. Dan berita kematian Marto membuat Ellen hanya bisa menyesali impiannya yang hilang begitu saja. Tetapi Tuhan masih baik, pastor Jon dari gereja lokal dan saudara seiman yang lainnya sangat membantu banyak Ellen dalam menghadapi masa depannya yang tak menentu itu.

Dengan kerja keras, Ellen dapat membuktikan dirinya bahwa dia mampu untuk hidup sebagai single mother, menghidupi Marwan, bekerja sekaligus dia harus bersekolah pada malam harinya. Ellen merasa Tuhan begitu baik memperhatikan dirinya. Setahun setelah Ellen dapat bekerja dengan kedudukan yang lumayan, dia berjanji ingin membahagiakan Marwan, meski tanpa seorang suami atau seorang ayah.

Tapi setelah itu Ellen kembali dikagetkan oleh berita yang tak pernah terpikirkan olehnya. Marwan menderita skizofrenia. Ellen tahu bahwa dia tidak boleh menyerah begitu saja. Meski dia sempat kaget tetapi hal itu membuatnya tertantang untuk dapat memelihara, membahagiakan sekaligus menyembuhkan penyakit Marwan tersebut.

Meski Ellen sempat tidak terima dengan kenyataan hidup ini. Mengapa setelah dia ditinggal oleh Marto, kini dia dibebani untuk dapat menjaga dan menyembuhkan penyakit Marwan? Rasanya tidak adil. Ellen sempat marah kepada Tuhan. Meski dia tahu tak ada gunanya marah dalam situasi seperti itu. Karena itu adalah kenyataan hidup. Dia harus menghadapi dan dapat menjadi pemenang.

Kadang Ellen hanya mendengarkan sambil lalu saja kotbah pastor Jon. Karena kadang dia merasa kotbah itu tidak realita. Kotbah itu hanya untuk orang lain. Bukan untuk dia. Kini dia bersama Marwan akan menghadapi hidup ini. Dan Ellen yakin mereka akan menjadi sebagai pemenang.

“Halo sayang.” ucap Ellen ketika mendengar suara Marwan di Blackberry-nya.

“Mama kapan pulang? Aku engga suka sendirian?” balas Marwan.

“Lho Marwan kan sama oma Elli?”

“Engga. Marwan suka sama Mama. Kapan Mama pulang?” rengek Marwan.

“Lho kan Mama udah janji nanti Mama pulang jam enam lalu Mama beli martabak Bali kesukaan Marwan.” kata Ellen sambil menanda tangani berkas yang ada di atas meja kantornya.

“Engga. Marwan engga mau martabak Bali. Marwan mau sama Mama. Sekarang juga.”

“Sayang, Mama sekarang lagi bekerja. Engga bisa pulang.” Terdengar suara tangisan Marwan yang keras di seberang telepon.

“Marwan. Marwan…… sayang…… berhenti menangis. Baik. Baik. Mama akan pulang setengah jam lagi. Oke?” Aneh tapi nyata tangisan Marwan pun berhenti ketika mendengar Ellen hendak pulang.

“Bu Ellen, jangan lupa pak Sumantri akan bertemu dengan ibu jam tiga tigapuluh.” ingat Inge sekretaris Ellen. Oh no. Keluh Ellen dalam hatinya. Dia baru ingat bahwa ada rapat penting hari itu. Dengan berat hati dia harus membatalkan janjinya dengan Marwan. Ellen pun segera menelpon ibunya Elli untuk mengurus Marwan.

Malam harinya. Tak disangka-sangka, “Mama bohong…….!!!!” teriak Marwan dari tempat tidurnya. Ellen mengira Marwan sudah tidur. Dengan cepat Ellen menghampiri Marwan dan memeluknya.

“Marwan, Mama engga bohong. Tapi Mama engga bisa pulang segera waktu itu. Mama janji lain kali Mama akan langsung pulang, kalau Marwan pengen sama Mama.” Ellen pun menciumi gadis kecilnya itu. Marwan hanya menangis.

“I love you Mama.” Ellen memeluknya lebih erat lagi. “Ma, Marwan mau Mama katakan I love you too.”

Ellen tersentak karena dia tidak ingat untuk mengatakan kalimat itu kepada anaknya. “I love you too Marwan.”

“Ma, suatu ketika Marwan pengen sekali bisa terbang….. kayak burung di udara. Kayak kapal terbang di langit yang biru.” Ellen masih memeluk Marwan. Dia pun menangis. Marwan buah hatinya. Gadis kecil yang lucu dan cantik. Yang tak disangkanya mengidap penyakit skizofrenia. Tetapi Ellen tidak peduli dengan lingkungannya yang menganggap Marwan gadis kecil yang aneh, yang berotak miring, yang suka kasar, yang suka mimpi di tengah siang bolong; Marwan tetap anak kesayangannya.

Eleln tahu, dai harus sabar dan perhatian dalam memelihara Marwan. Dia tahu bahwa hal itu tidak mudah. Beberapa kali Ellen harus bersitegang dengan tetangga kiri dan kanannya. Sekali Marwan pernah memecahkan jendela rumah tetangganya. Marwan menyangka ada burung yang bertengger di jendela tetangganya. Tetapi itu hanya bayangannya saja. Ellen tidak kurang berkonsultasi ke dokter-dokter spesialis yang ada. Tetapi semua hanya menyarankan untuk tetap rawat jalan.

Ellen hanya bisa bersyukur karena dia masih mempunyai orang tua yang mau ikut menjaga Marwan. Karena dia sendiri harus bekerja. Tidak henti-hentinya Elli, mamanya mengingatkan untuk ke gereja, bersama dengan Marwan. Tapi buat apa? Ke gereja, Marwan hanya jadi bahan tontonan. Hatinya menjadi panas melihat kenyataan itu. Bukankah lebih baik di rumah saja? Apa pun yang dilakukan di gereja bisa dialkukan di rumah. Dia bisa berdoa di rumah. Mendengarkan kotbah. Memuji. Mengapa harus ke gereja?

Meski Ellen juga menyadari bahwa dirinya akhir-akhir ini tidak seperti dulu lagi yang rajin berdoa atau membaca Firman Tuhan. Tapi well, yang penting sekarang cari duit untuk biaya pengobatan Marwan, dan Ellen bisa merawat Marwan dengan baik. Itu sudah cukup baginya. Ellen hanya ingin membahagiakan diri Marwan. Dia berencana akan mengajak Marwan ke Bali dengan naik pesawat terbang. Seperti yang Marwan sering impikan bahwa dia ingin terbang.

Rencana pergi ke Bali sudah matang. Mereka bertiga pasti akan menikmati liburan kali itu. Sudah enam tahun semua berjalan baik sesuai rencana Ellen, semenjak Marwan mengidap skizofrenia. Ellen menyadari mungkin Marwan belum tentu bisa sembuh dari penyakitnya tetapi dia akan berusaha sebaik mungkin untuk membawa ke dokter spesialis. Ellen ingin memberikan yang terbaik bagi Marwan.

Hari itu Ellen membawa pulang tiga tiket pesawat terbang. Dia ingin menunjukkan kepada Marwan tiket pesawat terbang yang akan membawa mereka terbang di langit yang biru. Hari itu pula tak disangkanya, Ellen mendapat telpon dari pihak rumah sakit. Marwan jatuh dari lantai tiga di rumah mereka. Saat itu pula Ellen menuju rumah sakit. Tetapi semua telah terlambat. Marwan jatuh tepat pada kepalanya dan mengoyak lehernya. Ellen tidak bisa menerima akan hal itu. Ellen menangis histeris melampiaskan emosinya.

Inikah yang diterimanya? Setelah duabelas tahun dia memelihara Marwan dengan kerja keras. Ellen berusaha mati-matian untuk dapat menyembuhkan Marwan. Seakan semua hidupnya dicurahkan untuk Marwan. Dan kini….. Marwan pun pergi meninggalkannya. Ellen menengadakan wajahnya ke arah langit. Pertama, Kau rengut Marto. Sekarang pun Kau ambil Marwan dariku. Ellen seakan bertanya kepada Tuhan.

Ellen melamun di kamar tidur Marwan. Dia hanya memandang kosong ke arah gambar tangan dari seorang gadis kecil yang terbang di samping awan-awan. Marwan jatuh dari lantai tingkat tiga, dia menyangka dia dapat terbang. Ellen meremas ketiga tiket pesawat terbang yang telah dibelinya. Sekitarnya terasa hampa, kosong. Dia juga tak tahu harus bagaimana berpikir. Dia tak mengerti.

sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku; di mana engkau mati, akupun mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan. Beginilah kiranya TUHAN menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jikalau sesuatu apapun memisahkan aku dari engkau, selain dari pada maut! (Ruth)

Read Full Post »

Valentine Koki

14Peringatan: Hati-hati tulisan dibawah ini mengandung cerita, tolong siapkan mental yang sehat, pikiran panjang, dan bagi akal yang kurang sehat lebih baik lewatin tulisan ini.

Menurut sejarah hari Valentine #$%*&^?>……….wack….. sejarah lagi bosan bok. Dubraak…. Kiki membuang tuh buku tentang Valentine. Dia ngeliat jam dinding di tangannya (jam tangan model jam dinding, begitu maksudnya). Dengan agak malas Kiki membangunkan tubuh lansingnya. Dia sudah ganti baju. Tapi masih kurang puas. Dipelototin sekali lagi dirinya di depan kaca. Ada yang kurang engga ya? Lho koq tanya lagi? Emangnya tadi belom nanya? Kalo sang kaca bisa ngomong mah dia udah komplain dari tadi-tadi. Elo lagi elo lagi. Udah berapa kali elo nampang didepan gw ah hari ini?

Diperiksanya sekali lage akan keadaan dirinya. Kayaknya Kiki udah pada siap buat pergi. Meski dia belom puas 100%. Pengennya bentar lagi deh ngaca sekali lagi. Tapi jam dinding ini koq cepet amir seh muternya. Terpaksa dengan berat hari Kiki memberi kiss bye kepada sang kaca. Thanks kaca. Hari ini elo bener-bener nolong gw banget dech.

Kiki ada janji ama pacarnya, Koko. Singkat cerita…….srsrsrtttt……….. mereka berdua duduk dibawah pohon tomat. Kiki mustinya mo protes. Dia udah dandan lebih dari 2 x 60 menit, eehh… si Koko ngajak kencan di taman. Di bawah pohon tomat lagi. Dasar co ah. Engga perasaan. Emangnya engga liat tuh dandanan gw udah super seronok begini. Bukannya dibawa ke mal keq atau ke cafe keq. Eehhh….. malah belok ke taman.

“Ko.” panggil Kiki manza.

“Ya, Ki.

“Lho koq jawabnya begitu?” tanya balik si Kiki.

“Lho abis?” tanya balik si Koko. Kayak maen ping pong aza.

“Iya maza jawabnya Ki, entar dikira lagi manggil aki-aki (kakek-kakek).” jawab Kiki dengan cemberut buta.

“Abis gimana donk.” jawab Kokok cuwek sambil memainkan batang rumput ke mulutnya.

“Panggil gw Say, gitu donk.”

“Wah? Emangnya kita lagi maen sandiwara?”

Kiki cemberut abis deh. “Udah, udah deh, jangan cemberut gitu ah, entar jadi sampai cembetut makin gawat tuh wajah.” bujuk si Koko sambil memeras tomat.

“Ko.” panggil si Kiki kembali.

“Ya Ki, I mean…. ya Say.” ralat Koko dengan sadar.

“Kamu tau engga, minggu depan itu ada hari apa?” tanya Kiki lembut.

“Engga tau Say. Maaf, gw bukan astrolog. Jadi gw engga bisa ngeramal” jawab Koko sekenanya tanpa konsentrasi.

Kiki jadi juengkel dengan jawaban Koko yang sekenanya. Dimakan tuh tomat mentah-mentah bersama sayurannya…… maksudnya bersama dedaunannya. Wueek….. rasanya ga enak. Maka elo-elo jangan berani nyoba-nyoba. Kiki ampir mo muntah-muntah.

Kiki mengeluarkan kalender sambil memperlihatkan kepada Koko. “Hari ini tanggal berapa?” tanya Kiki.

“Tanggal 7 Say. Wah hari ini kan hari tahun baru imlek. Selamat tahun baru Cina ya Say.” “Sorry Say, lupa bawa ang-pao-nya.” kata Koko sambil nyengir malu. Kiki wajahnya udah merah padam kayak kepiting rebus bukan karena kebanyakan makan tomat, tetapi pengennya dia meledak saat itu juga. Tensinya udah makin panas. Jadi tomat godok, donk.

“Minggu depan ada hari istimewa apa Ko?” tanya Kiki dengan menggigit bibirnya menahan angkara murkanya. Sekali lagi jawaban Koko salah, abis dah. Maksudnya tomatnya pasti diabisin sama Kiki, Koko kagak bakal kebagian.

“Ooooo (panjang) hari Valentin……” Wajah Kiki seperti bersinar bak mentari pagi yang memancarkan cahaya petromaxnya. Wajah Kokok terasa hangat kena semburan wajah Kiki. Wuuzz…. wuuzz….. Koko sampai terpesona dan ga bisa ngomong apa-apa.

Wajah Kiki makin bersinar melebihi sinar petromaks-nya pak Ujang tetangga sebelah, setelah mendengar, minggu depan pas hari Valentin, Koko pengen mengajak Kiki untuk kencan.

“Ko, kau baik sekale. Boleh aku bilang sesuatu, Ko?” tanya Kiki dengan bahasa Indonesia yang disempurnakan.

“Ada apa Say? Bilang aza koq formal banget sih.” sahut Koko.

“Kamu enggak marah kan kalau aku katakan padamu?” Koko termenung sejenak, lho ini emangnya ada apa, koq pake acara marah segala. Apa begitu penting sampe Kiki pake kuda-kuda segala.

“Bilang aza. Aku enggak marah koq.” paling-paling cuma gw jitak elo pake tomat. Yang terakhir ini enggak mungkin dikatakan Koko, cuma di pikirannya aza dia ngomong begitu, berani bilang begitu, dipecat dech jabatan Koko sebagai pacar Kiki.

“Bener nich?” sekali lagi Kiki meng-konfrimasi. Koko mengangguk dengan seyakwin-yakwinnya (gw jadi inget sama tokoh Srimulat – Asmuni).

Lalu Kiki mendekati Koko. Lho? Koko juga heran apa Kiki mo beri sun sayang sama dirinya? Gitu aza koq pakai nanya segala. Langsung aja juga enggak ada yang marah koq, begitu pikiran Koko nyeleneh. Tapi Kiki enggak mendekat ke arah bibir Koko, melainkan ke telinga Koko. Kiki membisikkan sesuatu. Koko hanya terdiam. Kiki merasa kuatir juga melihat reaksi Koko. Tapi Koko tersenyum juga akhirnya. Lega dech rasa hati Kiki. Senyuman Koko menandakan Koko mengerti apa yang dibisikkan oleh Kiki.

Mo tau apa yang dibisikkan oleh Kiki kepada Koko? (Iiih mo tau aza he..he..he…) Kiki berbisik begini, “Untuk Valentine tahun ini aku pengen cincin berlian bertiara tiga.” Dubraaaakk…. mungkin begitu bunyi Koko ambruk kena serangan jantung. Tapi untung ceritanya engga begitu dink. Untung Koko nggak lagi berdiri. Koko berposisi duduk jadi dia aman-aman aza. Cuma dia pasti kaget donk. Tapi akhirnya Koko cuma tersenyum. Semoga bukan tersenyum lemas.

Seminggu kemudian seperti yang dijanjikan Koko mengajak kencan pada hari Valentine. Kali ini enggak di mal, atau di cafe, apalagi di resto yang mahal atau di hotel bintang tujuh setengah. Koko cuma mengajak Kiki bertamasya di kebun apel. Nah lu.

Kiki pasti keki donk. Abis dah modal dandanannya. Buyar udah mimpi indahnya. Diganti dengan mimpi buruk apel dan seram lagi. Semoga tidak semakin memburuk aja. Ya udah, Kiki terpaksa menerima keadaan itu. Meski dalam hati dia berharap Koko tidak lupa dengan permintaannya.

Setelah asyuk masyuk dengan acara Valentine. Cerita dan sejarah Valentine, siapa Valentine itu, mengapa harus ada Valentine (lho ini emangnya seminar Valentine?). Kiki menguap bosan (ini salah satu jenis penguapan, katanya ada beberapa macam menguap).

“Koko, sayang……” Kiki masih menguap juga, tapi untung Koko mendengar desah manja Kiki dengan jelas.

“Ya Kiki sayang….”

“Koko enggak lupa kan sama pesanan Kiki?” tanya Kiki hartamas (harap-harap tapi cemas).

“Oh pasti enggak donk. Ini BicMac pesanan lo, ama fren frais-nya super jumbo. Orens jus setengah matang. Terus ini juga gw bawain ciken naget sama cocolan kesukaan elo, sambel trasi ala mbok Ina tetangga bi Ipa pemban…………… @$#%^&”

“Kooookooooo……….!!!!!” Gleeggerrr. #$*@&?! Lhoo, swara apaan tuh? Koko pada celingukan kesana kemari mencari sumber swara. Siapa yang memanggil dia? Koko melihat sekelilingnya. Ya ammpuuun, Koko tertegun, dia melihat dua sinar mata yang lebih ganas dari mata harimau yang sedang terluka jempolnya kena pecahan kaca. Sampai merinding buku kuduk Koko. Dia baru menyadari bahwa sumber swara yang menggelegar itu keluar dari mulut mungil Kiki.

Tiba-tiba….. Kiki menangis. Menangis beneran dengan senggugukkan. Koko dengan gerakan yang tangkas, ringkas, pangkas cepat mencari tisu. Nah dapat….. dari kantong makanan cepat saji McDonal. Wuach kebetulan Koko tadi waktu mampir ke McDonal ngambil segepok tisu. Diberikannya tisu itu kepada Kiki. Edalah….. koq Kikinya ya tega banget menampik pemberian Koko. Malah Kiki mengambil tisu pribadinya dengan merek Victoria Kesrimpet. Dan lalu menghapus air matanya yang berlinang-linang di mata Kiki.

“Kiki sayang…… kenapa yang?” tanya Koko tak mengerti mengapa tiba-tiba ce nya itu menangis di kebun apel sampe orang-orang di sekitar melotot dan berkomentar, “Wah, lagi latihan drama masa sampe dibawa ke kebun apel segala toh?” “Waduh, yang ce bener-bener menjiwai yach.” “Wah, lagi latihan drama toh, eh kiranya lagi tengkar. Yaahhh (kuciwa dech).”

Kiki hanya diam seribu bahasa (entah bahasa apa saja sampai berjumlah seribu). Kiki menutup mengunci rapat-rapat bibirnya. Kiki diam. Koko ikut diam. Kiki berpangku tangan. Koko berpangku kaki. Semut-semut yang dari tadi sudah terlindas tubuhnya waktu Kiki dan Kokok duduk di rerumputan itu, pada mengeluh. “Wah kalau begini caranya kapan mereka mau pulang neh? Kita kan perlu cari makan. Macet neh gara-gara Adam dan Hawa.”

Dengan mengindap-indap Koko menggeser duduknya satu centimeter ke arah Kiki. Kepala Koko berputar-putar penuh dengan pertanyaan. Kenapa Kiki yach? Mengapa Kiki mengangis segala? Aduh, gw lupa membawa lap top gw, kalau enggak, gw bisa buka tuh Gugel, gw ketik mengapa Kiki menangis? Tapi ya udahlah enggak bawa lap top.

Kiki kini hanya termenung diam. Entah pikirannya sedang melayang ke antah berantah. Diambilnya tisu yang diberikan oleh Koko. Tetapi setelah itu Kiki malah membuka tas kecil Adidasnya dan mengeluarkan sebuah pen. Kiki mulai menulis di tisu pemberian Koko tadi. Koko cuma heran saja. Apa gerangan yang terjadi? Lanjutannya Valentin taon depan klo lage mood.

Read Full Post »

Graduation

Bagi yang pernah graduate atawa lulus dari suatu institusi (tentu bukan institusi orgil) pasti pernah merasakan betapa tegang dan excitednya ketika menghadapi kelulusan dari waktu selesai belajar di institusi tersebut. Mungkin ada kelegaan. Mungkin ada sorak kemenangan. Mungkin ada kekuatiran (setelah ini kerja dimana). Mungkin ada kekuatiran laen (setelah ini mau sekolah apalagi yach).

Kelulusan mungkin ibarat kayak kemenangan seorang prajurit yang memenangkan perang, ibarat pemain Indo memenangkan piala Thomas dan Uber sekaligus, ibarat pemain tenis Indo memenangkan piala Wimbledon, ibarat kesebelasan Indo ikut Euro 2008 dan menang (lho kan ibarat namanya). Pertandingan itu ibarat kayak ujian.

Tentu graduation bukan waktunya selesai untuk belajar. Tetapi hanya satu titik dimana kita mulai melangkah pada lembaran yang baru. Enggak salah kalau waktu Sabtu yang lalu gw menghadiri graduation dari seorang teman baek. Banyak kelihatan bapak ibu yang dengan anaknya ikut graduation. Maksudnya mereka lulus belajar pada saat itu. Usia mereka tentu enggak muda lagi. Minimal kepala tiga. Empat. Lima.

Enggak salah kalau pepatah mengatakan belajar itu kagak kenal waktu. Belajar terus. Sampai kapan. Sampai kita ketemu Tuhan Yesus kali yach. Tapi enggak salahnya kan belajar terus. Cuman kitanya aza yang males. Iya nggak? Graduation menandakan suatu kelulusan ujian. Seseorang yang telah graduate telah lulus dari ujian. Dalam ujian tersebut tidak sedikit air mata, doa, tekanan bahkan sampai pada kebimbangan.

Sebagai orang Kristen yang ‘dewasa’ (bukan usianya yang dewasa kamsudnya) pasti tahu bahwa dalam ujian ada “kesulitan, masalah bahkan kesengsaraan”. Tetapi dalam kesulitan, masalah dan kesengsaraan itu, kita tahu ada pengharapan. Pengharapan itu nyata buka sekedar angan-angan doank. Kita tau pasti ada pengharapan di depan kita itu meski kita tidak tau gimana wujudnya. Itu namanya iman yang diberikan Allah kepada kita. Conoth yang paling nge-top itu adalah Bang Ayub.

Ujian Bang Ayub enggak tanggung-tanggung. Dari keluarga, kekayaannya abis, dapet penyakit, bahkan bininya malah menghina si Abang, sampai-sampai Allah mengijinkan Iblis mencobai Bang Ayub. Dan hasilnya, Bang Ayub tetep mantep mengasihi Allahnya dengan tulus. Roma 5:3 mengatakan, kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.

Sebagai anak-anak Tuhan yeng telah menerima kasih karuniaNya kita sadar bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Rm8:28. Ibarat ketika seseorang mahasiswa menghadapi ujian, jika dia dapat melewati ujian tersebut, dia dinyatakan lulus. Bukan saja karena dia dapat melewati ujian, tetapi yang terpenting dia sudah dapat menyerap semua pengetahuan yang dipelajarinya dan dapat melakukan pekerjaan pada bidangnya.

Ujian itu kelihatannya menyusahkan. Harus belajar keras. Tetapi bukan asal belajar saja supaya dapat lewat ujian tersebut. Graduation hanya suatu simbol bahwa seseorang layak atau mampu untuk bekerja pada bidangnya tersebut. Graduationnya memang bukan jaminan bahwa seseorang yang sudah lulus akan mendapat pekerjaan yang layak dan baik. Banyak mahasiswa yang telah lulus tapi tidak mempunyai kemampuan sesuai dengan bidangnya.

Tetapi ujian Tuhan rasanya beda yach. Karena yang dialami oleh seseorang paling tidak akan menambah dewasa dalam kerohaniannya atau dalam wawasannya. Meski tidak sedikit pula yang telah mengalami ujian dari Tuhan, hidupnya masih tetap saja tidak ada perubahan. Karena dalam Roma 5 dikatakan bahwa kesengsaraan yang kita alami akan menimbulkan ketekunan, ketekunan akan membuat kita tahan uji, dan tahan uji akan menimbulkan pengharapan.

Jika tidak ada ujian, maka tidak ada graduation. Karena bagi anak Tuhan yang takut dan taat pada FirmanNya, Roh Kudus akan membimbing kita melewati lembah kekelaman dengan penuh kemenangan.

Read Full Post »

Biji Sesawi

Keadaan yang Buruk di dalam Penjara Ruth duduk di atas lantai yang kotor. Perasaannya dipenuhi keinginan untuk memberontak karena bau busuk yang begitu menyengat dan meliputi udara di dalam sel. Ruth tidak bisa mengingat bau benda apa yang lebih busuk dari bau ruangan ini.

Di dalam sel ini tidak ada toilet, bahkan tidak ada satu lubang kecil untuk pembuangan kotoran. Sedikitpun tidak tersedia air di tempat itu. Di Cina, khususnya selama masa kebrutalan revolusi kebudayaan, para tahanan benar-benar tidak diperhatikan.

Ruth bisa merasakan binatang-binatang kecil merayapi tubuhnya seperti laba-laba, kecoa, dan tikus. Nyamuk-nyamuk yang haus akan darah berdesingan di mana-mana. Kegelapan meliputi tempat itu. Begitu gelapnya sampai Ruth tidak bisa melihat orang-orang yang ada di sekelilingnya. Pikirannya sedang melamunkan tiga orang anaknya, Daniel, 10, Joseph, 8, Mary, 5, yang ditinggal sendirian di rumah. Ruth bersama dengan suaminya, Michael, telah ditawan dan dimasukkan ke dalam sel tahanan.

Tragedi yang Mengenaskan

Dalam kegelapan itu, tiba-tiba ada suara seorang teman yang bertanya, “Apakah kamu punya anak?” Mendengar pertanyaan yang seakan-akan mengerti pikiran dan perasaannya, Ruth menjawab, “Ya, ada tiga orang,” jawabnya.

“Sebenarnya saya telah melahirkan empat orang anak, namun seorang diantaranya telah mati,” lanjutnya. “Apa yang telah terjadi?” Ruth tidak bisa menjawab. Untuk sesaat air matanya mengalir membasahi pipinya. “Tuhan, tolonglah aku untuk mempermuliakan Engkau dalam segala sesuatu,” dia berdoa.

Akhirnya, dia mulai menceritakan kisah tragis yang menimpa anaknya ini. Dengan suara pilu dia berkata, “Peter,” Ruth menyebut nama anaknya ini. “Tiga tahun yang lalu, ketika dia berumur 11 tahun, rumah kami digeledah dan didatangi oleh Tentara Merah (Red Guards). Ada beratus-ratus orang yang datang dan memeriksa tempat kami. Mereka telah mengetahui bahwa saya dan suami saya adalah seorang pemimpin dari banyak ‘gereja rumah’ di daerah itu.

Mereka menendang roboh pintu rumah kami, mengikat suami saya dan menggunduli kepala kami berdua. Mereka menodongkan senjata di atas kepala kami dan berteriak: “Di mana Alkitabmu? Di mana rekan-rekan yang bersamamu? Di mana kamu melakukan pertemuan?”

“Karena kami menolak untuk menjawab, mereka mulai menghancurkan perabot-perabot rumah kami dan seisi rumah kami diporak-porandakan. Untuk tiga hari tiga malam kami tidak diijinkan makan, minum atau tidur. Mereka melihat empat orang anak kami dan mereka membariskan mereka di atas bangku. Ketika anak kami kelelahan, mereka memukuli mereka dan memerintahkan untuk terus berdiri di atas bangku.

Karena saya dan suami saya tidak mau menjawab saat ditanyai, maka tentara Red Guard’s mulai menginterogasi anak-anak kami. Tetapi anak-anak kami juga menolak untuk bekerja sama. Mereka mengetahui bahwa hidup atau mati, mereka harus mengakui nama Tuhan Yesus – dan jangan pernah menyebutkan nama atau identitas rekan-rekan pekerja Kristen yang lain.

Dengan kasar mereka mulai memukuli anak kami lagi. Peter diseret keluar rumah dan giginya mulai dicabuti. Dia dipukuli hingga berdarah. Akhirnya mereka melemparkan dan meninggalkan tubuhnya yang sudah lumpuh di atas lantai. Suami saya dibawa dan dipekerjakan secara paksa di kamp militer pekerja berat.

Saya segera membawa Peter ke rumah sakit. Dokter mengatakan tidak ada harapan karena anak ini telah banyak mengeluarkan darah. Saya diberitahu untuk mempersiapkan pemakaman baginya. Mereka juga telah memberikan surat-surat yang diperlukan untuk proses pemakaman. Pihak yang berwewenang mengijinkan suami saya untuk meninggalkan kamp kerja paksa untuk sesaat dan menjenguk Peter di saat menit-menit terakhir sebelum Peter dijemput Tuhan.

Ketika melihat ayahnya datang, Peter sangat gembira. ‘Ayah dan ibu,’ katanya, ‘banyak orang yang mengenakan jubah hitam saat mereka mati, tetapi saya ingin berpakaian jubah putih, supaya saya kelihatan indah saat bertemu dengan Tuhan Yesus!’ Kami menangis dan sangat berduka karena dia. Dan kami berdoa bersama-sama supaya nama Allah dipermuliakan.”

“Karena musim hujan pada waktu itu maka semua jendela di tempat itu ditutup. Tetapi ketika kami selesai berdoa satu jendela terbuka dan ada angin sejuk berhembus masuk memenuhi ruangan. Roh penghibur datang memasuki hati kami.’Peter berbisik perlahan, ‘Yesus telah datang untuk membawaku pulang. Selamat tinggal.’ Wajahnya dipenuhi dengan sukacita. Bahkan dokter yang hadir saat itu digerakkan untuk berkomentar, ‘Saya belum pernah melihat orang yang mati penuh kedamaian seperti ini.'”

“Ketika kami pulang ke rumah, anak-anak kami yang lebih muda dari Peter mengagetkan kami dengan kegembiraan yang luar biasa. Mereka berkata, ‘Kami tidak bisa tidur, karena kami melihat kumpulan besar malaikat-malaikat di sekeliling rumah. Mereka membawa alat-alat musik instrumen dan menyanyi untuk kami. Mereka mengatakan bahwa mereka datang untuk membawa Peter bersama-sama dengan mereka ke sorga.'”

“Saya menjelaskan, ‘Saudaramu telah pergi bersama-sama dengan Tuhan Yesus.’ Dan mereka semua menangis. Peter begitu mengasihi saudara-saudaranya ini dan mereka juga membalas kasihnya dengan rasa sayang yang sangat besar.”

Mengganti Kebencian dengan Kasih

Ada kesunyian yang panjang dalam sel itu. Tetapi kemudian Ruth mulai bisa mendengar suara tangisan yang berasal dari berbagai tempat di dalam sel gelap itu. Tiba-tiba, terdengar suara teriakan kemarahan, “Terkutuklah orang-orang Red Guards! Kenapa mereka melakukan hal yang keji seperti ini?

Saya berharap bisa mencekik leher orang-orang ini dan membunuh mereka!” “Jangan! Jangan!” Ruth berteriak. Kalian jangan membenci mereka. Ini adalah dendam dan lingkaran kepahitan. Tuhan Yesus mengajarkan supaya kita mengasihi semua orang bahkan mengasihi musuh-musuh kita. Setiap hari saya berdoa untuk tentara-tentara Red Guards ini, supaya mereka segera menemukan dan mengenal Yesus. Dengan cara yang sama, saya juga telah berdoa bagi kalian semua. Kalian semua juga kekasih-kekasih yang dicintai Tuhan Yesus.”

“Hah!” Cetus seseorang dengan gerang. “Kalau Yesus sungguh-sungguh mengasihi saya, kenapa saya ada di sini, di dalam sel yang kumuh ini?” Ruth mulai menjelaskan bagaimana sel yang kotor ini sama seperti dosa mereka. Hanya salib Yesus yang sanggup menjembatani jurang antara orang-orang berdosa dengan Allah yang kudus. Yang mereka butuhkan adalah mengakui dosa-dosa mereka dan meminta Yesus menjadikan mereka manusia yang baru.

Sekali lagi ada kesunyian yang panjang dalam penjara itu. Dan satu persatu anggota sel itu mulai bertekuk lutut di sampingnya, penuh tangisan mengakui dengan keras segala dosa-dosa mereka dan memohon Yesus menyucikannya. “Terima kasih Tuhan,” Ruth berdoa. “Sungguh Engkau bisa mengubahkan segala sesuatunya menjadi baik!”

Kesaksian ini menggambarkan betapa hebatnya aniaya dan penderitaan yang dialami gereja-gereja Tuhan di Cina. Namun semua yang dialami orang-orang ini seakan-akan memancarkan kemuliaan Tuhan yang semakin terang dan menjadi kesaksian atas seluruh bangsa di dunia. Keteguhan iman mereka teruji dalam dapur api.

Mereka bukan cuma mengakui Yesus dengan mulut mereka, tetapi mereka membayar pengakuan mereka ini dengan aniaya dan penderitaan. Mereka belum pernah merasakan datang ke gereja tiap minggu, bernyanyi memuji Tuhan, bersukacita, dan mengharapkan untuk hidup dalam kelimpahan. Yang ada pada mereka adalah gereja bawah tanah dan ibadah yang sembunyi-sembunyi. Mereka dikejar-kejar oleh tentara militer, dan rawan dengan aniaya.

Pengakuan iman mereka teruji dengan tindakan yang nyata. Kuasa injil betul-betul dinyatakan dalam kehidupan mereka. Mereka mempertahankan iman dengan nyawa mereka. Tidak ada sesuatupun yang dapat menggoyahkan iman mereka di dalam Tuhan. Iman seperti inilah yang dicari Tuhan.

” …..Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?” [Luk 18:8]

Read Full Post »

Kasih Yang Terlarang

backpacker1.jpgBeberapa tahun lalu, ketika itu aku masih melayani di departemen musik di gereja lokal. Karena aku hobi maen gitar daripada alat musik yang laennya jadi ya kebagian main di bidang alat musik gitar. Band yang terdiri dari empat personil dengan memainkan alat-alat musiknya masing-masing dari grand piano, keyboard, gitar listrik sampai gitar bas; dibentuk dengan tujuan untuk mengiring jemaat waktu masuk dalam pujian.

Pelayanan musik ini dijalankan dengan bergiliran sehingga setiap jemaat yang berbakat dan berkomitmen dapat melayani Tuhan dalam pelayanan ini. Dan tempat pelayanan musik ini biasanya ada di depan samping mimbar. Maka kalau pas aku melayani pelayanan musik itu, aku bisa melihat sekeliling ruangan kebaktian dengan leluasa.

Pas hari Minggu itu, waktu kami sedang memuji Tuhan, jemaat berkonsentrasi ke depan. Kami para pelayan musik posisinya menghadap ke arah jemaat. Maka kami biasanya dapat melihat siapa saja jemaat yang keluar masuk melalui pintu keluar di belakang sana. Kami juga dapat melihat siapa saja yang sering menjadi langganan terlambat datang ke kebaktian. Atau jemaat yang sering tidak duduk dengan tenang waktu dalam kebaktian. Atau yang sering mengantuk. Atau yang sering bergurau. Atau yang sering ber-SMS ria (karena hanpon-nya kelihatan).

Tanpa sengaja pas aku melihat ke arah pintu keluar, masuk seorang pemuda yang enggak pernah aku lihat sebelumnya. Rambutnya gondrong, berkumis, berjenggot, memakai jaket biru Levis yang sudah luntur warnanya, dan yang menarik perhatianku, pemuda itu memanggul ransel di belakang punggungnya. Aku hampir saja terpecah konsentrasiku. Karena melihat kejadian yang jarang terjadi. Kayaknya pemuda itu seorang petualang atau mungkin saja hidup dijalanan atau datang dari kota lain.

Benar juga dugaanku. Beberapa jemaat yang duduk di bangku paling belakang, menggeser duduk mereka karena tidak tahan dengan bau yang dibawa oleh pemuda itu. Jemaat yang bergeser menutup hidung mereka. (maka itu waktu kebaktian lebih baik duduk di depan, karena tempat duduk yang paling belakang disediakan bagi orang yang terlambat datang). Pemuda itu menurunkan ranselnya, diletakkan disampingnya dan dia duduk.

Pengurus jemaat maju kedepan untuk memberikan pengumuman. Perhatianku masih pada pemuda di belakang itu. Lalu aku lihat seorang petugas penyambut tamu menghampiri pemuda tersebut. Tampak mereka bercakap sebentar dan sang pemuda itu mengambil ranselnya, memanggulnya lalu melangkah keluar diiringi sang petugas penyambut tamu.

Aku tak ingin berprasangka buruk. Tetapi hatiku tak dapat menyangkal dan mempertanyakan, apakah pemuda itu diminta untuk keluar? Aku meletakkan gitarku di tempatnya. Lalu aku melangkah menuju ke pintu keluar. Sesampai di lobi, aku sudah tak melihat pemuda itu. Aku cepat menghampiri petugas penyambut tamu yang tadi sempat bercakap dengan pemuda tersebut.

Petugas penyambut tamu yang kuhampiri sudah cukup kukenal dan cukup berumur, maka aku memanggilnya om. “Om, apakah melihat pemuda yang memanggul ransel yang tadi keluar?”

“Oh iya, malah om sempat jalan bersamanya.” jawab si om.

“Orangnya kemana ya om?”

“Oh dia sudah keluar kok.”

“Lho dia memangnya kenapa om?” tanyaku penasaran.

“Iya, om suruh dia keluar.” Apa???

“Lho kenapa om?”

“Iya om takut dia akan membuat ulah didalam kebaktian, atau lebih parah lagi bisa-bisa dia mencuri uang persembahan.” Aku seakan tidak pernah mengenal siapa om yang ada dihadapanku ini. Sepersekian detik aku jadi bingung. Kenapa hal ini bisa terjadi? Entah apa yang harus ku perbuat. Aku hanya bertanya kepada si om kemana arah pemuda itu pergi. Aku pun berlari menuju kearah yang ditunjuk oleh si om.

Letak gereja kami berdekatan dengan sebuah taman umum. Maka dugaanku pemuda itu akan menuju ke taman tersebut. Benar juga. Aku melihat pemuda itu duduk sendirian di bangku taman. Ranselnya diletakkan disampingnya.

“Halo.” sapaku. Dia memandangku heran. Karena memang kita enggak saling mengenal.

“Aku datang dari gereja itu.” aku menunjuk kepada gedung gereja dimana sang pemuda itu baru melangkah keluar. “Boleh aku duduk?” Pemuda itu hanya diam saja. Tanpa menunggu jawabannya, aku duduk saja.

“Maaf, aku kemari, aku hanya ingin mengundang Anda untuk kembali ke gereja kami.” Aku tahu hal ini rasanya aneh. Mengundang seseorang kembali setelah dia ‘diusir’ dari gereja. Tapi aku tak peduli. Aku hanya pengen dia kembali ke gereja.

Pemuda itu masih diam. Jantungku makin berdegup mengencang. Jangan-jangan pemuda ini marah. Lalu dia menatapku. Seperti hendak menyelidikiku. Atau hendak mencoba mengerti ajakanku tadi.

“Aku kira aku tidak pantas untuk datang ke gerejamu.” katanya dengan perlahan. Cukup mengejutkanku. Oh no! Dia pasti tersinggung, pikirku.

“Ehm…. aku kira tadi hanya terjadi salah paham saja.” kataku untuk menetralisir keadaan. “Maksud bapak di gereja itu bukan orang-orang tertentu saja yang pantas masuk ke gereja kami.”

Pemuda itu mungkin tidak sabar lagi terhadapku. Dia berdiri dan meraih ranselnya. “Aku yakin dengan betul bahwa bapak tadi mengatakan bahwa orang seperti diriku tidak pantas masuk ke gerejamu.”

Aku pun tidak mau lagi berlama-lama. “Jika bapak tadi mengatakan seperti itu, ijinkan aku meminta maaf kepada Anda.” Aku menatapnya menunggu jawabannya.

“Oh enggak kenapa. Aku bisa pergi kemana saja, ketempat lain yang mau menerima diriku.” kata pemuda itu sambil memanggul ranselnya, siap untuk berjalan.

“Aku merasa bersalah dengan kejadian ini. Boleh aku mengajak Anda untuk menikmati secangkir kopi?”

“Seperti yang sudah kukatakan, aku orang yang tidak pantas masuk ke gerejamu. Jangan paksa aku.” Jawabnya sambil mulai melangkahkan kakinya. Aku pun mengiringinya.

“Aku hanya ingin mendoakanmu. Bolehkah aku mendoakan Anda?” tanyaku dengan berharap.

“Anda lebih baik mendoakan bapak tadi untuk dapat mengasihi orang-orang yang tidak pantas masuk ke gereja.” Jawabnya tanpa memandangku dan berjalan cepat meninggalkanku.

Ya Tuhan. Hatiku sedih. Aku hanya berdiri terpaku sendirian di tengah taman itu sambil menatap pemuda itu berjalan makin menjauh. Kejadian ini terasa begitu cepat. Seakan ada yang hilang dari hati ini. Seakan taman disekitarku berputar. Berputar. Berputar. Apa yang terjadi? Inikah gerejaku? Inikah tubuh Kristus? Yang hanya memilih orang-orang tertentu saja yang boleh masuk ke gereja? Apakah gereja hanya tempat untuk orang-orang yang berpakaian rapi, berpendidikan, ber-uang, berstatus bersih? Bagaimana dengan orang-orang yang terlantar itu? Orang-orang yang terbuang? Orang-orang gelandangan? Pemulung? Pecandu narkoba? Wanita Tuna Susila?

Dimanakah kasih? Seseorang pernah berkata, gereja adalah perpanjangan tangan untuk menyampaikan kasih Allah kepada sesama. Ada benarnya. Tapi sayang kadang tangan itu hanya berpangku tangan ketika melihat orang yang memerlukan pertolongan, kasih, dan penghiburan. Maafkan kami, aku hanya berkata dalam hati kepada pemuda itu. Semoga dia mengerti. Semoga.

Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus: “Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?”

Yesus mendengarnya dan berkata: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit.

Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” Mat9:11-13

Read Full Post »

manfacingwoman.gif“Anton!!!” panggil Astrid. Yang dipanggil hanya tersenyum merasa tidak bersalah.

“Kemana aja sih kamu kemarin ?” tanya Astrid. “Semua orang mencari kamu. HP kamu juga kamu matikan.” Anton hanya cuek membaca buku bacaannya. Astrid jadi gemes melihat kelakuan cowoknya ini.

“Anton!” panggil Astrid kembali.

“Ya ?”

“Kemana kamu kemarin ? Kamu kan harusnya latihan drama untuk perayaan Paskah di gereja ?” Astrid meminta penjelasan Anton. “Kenapa kamu nggak datang ?”

“Lho aku kan sudah katakan, kalau aku belum tentu bisa hadir.” jelas Anton.

“Anton, kamu nggak bisa seenaknya begitu dong. Aku yang malu, tahu.”

“Kenapa malu?” tanya Anton bego. Astrid jadi jengkel juga melihat kebegoan Anton itu pengen rasanya dia jitak kepala cowok didepannya ini.

“Tentu aku malu, semua teman bertanya mana Anton, mengapa tidak datang. Sedang aku ceweknya nggak tahu cowoknya kemana.”

Anton tertawa mengakak mendengar keluhan Astrid.

“Nggak lucu.”

“Memang aku bukan pelawak kok.”

Wajah Astrid cemberut. Sebel deh ngelihat cowok satu ini. Kemarin wajahnya sampai memanas ketika teman-teman bertanya kemana Anton. Apalagi ketika pastor Jon juga sempat menanyakan, entah mau diletakkan dimana wajah Astrid.

“Anton, kamu ikut drama Perayaan Paskah kan bukan untuk main-main. Serius sedikit dong.”

“Aku kan sudah katakan sebelumnya bahwa aku nggak pasti.”

“Lho tapi kamu kan sudah mengatakan bersedia untuk melayani dalam drama Perayaan Paskah tahun ini.”

“Aku kan cuma mengatakan kalau nggak ada orang yang bisa memerankan Yesus, aku bersedia. Tetapi kamu belom mencari orang lain sudah menunjuk diriku”

“Aduh Anton, Anton please jangan begitu dong.” rengek Astrid.

“Maksudmu jangan begitu?”

Gemes banget deh kalau mendengar perkataan cowoknya ini cuwek n’ bego. Kalau dilanjutkan rasanya makan hati’.

“Astrid……” panggil Anton.

“Lho kok diam As. Marah ya ?”

Bukan marah lagi, tensi darah Astrid mungkin sudah kelewat batas maksimum. Kalau ada guling disitu kepala Anton pasti jadi sasaran gebuk Astrid. Udah tahu marah, masih nanya lagi. Sebelin!

“As, besok jadi latihan drama lagi ?” tanya Anton mengalihkan pembicaraan. Astrid yang masih marahan, jadi diem aja. Tanpa menjawab pertanyaan Anton. Biar tahu rasa, demikian pikir Astrid.

“Wah, aku ada kelas nih As. Aku pergi dulu ya. Sampai besok.” Anton pun berdiri sambil membenahi buku-bukunya yang berserakan di meja kantin.

“Anton!” panggil Astrid.

“Kamu kok begitu sih.” seru Astrid dengan nada putus asa.

“Begitu bagaimana sih maksudmu ?” tanya Anton.

“Aku dicuekin.”

“Lho dicuekin gihmana toh Non. Aku kan tadi sudah ngajak kamu ngobrol. Kamunya diem aja.”

“Jadi besok kamu datang latihan kan ?” tanya Astrid memastikan.

“Aku usahakan.” jawab Anton santai.

“Aduh Anton, jangan begitu dong jawabnya.”

“Lho, jawabanku benar kan? Masa aku dapat memastikan bahwa besok aku akan pasti datang ke latihan. Inget tuh apa kata Alkitab, kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok’.”

“Udah, kamu jangan sok mengutip ayat Alkitab hanya untuk membela dirimu.” bantah Astrid. Kalau sudah begini Astrid jadi galak, maka tidak heran dia diberi tugas untuk membuat drama Perayaan Paskah tahun ini.

“Anton, kamu masih sayang nggak sih sama aku ?” Lho, kok Astrid tiba-tiba membuat pertanyaan yang diluar dugaan.

“Lho? Kenapa kamu bertanya demikian?” Anton membalas bertanya.

“Kamu jangan balas tanya dong. Jawab dulu pertanyaanku.” sahut Astrid gondok.

“Pertanyaan kamu kok aneh sih? Kalau masih sayang kenapa ?” Anton kembali bertanya dengan tidak mau kalah. Tidak heran tubuh Astrid yang kurus tidak bakalan menjadi gemuk karena kalau bicara dengan Anton, dia selalu nggak pernah menang.

“Kalau orang masih sayang kan harus memperhatikan orang yang disayangi.” jawab Astrid. “Kalau kamu masih sayang aku, tentu kamu mau membantu aku.”

Anton masih bengong menebak kemana arah pembicaraan Astrid itu.

“Jadi besok tolong bantu aku, pastikan kamu datang latihan. Besok latihan terakhir. Aku tahu kamu berbakat untuk bermain drama, tetapi sebagai orang Kristen kamu harus tanggung jawab dan memberi contoh pada yang lain.”

“Ok. Ok. Aku akan datang. Aku usahakan semaksimal mungkin untuk datang.” sahut Anton memotong pembicaraan Astrid, yang kalau tidak dipotong mungkin Astrid bisa berkotbah di depan kantin.

***

Sabtu siang, arah jarum jam di dinding gereja telah menunjukkan ke angka lima. Padahal latihan drama dimulai jam dua. Tiga jam Astrid mengharap kedatangan Anton, ternyata kekuatirannya terjadi. Sampai jam lima, Anton masih belum kelihatan batang hidungnya. Anton memang keterlaluan, Astrid sendiri tidak tahu dimana Anton berada sekarang. HP-nya dimatikan. Kalau Astrid sendirian di ruang kebaktian ini tentu ia sudah menangis. Kesal banget rasanya.

Astrid sudah menelpon ke rumah Anton. Mama Anton mengatakan bahwa Anton dari tadi siang sudah keluar rumah. Berbagai perasaan berkecamuk dalam hati Astrid. Entah bagaimana ia akan menjawab pertanyaan pastor Jon, kenapa Anton tidak datang latihan terakhir.

Tiba-tiba telepon disamping Astrid berdering mengagetkan dirinya.

“Halo Astrid….” Astrid segera mengenali, itu suara Anton. Rasa kesal Astrid kembali memuncak.

“Halo…….” panggil Anton kembali. Astrid hanya diam saja. Tetapi pikirannya mengatakan dia harus membicarakan hal ini dengan Anton.

“Anton ?”

“Astrid, sorry aku nggak bisa datang latihan drama.” Astrid sudah menduga Anton pasti berkata demikian dan pasti ditambah dengan alasan yang lain tentunya.

“Kenapa?” tanya Astrid dingin. Setelah Anton menjawab dengan alasannya, Astrid pengennya memuntahkan semua peluru kekesalannya.

“Aku mengalami kecelakaan.” kata Anton.

Deg! Hati Astrid tercekat!

“Halo…..halo Astrid.” panggil Anton.

“Ya ampun! Apa yang terjadi Anton?”

“Aku tadinya mau datang ke latihan drama, tetapi mobilku ditabrak mobil orang lain.”

“Aduh, kasihan banget. Tapi kamu nggak kenapa-napa kan?” tanya Astrid prihatin. Lupa semua kekesalannya pada Anton.

“Puji Tuhan, nggak kenapa. Cuma jidatku yang kebentur setir mobil. Aku sekarang berada di rumah sakit. Sedang menunggu dokter untuk mengijinkan aku pulang.”

“Aku segera akan kesana ya.” sahut Astrid cepat. Ah ternyata Anton masih sayang Astrid kok. Buktinya Anton mau pergi ke latihan drama. Sekarang dia hanya ingin melihat Anton tidak kekurangan sesuatu apa pun.

Read Full Post »

Older Posts »