Ini tentu bukan pengen cerita Invisible Man. Tapi cuma kebayang aza tentang Invisible itu. Yang engga keliatan. Yang engga keliatan tentu bukan mahluk halus atau dunia roh. Yang dimaksud disini misalnya dalam sebuah pertunjukkan konser, seorang artis menyanyikan sebuah lagu yang syahdu yang membuat banyak orang menitikkan air matanya.
Penonton mungkin kagak tau siapa pencipta lagu tersebut, atau siapa pembuat aransemen musiknya, atau siapa pemain musik lagunya atau bagian perlengkapan dari konser tersebut. Orang-orang yang dibalik layar biasanya engga keliatan alias kurang dikenal. Penonton mah taunya siapa penyanyinya.
Di gereja yang biasa gw beribadah, ada kelompok yang khusus pelayanan di audio visual, yang tugasnya antara laen angkat-angkat alat musik dari gudang di persiapkan di panggung, lalu bertanggung jawab atas kelancaran audio yang akan berlangsung selama ibadah. Demikian pula dengan video slide yang ditayangkan di layar di depan mimbar untuk memunculkan lirik lagu atau ayat-ayat alkitab yang akan dibahas oleh sang hamba Tuhan.
Terkadang yang terjadi, audio mengalami gangguan, tiba-tiba hilang suaranya. Atau gambar slide yang hendak dimunculkan tidak muncul-muncul. Memang mungkin kesalahannya kecil tapi ’sedikit’ mengganggu kelancaran ibadah. Tidak heran jika terjadi masalah, ‘kebanyakan’ mata jemaat tertuju pada orang-orang yang mengerjakan pelayanan tersebut. Mungkin pandangan itu seakan bertanya, apa yang terjadi; mengapa terjadi; ini kan yang bukan pertama kali terjadi masalah dan sebagainya. Belom lagi omelan atau keluhan jemaat laennya.
Seringkali pelayanan seperti ini enggak terlalu menonjol dan jarang dipuji; tetapi kalau disalahkan mungkin sering (karena sering terjadi kesalahan atau masalah). Laen kan kalau pelayanan pemimpin pujian misalnya, kalau pelayanannya baik orangnya akan dipuji-puji. Poin gw begini, pelayanan audio visual itu kayak pelayanan yang enggak kelihatan (jarang diperhatikan). Tetapi tanpa pelayanan itu mungkin ibadah akan terasa kurang sesuatu. Bukan pengen minta perhatian. Bukan.
Seringkali dalam hidup kita juga (sekali lagi sering) melupakan siapa yang berada dibelakang semua yang terjadi dalam hidup manusia ini. Sebagai orang percaya, kita percaya ada oknum supranatural, dan karena kita udah dipanggil olehNya maka kita ngerti, oknum supranatural itu adalah Allah Bapa kita. Dia yang benar-benar berdaulat atas segala ciptaanNya.
Maka kita yang sebagai ciptaaNya janganlah berhenti untuk mengucap syukur, “Sebab itu marilah kita, oleh Dia, senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya.” Ibrani13:15.
Ucapan syukur merupakan bagian dari iman. Jika seseorang kagak punya iman, kayaknya kagak mungkin dia bisa bersyukur. Karena kalau seseorang kagak punya iman, dia bakal kuatir, dia ngeliat dirinya rendah (rendah diri), dia kagak ngeliat ada masa depan, dia kagak bisa rendah hati, kagak ada pengharapan, kagak punya sukacita, stres mulu, ngomel ngeluh mulu, dan ujung-ujungnya kagak bisa bersyukur.
Kita? Manusia? Mengucap syukur? Engga bisa lah yaow. Karena dosa man, mana bisa sich manusia mengucap syukur dengan tulus? Kalo pura-pura mah jangan ditanya. Bukan, bukan gw skeptis. Tapi bener, gw percaya bahwa ucapan syukur itu hanya pemberian anugerah Allah atas hidup kita. Kalau mau jujur, dalam doa-doa kita mana yang lebih banyak; mengucap syukur atau minta-minta sama Tuhan?
Sekali lagi biar kita diingatkan bahwa hidup kita ini engga sendirian. Ada Allah yang enggak kelihatan, yang memperhatikan hidup kita. Klo dipikir-pikir apa bagusnya hidup kita sampai diperhatikan sama Allah? Engga ada bagusnya. Karena Allah sendiri yang mau memperhatikan kita, ciptaanNya. Dia yang mengasihi kita terlebih dahulu. Temans, dalam sikon apapun waktu menghadapi masalah, jangan putus asa, karena ada Allah yang berdaulat atas dunia ini. Emang kagak bisa kita lihat dengan mata kepala kita sendiri, tetapi Dia ada. Hadir dalam segala hidup kita.
Ketika berita kematian Michael jackson baru-baru ini, ada kejadian kecil yang gw anggap agak lucu. Sampai 2 jam setelah diperkirakan Michael Jackson udah engga bernafas, CNN masih bingung alias belom pasti Michael Jackson itu udah mati atau masih koma.
Apa kabarnya Dan Brown? Filem yang masih kategori baru yang diambil dari bukunya Dan Brown “Angels and Demons” dengan lakon yang sama Robert Langdon, meski kali ini buku dan filemnya tidak meledak seperti kontroversial Da Vinci Code (DVC).
Grail karya Michael Baigent, Richard Leigh, and Henry Lincoln.
Kebanyakan dari kita pasti, paling engga, pernah merayakan hari ultah, yang jelas ya untuk memperingati hari kelahiran (seharusnya) tetapi kebanyakan yang dilakukan adalah menghitung usia yang telah kini dicapai dan harapan apa yang pengen dicapai pada masa yang akan datang.
Setelah kejatuhan manusia dalam dosa, maka manusia tidak saja menyukai berbuat dosa, menentang kehendak Allah tetapi manusia secara status, adalah sendirian, putus hubungan dengan Allah.
Salah satu hal yang perlu diperhatikan waktu kita di dunia air (baik di sungai, danau atau di laut) adalah life jacket atau pelampung. Karena seberapa kuatnya kita berenang, atau tahan untuk tidak bernafas, tetap saja terbatas kekuatan kita. Maka kita perlu alat pembantu yang dapat membuat kita bertahan mengapung di air. Yakni pelampung. Alat yang paling mudah dibawa (daripada perahu karet misalnya).
Sering kali, orang mengukur iman dengan pengalaman, kejadian yang dialami. Dengan adanya pengalaman mujizat yang dialami maka itulah iman. Dan tak sedikit yang meng-klaim bahwa itu tanda iman, adanya pengalaman, kesaksian hidup. Pengalaman mujizat itu belum tentu akibat dari iman. Banyak orang ateis yang kagak punya iman tapi juga sering mengalami mujizat. Tetapi sayangnya banyak anggapan dari orang Kristen bahwa kalau engga mengalami mujizat, itu mungkin belum cukup imannya kepada Tuhan. Atau kurang beriman. Maka minta Tuhan supaya kita lebih beriman lagi.
Gereja dimana gw beribadah saat ini, House For All Nations ngadain Retreat dari tanggal 15-18 Mei 2009 yang lalu. Tentu paling engga kita udah pada tau kalau retret itu perlu untuk kerohaniaan seseorang. Ibarat retret kayak handphone yang baterainya di ‘charge’ kembali. Karena engga dipungkiri bahwa dalam perjalanan kehidupan Kristen banyak turun naiknya. Ketika sedang dalam keadaan turun, ikut retret adalh hal yang tepat. Pas lagi naek juga kagak masalah ikut retret biar tambah seger kuat ‘n diperbaharui dalam rohani kita.
Seumur-umur emang belom pernah sich nonton konser musik secara “Live show” karena merasa enggak suka aza. Meski Vancouver udah pernah dikunjungi oleh artis Top Dunia, dari Michael Jackson, Madonna sampai Britney Spears. Tetapi belom pernah satu pun konser musik pun yang gw tonton. Mungkin alasannya bukan hanya sayang uang aza, tetapi sayang waktu, terus hiruk pikuknya itu lho (sayang telinga), terus udah bayar mahal-mahal kagak bisa menonton para artis tersebut dengan jelas (kan pasti nontonnya dari jauh). Terutama gw kagak mau duit gw sumbangin ke artis dunia, yang makai duitnya untuk kepentingan pribadinya yang kagak beres. Mending gw persembahkan untuk Tuhan kan?