Feeds:
Posts
Comments

Invisible

Invisible-ManIni tentu bukan pengen cerita Invisible Man. Tapi cuma kebayang aza tentang Invisible itu. Yang engga keliatan.  Yang engga keliatan tentu bukan mahluk halus atau dunia roh. Yang dimaksud disini misalnya dalam sebuah pertunjukkan konser, seorang artis menyanyikan sebuah lagu yang syahdu yang membuat banyak orang menitikkan air matanya.

Penonton mungkin kagak tau siapa pencipta lagu tersebut, atau siapa pembuat aransemen musiknya, atau siapa pemain musik lagunya atau bagian perlengkapan dari konser tersebut. Orang-orang yang dibalik layar biasanya engga keliatan alias kurang dikenal. Penonton mah taunya siapa penyanyinya.

Di gereja yang biasa gw beribadah, ada kelompok yang khusus pelayanan di audio visual, yang tugasnya antara laen angkat-angkat alat musik dari gudang di persiapkan di panggung, lalu bertanggung jawab atas kelancaran audio yang akan berlangsung selama ibadah. Demikian pula dengan video slide yang ditayangkan di layar di depan mimbar untuk memunculkan lirik lagu atau ayat-ayat alkitab yang akan dibahas oleh sang hamba Tuhan.

Terkadang yang terjadi, audio mengalami gangguan, tiba-tiba hilang suaranya. Atau gambar slide yang hendak dimunculkan tidak muncul-muncul. Memang mungkin kesalahannya kecil tapi ’sedikit’ mengganggu kelancaran ibadah. Tidak heran jika terjadi masalah, ‘kebanyakan’ mata jemaat tertuju pada orang-orang yang mengerjakan pelayanan tersebut. Mungkin pandangan itu seakan bertanya, apa yang terjadi; mengapa terjadi; ini kan yang bukan pertama kali terjadi masalah dan sebagainya. Belom lagi omelan atau keluhan jemaat laennya.

Seringkali pelayanan seperti ini enggak terlalu menonjol dan jarang dipuji; tetapi kalau disalahkan mungkin sering (karena sering terjadi kesalahan atau masalah). Laen kan kalau pelayanan pemimpin pujian misalnya, kalau pelayanannya baik orangnya akan dipuji-puji. Poin gw begini, pelayanan audio visual itu kayak pelayanan yang enggak kelihatan (jarang diperhatikan). Tetapi tanpa pelayanan itu mungkin ibadah akan terasa kurang sesuatu. Bukan pengen minta perhatian. Bukan.

Seringkali dalam hidup kita juga (sekali lagi sering) melupakan siapa yang berada dibelakang semua yang terjadi dalam hidup manusia ini. Sebagai orang percaya, kita percaya ada oknum supranatural, dan karena kita udah dipanggil olehNya maka kita ngerti, oknum supranatural itu adalah Allah Bapa kita. Dia yang benar-benar berdaulat atas segala ciptaanNya.pelayanan audio_visual

Maka kita yang sebagai ciptaaNya janganlah berhenti untuk mengucap syukur, “Sebab itu marilah kita, oleh Dia, senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya.” Ibrani13:15.

Ucapan syukur merupakan bagian dari iman. Jika seseorang kagak punya iman, kayaknya kagak mungkin dia bisa bersyukur. Karena kalau seseorang kagak punya iman, dia bakal kuatir, dia ngeliat dirinya rendah (rendah diri), dia kagak ngeliat ada masa depan, dia kagak bisa rendah hati, kagak ada pengharapan, kagak punya sukacita, stres mulu, ngomel ngeluh mulu, dan ujung-ujungnya kagak bisa bersyukur.

Kita? Manusia? Mengucap syukur? Engga bisa lah yaow. Karena dosa man, mana bisa sich manusia mengucap syukur dengan tulus? Kalo pura-pura mah jangan ditanya. Bukan, bukan gw skeptis. Tapi bener, gw percaya bahwa ucapan syukur itu hanya pemberian anugerah Allah atas hidup kita. Kalau mau jujur, dalam doa-doa kita mana yang lebih banyak; mengucap syukur atau minta-minta sama Tuhan?

Sekali lagi biar kita diingatkan bahwa hidup kita ini engga sendirian. Ada Allah yang enggak kelihatan, yang memperhatikan hidup kita. Klo dipikir-pikir apa bagusnya hidup kita sampai diperhatikan sama Allah? Engga ada bagusnya. Karena Allah sendiri yang mau memperhatikan kita, ciptaanNya. Dia yang mengasihi kita terlebih dahulu. Temans, dalam sikon apapun waktu menghadapi masalah, jangan putus asa, karena ada Allah yang berdaulat atas dunia ini. Emang kagak bisa kita lihat dengan mata kepala kita sendiri, tetapi Dia ada. Hadir dalam segala hidup kita.

michaelKetika berita kematian Michael jackson baru-baru ini, ada kejadian kecil yang gw anggap agak lucu. Sampai 2 jam setelah diperkirakan Michael Jackson udah engga bernafas, CNN masih bingung alias belom pasti Michael Jackson itu udah mati atau masih koma.

Kebingunan CNN bisa dimaklumi karena banyaknya sumber berita di luaran. Dari situs resmi dari kantor berita, situs surat kabar, situs hiburan teve, blog, facebook, twitter sampai email dan SMS. Berita-berita itu bercampur aduk. Apalagi berita-berita Michael Jackson sering terjadi kontroversial. Membingungkan pendengarnya. Maka sekarang para wartawan pun jadi bingung. Dan belum ada pernyataan resmi dari pihak berwajib waktu itu.

Gw sich kagak begitu kaget kalau Michael Jackson meninggal dunia. Setiap kita bisa meninggal dunia ’setiap waktu’, setiap detik. Cuman karena Michael Jackson artis top dunia maka kematiannya jadi makin sensasional dan menjadi berita besar. Coba kalau Paijo tetangga sebelah yang meninggal, mungkin kagak ada yang peduli. Maka seperti nasehat klasik, gunakan kesempatan hidup yang ada ini untuk menuju ke kekalan (bukan untuk dinkmati sementara saja).

Seperti biasa setiap kematian itu sudahlah normal. Memang, tetapi mendengar kabar kematian maka sering kali juga mengingatkan kita untuk, merenung sejenak. Hei, apa yang telah terjadi dengan hidup gw selama ini? Apakah hidup gw udah diselamatkan? Mungkin pertanyaan ini hanya angin berlalu saja bagi yang mendengarnya. Beberapa hari yang lalu engga sengaja gw ngeliat trailer dari film 2012 yang bulan Nopember 2009 akan ditayangkan di layar lebar. Emang sich ramalan dunia kiamat 2012 itu bagi gw hanya isapan jempol. Karena Tuhan Yesus sendiri udah ngomong, bahwa kedatangan Anak Allah yang kedua kalinya engga ada orang yang tahu, hanya Bapa saja yang tahu. (Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa sendiri. Mat24:36)

Trailer filem 2012 itu luar biasa cukup mengerikan kalau membayangkan bumi bakal kiamat kayak begitu. Mungkin hal itu bisa menyadarkan manusia untuk cepat berbalik kepada Allah? Kayaknya kecil kemungkinannya. Tuhan Yesus pernah berkata, “Sebab sebagaimana halnya pada zaman Nuh, demikian pula halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia. Sebab sebagaimana mereka pada zaman sebelum air bah itu makan dan minum, kawin dan mengawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, dan mereka tidak tahu akan sesuatu, sebelum air bah itu datang dan melenyapkan mereka semua, demikian pulalah halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia.” Mat24:37-39. Istilahnya kalau belom kejadian, manusia kagak bakal sadar.

Menariknya Michael Jackson, gw pikir dia orang yang rendah diri. Maka dia hanya pengen menutup diri. Dengan kacamata hitamnya. Dengan penampilannya. Maka dia pengen punya ‘istana’ sendiri (Neverland). Pengen beda dari yang laen. Ngga bisa jadi dirinya sendiri. Pengen merubah dirinya (dengan operasi plastik). Bahkan anaknya juga diajar untuk menutup wajahnya, tentu untuk menyembunyikan wajah (diri) mereka dari dunia ini. Banyak orang yang berkata, biarkan dia sendiri (jangan ikut campur lah). Tetapi Michael juga pengen diperhatikan. Dengan dandanannya yang aneh.

Berapa banyak orang yang mengagumi Michael Jackson bahkan memujanya? Sebagai seorang Kristiani betapa hidup kita ini bisa menjadi pengaruh bagi orang laen. Teman kita yang non Kristen pasti pengen tau gimana sich jadi orang Kristen itu? Mengapa orang Kristen itu beda amir? Maka menjadi pertanyaan kalau seorang Kristen tidak manjadi pengaruh bagi orang laen. Tuhan Yesus pernah berkata, Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.

Garam itu beda ama cuka. Klo cuka pasti rasanya asam. Bayangin klo kita makan lauk ama cuka doang. Mending makan dengan bumbu garam. Semoga kita engga jadi cuka bagi teman dan keluarga kita. Mohon kepada Tuhan menjadikan kita tetap asin bagi sekeliling kita.

Simbol yang Hilang

dan_brownApa kabarnya Dan Brown? Filem yang masih kategori baru yang diambil dari bukunya Dan Brown “Angels and Demons” dengan lakon yang sama Robert Langdon, meski kali ini buku dan filemnya tidak meledak seperti kontroversial Da Vinci Code (DVC).

Masih keinget kalau pas peluncuran novel DVC, baik yang Kristen atau yang bukan pada ribut. Tentu yang non Kristen pada seneng terkagum-kamu ama “penemuan” Dan Brown tersebut (bahwa Yesus itu menikah dan punya anak dan sebagainya). Tapi bagi pihak umat Kristiani, itu bukan saja penghinaan bahkan penghujatan kepada Tuhan Yesus.

Tentu yang luar biasa beruntungnya ya Dan Brown. Baik atau buruk tulisan bukunya, ternyata diperkirakan sampai pertengahan tahun 2006 buku Dan Brown tersebut dicetak lebih dari 60 juta dan diterjemahkan ke 44 bahasa dunia. Engga heran berkat keberhasilan penjualan bukunya, Dan Brown kini diperkirakan berpenghasilan 200 juta dollar ada didalam koceknya.

Dan Brown yang dulunya pengen jadi penyanyi, kini hanya  jadi penulis aza udah cukup. Namanya yang sudah melambung tinggi dijajaran penulis novel fiksi Amrik merupakan jaminan bagi penerbit buku. Keberhasilannya Dan Brown tidak lepas dari dorongan istrinya (yang sekaligus menjadi manajernya) Blythe Newton. Dan kini tentu saja nama Dan Brown merupakan musuh besar umat Katolik dan Kristiani. Bukunya merupakan ajaran sesat yang harus dijauhi.

Disatu sisi, sebagai seorang penulis, emang kagak bisa disalahkan kalau Dan Brown bisa punya ide gila menulis seperti cerita di Da Vinci Code. Namanya aza fiksi. Kalau nama-nama yang ada didalam cerita mempunyai kesamaan kayaknya sah-sah aza. Engga sedikit penulis yang mengambil peristiwa sejarah sebagai latar belakang cerita mereka. Dan lucunya penulis yang mencuplik kejadian sejarah itu pun menuliskan dengan cerita sejarah yang salah pula. Atau penulis salah menterjemahkan cuplikan sejarah tersebut.

Dan kalau ada pembaca yang merasa buku novel itu peristiwa yang benar-benar terjadi, memang bukan salah penulis 100%. Pembacanya terlalu pinter atau sebaliknya. Jadi paling engga, kalau membaca ya pakai mikir lah. Even kalau penulisnya menuliskan ceritanya itu diambil dari true story misalnya. Ya kalau masih dalam dunia fiksi ya mau diapakan lagi. Fiksi itu kan imaginasi penulis. Cerita rekaan penulis.

Terlepas dari cerita Dan Brown yang menyesatkan atau memutar balikkan Alkitab. Dipihak laen tentu gw setuju kalau Dan Brown emang kebablasan, kelewatan dalam memutar balikkan atau menginjak-nginjak fakta sejarah, terutama yang berkenaan dengan hidup Tuhan Yesus. Dan Brown tidak memberi kesempatan secuil pun respek kepada sejarah hidup Tuhan Yesus. Karena dia percaya akan buku Holy Blood, Holythe lost symbol Grail karya Michael Baigent, Richard Leigh, and Henry Lincoln.

Suatu pelajaran yang didapat disini bahwa apa yang kita tuliskan (apalagi ditulis) harusnya kita pikirkan sejauh mana akan mempengaruhi orang yang akan membacanya. Apalagi telah menjadi sebuah buku yang engga bisa begitu saja dihapus kayak men-delete tulisan di program Word. Buku itu akan ‘kekal’. Berapa banyak lagi pembaca yang akan disesatkan olehnya.

Sebaliknya bagi umat Kristiani, ketika membaca buku harusnyalah berpikir kritis. Bukan itu saja, orang Kristen harus mau belajar pengajaran Kristen yang benar. Jadi kalau ada ajaran yang lain dari Alkitab, kita tahu itu pasti bukan ajaran Kristus. Kalau pun membaca buku tulisan baru Dan Brown yang berjudul The Lost Symbol (simbol yang hilang) kita pasti akan mengerti bahwa ‘ajaran’ atau teori Dan Brown tentang kekristenan itu hanyalah sampah.

Sayangnya berapa banyak sih orang Kristen yang mau belajar teologi. Pemimpin Kristen pun belum tentu mau belajar teologi (kasihan jemaatnya). Dan kalau mau belajar pun, belajar yang mudah saja dech(susah-susah belajar buat apa toh?); ‘belajar yang aku senang aza’. Jemaat nya pun engga ada yang protes koq. Maka Dan Brown pun juga akan berkata, “jadi ngga problem kan, klo gw menulis suka-suka gw……”

Harikoe

90_20_14---Three-Advent-Candles_webKebanyakan dari kita pasti, paling engga, pernah merayakan hari ultah, yang jelas ya untuk memperingati hari kelahiran (seharusnya) tetapi kebanyakan yang dilakukan adalah menghitung usia yang telah kini dicapai dan harapan apa yang pengen dicapai pada masa yang akan datang.

Disatu sisi, sang remaja akan gembira karena udah mencapai usia delapan belas misalnya, dianggap semakin dewasa. Tetapi bagi sang opa yang berusia enam puluh lima, mungkin dia kagak bisa berbangga diri, karena seperti ada ungkapan nakal mengatakan, itu mah udah dekat ama bau tanah. alias makin tua ya makin mendekati saat meninggalkan bumi tercinta ini selama-lamanya.

Jadi ketika merayakan ultah makin gembira atau makin dipres atau malah menyesal, mengapa waktu begitu cepat jika waktu dapat dimundurkan lagi sepuluh duapuluh tahun lalu mungkin kita bisa berbuat sesuatu yang lebih baik lagi? Atau hanya menerima nasib aza dech. Menariknya di Alkitab tercatat ada beberapa tokoh yang ber-ultah, misalnya….

Dan terjadilah pada hari ketiga, hari kelahiran Firaun, maka Firaun mengadakan perjamuan untuk semua pegawainya. Ia meninggikan kepala juru minuman dan kepala juru roti itu di tengah-tengah para pegawainya: kepala juru minuman itu dikembalikannya ke dalam jabatannya, sehingga ia menyampaikan pula piala ke tangan Firaun; tetapi kepala juru roti itu digantungnya, seperti yang ditakbirkan Yusuf kepada mereka. Kej40:20-22.

Di Perjanjian Lama tentu kita masih ingat cerita tentang Yusuf yang di penjara bertemu dengan juru minuman dan makanan. Selanjutnya anda bisa membaca Alkitab kembali kalau udah lupa cerita selengkapnya. Demikian juga di Perjanjian Baru juga dituliskan tentang raja Herodes yang merayakan ultah. Tetapi pada hari ulang tahun Herodes, menarilah anak perempuan Herodias di tengah-tengah mereka dan menyukakan hati Herodes,… Mat 14:6

Meski tidak sedikit orang menentang perayaan ultah karena asal usul ultah yang ditengarai dari perayaan pagan, penyembah berhala, sihir dan sebagainya. Jadi seperti di Alkitab dituliskan tokoh yang merayakan ultah itu non believer (Firaun dan Herodes). Tetapi bukan berarti perayaan ultah itu tidak boleh. Tentu yang memprihatinkan ketika peryaan ultah itu menjadi hura-hura pesta bahkan sampai lupa diri. Karna saking excited kali yach.

Tetapi sebaliknya waktu perayaan ultah dapat menjadi hikmat bagi yang merayakan. Betapa waktu yang telah berlalu bagi yang ber-ultah dapat menjadi suatu pelajaran yang berharga untuk menatap masa yang akan datang. Waktu perayaan ultah dapat menjadi sautu ajang reuni keluarga misalnya. Mengembalikan keakraban dan kesatuan keutuhan keluarga. Perayaan ultah dapat juga menjadi suatu persekutuan antar jemaat misalnya.

Di awal Perjanjian Baru, dituliskan tentang kelahiran Tuhan Yesus. Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Luk2:11. Sampai saat ini orang Kristen memperingati dan merayakan kelahiran Tuhan Yesus. Alangkah indahnya jika perayaan itu menjadi suatu ajang pemberitaan Injil misalnya, daripada hanya menjadi suatu pesta hedon yang mungkin bakal menjadi huru hara.

Berapa banyak gereja jaman sekarang yang berpikir perayaan Natal adalah suatu celebration daripada suatu kebaktian untuk mengabarkan Kabar Baik. Panitia Natal bekerja keras untuk membuat suatu acara yang meriah, megah, hanya dapat menyenangkan hati jemaat. Seharusnya ibadah itu menyenangkan hati Tuhan. Bukan bagaimana kita merasa comfortable waktu memperingati dan merayakan hari kelahiran Tuhan Yesus tersebut.

Living On The Edge

egg1Setelah kejatuhan manusia dalam dosa, maka manusia tidak saja menyukai berbuat dosa, menentang kehendak Allah tetapi manusia secara status, adalah sendirian, putus hubungan dengan Allah.

Kehidupan manusia pun tanpa arah, maju kena mundur kena. Putus hubungan dengan Allah maka manusia juga kehilangan ikatan hidup dengan Sang Pencipta. Manusia kehilangan ‘sesuatu’ dalam hidupnya, dalam hatinya. Manusia menjadi musafir yang berkeliling-keliling tanpa tujuan (karena manusia sudah kehilangan tujuan). Tujuan yang semula dikira dapat memuaskan hati manusia ternyata tidak memuaskan.

Dikiranya agama dapat memuaskan, ternyata setelah mempelajari semua agama manusia, ternyata manusia merasa ada ‘sesuatu’ yang kurang. Dikira ilmu pengetahuan, karir pekerjaan, uang, seks, cinta, keluarga, pacar, kekuasaan, obat-obatan, olahraga, seni, musik, idola bintang film, penyanyi dan bidang-bidang lainnya dapat memuaskan hati manusia, tetapi tetap saja manusia tidak puas. Ada kekosongan dalam hatinya.

Alangkah tragisnya manusia dengan kehidupan yang demikian. Selama hidupnya manusia bersusah payah untuk mencapai hal-hal yang dikira dapat memuaskan hati ternyata hasilnya NOL besar, hasilnya sia-sia. Kepuasannya hanya sementara dan manusia mencari hal yang lain demikian seterusnya selama hidupnya. Tidak pernah habis-habisnya, seperti lingkaran setan.

Di Ujung Tanduk
Kita pasti pernah mendengar peribahasa ‘seperti telur yang di ujung tanduk’. Mungkin bagi pesulap ada ‘trik’-nya tersendiri yang dapat mendudukkan telur di atas ujung tanduk.

Tetapi secara alami memang amat sukar meletakkan telur di atas sebuah tanduk (banteng) misalnya. Dan peribahasa tersebut memang cocok untuk menggambarkan bagaimana rapuhnya kedudukan telur tersebut sehingga mudah jatuh kekanan kekiri kedepan atau kebelakang.

Bagi kita untuk mencoba meletakkan telur di atas sebuah ujung tanduk mungkin tidak lebih dari sedetik, pasti telur tersebut akan jatuh. Gambaran telur tersebut adalah gambaran manusia yang berdosa. Betapa rapuhnya manusia tersebut untuk jatuh hancur binasa. Sayangnya manusia sering tidak tahu diri bahwa dirinya rapuh, mereka berjuang mati-matian mencari kepuasan dan akhirnya mati sungguhan.

Tidak luput manusia Kristen yang secara status telah dipulihkan hubungannya dengan Tuhan. Tetapi tetap saja manusia secara lahiriah akan mudah jatuh dalam dosa. Cuma bedanya, manusia Kristen yang telah dilahirkan kembali itu digambarkan seperti telur yang di letakkkan di atas batu karang yang kokoh yang melindungi kita dari deburan ombak laut. Batu karang itu adalah Yesus Kristus yang telah rela mati untuk menebus kita dari kematian kekal.

Saudaraku sekalian, jika pada saat ini keadaan kita sangat rapuh, sangat lemah dalam menghadapi hidup dimana kita tidak mendapatkan kepuasan hidup, kita merasa hidup kita kosong, sia-sia, kita senantiasa merasa dikejar-kejar oleh dosa, kita merasa tidak ada jalan lain lagi dan merasa apa arti hidup kita ini.

Sadarilah bahwa kita tidak mampu menolong diri kita sendiri ! Orang lain, keluarga, teman, suami, istri, pacar, tidak dapat menolong kita. Pertolongan mereka hanya terbatas. Sedangkan kita ingin menyelesaikan masalah kita dengan tuntas supaya tidak merongrong hidup kita bukan ?

Hidup di ujung (tanduk) merupakan hidup yang rapuh sekali. Yang tidak sedetik sekalipun akan jatuh hancur dan binasa. Tidak memandang apakah kita muda, tua, kaya, miskin, sakit, sehat; tak sampai sedetik maka hidup kita binasa selamanya. Maka tak heran berapa banyak hidup yang berakhir dengan bunuh diri. Dan hal itu juga tidak menyelesaikan masalah. Bunuh diri hanya menimbulkan masalah bagi orang yang ditinggal, dan bagi si pembunuh diri sendiri akan menghadapi penghakiman tanpa belas kasihan. Inikah hidup kita yang kita inginkan ?

Saudara, coba kita renungkan apakah hidup kita ini berharga ? Atau lebih tidak berharga dari binatang ? Manusia telah diciptakan oleh Allah, maka manusia adalah mahluk ciptaan yang berharga, yang paling berharga. Dalam Mazmur dikatakan, manusia seperti biji mata Tuhan sendiri, yang sangat berharga.

Tuhan telah menawarkan pengampunannya pada kita. Apakah kita ingin menyambutnya atau lebih enak menikmati dunia yang manis yang segera binasa ini ? Karena dosa maka setiap manusia mempunyai masalah. Meski manusia lari kemana pun dia pergi tetap manusia akan dirundung dengan masalah. Adakah jalan keluarnya ?

Yesus Kristus hanyalah satu-satunya jawaban yang kita butuhkan. Kita berserah. Serahkan semua keluhan kita, masalah kita, sakit hati kita, kebencian kita, penyesalan kita, ketidakpuasan hati kita, kekosongan hati kita. Serahkan pada Yesus. Dia yang akan menjawab persoalan kita. Dia yang menolong kita pada waktuNya. Dia pula yang mengisi kekosongan hidup, jiwa kita.

Dia yang akan menyertai kita untuk menghadapi segala permasalahan kita. Seperti janji Tuhan kepada kita, “Marilah kepadaku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu ….. dan jiwamu akan mendapat ketenangan.” Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kita dicobai melampaui kekuatan kita. Pada waktu kita dicobai Ia akan memberikan kepada kita jalan keluar, sehingga kita dapat menanggungnya.

vancouver, ca, 17801

Life Jacket

life jacketSalah satu hal yang perlu diperhatikan waktu kita di dunia air (baik di sungai, danau atau di laut) adalah life jacket atau pelampung. Karena seberapa kuatnya kita berenang, atau tahan untuk tidak bernafas, tetap saja terbatas kekuatan kita. Maka kita perlu alat pembantu yang dapat membuat kita bertahan mengapung di air. Yakni pelampung. Alat yang paling mudah dibawa (daripada perahu karet misalnya).

Life jacket pelampung modern yang sudah di design sedemikian rupa supaya bentuknya kagak bulat aza kayak ban mobil, juga dibuat paling mudah melekat pada tubuh kita. Ketika ada kecelakaan di atas air biasanya kita mudah panik. Engga bisa mikir lagi. Maka Life Jacket yang menempel di tubuh kita rasanya tidak berkelebihan kalau dapat menyelamatkan kita. Meski kita harus menceburkan diri ke dalam air. Karena ada pelampung maka kita engga sampai tenggelam.

Waktu panik kita engga sempat lagi mikirin gimana dan dimana kita harus bertindak. Apalagi waktu masalah terjadi di perairan terbuka, maka kondisi cuaca yang dingin misalnya, atau gelombang air yang menghantam tubuh kita, akan memperburuk kita untuk berpikir. Maka yang hanya ada instink untuk mengambil tindakan menyelamatkan diri.

Life jacket hanyalah hal kecil tapi sangat berguna. Kalau keinget hal life jacket ini jadi keinget akan hubungan kita dengan juruselamat kita Tuhan Yesus Kristus.

Meski kadang kita take it for granted, karena life jacket akan kita pakai pas lagi perlu. Kita berdoa memohon-mohon kepada Tuhan pas kita ada masalah, tetapi kalau tidak ada masalah, kita melupakan Tuhan. Alangkah naifnya manusia yang berpikir demikian. Tetapi kebanyakan dari kita sering melakukan hal tersebut. Iya enggak?

Puji Tuhan dari kejadian ini gw sekali lagi diingatkan kembali. Bahwa setiap waktu kita perlu Tuhan. Enggak ada teorinya yang menyatakan, ada saatnya perlu Tuhan, ada saatnya pula enggak perlu Tuhan. Setiap waktu setiap detik, udara yang kita hirup untuk bernafas adalah pemberian Tuhan, bukan hanya sekedar proses alam, maka kita perlu Tuhan, seperti kita menghirup udara setiap detik.

Ketika dalam keadaan darurat kita perlu memakai Life Jacket, yang engga bisa digantikan dengan apapun. Engga bisa digantikan dengan peralatan selam yang canggih, atau pakaian renang dengan merek terkenal. Keselamatan yang kekal hanya ada dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Yang engga bisa digantikan dengan jalan apapun, oleh siapa atau bagaimana pun caranya.

Kadang sedih juga yach ngeliat banyak orang yang mencoba mencari jalan pilihan laen. Dengan perkembangan teknologi yang canggih dan pemikiran manusia yang begitu cemerlang, pengen menemukan jalan keselamatan itu. Tetapi sayang sekali, mereka engga bakal menemukan jalan kesleamatan versi mereka. Bukankah jalan keselamatan itu telah tersedia? Melalui pengorbanan kematian Tuhan Yesus di atas kayu salib. Itulah satu-satunya jalan keselamatan.

CD Cover1xSering kali, orang mengukur iman dengan pengalaman, kejadian yang dialami. Dengan adanya pengalaman mujizat yang dialami maka itulah iman. Dan tak sedikit yang meng-klaim bahwa itu tanda iman, adanya pengalaman, kesaksian hidup. Pengalaman mujizat itu belum tentu akibat dari iman. Banyak orang ateis yang kagak punya iman tapi juga sering mengalami mujizat. Tetapi sayangnya banyak anggapan dari orang Kristen bahwa kalau engga mengalami mujizat, itu mungkin belum cukup imannya kepada Tuhan. Atau kurang beriman. Maka minta Tuhan supaya kita lebih beriman lagi.

Sempat merenungkan apa sich ukuran buat iman itu. Iman dapat diukur ketika kita menghadapi masalah, ketika kita mendapat berkat, ketika kita mengalami godaan, menghadapi karakter kita, ketika kita ditantang untuk menyangkal Tuhan atau mungkin masih banyak lagi tolok ukurnya. Urusan mujizat itu urusan Tuhan. Jadi kalau engga terjadi mujizat bukan berarti kita enggak beriman kan? Karena kita kan berimannya kepada Tuhan, bukan pada mujizat. Orang yang enggak beriman juga bisa mengalami mujizat. Bukankah hidup kita sampai hari ini juga suatu mujizat? Apakah mujizat itu selalu berarti berkat materi?

Mujizat atau engga mujizat; berkat atau engga ada berkat; apakah kita layak menerimanya? Lha wong (kita ini lho) orang yang udah mau mati dibuang ke api neraka kekal, masih mau ngomongin berkat ‘n mujizat? Bukankah keselamatan kekal (yang juga merupakan mujizat dan berkat bagi yang mnerimanya dalam Yesus Kristus) lebih penting daripada berkat mujizat materi? Terus terang aza sering kita hanya membahas berkat dan mujizat dari Tuhan itu ketika kita menerima berkat materi yang nyata.

Meski banyak juga dari kita yang mengatakan kita bukan pengikut atau enggak membahas tentang teologi berkat atau kesuksesan (diri sendiri), tetapi yang sering dibicarakan adalah hal tersebut. Maka mengapa tidak membicarakan hal yang lebih penting bahwa bukti iman adalah kesetiaan, ketaatan pada Firman Tuhan daripada diri sendiri, sikon kita atau berkat. Dan iman tumbuh bukan karena berkat (atau pengalaman), tetapi oleh karena Firman Tuhan.

Ketika menulis tentang tulisan ini, gw pas bisa bersamaan membaca tentang hal iman yang ditulis oleh Phillip Yancey (Jesus I Never Knew) pada hal gw enggak berencana mau mencari ‘reference’. Kalau kita percaya, ini adalah berkat Tuhan, jadi gw menulis dengan lebih mantep (bukan kebetulan). Gw pikir iman gw masih lebih sangat kecil dari biji sesawi. Tetapi gw percaya bahwa hidup gw sampai hari ini enggak lebih dari kasih anugerahNya semata.

Iman itu juga kagak bisa dibanding-bandingin atau di ‘fotocopy’. Karena gw percaya bahwa iman adalah anugerah. Kita enggak bisa beriman atas kemauan kita. Karena iman itu adalah pemberian Allah. Maka kita enggak bisa minta iman seenak jidat kita. Kalau Sang Pemberi belum mau memberi, kitanya mau apa? Paksa dong. Ngotot dong. Apa salahnya sich? Kan kita ‘anakNya’. Sebagai anak, gw paling kagak suka kalau minta sama ortu. Hidup si anak sampai hari ini udah (merasa) dicukupi, karena ortu si anak tahu apa yang terbaik buat anaknya.

Kata laennya, Tuhan tau apa yang terbaik buat kita. Bukan berarti kita enggak boleh minta. Boleh-boleh aza. Tuhan Yesus juga pernah berdoa minta kepada BapaNya.“Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” Mat26:39.

Hidup iman seseorang kepada Tuhan engga bisa di ‘fotocopy’. Karena iman bukan formula koq. Kita (mungkin) kagak bakal punya iman seperti Abraham atau Nuh misalnya. Kita juga kagak bakal mencontoh iman Musa misalnya; (gw percaya Tuhan kagak sembarangan menyuruh kita membelah sungai Ciliwung terus kita bisa jalan melewatinya, misalnya). Tapi kita bisa belajar dari pengalaman mereka, belajar dari hidup mereka, belajar dari kelemahan mereka, belajar kesetiaan mereka kepada Tuhan, belajar tentang iman mereka.

God Honoring Faith

FotoGereja dimana gw beribadah saat ini, House For All Nations ngadain Retreat dari tanggal 15-18 Mei 2009 yang lalu. Tentu paling engga kita udah pada tau kalau retret itu perlu untuk kerohaniaan seseorang. Ibarat retret kayak handphone yang baterainya di ‘charge’ kembali. Karena engga dipungkiri bahwa dalam perjalanan kehidupan Kristen banyak turun naiknya. Ketika sedang dalam keadaan turun, ikut retret adalh hal yang tepat. Pas lagi naek juga kagak masalah ikut retret biar tambah seger kuat ‘n diperbaharui dalam rohani kita.

Alasan gw ikut retret ini yang pasti bukan cari ‘berkat’ tapi memang mau belajar Firman Tuhan, dimana kita ‘mengucilkan’ diri selama 4 hari untuk bisa dekat ama Tuhan (istilahnya yach). Tanggal 15 Mei setelah pulang dari Seattle Amrik, gw langsung tancap ke retret. Jadi perginya baru jam 6.30 malam. Karena pas Jum’at itu mulainya ‘long weekend’ pasti bakalan macet di hi-way, maka gw ambil jalan tikus. Jalannya lebih kecilan, lebih muter tapi lancar. Puji Tuhan sesuai rencana, jam 8 nyampai dah di tempat retret. Jadi engga jadi telat untuk dengerin Firman Tuhan. Karena Sesi I, dimulai jam 8 malam.

Tema retret kali ini God Honoring Faith, tentang iman. Maka dalam sesi pertama, pembicara memberikan pendahuluan tentang iman, dengan banyak contoh-c0ntoh. Ini yang cukup memprihatinkan gw, karena kalau kebanyakan contoh atau ilustrasi, jemaat itu biasanya yang diingat contoh atau cerita (apalagi ceritanya lucu) bukan Firmannya. Enggak jarang contoh atau cerita itu menjadi ’standar’ untuk menjalankan iman Kristen. Kalau menurut gw sich, sebaiknya kita belajar konsepnya apa itu iman, bagaimana beriman, mengapa harus beriman dan sebagainya misalnya. Emang sich di gereja juga sering diberitakan tentang iman ini pula karena tema gereja tahun ini, juga sama temanya, God Honoring faith.

Pokok pembahasan bisa diambil dari bagian Alkitab yang berlainan dengan apa yang sudah kita denger sebelumnya. Memang sich ini perlu pengetahuan dan pembelajaran yang konsisten dari pembicara. Mungkin gw udah kebiasa ama kultur gereja reform yang mana biasanya waktu retret selalu pembahasannya mendalam. Ibarat retret itu kayak penggemblengan rohani untuk supaya disegarkan, dikuatkan, ditingkatkan, kembali ke semangat kasih mula-mula untuk bersaksi bagi Kristus. Tapi yang gw alami memang agak beda sich.

Retret yang kali ini gw ikuti agak santai. Mungkin panitya emang pengennya demikian kali yach. Karena pesertanya juga seluruh keluarga. Mungkin sebutannya lebih cocok kalau jadi Family Bible Camp atau apalah karena melibatkan seluruh anggota keluarga. Well semoga retreat kali ini semakin mendekatkan kita kepada Tuhan, memperbaharui semangat kita untuk melayani terutama menyenangkan hati Tuhan. Dan memperteguh iman kita kepadaNya, dimana kita tahu bahwa masa depan di dunia tidak pasti tapi didalam Tuhan ada janjiNya.

Hari Ketiga

third daySeumur-umur emang belom pernah sich nonton konser musik secara “Live show” karena merasa enggak suka aza. Meski Vancouver udah pernah dikunjungi oleh artis Top Dunia, dari Michael Jackson, Madonna sampai Britney Spears. Tetapi belom pernah satu pun konser musik pun yang gw tonton. Mungkin alasannya bukan hanya sayang uang aza, tetapi sayang waktu, terus hiruk pikuknya itu lho (sayang telinga), terus udah bayar mahal-mahal kagak bisa menonton para artis tersebut dengan jelas (kan pasti nontonnya dari jauh). Terutama gw kagak mau duit gw sumbangin ke artis dunia, yang makai duitnya untuk kepentingan pribadinya yang kagak beres. Mending gw persembahkan untuk Tuhan kan?

Jadi ngapain nonton konser dunk? Kebanggaan kali, gitu kata seorang teman. Ya pengalaman, diri ini pernah menonton konsernya Michael Jackson, Madonna, atau Britney Semir. Begitu kale yach. Itu mach bangga yang dangkal amir. Kata laennya, gitu aza koq dibanggain.

Eh ternyata, tahun ini bulan ini juga, gw sempet nonton konser bokh!!! Ya emang sich nonton konser artis Kristen. Band Kristen. Karena mikirnya kan paling enggak, kita membeli karcis untuk “disumbang” bagi artis Kristen. Biar paling engga supaya mereka bisa memuliakan nama Yesus lah di tengah bisnis hiburan dunia ini. Akhirnya gw nonton konser, meski nonton konser artis Kristen, Third Day dan Brandon Heath. Pertama harapan gw tentunya konser tersebut bakal meriah (menurut standar gw) mungkin kayak band gerejawi lah. Apalagi karna gw juga udha pernah dengerin lagu-lagu Kristen kontemporer dari Third Day dan Brandon Heath di radio, cukup pelan (menurut perasaan), kagak agresif (kayak musik rock dunia misalnya).

Ternyata…… harapan gw keliru besar. Terutama pada pertunjukan dari kelompok Third Day. Waktu pada lagu tertentu emang sich rada pelan karena musiknya jenis balada. Tetapi pas bagian musik yang cepat dan ‘keras’……. wackh……… engga kalah ama musik dunia hard rock, heavy metal atau apa aza namanya. Nah itu namanya, gw in the wrong time and in the wrong place, begitu kata seorang sahabat. Memang Third Day kayaknya musiknya untuk kawula muda (berjiwa muda). Yach…., kalau gitu apa ada kelompok band Kristen yang ngebuat pasangan yang udah menikah, beranak, bercucu???

Bener-bener dech bukan aza telinga ini kayak ditendang-tendang gendang telinganya, jantung juga berdebar-debar menahan getar suara bass yang keluar dari speaker (ini sungguh lho, suaranya keras banget!). Well, apakah ini cara pujian dan penyembahan ala Kristen? Mungkin cara pujian dan penyembahan seperti engga bisa dibawa ke dalam gereja. Karna pujian dan penyembahan kepada Tuhan dalam gereja harusnya kan sakral, kusyuk. Bagi gw pribadi engga bisa memuji dan menyembah Tuhan dengan cara seperti demikian.

Mungkin ada yang komentar yang penting kan hatinya. Tetapi suasana juga penting lho. Dan memuji menyembah Tuhan seharusnya tidak boleh sembarangan. Mengapa kita bisa memuji dan menyembah Tuhan? Tentu hanya oleh karena anugerahNya! Kita engga bisa memuji atau menyembah Tuhan karena kita sadar kalau kita orang berdosa misalnya. Itu tidak mungkin. Karna orang berdosa kagak pernah bisa sadar dirinya berdosa jika bukan hatinya telah disucikan oleh Kristus Yesus.

Gw tau banyak orang (Kristen) yang ngomong bahwa acara konser musik kayak Third Day itu juga ibadah. Gw percaya pada ibadah yang model kuno. Yang kalau ibadah bertemu Tuhan secara pribadi, saat teduh atau saat berdoa misalnya. Engga bisa pas lagi lompat-lompat menyanyi sambil tepuk tangan menikmati dendang lagu dengan melenggak-lenggokkan tubuhnya, terus melihat kemuliaan Tuhan. Kayaknya koq engga pas.

Dan mungkin masih banyak alasan laennya. Seperti kelompok band kayak Third Day itu diperlukan karena untuk menjangkau anak-anak muda yang masih kerajingan lagu rock misalnya kepada Kristus. Oh ya gw percaya tentang itu, Tuhan bisa pakai cara apa saja untuk memilih umatNya. Tetapi untuk keselamatan, hanya Tuhan Yesus saja yang dapat memberikan, bukan pujian kepada Tuhan. Maka tidak laen Firman harus diberitakan (jadi beda ama konser yach).

Puji Tuhan gw dapatkan penulisan yang lebih mantep tentang bedanya Pertunjukan (konser) ama Ibadah, yang ditulis oleh Jimmy Setiawan dalam blognya “Mengagas Teologi Ibadah”. Pertunjukan selalu dari karya orang lain, untuk minat, kenikmatan, kesegaran, kesenangan saya. Sedangkan ibadah, adalah karya kita para penyembah, untuk kemuliaan dan kenikmatan Allah.

Pikul Salib Nich

ca-usa-2009Masih tentang Carrie Prejean yang mana semestinya menjadi teadan bagi banyak orang. Terutama dia yang meng-klaim bahwa dirinya seorang Kristen yang teguh memegang imannya dalam masalah pernikahan seorang pria dan seorang wanita.

Dan memang tidaklah mudah, apalagi sebagai orang ‘terkenal’, orang yang sudah dikenal banyak kalangan karena posisinya meraih peringkat dua dalam pemilihan Miss USA 2009. Maka banyak mata yang menyorot dirinya. Terlebih lagi komentarnya yang menggemparkan yang mana Carrie tidak setuju akan pernikahan sesama jenis.

Maka kayaknya pihak pro pernikahan sesama jenis (gay marriage) bener-bener sakit hati dengannya. Setelah penobatan runner-up sebagai Miss USA 2009, Carrie dihantam kanan kiri oleh berita-berita miring. Seperti bagaimana Carrie dapat menentang gay-marriage, sedangkan dia dengan senang hati mempamerkan tubuhnya berlenggak lenggok dengan bikini di atas panggung. Belum lagi berita mengenai Carrie yang memperbesar payudaranya dengan operasi. Dan yang terakhir berita keluarnya foto-foto telanjang Carrie.

Pihak pro gay-marriage pun mencemooh Carrie, inikah model Kristen yang teguh memegang imannya? Meski Carrie menyanggah berita foto telanjangnya dengan mengatakan, “Saya seorang Kristen dan seorang model (peragawati). Dan pekerjaan peragawati adalah peraga di depan kamera, termasuk pakaian dalam dan pakaian renang. Foto yang muncul adalah ketika saya masih berusia 17 tahun, yang hanya ingin menjatuhkan saya sebagai seorang Kristen. Dan saya bukanlah seorang yang sempurna.”

Belum lagi dalam kontrak dengan panitya Miss USA, Carrie telah menanda tangani untuk pengambilan gambar yang tampil dengan pose setengah telanjang (untuk peragaan). Seekor domba di tengah antara srigala? Bisa jadi. Tetapi pekerjaan Carrie sebagai fotomodel tidaklah mudah untuk dapat menengakkan iman Kristennya. Butuh pengorbanan bukan cemoohan, tetapi juga dapat berakhir dengan pemecatan. Kembali kepada diri Carrie, seberapa jauh dia memegang teguh imannya untuk dapat memuliakan nama Kristus di sekitarnya? Apakah dia juga masih menyukai pekerjaannya yang memang dirinya akan dikelilingi oleh kemewahan dunia. Tetapi resikonya, dia harus memilih dunia atau Tuhannya.

Menuliskan Carrie Prejean, bukannya gw mau menyanjung Carries sebagai seorang Kristen yang teguh imannya, atau sebagai teladan. Tetapi gw lebih condong merefleksikan berita tentang runner-up Miss USA itu kepada diri kita. Bagaimana jika kita sendiri berada di posisi seperti Carrie Prejean tersebut? Mungkin pekerjaan tersebut adalah pekerjaan impian kita semenjak kecil. Pekerjaan yang menjanjikan. Pekerjaan yang basah. Lihat resesi sikon ekonomi yang tidak menentu saat ini. Apa kita masih mau macam-macam mencari pekerjaan laen? Apakah kita mau masih bekerja pada pekerjaan yang sekarang ini meski akan banyak tantangan, pencobaan mungkin juga bisa membuat kita jatuh. Bukannya kita bisa beralasan, kita bisa memuliakan nama Tuhan dalam pekerjaan kita saat ini (meski pekerjaannya itu nyerempet bahaya misalnya).

Kita pun engga perlu menarik lagi pertanyaan menjadi, apakah kalau begitu orang Kristen kagak boleh menjadi fotomodel? Semua pekerjaan tentu ada tantangan dan cobaannya. Bukan foto model aza. Menjadi bintang film Kristen, apa enggak besar tantangan atau cobaannya? Menjadi penyanyi? Menjadi pengacara? Menjadi pengusaha? Menjadi politikus? Sama bukan? Semua orang bisa jatuh dalam dosa koq, apa pun pekerjaannya. Gw kira Carrie udah tahu sejauh mana dia harus menerima tantangan atau menolak tantangan tersebut. Meski dipikir susyah, mau jadi fotomodel, tapi kalau enggak buka-bukaan, kagak laku. (memang sejauh mana buka-bukaannya, kalau menurut kebudayaan Amrik, memakai bikini sih no problem, ya kagak bisa dibanding ama kebudanyaan timur misalnya)

Karna enggak sedikit, kalau ada orang yang mau percaya kepada Tuhan biar selamat, tetapi…… kagak mau hidup bagi Tuhan. Mau hidup bagi Tuhan, harus bayar harga. Tuhan kita Yesus Kristus aja rela untuk bayar harga untuk menyelamatkan manusia yang berdosa. Apalagi kita mau pikul salib, mungkin kita bakal mikir 2 kali dulu dech.

Siapa sich yang bisa mikul salibnya sendiri, jika bukan karena pertolongan Tuhan. “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.” Lukas 9:23 Salib adalah lambang kutuk dan kematian. Maka Tuhan Yesus pun mati tersalib untuk kita. Maka diri manusia yang mengikut Tuhan Yesus harus mau direndahkan (seperti Yesus waktu peristiwa penyaliban) dan mati. Tetapi apa yang terjadi kebanyakan manusia Kristen masih mempertahankan kedagingannya, keinginannya, kesombongannya. Meski Tuhan Yesus telah menawarkan salibNya, tetapi manusia pengen membawa beban dosanya sendiri.

Bagi mereka yang pengen mengikut Yesus tidak ada cara laen untuk mati dan disalibkan bersama Kristus. Dengan kematianNya maka kita sanggup memikul salib mengikut Kristus. Dan pekerjaan ini tidak mudah. Berat. Susah. Mungkin masih banyak contoh yang lebih berat dari apa yang dihadapi oleh Carrie Prejean. Tetapi janji Tuhan Yesus tidak pernah meleset, Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.

Older Posts »